SURO

SURO
Mata-mata sebenarnya...



Aku terkesiap mendengar ucapan Danniel. Meski kakak beradik, tapi aku memang belum mengenal Danniel sepenuhnya. Tapi, melihat bagaimana ia bersikap, aku merasa dia begitu keren untuk dijadikan panutan. Kakak yang benar-benar tangguh.


Papa menghela napas panjang, berjalan ke arah Danniel dan menepuk pundaknya hingga Danniel menengadahkan kepalanya ke atas. "Nak, untuk itu.. Papa merasa sangat bangga padamu. Tapi, apa kau tau konsekuensinya bagaimana??"


Danniel mengangguk. "Karena aku tau, makanya aku berani mengambil resiko itu." tukasnya.


"Sebelumnya, apa kau masih ingat mengenai hukuman yang akan kau jalankan karena menyembunyikan buku rahasia keluarga kita ke kamar adikmu?" tanya papa lagi.


Danniel seketika terdiam seribu bahasa, dari raut wajahnya, sepertinya ia keberatan untuk melakukan apa pun itu hukuman yang telah mereka sepakati.


"Aku.. Bersedia." lanjutnya dengan suara yang terdengar berat dan dalam.


Selesai menghadiri acara pemakaman, aku melihat para pekerja ku mulai bubar dari barisan, begitu juga dengan anggota keluarga ku.


Aku melihat Danniel, berjalan berlawanan arah sendirian dari keramaian yang ada. Aku mengernyit, kala ia berjalan menuju ke taman bunga-bunga melati.


Aku mengikutinya, ia duduk sendirian dengan tubuh kaku di atas rumput, dengan dua tangan yang ia topang ke lututnya. Ketika aku menginjak beberapa ranting yang garing, Danniel terkesiap dan menoleh ke arahku.


"Kau?" tanya Danniel, raut wajahnya agak terkejut. "Kenapa kau bisa ada disini?" tanyanya lagi.


Aku berjalan mendekatinya. "Boleh aku duduk disini?" tanyaku sambil menunjuk rumput kosong di sebelahnya.


Ia menggeser tubuhnya tanpa menjawab, seolah mengatakan kalau aku boleh duduk di sampingnya. Kami duduk berdekatan, tapi sama-sama diam dan tak bersuara.


Aku menoleh menatap Danniel, sementara Danniel mencuri pandang ke arahku. Rasanya kikuk, kira-kira aku harus mengatakan apa padanya? Sepertinya dia bukan tipe orang yang mau memulai obrolan terlebih dahulu kalau bukan karena hal yang penting.


"Kamu keren tadi." tuturku, melenyapkan keheningan.


Ia mendengkus. "Apanya yang keren. Aku hanya masuk ke posisi yang tidak ada orang yang mau mengisinya." sahutnya.


Aku menganggukkan kepala. "Tapi keren kok, karena kamu mau melindungi ras Gasth'anhm sebagaimana mereka melindungi kita selama ini. Ku pikir, kamu adalah orang yang sombong dan membenci ras mereka, tapi ternyata aku salah.. Sepertinya kamu bukan seperti apa yang ku duga." lanjutku.


"Sejak dulu, aku tak pernah membenci mereka." sahutnya.


Aku mengernyitkan dahi. "Lalu, Dita?"


Ia terdiam sesaat. "Aku hanya membencinya saja."


"Tapi kenapa? Kau harus mengenalnya lebih dulu baru bisa menilai dia itu orang yang seperti apa. Dia baik kok." bela ku.


Danniel melirikku dari sudut matanya. "Umurmu masih terlalu muda untuk menilai baik buruknya seseorang. Kau itu masih polos, seperti kertas putih yang belum terukir tinta pena yang hitam. Dunia ini tak sama seperti apa yang kau lihat. Kalau mau diibaratkan, di dunia ini.. Semua orang memakai topeng, tapi.. Hanya kau yang memakai wajah aslimu di hadapan semua orang."


Aku mengernyit. "Maksudnya?"


"Kau dengar aku, aku ini punya alasan untuk membenci atau tak menyukai seseorang. Jadi, kau tak perlu mengajariku tentang hal itu. Karena sebelum membenci, aku sudah mencari tau bagaimana dan siapa sebenarnya orang tersebut."


Perkataan Danniel membuatku menyelis menatapnya. "Lalu Dita kenapa memangnya?"


"Dia, buruk untukmu."


"Dia tidak buruk!" belaku.


"Tapi.. Aku bisa merasakannya, kalau dia memang tulus menyayangi ku." ucapku pelan, seolah kehilangan kepercayaan.


