SURO

SURO
Serangan Pemburu



Aku diam sambil menatap Danniel, membuatnya ikut membalas tatapanku. Aku sedikit menurunkan kakiku, bersiap untuk menginjak lantai dan...


Drap.. Drap.. Drap..


Aku berlari keluar dari ruang makan, membuat Danniel terkesiap dan ikut beranjak dari kursi. Aku berlari sambil menoleh ke belakang, melihat Danniel ikut berlari mengejarku.


Aku melangkah cepat, melewati beberapa bibi yang sedang sibuk membersihkan ruangan. Mereka terkesiap dan berusaha menghindar, sementara dengan tubuhnya yang tinggi, Danniel mampu mengejarku dengan cepat.


Ketika aku menoleh, tangan Danniel hendak menjangkau kerah bajuku, dan dengan cepat aku menunduk, membuatnya oleng dan hampir menabrak vas bunga yang ada di depannya.


Danniel menoleh ku dengan sengit, sambil mengeraskan rahangnya. "Suro!! kenapa kau tiba-tiba lari?!" geramnya sambil menatapku.


Melihatnya sedang terhenti, aku mengambil langkah seribu lebih cepat dari pada sebelumnya. Sosok Danniel mulai terlihat jauh dari pandangan mataku. Aku hendak berhenti, tapi tiba-tiba saja sekumpulan cahaya berterbanganan di sekitarku. Aku meringis dan terhenti, menatapnya dengan seksama.


Tiba-tiba saja cahaya itu berubah menjadi butiran pasir dan...


Bats!!!


Danniel muncul di hadapanku, bersiap untuk menangkapku. Aku yang terkejut bergerak reflek merebahkan tubuhku, berguling dan menjauh dari jangkauannya.


Aku melirik di ujung sudut, dimana kamar Dita tertangkap oleh pandanganku. Ketika aku hendak menjangkau gagangnya, sekumpulan pasir tadi mengerumuni sekujur tubuhku kecuali kepala, membuatku yang sedang berlari jatuh tersungkur menghantam pintu kamar Dita.


"Berhenti di situ, anak kecil!!" geram Danniel dengan wajah mengerikan. Aku terbelalak, karena melihat amarahnya. Sepertinya orang ini kesabarannya setipis tisu di bagi dua.


"Hei!! kenapa kau membungkus ku dengan ini? Lepaskan aku!!" pekik ku.


"Tidak akan!" balas Danniel sambil berjalan santai mendekatiku.


Tak lama berselang, pintu kamar Dita terbuka, menampakkan perempuan berambut kuning yang sedang mengunyah makanan di mulutnya, membuat pipinya menggembung.


"Hei?! Ngapain kalian berdua berisik di depan kamar gue? Gangguin aja tau!!" bentaknya.


"Adik ku kabur di waktu sarapannya, jadi kau ingin aku membiarkannya begitu saja?!" sergah Danniel.


Dita langsung bertekan dagu menatap Danniel. "Kayaknya iya! Soalnya gak boleh maksa anak kecil buat makan makanan yang bukan kesukaannya."


Danniel langsung meringis kan wajahnya dengan seram. "Tau apa kau tentang adikku! Minggir dan jangan ikut campur! Ini urusan ras Dicth'anhm, dan tak ada hubungannya dengan ras hina macam kamu!!" balas Danniel.


Dita menggarukkan kepalanya. "Ya ampun!! Segitu aja bawa bawa ras, serius banget sih hidup lu. Sini masuk, kayaknya elu harus di gampar dulu pake tahu!!" ucap Dita sambil berusaha membantuku.


"Aku? Makan makanan yang kau makan?" Danniel mendengkus sambil menggelengkan kepalanya. "Meskipun di dunia ini hanya ada masakan itu, aku tak akan Sudi memakannya."


"Nah Suro, ayo masuk." ucap Dita sambil menyeret tubuhku yang masih terbungkus pasir.


"Dita, lepaskan pasir ini." pintaku.


"Gue gak bisa, suruh si mata segaris noh.. Kan kekuatan punya dia." sahut Dita.


"Aku akan melepaskan mu kalau kamu mau kembali ke meja makan." timpal Danniel.


"Yah, Dita.. Sepertinya kau harus menyuapi aku. Tanganku ada di dalam pasir ini." ucapku, seolah menolak perkataan Danniel.


"Apa boleh buat sih, ayo duduk yang benar." ujar Dita sambil mendudukkan aku di depan hidangannya.


Dengan perlahan namun pasti, Danniel mulai mendekati kami. Ia melirik makanan yang ada di piring lalu bergidik seolah merasa jijik.


Beberapa detik setelahnya...


Krurururk...


