
ALYX baru saja tiba di apartemennya sekitar pukul sepuluh malam, diantar Nick. Tubuhnya sangat lelah, setelah hampir sebulan, baru hari ini dia memulai latihan lagi. Perkiraan Alyx tadi tepat, Nick memenangkan pertarungan sebelum dua belas putaran. Lawannya tidak KO, hanya dia menyerah, dan membuat Chris tertawa saat Nick masih menginginkan untuk bertarung.
Saat masuk ke dalam lift Alyx hanya bisa bersandar. Sepertinya dia akan tidur lelap malam ini.
“Alyx, selamat malam,” sapa Indah yang masuk sebelum pintu lift tertutup. “Ada apa denganmu, kau terlihat lelah?”
“Hanya habis berolahraga. Kau baru pulang kerja?”
“Tidak. Sudah sejak pukul lima, tapi aku mampir ke rumah adik iparku. Ah, aku meninggalkan Kitty sendiri.”
“Michi juga. Tapi, aku lagi-lagi membuka pintu.”
“Aku melakukannya juga. Kurasa mereka sedang bermesraan sekarang.”
“Kau betul, sepertinya kita akan segera menjadi besan. Oh iya, aku akan membawa Michi ke salon sabtu ini. Kau mau aku membawa Kitty juga?” Alyx meminta persetujuan.
“Kau mau membawanya, tentu aku mengijinkannya.”
Lantai sembilan. Pintu lift terbuka.
Pintu apartemen Indah tepat berada di depan lift. Dia melangkah membuka pintu. “Aku tidak akan mengajakmu masuk untuk minum teh, karena kau sangat lelah.”
“Iya, rasanya aku ingin segera tidur. Sampai jumpa.” Belum tiba di depan pintu apartemennya, Alyx berhenti dan memanggil Indah.
Indah yang baru saja masuk, keluar setelah mendengar teriakan Alyx. Dia melihat ke arah yang ditunjukkan Alyx. Pandangan Indah seketika menjadi kabur karena air mata. Kitty terbaring di depan pintu apartemen Alyx, tatapannya nanar.
Alyx melangkah lebih dulu, memeriksa keadaan Kitty, dan berbalik melihat Indah. “Maaf.”
Lima belas menit kemudian, polisi datang.
“Kau memanggil kami, karena kucing ini?”
“Aku rasa memang tidak perlu memanggil mereka,” Indah mengatakan itu dalam bahasa Indonesia.
“Kami memanggilmu karena dia mati pasti karena seseorang.”
“Seseorang?”
“Periksa saja. Ada bekas tusukan di lehernya dan itu sepertinya karena heels.”
“Baiklah, kami akan menelesuri kejadian ini.”
Keesokan harinya, tidak ada kabar lagi dari polisi. Mungkin urusan kucing ini tidak penting lagi bagi mereka.
“Michi…” Alyx dan Michi sedang di kamar tidur, “saat aku tidak ada, kau jangan meninggalkan tempat ini. Kau mengerti? Ah, aku sangat menyayangimu,” katanya dan memeluk Michi erat. “Michi,” suara Alyx menjadi serius, “menurutmu, apakah yang membunuh Kitty adalah penghuni apartemen ini juga? Ah, jangan mengabaikanku, kau tahu ini pembunuhan, kan?”
Michi segera mengeong saat Alyx merasa tidak diperhatikan.
“Apa Kitty membuat orang itu menginjaknya dengan heels. Menurutmu setinggi ini?” Alyx mencoba menerka menggunakan telunjuk dan jempolnya yang diletakkan di udara. “Hanya setinggi lima, itu membuat leher Kitty terinjak. Sudahlah, yang jelas kau harus berhat-hati Michi, atau sebaiknya aku tidak meninggalkanmu di rumah sendiri.”
Michi mengeong berkali-kali dan berbalik, seperti menentang yang dikatakan Alyx.
“Ah, aku tahu kau sudah dewasa,” Alyx tersenyum geli.
Minggu berikutnya, Alyx dan Michi baru bisa ke salon kucing tempat yang selalu didatanginya setidaknya dua kali sebulan.
“Seharusnya kita datang bersama Kitty,” gumam Alyx.
“Selamat Siang, apa yang bisa kubantu untuk Michi?”
“Hi Norah,”sapa Alyx. “Michi butuh perawatan ekstra, dia baru saja kehilangan kekasihnya,” infonya.
“Benarkah, kasihan sekali. Aku akan memberimu perlakuan ekstra-ekstra-ekstra.”
“Ohiya, kukunya sepertinya sangat panjang, dia mencakarku kemarin,” Alyx tersenyum kecil.
“Ah, kau benar,” kata Norah saat melihatnya, “Kau mau aku memberinya kuteks?”
“Tidak, Norah.” Alyx menolak.
“Ah, baiklah, sepertinya Michi juga tidak akan suka.” Norah menggendong Michi dan membawanya masuk meninggalkan Alyx di ruang tunggu.