"Mungkin niat awalnya tidak sebaik itu, tapi aku tak tau. Mungkin hati kecilnya tersentuh kala mengenalmu. Apa kau tau, kalau ibunya meninggal karena keluarga kita? Kalau kau jadi dia, apa yang akan kau lakukan kala ibumu meninggal, pada keluarga yang telah membunuhnya?" Aku terdiam. "Kau ingin datang, dan membalas dendam, kan?" lanjutnya, membuat mataku terbelalak. "Dia pun ingin melakukan hal serupa. Dia, dendam kepada kita."


Aku mengerjap. "Tapi.. Ku rasa dia tidak begitu."


"Kalau nyatanya dia begitu, bagaimana?" tanya Danniel, membuatku kembali terdiam. "Aku adalah kakakmu, jadi aku tak mau terjadi hal buruk padamu. Bagaimana pun caranya, aku berusaha keras untuk selalu menjaga dan melindungi mu dari jauh. Aku selalu ada untukmu, meski kau tak menyadari itu."


Aku terdiam, benar-benar terdiam setiap kali ia mengeluarkan kata-katanya.


"Apa kau menyadari hal kecil ini?" tanyanya, dan aku hanya mengernyit untuk menjawabnya. "Sebelum ada Dita, tak pernah terjadi hal seperti ini di rumah kita. Tapi, setelah gadis itu muncul..." Danniel menatapku dengan tajam. "Permasalahan datang silih berganti." lanjutnya.


Aku terdiam. Danniel benar, sebelumnya.. Tidak pernah terjadi hal yang buruk di keluarga ku. Tidak ada penyerangan dan pembunuhan. Benar-benar tidak ada hal yang seperti itu. Tapi setelah Dita datang, semuanya menjadi rumit. Penyerangan terus menerus terjadi tanpa henti, dan membuat semua ini terjadi.


"Kau ingat, kala dirimu tertangkap pemburu yang bernama Viktor? Kau bertemu dengannya beberapa kali sebelum itu, kan? Lalu ada satu hal yang ingin ku tanyakan. Dimana.. Kau bertemu Viktor pertama kali?" tanya Danniel, membuatku melirikkan mata untuk mengingatnya.


"Di restoran, saat aku pergi bersama Pak Saipul dan Dita." sahutku.


"Kebetulan bertemu kah? Atau, sengaja di pertemukan?"


Aku terkesiap. "Maksudmu? Aku, sengaja di pertemukan dengan Viktor waktu itu?" terka ku.


"Harusnya, itu lebih masuk akal sih kalau kau tak berpikir naif." sahut Danniel. "Lalu, kejadian dimana Dita mengikuti rapat anggota keamanan, dia.. Membawa alat penyadap di tubuhnya, kan?" tanya Danniel dan aku mengangguk. "Dimana letak alat itu?"


"Kalau tak salah, di belakang tubuhnya." jawabku.


"Memangnya bisa, Viktor yang ia tuduh menempel stiker penyadap, menempelnya di bagian tubuh Dita yang tertutup baju dan rambutnya? Kecuali kalau itu.. Dia sendiri yang memasangnya."


Aku mengerjap tak percaya. Tapi semakin lama, ini terdengar semakin masuk akal.


"Dia memasang alat penyadap, karena dia adalah mata-mata yang memberikan informasi pada para pemburu, yang menyerang kamar pak Roxi setelah itu. Dia yang mengamati situasi dan kondisi rumah ini, dan dia juga... Yang memasukkan penyusup, yang menyerangmu di kamarmu sendiri. Berlagak menolongmu, padahal sebenarnya.. Dia lah serigala berbulu domba itu."


Aku tersentak, benar-benar tak menyangka atas apa yang dikatakan Danniel padaku. Tapi sialnya, semuanya terdengar masuk akal.


"Tapi tunggu dulu. Aku juga ingin menanyakan satu hal padamu." Danniel mengangkat kedua alisnya dengan cepat. "Kalau memang benar Dita pelakunya, kenapa kau.. Yang selalu ada di setiap kejadian buruk yang menimpaku. Apakah sebenarnya, kau sedang memutar balikkan fakta yang ada?"


Danniel mengerut dahi mendengarnya. "Kau menuduhku?" tanyanya, seolah tak terima.


"Aku tak menuduhmu. Aku hanya meminta kejelasan saja." sahutku.


Danniel menghela napas panjang sambil menatap ku. "Jadi kau harus tau ini.. Aku dan dirimu itu terhubung. Jadi, ketika kesadaran mu hilang.. Maka aku, akan mengetahui hal itu, dan aku bisa melacak dimana keberadaanmu."


Aku menggelengkan kepala. "Mana mungkin."


"Jadi kau lebih mempercayai Dita, ketimbang kakakmu sendiri?" tanyanya dengan raut wajah kecewa. "Sepertinya, dia telah mencuci otakmu terlalu bersih, hingga membuatmu sampai segitu membelanya."


Bersambung...