Aku dan Dita langsung menoleh ke asal suara, dimana Danniel sok memasang wajah cool seolah tak mendengar suara di perutnya sendiri.


"Oi, kau lapar ya? Makan ini? Serius ini enak!!" tawarku sambil menatap Danniel.


"Siapa yang lapar? Aku tak lapar sama sekali mencium bau masakan hina ini." jawabnya.


Aku dan Dita cuek saja dan terus memakan makanan yang ada. Sambil sesekali mencuri pandang, aku melihat Danniel melirik dan mulai menelan ludah.


Krurururk..


Perutnya lagi-lagi berbunyi, mungkin karena dia melewatkan sarapannya.


"Keras kepala banget sih jadi orang?! Makan ya makan aja, mau sakit magh apa?" tukas Dita ketus, membuat Danniel kembali memasang wajah angkuhnya.


"Aku tak akan mau memakan masakan-"


"Hiyaaaaah!!" Dita langsung melemparkan sebuah tahu tepat ke mulut Danniel, ketika ia menganga.


Tahu lembut ini menghantam mulut Danniel, membuatnya belepotan dengan sambal. Aku terkesiap, kala Danniel menutup mulutnya dan menunduk seolah menerima serangan telak.


Aku mengerjap, melihat Dita tertawa sementara Danniel seperti baru saja terkena tenaga unconsius.


"M.. Makanan macam apa ini?" gerutu Danniel. Akhirnya dia bersuara, ku pikir dia tersedak cabe.


"Kau tak apa?" tanyaku berhati-hati.


Danniel menggeleng sambil duduk di dekatku. Tiba-tiba saja pasir yang membungkus tubuhku merembes dan berjatuhan. Lalu menghilang bagaikan sebuah khayalan.


Danniel diam, tak mengatakan apa-apa. Tapi.. tangannya mulai mengambil beberapa potong tahu dan memasukkannya ke dalam mulut.


Ia terdiam sambil menutup mulutnya. "Ma.. Makanan macam apa ini??" gerutunya. "Baru pertama kali aku memakan makanan rendahan ini. Apakah bisa merusak kinerja lambungku yang sehat?" ucapnya, menyelingi dengan hinaan setiap kali memakannya.


"Gue tabok juga lu ya!! Banyak komentar tapi tetap makan! Dasar netizen hina!" Balas Dita, meniru gaya bicara Danniel.


"Kau diam! Aku tak sedang bicara denganmu!! Jadi jangan ajak ku bicara kalau aku sedang berbicara."


Dita menjelekkan wajahnya. "Ya terserah gue lah! Mulut mulut gue, dasar anying!! Lagian gue punya kuping, jadi terserah gue dong mau jawab omongan lu atau enggak. Emangnya ngomong bayar apa?"! Balas Dita.


"Ini rumahku, aku bisa saja mengeluarkan mu dari sini kalau aku mau!"


Dita menjelekkan wajahnya. "Bego!! Kalau bukan Suro yang usir, gue gak bakalan pergi."


"Berani sekali kau mengatai aku bego?! Kau ini perempuan jelek dan tidak berkelas."


"Ya amsyong!! Baru kali ini gue denger ada monyet yang ngatain gue jelek?!"


Danniel langsung menatap sengit ke arah Dita. "Beraninya kau?!"


Dita bertolak pinggang. "Berani!! Mau apa lu?!" balasnya.


Aku langsung menekan kepalaku yang berdenyut. Bukannya akur, aku malah membuat pertengkaran mereka makin menjadi.


"Kau!! Dasar rambut kotoran!!" Danniel malah semakin sering menimpali ucapannya.


"Elu!! Taik kam-" Dita tersentak, membuatku dan Danniel terbelalak ketika melihatnya. Matanya yang segar mendadak sayu, membuatku dan Danniel sama-sama mengernyitkan dahi.


"Bing.." sambungnya dengan pandangan kosong. Dan tiba-tiba saja, cairan merah kental mengalir dari mulut dan juga hidungnya.


Aku terkesiap kala melihatnya, dan tiba-tiba saja Dita terhuyung dan tubuhnya hampir jatuh.


Bruk!!


Aku beranjak kaget, namun Danniel dengan cepat menangkap tubuh Dita di dekapannya. Ada sebuah panah berbentuk jarum yang menancap di tubuh bagian belakangnya.


Aku menoleh ke arah jendela, ketika sekelabat bayangan berlalu dengan cepat. Aku hendak mengejarnya, tapi Danniel langsung menyergah.


"Diam disitu Suro," ucapnya, membuat langkahku terhenti. "Itu para pemburu ras Dicth'anhm. Biar aku..." Danniel mendekap erat tubuh Dita di pelukannya. "Yang menghabisi mereka semua."


Bersambung...