Sementara Michi sedang mendapatkan treatment, Alyx menunggu sambil membaca majalah. Tapi, karena merasa bosan, dia menghubungi Nick.
“Aku sedang sibuk,” kalimat Nick meluncur dari seberang telepon, setengah berteriak.
Alyx melihat layar smartphonenya. Dia bahkan belum mengucapkan sepatah kata pun. “Sibuk apa? Sibuk dengan cangkir kopimu?”
Nick yang hari sabtu ini libur, memilih tinggal di apartemen dan menikmati secangkir kopi. Tidak lupa dengan
komik yang akhir-akhir ini digandrunginya. Dia segera melempar komik yang tengah dibacanya, bagaimana bisa gadis itu mengetahui apa yang dilakukannya. “Enak saja. Aku tidak sepertimu. Aku ini sedang memeriksa dokumen penting.”
“Benarkah? Kalau begitu, bye…”
“Tunggu… tunggu. Memangnya ada apa?”
“Tidak. Aku hanya menelpon karena bosan.”
“Apa? Lain kali jangan menelpon karena hal seperti ini. Ah, atau kau menelpon bukan karena bosan, tapi karena
merindukanku, iya kan? Kalau kau merindukanku, langsung saja datang ke rumah. Bye.”
Sekali lagi Alyx memandang layar HPnya dan memasukkan ke dalam tas ransel maroonnya.
*
Hampir sejam Alyx menunggu, saat Norah datang bersama Michi yang tampak begitu tampan. Dia begitu bersemangat mengajak Michi berjalan-jalan hari ini. “Kau tahu kita akan kemana, Michi? Kita akan ke rumah paman Nick.” Dia sendiri yang menjawab pertanyaannya.
Michi tidak bergerak di pelukan tuannya. Hanya sesekali dia mengeong, saat angin bertiup ke wajahnya.
“Aku di depan pintu,” kata Alyx di telepon.
Nick yang baru saja menerima pemberitahuaan berlari ke pintu dan melihat siapa yang datang. Dan benar saja wajah Michi sudah di layar. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Cepat buka pintumu.”
“Apa?” Nick berbalik melihat barang-barangnya tergeletak sembarang.
“Kau tidak perlu membersihkan kamarmu. Aku tidak akan memamerkannya pada pegawaimu kalau kau itu orang yang jorok.”
“Hentikan!” Pintu terbuka. Nick mempersilahkan Alyx masuk.
“Terlalu…”
Alyx menjongkok dan membiarkan Michi berjalan sendiri.
“Ada perlu apa kau datang ke rumahku?”
“Kau tega sekali, aku ini temanmu, bersikap baiklah padaku. Padahal kau sendiri yang mengatakan padaku untuk
datang,” gumam Alyx.
“Jangan naik ke karpet. Itu mahal,” teriak Nick pada Michi yang baru saja berjalan bak seorang model.
“Ah, jadi kau benar-benar merindukanku.” Nick mengabaikan dan mencoba merangkul Alyx, tapi Alyx segera
mengelak dengan mempelintir tangan Nick dan membuatnya merintih kesakitan. “Apa yang kau lakukan?”
“Maaf. Ini refleks.”
“Kalau begitu lepaskan aku sekarang.” Nick mengelus tangannya yang baru saja dilepaskan. “Apa lagi ini,
penikmat bela diri? Taekwondo? Karate?” Nick mulai menerka-nerka bela diri apa lagi yang baru saja dipelajari oleh Alyx.
“Tidak. Ini hanya pelajaran lama.”
Nick tertawa kecil, “pantas saja tidak ada pria yang tahan denganmu.”
“Jadi kau bukan pria?”
“Sialan kau. Kau terlalu kuat. Sebaiknya kau tidak mempelajari semuanya. Kau terlalu rakus.” Nick memikirkan
temannya yang setiap kali mengunjungi suatu Negara, pasti dia akan mempelajari bela diri Negara itu, tapi beberapa memang sudah dipelajarinya saat masa sekolah dulu. Yah, hanya sekedar mempelajarinya, dia tak berniat untuk memperoleh sabuk atau mengikuti kejuaraan.
“Kau keterlaluan sekali,” Alyx berdiri dan masuk ke dapur Nick. Mengambil minuman dari lemari es.
“Kalau kita bertanding apa jadinya, yah?”
“Kau mau bertanding dengan perempuan? Dasar kau. Kupikir mungkin saat bertinju, kau akan menang, tapi…” Alyx
setengah berteriak.
“Tapi apa?”
“Mungkin aku akan menang kalau bela diri yang lain,” Alyx tertawa kecil.
“Jangan mimpi kau bisa mengalahkanku.” Nick berdiri, berbalik untuk mengambil remote di meja, tapi
seketika berhenti—mematung.
“Kau mau sparring denganku?” Kaki jenjang Alyx sudah menendang, lurus, dan tepat di depan wajah Nick. “Taekwondo mungkin?”
“Mungkin lain kali.” Nick tahu betul kalau tendangan Alyx sangat kuat, jadi sebaiknya dia tidak meladeninya.
