SURO

SURO
Kundalini



Dita yang berdiri di dekat ku mulai mencondongkan tubuhnya, berjalan perlahan sambil meletakkan tangan di dagunya. Karena pertarungan tadi, rambutnya masih kusut dan belum di sisir. Pakaiannya juga masih kotor dan berantakan, tapi gayanya sok begitu seolah dia adalah guru yang populer di kalangan pelajar.


"Gimana sih ya ngejelasinnya.."


Aku meliriknya sambil menyipitkan mata. "Ku pikir kamu mau mengatakan hal yang penting karena gayamu seperti sok jadi guru begitu." gerutuku.


Dita masih memasang wajah dan gaya yang sama. "Karena yang pentingnya itu.. Gak bisa di omongin." Aku mengerutkan alis dan menatapnya dengan tajam. "Lu pasti penasaran kan itu apa??" Ia malah memberikan pertanyaan. "Sebenarnya ini rahasia dan gak boleh di omongin ke elu, tapi.. Berhubung gue lebih deket ke elu ketimbang mama lu, kayaknya gak masalah deh, toh.. Lu harus tau diri dan jaga posisi gue karena gue udah baik banget, mau ngasih tau lu mengenai ini."


Aku berpura-pura menguap mendengar ocehannya. "Jangan basa basi deh, bilang aja terus terang!" keluhku.


Dita tersenyum sambil menengadahkan kepalanya ke atas, seolah sedang melihat ke langit-langit kamar. Ia mulai melirik kan matanya menatapku, tanpa mengubah posisi kepalanya. "Sebenarnya gue punya larangan buat menyebutkan sesuatu yang berhubungan dengan Kundalini di depan elu."


Aku mengernyit, mempertegas kerutan di dahiku. "Loh, kenapa lagi memangnya?"


Ia mengendikan bahu. "Gak tau, gue gak di kasih tau alasannya, dan tentu aja gue juga gak di bolehin bertanya mengenai hal yang di luar pekerjaan gue."


Aku mendengkus sebal. "Kenapa banyak rahasia di keluargaku, tapi cuma aku yang tak boleh di beritahu!" keluhku. Aku kembali melirik Dita yang masih tersenyum.


"Ya masa bodoh lah tentang rahasia-rahasiaan!! Yang penting kan gue mau ngasih tau ke elu mengenai Kundalini."


Aku menatapnya tak percaya. "Kamu yakin?? Nanti kamu bisa kena masalah kalau melakukan apa yang seharusnya di larang mamaku. Kecuali, kalau kita berdua merahasiakannya." tuturku.


Perempuan ini mengangguk sambil menjentikkan jarinya. "Ya emang harus rahasia dong. Kita harus saling tolong menolong dan menjaga posisi masing-masing, meskipun gue juga penasaran kenapa di zaman semua orang sudah mengetahui mengenai Kundalini, tapi ada orang yang gak boleh di kasih tau mengenai hal ini." ujarnya.


"Terus, Kundalini itu apa? Semacam tenaga dalam kah?? Buah setan kah? Atau Cakra?"


Dita terkesiap mendengarnya. "Lu tau Cakra?"


Aku menganggukkan kepala. "Ya, itu ada di anime Naruto." sahutku.


Ia menganggukkan kepalanya. "Ia juga ya, elu kan suka baca komik telanjang itu."


"Mana ada!!" pekikku kesal.


"Yaudah deh, singkatnya aja ya.. Kundalini itu adalah energi spiritual yang konon terletak di dasar tulang belakang. Saat meditasi kundalini mampu membangkitkan energi, kesadaran seharusnya meningkat dan membantu melewati ego."


"Kalau untuk orang yang sangat awam, cara ngebangkitin Kundalini adalah dengan meditasi. Meditasi Kundalini adalah bentuk meditasi dengan latihan pernapasan. Tujuan meditasi ini adalah mengaktifkan energi kundalini atau shakti."


Aku mengernyit, mendengarnya dengan serius dan mencermati setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. "Jadi, kalau mau ngebangkitin Kundalini, caranya dengan meditasi? Kalau seandainya udah di tahap yang lebih tinggi, apakah Kundalini bisa di bangkitkan tanpa melakukan meditasi?" tanyaku.


Dita terkesan kala mendengarnya. "Woah!! Bocil kesdicth'anhm ini emang pintar banget. Elu benar-benar ngedengerin apa yang gue omongin ya?" ujarnya.


"Tentu saja!" sahutku cepat.


"Ya, kalau udah jago.. Kundalini bisa aktif tanpa di lakukan meditasi. Para ras manusia mempopulerkan Kundalini melalui sesuatu yang mereka sebut yoga bhajan, sementara yang memperkenalkan yoga Kundalini kepada ras manusia adalah orang kulit putih."


"Sejak itu, latihan ini telah menjadi cara yang populer untuk mengembangkan kesadaran tubuh yang lebih besar, perhatian, dan menghilangkan stres. Tapi ras manusia hanya mengetahui tentang Kundalini sebatas itu saja, mereka gak bisa membangkitkan apapun selain hal wajar yang masuk di akal mereka. Padahal, meditasi Kundalini manfaatnya lebih besar daripada itu." kini wajah Dita terlihat begitu serius.


"Salah satunya adalah mengeluarkan jurus?" tanyaku.


