
PAGI ini, John membaca surat kabar dengan sangat serius. Sesekali keningnya bersatu atau matanya yang kemudian menyipit, berusaha memahami setiap kata yang tertulis.
“Kau tidak membacanya?” kata John sambil menyerahkan koran pada Jane.
“Ayah…”
“Ya, ya, sepertinya aku sudah tua, aku kadang lupa kalau kau itu bisa membaca pikiran. Ya…” John masih nampak
berpikir.
“Jadi…”
“Aku sedang berpikir—ternyata ada banyak hal yang tidak kuketahui dari keluarga Holder,” katanya dan melipat
tangan di dadanya. “Dan ternyata kehidupan ini benar-benar runyam. Juga tentang
Tom,” John menggelengkan kepalanya.
John memang tidak akan mudah mengerti bagaimana Tom bisa menjadi anak dari William—bahkan William pun juga baru mengetahuinya.
“Jadi…”
“Aku akan ke tempat William sekarang.”
“Dari tadi Ayah menyelaku.”
“Jadi…”
Jane mencibir. “Ayah tidak perlu ke sana, karena paman William dan Alyx sudah datang.”
John melompat dari kursinya dan memandang ke luar jendela. Dia melihat sahabatnya berjalan menuju pintu.
“William, sobatku,” sapanya saat melihat William. “Kau harus cerita,” kata John yang sangat tidak sabaran.
“Mereka menulisnya dengan sangat jelas,” kata William mengangkat bahu.
“Ayo Alyx,” Jane menarik tangan Alyx dan masuk ke ruang TV.
Alyx mengambil posisi yang paling disukainya—menyandarkan kepala di atas bahu sofa—dan kadang menatap
langit-langit.
“Kudengar kau pingsan kemarin?”
Alyx mengangguk.
“Apa yang terjadi?”
“Karena aku pingsan, tentunya aku tidak tahu apa-apa. Tapi, dari mana kau tahu?”
“Adara melihatmu terbaring di salah satu ruang klinik. Ehm, karena saat itu dia kesana untuk mengejar-ngejar Ace yang sedang melakukan penelitian.”
“Aku bahkan belum menanyakan itu?” Alyx melihat Jane, penasaran, “kau sudah bisa membaca pikiranku yah.”
“Sudah kukatakan tidak,” Jane mencibir. “Aku hanya menebak. Tapi…”
“Tapi apa?” Alyx mulai jengkel dengan sikap Jane yang seketika diam.
“Ayo cepat!” Jane menarik tangan Alyx dan meninggalkan ruang TV. “Kami ikut,” teriak Jane saat melihat John dan
William yang akan keluar.
“Kemana?” tanya Alyx bingung.
“Cepatlah!” kata John sambil membuka pintu.
“Ayo, cepat-cepat,” Jane mendorong Alyx yang masih bingung. “Kita akan ke pusat,” kata Jane kemudian saat mereka telah duduk di dalam mobil.
“Oh.” Alyx memandang ke luar mobil.
Di sampingnya duduk Jane yang masih sibuk memasang tali-tali sepatunya. “Oh…” Jane meledek Alyx. “Oh-Oh. Yeah. Lihat anak Paman, hanya mengetahui oh saja.”
Tidak ada suara.
“Aku berusaha, tapi tidak bisa.”
Tidak ada suara.
“Benarkah?”
Alyx yang sedikit tertarik pada satu-satunya gadis yang berbicara di dalam mobil. “Apa yang kau lakukan, Jane?
Kau berbicara sendiri.”
Jane tertawa. “Lihat. Benar-benar lucu.”
“Baiklah, apanya yang lucu?”
“Aku dan paman sedang membicarakanmu. Karena belum menguasai tingkat ini, aku masih tidak bisa berkomunikasi melalui pikiran, jadi aku harus mengucapkannya.”
Alyx hanya melihat Jane. Tidak mengerti.
“Sebenarnya seorang pembaca pikiran tidak bisa membaca pikiran sesama mereka, kecuali kalau mereka sudah
ahli dalam tingkat berkomunikasi antar pikiran. Seperti paman William yang membiarkan aku untuk menerjemahkan pemikirannya, sedang aku masih belum bisa untuk membuka pikiranku agar bisa diterjemahkan oleh paman. Jadi…”
“Sudah, aku mengerti. Lalu apa yang kalian bicarakan?”