Alyx menurunkan kakinya dan duduk di depan TV, menikmati minuman sodanya.
“Aku membuat kamera pin hole.”
“Aku tidak bertanya,” kata Alyx dengan pandangan tidak beralih dari TV. “Baiklah, untuk apa?” tanya Alyx
kemudian, saat Nick hanya diam.
“Tidak, hanya membuatnya saja.”
“Dasar. Kalau begitu tidak perlu kutanyakan.”
“Ah, kau malas sekali berbicara. Apa English-mu tidak bagus?”
Alyx mencibir. “Setidaknya aku mengetahui bahasa yang tidak kau pahami.” Beberapa saat kemudian perhatian Alyx teralih pada kamera DSLR yang diletakkan di hadapannya. “Kau baru mengganti lensanya?” tanya Alyx kemudian.
“Kenapa?”
“Ada debu. Kau seharusnya merawat kameramu ekstra. Dasar.”
“Ah, terima kasih, kau perhatian sekali dengan kameraku.”
“Sudahlah, tidak ada untungnya aku memberitahukanmu. Aku akan pergi sekarang.”
“Kau mau pulang?” tanyanya sambil melihat gelang di tangan Alyx.
Alyx tersenyum dan mengangkat menujukkan tangannya. Sebuah gelang tali dengan liontin jam Big Ben—kecil
sekali. “Kau menyesal memberiku?”
“Tidak. Hanya senang kau masih memakainya.”
Alyx mencibir dan sekali lagi menyentuh gelang yang telah dua tahun lebih dikenakannya. “Ini karena kau yang
memberinya, jadi aku selalu pakai.”
Cengiran Nick membuat Alyx memutar bola matanya.
“Eh, kau benar akan pulang sekarang?”
“Kenapa kau senang?” Alyx meraih Michi yang menggeliat di kakinya. “Kita akan jalan-jalan Michi, di sini sangat membosankan.”
“Kau mau jalan-jalan kemana?”
“Biasa. Aku akan mulai mencari lagi.”
“Baiklah lakukan yang ingin kau lakukan. Sampai jumpa.” Nick mengantar Alyx.
*
Alyx tiba di depan Parliament House. Dia tidak membawa Michi, dia memulangkannya dan hanya mengambil
kamera kemudian pergi sendiri. Alyx mendongak melihat jam Big Ben, beberapa bulan yang lalu dia juga di sini. Setelah puas memandangi jam besar itu—beberapa kali jepretan, Alyx pergi. Dia berjalan melalui sungai Thames yang membelah kota London.
Lebih baik jalan kaki, menurut Alyx. Mungkin akan lebih mudah mendapat apa yang dicarinya, tapi sampai detik ini tak ada tanda-tanda kemunculannya.
Alyx memulai rutinitas ini semenjak kameranya mendapatkan gambar seseorang yang sangat ingin ditemuinya.
Saat itu, orang itu sedang memandangi Big Ben seperti yang dilakukannya tadi. Alyx pikir mungkin akan menemukannya lagi, jadi setiap kali dia memutuskan untuk datang ke tempat ini. Tapi, perkiraannya salah, orang itu tidak pernah muncul lagi. Sepertinya yang dicarinya telah pergi lagi ke kota atau ke Negara lain. Haruskah dia pindah lagi? Tapi, dia tidak akan meninggalkan London sebelum mendapat informasi jelas tentang keberadaan orang itu.
Cukup untuk hari ini, sekarang Alyx harus kembali ke apartemennya, tidak baik membiarkan Michi terlalu lama
sendiri. Dia bahkan belum menyiapkan makanan untuknya. Mungkin Michi sudah sangat kelaparan. Dia tersenyum, mengingat Michi yang akan selalu mengikutinya saat ingin bermain.
*
Alyx tiba di apartemennya. Dia berhenti saat tidak melihat Tom berdiri di tempat kerjanya. Dan kembali berjalan, masuk ke dalam lift. Sesekali dia melihat kantongan yang dibawanya, kantongan yang berisi makanan kucing. Tadi dia mampir membelinya untuk Michi.
Lantai sembilan. Pintu lift terbuka. Dia berdiri di depan pintu apartemennya, bahkan sebelum memasukkan
pass, dia segera menyadari pintunya sudah terbuka. Alyx melongo dari balik pintu. “Apa aku lupa mengkuncinya?” dia segera masuk ke dalam. Sebenarnya dia ingin segera ke kamar untuk melihat apa kameranya masih di sana atau tidak—mungkin saja seorang telah masuk, tapi langkahnya terhenti saat melihat Michi terbaring di samping tempat makannya.
Alyx mengeluarkan makanan Michi dari kantong dan bermaksud menuangnya ke wadah, tapi berhenti saat mendapat sisa makanan. “Apa ini?” Alyx menciumnya, “Sianida.” Alyx segera tersadar dengan keadaan Michi. Dia meraihnya. Alyx hanya bisa memeluknya erat.
*