
SEORANG pria paru baya masuk, membawa dua kantongan besar. Yang menarik perhatian Alyx adalah kepala pria itu—tidak plontos, tapi rambutnya terlalu jarang, sehingga kulit kepalanya bisa terlihat dengan jelas. Tubuhnya pendek dan berisi. Pipinya chubby. Dia pria yang manis—seperti gadis yang duduk di samping Alyx.
“Ayah, kukira kau tidak akan datang?” Jane menghampiri ayahnya, membantu membawa kantongan ke atas meja.
“Pekerjaan membuatku pusing, aku harus menenangkan diri. Cuaca di pegunungan cukup baik, kurasa,” gumamnya dan tersenyum pada gadis yang sedari tadi memperhatikan wajahnya. “Kau orang yang teliti,” katanya pada Alyx.
“Apa?” Alyx tergelagap.
“Aku John Walcott—ayah Jane.”
“Alexandra. Senang bertemu denganmu, Mr. Walcott.” Alyx menyambut uluran tangan ayah Jane.
“Iya. Iya. Aku juga. Cukup panggil aku John saja,” kata John tertawa kecil. “Ini sebenarnya bukan pertama kalinya aku melihatmu. Dulu—tidak, tapi sudah lama sekali, kita pernah bertemu. Tentunya kau tidak akan mengingatnya.”
“Maaf.”
“Tidak. Tidak bukan salahmu. Itu karena kau masih sangat kecil.” John duduk di kursi yang tadi diduduki putrinya.
“Kurasa ayah akan menjelaskan lebih jelas,” Jane tersenyum dan berhenti saat melihat wajah Alyx yang seketika menjadi serius. “Ada apa denganmu?”
“Ada apa?” Alyx balik bertanya.
“Keningmu mengkerut.”
“Maaf,” Alyx mencoba menenangkan dirinya. Dia terlalu bersemangat untuk mendengar seseorang yang tidak akan berbelit-belit lagi dalam bercerita.
“Kira-kira sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu,” John mencoba mengingat-ingat kembali hari itu. “Berapa umurmu sekarang?”
“Dua puluh tiga,” jawab Alyx, singkat.
“Bagus. Bagus sekali. Dan kau sudah menjadi seorang dokter.”
Alyx mengangguk pelan. “Tidak lama.”
“Tapi, tetap saja, kalau dirimu masih berjiwa seorang dokter. Apa isi tas itu?” Mata John tertuju pada tas berwarna merah di samping sofa.
Alyx memajukan kepalanya. Melihat tas yang selalu dibawanya bersandar di dinding kayu. Dia pikir Tom akan melewatkan membawa tas itu. Alyx mengambilnya.
“Kau selalu membawa peralatan doktermu?”
“Hanya beberapa alat medis kecil. Tapi, aku tidak banyak menggunakannya.” Alyx memasukkan tangannya ke dalam tas—seperti sedang mencari sesuatu dan seteah selesai dia meletakkan kembali tas itu dengan hati-hati.
“Tidak masalah. Mana Tom, Jane?”
Jane mengarahkan pandangannya ke ruang sebelah.
“Kurasa dia menjadi teman yang cukup baik. Jadi…”
“Kau belum menceritakan apa pun.”
“Sedikit tidak sabaran, Alyx.”
Alyx menunduk malu.
“Bagian terpenting dari cerita ini adalah, aku mengenal orang tuamu. Jadi tidak aneh kalau aku pernah melihatmu semasa kecil.”
“Orang tuaku?” Alyx mendengus. “Kau tentunya tahu banyak tentang mereka dari pada aku.”
John tersenyum. “Aku lebih dulu berteman dengan ayahmu—William.”
Sudah lama, Alyx tidak mendengar seseorang menyebut nama itu, bahkan dirinya sendiri tidak pernah menyebutnya. Tapi setiap hari nama itu terlintas di pikirannya—meski tak tahu betul bagaimana rupa pria itu.
“Bukan hanya sekedar teman, tapi sudah seperti saudara. Kami memang masih punya hubungan kekeluargaan, meski cukup jauh, tapi, tetap saja, aku ini sebenarnya masih pamanmu.” John tersenyum mengatakan itu. “Aku sungguh penasaran bagaimana kau menjalani kehidupan? Tapi kalau kulihat-lihat, kau tumbuh menjadi gadis yang cantik dan kuat.”