“Tentangmu.”
“Tentangmu,” Alyx meniru Jane.
“Aku penasaran.”
“Penasaran apa?” kata Alyx yang tadi sudah beralih dari Jane ke luar jendela, tapi kembali melihat Jane.
Jane mencibir. “Aku tidak berbicara padamu.”
“Baiklah. Terserah. Aku akan diam.”
“Tidak mungkin.”
“Aku akan benar-benar diam,” gumam Alyx di akhir kalimatnya—menyadari bukan dia yang diajak Jane bicara.
“Bisakah aku mengatakan padanya? Tentu,” kata Jane kemudian.
*
Seperempat jam sebelum pukul empat sore. Mereka telah sampai di lapangan pusat SOS yang terletak beberapa meter dari bangunan pusat. Alyx seketika menyadari tempat yang mereka kunjungi itu sangat ramai. Mulai dari anak kecil hingga dewasa—lelaki atau perempuan, semua berkumpul di lapangan.
“Acara apa?” tanya Alyx saat William telah memarkir mobilnya.
Jane merangkul tangan Alyx. “Ayo kesana,” katanya sambil menunjuk ke bagian paling belakang. “Akan ada
pengumuman.”
“Dan semua orang harus berkumpul? Bukankah bisa diumumkan melalui TV?”
“Tidak ada yang memaksakan mereka untuk datang. Hanya saja mereka terlalu menghormati dan menyayangi orang yang akan memberi pengumuman itu, jadi meski akan diumumkan langsung di seluruh SOS, mereka lebih memilih untuk datang langsung.”
Alyx menangguk-angguk. Memperhatikan setiap wajah orang-orang yang tersenyum lebar—menyapa kawan yang
baru datang, memperkenalkan ke anggota keluarganya yang lain. Saat mereka berbicara, Alyx sedang berada dalam satu ruangan dan mendengar suara mereka terpadu menjadi satu. Tapi, beberapa menit kemudian, mereka berhenti, tidak ada lagi suara. Semua pandangan fokus pada panel, layar besar yang terpasang di lapangan.
Seorang wanita cantik dan anggun duduk di kursi dengan background gorden berwarna merah maroon dan kali ini
bermotif bunga yang dijahit dengan benang emas.
“Ibu…” gumam Alyx. “Ada apa?”
Jane meletakkan tangannya di bibir.
*
Abel Adalbrechta Russell duduk di belakang mejanya—merenungkan suatu hal. Matanya tertutup. Kedua tangannya dikatupkan seperti orang yang sedang berdoa—sesekali di hentakkan pada kepalanya. Beberapa kali helaan nafas berat dihempaskannya.
Beberapa saat kemudian, mata beningnya terlihat—dipandangnya foto di atas meja kerjanya. Dan seperti seseorang yang baru saja mendapat sebuah hidayah, dia berdiri. Memanggil pelayan yang sudah berkali-kali mengetuk pintu untuk menyadarkan dirinya yang sudah merenung terlalu lama.
Sarapan yang sudah dingin dibawa keluar. Dimintanya beberapa pelayan untuk mengganti gorden dengan motif yang paling disukainya. Sementara dia merapikan buku-buku yang sedikit berantakan di atas meja.
Pelayan-pelayan itu hanya menatap Abel sesekali. Tidak mengerti mengenai semangat apa yang baru saja menjelma di aliran darah pemimpin SOS itu. Mereka hanya menuruti permintaan Abel yang meminta untuk membersihkan ruangannya. Yang diketahui oleh mereka adalah saat pemimpin telah meminta untuk membantu merapikan ruangannya—yang biasanya dilakukannya sendiri dan melarang mereka untuk menyentuh buku-bukunya—itu berarti hari itu akan ada pengumuman resmi dari pemimpin SOS.