"Oh ya?!" sambarku cepat, merasa sangat tertarik. Kalau pengguna Kundalini tidak menyebut itu jurus, berarti mereka tidak menamai kekuatannya. Seperti yang ku lihat kala mereka bertarung, tak ada nama jurus. Jadinya kan kurang keren!


"Tapi emang manfaat Kundalini itu, bisa mengeluarkan kekuatan dari dalam jiwa. Kekuatan itu bakalan di ekstrak menjadi sesuatu yang berhubungan dengan elemen yang ada di dalam tubuh kita. Karena setiap ras Anhm, punya elemen tubuh yang berbeda, sesuai dengan ciri khas dan pembawaan jiwanya."


"Maka dari itu, biasanya setiap orang punya elemen yang berbeda-beda, tapi gak memungkinkan kalau ada elemen yang sama, tapi kemungkinan itu kecil banget." terangnya panjang lebar.


"Aku puas sekali mendengarnya!! Itu keren sekali!! Sekarang, bagaimana cara meditasi Kundalini?" tanyaku semangat, dengan tangan yang kembali terkepal di dekat wajahku.


"Aduh duh! Muel gue liatnya!" keluh Dita, berpura-pura muntah karena jijik melihat ekspresi ku. "Gue kan cuma mau jelasin tentang Kundalini aja ke elu, gak ada niatan buat ngajarin. Lu kan cuma mau tau aja, gimana sih!!" keluhnya.


Aku masih memasang gaya sok imutku, biar dia tambah jijik sekalian. "Kedengarannya menarik!! Awalnya cuma ingin tau apa itu Kundalini, setelah mendengarnya, aku jadi tertarik untuk mempelajari itu. Mudah saja kan? Cuma meditasi??" tanyaku.


Perempuan ini memiringkan senyumannya. "Mu.. Mudah lu bilang?" protesnya. "Gak terima banget gue kalau lu bilang meditasi Kundalini ini bersifat mudah. Karena butuh tingkat konsentrasi yang tinggi kala melakukannya."


"Konsentrasi ku tinggi kok, makanya ajari aku. Ya.. Ya.. Boleh ya!!" pintaku, memaksa secara brutal.


"Aduh, bocil bedebah yang berisik.. Gue gak berani lah kalau sampai ngajarin elu bagaimana meditasi Kundalini, artinya gue udah ngelanggar sesuatu yang lebih sakral dari pada janji!"


"Boleh lah! Janji sakral taik kucing, itu janji orang tua egois yang mau anaknya gak bisa apa-apa."


Dita menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Gak gak gak! Untuk kali ini gue gak setuju. Gue gak tau alasan apa yang melatarbelakangi orang tua lu ngerahasian mengenai Kundalini. Kalau alasannya berbahaya, gimana?"


Aku mendengkus sebal. Memangnya kenapa sih aku juga sampai tak di perbolehkan mengetahui si Kundalini itu? Orang-orang dan keluarga aneh!


Aku memandang wajah Dita yang sok cuek. Kalau aku bisa mengubah pendirian Dita, sepertinya dia mau mengajariku. Meski terlihat agak gila, sepertinya dia orang yang tidak tegaan, meskipun waktu pertama bertemu pun dia tak mau membantuku mengungkap rahasia keluarga ku. Eh!! Iya benar, perempuan ini kan antipati, tapi.. Antipatinya ada alasan tertentu, karena dia menyembunyikan jati dirinya sebagai anak bibi. Eh, dia tak menyembunyikannya sih, aku saja yang menduga-duga.


"Gyaaaaah!! Jadi pusing aku!!" pekikku tiba-tiba, membuat Dita terkejut sambil menyentuh dadanya.


"Apa sih ni bocah monyet! Kenapa juga teriak tiba-tiba!!" geramnya kesal.


"Begini, kalau aku punya alasan untuk menggunakan Kundalini, apakah kamu bisa menerimanya?" tanyaku, memberikan penawaran.


Ia mengangkat sebelah alisnya. "Alasan apa?" tanyanya heran.


"Waktu itu, aku diikuti Viktor karena dia tau aku berasal dari keluarga kesdicth'anhm. Berarti, besar kemungkinannya ada orang lain seperti Viktor yang sewaktu-waktu akan mengincar ku juga. Kalau aku tak menguasai Kundalini, bukankah sangat berbahaya? Apalagi kalau kamu tak bisa berada tiap waktu denganku. Nyawaku bisa terancam kalau aku di tangkap oleh orang yang berbahaya."


"Jadi?" timpalnya.


"Jadi maksudku, alasanku untuk mengendalikan Kundalini, adalah sebagai alat perlindungan untuk diriku sendiri, jika saatnya kamu tak bisa berada di dekatku." terangku.


Dita terdiam, cukup lama seolah menelaah tiap kalimat yang ku ucapkan.


"Ayolah, terima permohonan ku, bodoh!" pintaku dengan nada manja.


Dita memancungkan bibirnya, seolah berpikir begitu keras. Ia berulang kali menatapku dengan sinis, lalu pura-pura berpikir lagi. "Bener juga ya anak monyet. Kalau begitu, gue bakalan ngajarin elu, bagaimana cara membangkitkan Kundalini." ucapnya, membuatku tersenyum puas.


Bersambung....