Alyx tersipu malu—hanya beberapa jenak, kemudian kembali pikirannya menjadi tegang.
“Seperti yang dikatakan ayahmu saat itu—kau akan tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik dan tak perlu berhubungan dengan pekerjaan yang dijalaninya sekarang. Mereka membawamu ke Indonesia saat kau masih sangat kecil…”
“Aku tumbuh dengan baik di Indonesia,” sela Alyx, “orang-orang di sana menjagaku dengan baik. Aku punya seorang ayah dan kakak yang selalu ada untukku.”
“Tentu. Tapi, kau harus tahu, kalau ayahmu—William punya andil yang besar dalam tumbuhnya dirimu.”
Alyx berpikir John sangat berpihak pada ayahnya. “Mereka mengatakan itu. Dan aku berusaha untuk menerimanya.”
“Kalau begitu kau tahu kalau ayahmu tetap mengawasi dirimu—meski dari jauh.”
“Aku tahu dan sekali lagi berusaha mengerti. Lalu, kau tentu tahu apa alasan dia tidak pernah datang menemuiku, padahal dia sudah berada sangat dekat denganku.”
John mengerutkan keningnya.
“Kameraku mendapat gambarnya. Dia sedang berdiri memandang Big Ben, kurasa dia tahu mengenai kehadiranku, tapi sayangnya dia tidak menemuiku, hanya sekadar untuk menyapa.”
“Bukannya tidak mau, tapi dia benar-benar tidak bisa.”
“Apa maksudmu?”
“Kau sudah menceritakan mengenai chip itu?” tanya John pada Jane. Setelah melihat anggukan putrinya, dia kembali menatap wajah Alyx. “Karena telah memasang chip itu, tak seorang pun dari kami yang bisa mengetahui keberadaanmu—atau lebih tepatnya, mendekati tempat keberadaanmu.”
“Untuk apa? Untuk apa semua itu?”
“Dengan begitu, itu terbukti cara ampuh untuk menghindarkanmu dari orang-orang yang ingin mencelakaimu. Sayangnya, sekitar dua tahun yang lalu, daya lindung itu berkurang. Mereka mulai mencurigai kalau kau memang benar-benar masih berada di dunia ini dan mulai mencari keberadaanmu. Untungnya kau selalu bepegian dari satu Negeri ke negeri lain—itu membuat mereka pusing menemukan sensor SOS yang terdapat di tubuhmu. Mereka berpikir kau sudah tahu mengenai keberadaan SOS—sehingga kau berusaha menghindar dari kejaran.”
“Karena itu mereka tidak membunuhku. Dan saat tahu kemarin bahwa aku tidak tahu menahu mengenai SOS, salah satu dari mereka segera mencoba menghabisiku. Kalau saja Tom tidak datang saat itu, entah apa yang terjadi. Jadi sekarang aku tidak perlu khawatir lagi, bukankah aku sudah tahu mengetahui semuanya.”
“Bisa jadi—sebuah solusi pemikiran yang cukup baik.”
“Tapi aku cukup bingung, apa bedanya aku tahu atau tidak tahu?”
“SOS bisa mengetahui jika seseorang mengetahui keberadaan SOS—itu berlaku kalau yang membicarakannya adalah warga SOS sendiri. Saat kami-atau mereka SOS yang lain membicarakan SOS, sensor di tubuh akan menyala dan tertedeteksi oleh kantor SOS. Kau tidak tahu mengenai keberadaan SOS dan SOS sendiri tidak mengatahui kehadiranmu atau belum terdeteksi oleh kantor kewarganegaraan SOS. “
“Apa dia bekerja untuk SOS?” tanya Alyx mengenai ayahnya kemudian.
John menggeleng-geleng pelan. Bukan untuk membantah pertanyaan Alyx, tapi untuk memberitahunya, bahwa tidak hanya itu. “Dia yang terbaik,” puji John. Seperti dia sangat mengagumi sahabatnya itu. Pipi John terangkat. Tentu dia tersenyum lebar.