Entah bagaimana penduduk SOS lainnya mengetahui mengenai pengumuman resmi yang akan terjadi—tapi kabar
menjalar begitu cepat. Sehingga Abel pun tak tahu mereka telah datang sejak pukul dua belas siang—dimana dia baru saja mengganti piayamanya dengan pakaian resminya.
Abel berdiri di samping jendela, menatap keluar, melihat banyaknya orang yang datang ke lapangan SOS. Dia masih bisa melihat beberapa orang berdiri di dekat tiang bendera SOS. Dia menghela nafas. Berpikir sebentar. Dan kemudian mengangguk yakin.
Abel duduk di kursi di belakang meja yang berukir. Merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Berdehem
beberapa kali. Punggungnya ditegakkan. Pandangannya tegas menghadap ke kamera yang telah berada di dalam ruangan.
*
Wajah Abel—pemimpin SOS terlihat di panel besar dan juga di TV-TV di setiap rumah. Kepalanya menunduk, memberi salam pada penduduk SOS.
Beberapa petinggi yang belum tahu mengenai pengumuman resmi yang akan diumumkan langsung oleh pemimpin—nampak terkejut, tapi segera bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah, mendengar apa yang akan disampaikan.
“Aku Abel Adalbrechta Russell—pemimpin SOS akan…” dia behenti beberapa saat dan melanjutkan, “sebelumnya, aku ingin meminta maaf pada seluruh penduduk SOS. Aku meminta maaf atas banyaknya cerita yang tidak kalian ketahui. Aku memiih untuk tidak terbuka dalam menceritakan mengenai kehidupan pribadiku untuk melindungi orang-orang yang aku cintai.”
Abel menunduk sebentar. “Sejak kecil, pemimpin terdahulu selalu mengingatkan untuk lebih mengutamakan
kepentingan SOS dari pada kepentingan pribadi kami. Cinta yang kami miliki adalah untuk SOS. Keikhlasan kami melayani SOS. Kami berusaha untuk membuat setiap nafas yang kami hembuskan berarti untuk kalian.” Abel menunduk lagi. “Aku tidak ingin berbicara di sini sebagai seorang pemimpin, tapi sebagai Abel Sidney Holder.
“Dua puluh dua tahun yang lalu—aku berada dalam titik tengah. Keluarga kecilku baru saja terbentuk dan sebuah keluarga besar telah menungguku untuk mendampingi mereka. Aku benar-benar harus memilih. Aku mencintai
keduanya. Aku mencintai SOS dan kalian, sementara di lain pihak cintaku sama besarnya untuk William Holder.
“Bersama William Holder—aku menjadi Sydney-padang rumput yang luas. Menjadi Adalbrechta-Mulia
tak pernah aku dambakan. Tidak, bukan maksudku untuk menolak mendampingi SOS, tapi saat menjadi Abel Sydney, aku merasa benar-benar menjadi padang rumput yang penuh dengan keindahan. Aku tidak perlu menjadi Mulia untuk bisa memberi cintaku untuk SOS. Aku memikirkan banyak ketidakpantasan untuk menjadi seorang
pemimpin. Di lain pihak banyak yang mengatakan aku tidak pantas—belum bisa bersanding dengan seorang seperti William Holder. Aku tersenyum saat memikirkan aku kurang dalam ke dua hal tersebut. Lalu mana yang harus kupilih.
“Dan semuanya menjadi jelas saat pemindahan kekuasaan. Pemimpin Russel sebelumku membuatku benar-benar harus memilih dan akhirnya aku berpikir telah pantas untuk menjadi pemimpin SOS. Dan disinilah aku.
“Sayangnya beberapa hari yang lalu, sesuatu membuatku berpikir keras dan mengharuskanku mencari penjelasan dari semuanya. Dan sebagai jawabannya, aku teringat dengan kata-kata seorang pria yang kuncintai. Dia mengatakan dengan sangat jelas, akan selalu menungguku sampai aku merasa orang-orang telah beranggapan salah dengan menganggapku tidak pantas bersanding dengannya. Jadi…”
Abel berdiri dari kursinya, melangkah ke depan meja kerjanya. Suaranya yang jelas dan tegas kemudian membuat para petinggi dan penduduk SOS bergumam tidak jelas, berbalik ke kanan dan ke kiri mencari teman yang bisa diajak berdiskusi.