“Semakin kesini, aku merasa semakin banyak yang tidak kuketahui,” kata Alyx dan meringkuk di atas sofa. “Tapi yang paling penting yang harus kuketahui adalah kenapa harus a…ku…” Alyx menutup matanya dan tak terdengar suara lagi darinya.
“Dia anak yang kuat,” kata John berjalan ke samping jendela. Dan menatap pohon-pohon dengan daun meruncing itu.
Jane menatap wajah Alyx yang tertidur pulas dengan tatapan sayu. “Jadi bagaimana selanjutnya?” tanya Jane pada ayahnya dan Tom.
“Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan William saat ini.” Tangan John dilipatnya ke belakang. “Tom, sebaiknya kau mempersiapkan semuanya. Jangan sampai ada satu pun yang terlewatkan. Kita harus segera membawanya ke rumah. Semuanya harus sesuai dengan rencana William.”
Jane telah menyiapkan mobil di luar. Merapikan tempat untuk membaringkan Alyx. “Apa kita bertindak benar, Yah?”
John menggeleng dan beberapa jenak kemudian mengangguk.
“Sepertinya Ayah lebih tidak yakin dariku. Seharusnya aku memberitahunya saja semua keadaan yang sungguh bagiku sangat merisaukan ini.”
“Tidak Jane. Kita sudah berdiri di pihak yang benar. Kita akan membawa Alyx pergi dari tempat ini sekarang, sebelum mereka datang.”
Jane masuk ke dalam rumah sebentar. Mengisyaratkan pada Tom bahwa semuanya telah siap. Barang-barang Alyx telah dimasukkan ke dalam bagasi. Tom menatap sebentar wajah Alyx dan mengangkatnya. Dia menggendong Alyx yang terkulai lemah masuk ke dalam mobil.
Tom yang duduk di belakang kemudi. Dia sudah siap menyetir untuk perjalanan yang sepertinya akan memakan waktu lama. Jane duduk di sampingnya, sambil sesekali berbalik melihat Alyx. Sementara John telah pergi dengan mobilnya sendiri.
Tom menstater mobilnya. Seketika mobil itu berjalan menjauh dari rumah kecil dengan dinding kayu. Tom yang lainnya tentu perlu merahasiakan mengenai keberadaan mereka pada Alyx. Setahu Alyx mereka sedang berada di sebuah pegunungan, tapi tidak. Mereka tepatnya berada di sebuah tanah lapang. Hanya ada sebuah pohon yang tumbuh di samping jendela. Itu pun bukan tumbuhan asli.
Semuanya palsu. Itu membuat Alyx seketika merasa dirinya memang sedang diculik. Alyx memang tadi merasakan pusing dan tahu bahwa dia telah meminum obat tidur yang telah dimasukkan dalam minumannya. Saat Tom menggendongnya, dia membuka matanya dan melihat keadaan di sekitar sana. Dan segera tersadar, mereka sedang tidak di kawasan pegunungan. Tapi, dia tidak bergerak, membiarkan dirinya dibawa—entah kemana itu.
*
Tom dan Jane sudah berganti tempat duduk, saat Alyx berusaha melihat jam di dashboard. Saat ini pukul 11.30 p.m. Alyx melihat keluar jendela, tapi gelap. Meski begitu dia tahu kalau dia berada di kota sekarang. Hampir dua belas jam dan orang-orang yang membawa Alyx belum berhenti juga.
Tiga puluh menit kemudian. Mobil berhenti saat sebuah panggilan masuk di telepon genggam Jane. Dan saat itu Alyx berpikir untuk segera keluar dari mobil itu, kalau tidak mendengar suara Jane yang tiba-tiba berubah.
Alyx diam di tempatnya, berusaha mendengar apa yang Jane sedang bicarakan. Tapi, Jane tidak berbicara lagi, dia membiarkan Tom yang berbicara di telepon.
“Kau baik-baik saja?” tanya Tom dan mengaktifkan speaker.
“Iya.” Suara John terdengar, “tapi kau tidak bisa membawanya kemari. Mereka sudah menduga akan membawanya ke tempat ini. Sekarang aku sedang di ruang kerjaku dan segera menelpon kalian. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Tom?”
“Iya aku tahu.”
Panggilan berakhir. Tom dan Jane bertukar pandang lagi.
“Apa yang terjadi?” suara Alyx membuat Tom berhenti dan berbalik bersamaan dengan Jane. Alyx berdehem sebentar. Suaranya agak parau setelah tidak berbicara cukup lama. “Aku butuh air.”
Jane menunjuk beberapa botol air di kursi paling belakang.
Alyx berbalik dan mengambil sebotol. Meminum beberapa tegukan. Melempar botol di sampingnya. Dan melihati wajah Tom yang tersenyum kecil untuk beberapa saat. “Ada apa denganmu? Kau berusaha membuatku tertidur untuk berapa lama?”
Tom kembali dengan air mukanya yang serius. Menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
“Kalian lagi-lagi membuatku bingung. Sebenarnya kalian orang yang harus kupercayai atau tidak.”
“Kami berada di tempat yang pertama,” kata Jane dengan wajah meyakinkan.
“Lalu kenapa kalian berusaha membuatku tertidur?”
“Berusaha? Maksdumu kau tidak tertidur?”
“Liquid insomnia?” tanya Tom kemudian.
“Kau tahu itu? yah, beberapa orang menyebutnya seperti itu. Dan aku menyuntikkannya tadi, setelah mengetahui kau memberiku obat tidur dengan cara yang sangat baik. Aku memang merasa sangat ngantuk awalnya dan benar-benar hampir tertidur, tapi obat itu seketika menyebar. Dan aku tetap terjaga.”
“Maafkan aku,” kata Tom dengan sangat menyesal. “Tapi kami bermaksud membawamu ke lab.”
“Tentu bukan karena aku terbangun kalian tidak jadi ke tempat pertama yang akan kita tuju.”
“Ada sedikit masalah.”
“Tapi, apa hubungannya membuatku tertidur dengan lab. yang tadinya akan kita datangi?”
“Ada sebuah chip penerjemah di tubuhmu…” Jane berhenti. Sepertinya dia telah membocorkan sesuatu yang tidak
seharusnya diceritakannya pada Alyx.
“Lihat dirimu, kau orang yang terlalu jujur,” kata Tom dan tetap memperhatikan jalan di depannya.
“Apa itu Jane?” Alyx lebih suka bertanya pada Jane sekarang. Jane sepertinya orang yang sangat jujur—tidak bisa
menyimpan sebuah rahasia.
“Itu chip yang menerjemahkan suaramu atau suara orang-orang disekitarmu, menyampaikannya pada seseorang yang menanamkan chip itu padamu.”
“Sepertinya Ed menanamkan chip itu saat di apartemenmu. Saat menyadari kedatanganku, dia segera menempelkannya di lehermu,” Tom menambahkan kalimat Jane. Tidak ada gunanya lagi tetap merahasiakan mengenai itu, sementara ada seorang juga yang berusaha memberitahu semuanya.
“Bagaimana mungkin?”
“Kau harus tahu chip yang kami bicarakan itu bukan seperti chip yang sering kau lihat, tapi sebuah chip yang lebih kecil dari pada yang kau bayangkan. Tentu saja kau tidak merasakan kalau chip itu sedang berada di lehermu.”
Alyx menyentuh lehernya. “Lalu…”
“Kami akan mencoba membukanya dengan membawamu ke lab., tapi mereka tahu lebih dulu. Semua yang diterima oleh otakmu, mengalir ke chip itu, dan tersampaikan pada mereka. Aku yakin sekali kau mendegar semua yang kami bicarakan, kau tidak mengerti, tapi Max mengerti.”
“Kalian membuatku tertidur agar tidak mengirim pesan secara tidak sadar pada mereka.”
“Kau mengerti dengan cepat.”
“Apa yang harus kulakukan sekarang?”
“Kupikir kau tidak akan bisa tertidur lagi. Aku hanya tidak perlu menjelaskan padamu mengenai tempat yang kita tuju. Dan kau berusahalah untuk memikirkan tentang sesuatu yang lain sekarang. Kurasa mereka belum memperhatikan kalau kita tidak menuju ke lab. sekarang. Buktinya mereka masih menunggu kedatanganmu.”
“Apa yang diinginkannya dariku?”
“Aku tak tahu, Alexandra. Aku hanya bertugas untuk melindungimu saat ini.”
*