“Aku Abel Adalbrechta Russell mengundurkan diri dari jabatan sebagai pemimpin dan seminggu sebelum hari penentuan akan mendaftarkan kandidat pemimpin yang merupakan keturunanku. Terima kasih.”
Layar menjadi hitam. Di ruangannya, lututnya tertekuk, dia duduk diatas kakinya. Menghela nafas dan tersenyum.
*
Alyx masih menatap layar di jangkauan matanya. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan wanita itu. Perasaan bingung, jengkel, dan tidak percaya bercampur di pikirannya.
“Apa yang dilakukannya?”
“Pengunduran diri,” kata Jane santai.
“Entah kenapa aku merasa sedikit kesal mendengar itu.”
Jane tertawa kecil. “Mungkin karena kau adalah keturunan langsung dari pemimpin yang berpeluang besar menjadi pemimpin selanjutnya.”
“Dia saja tidak menginginkan itu, apa lagi aku.”
“Seperti pemimpin, kau tidak bisa menolak. Kau tahu, hanya beberapa pemimpin yang telah melakukan hal seperti
ini—mengundurkan diri. Tentunya tak banyak pemimpin yang mempunyai keberanian untuk ini—mereka harus menunggu selama masa jabatan mereka-tiga puluh tahun itu selesai. Ahhh,” Jane menghela nafas panjang, “kurasa para petinggi belum mengetahui ini.”
“Lalu apa yang akan terjadi?”
“Pertama Pemimpin Adalbrechta akan disidang terlebih dahulu. Para petinggi akan menolak pengunduran diri ini,
jika… jawaban dari pemimpin dirasa kurang beralasan… untuk melakukan pengunduran diri.”
“Kau pasti membaca pikiran orang lain lagi?”
Jane tersenyum. Dia memang tidak terlalu jelas tahu mengenai hukum SOS. “Jawaban apa?”
Alyx menyadari kalau temannya itu
sedang berusaha memusatkan konsentrasi untuk mengetahui lebih jelas.
Jane melanjutkan, “Kandidat yang jelas? Itu berarti kalau kau menolak untuk menjadi kandidat maka pengunduran
diri ini tidak akan dilanjutkan.”
Alyx menganga dan menggeleng keras.
William dan John yang berdiri di hadapan gerbang memanggil Alyx dan Jane. Jane menarik Alyx lagi.
“Kalau begitu kau tidak menyayangi ibumu? Karena dia sudah lelah menjadi pemimpin dan kau yang harus
menyelamatkannya,” kata Jane saat mereka berjalan mendekat pada ke dua ayah mereka.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya John, “sepertinya sangat serius. Kami sudah memanggil kalian dari tadi.”
“Maaf,” kata Alyx dan Jane bersamaan.
“Ayo,” William berjalan lebih dulu. Di sampingnya John mengikuti.
“Tunggu Alyx.”
“Kau suka sekali menarik tanganku,” protes Alyx saat Jane menariknya berhenti.
“Maaf. Tapi, kau ingat apa yang kubicarakan dengan paman William di mobil tadi?”
“Tentu saja… tidak. Kau bahkan belum bercerita.”
“Pemimpin Adalbrechta tadi mengatakan mengenai pengalihan kekuasaan—yang harus kau ketahui mengenai kekuasaan itu, maksudnya adalah kekuatan atau keahlian atau kelebihan atau…”
“Penjelasan kekuasaan itu nampak jelas. Tapi, kenapa kau membicarakan itu, bukankah kita sedang membahas apa yang kau bahas bersama ayah?”
“Iya. Kau tidak sabaran sekali,” Jane menyengir. “Nah, kau ingat saat kau pingsan, jadi ternyata waktu itu Adalbrechta berusaha mengalihkan kekuasaannya padamu.”
“Apa hubungannya?”
“Itu karena Adalbrechta mengalirkan kekuatan yang berbanding terbalik dengan chip hati yang kau miliki.”
“Aduh, aku lebih baik mempelajari buku-buku medis dari pada harus mendengarkan penjelasan yang terdengar sangat tidak jelas ini.”
“Tunggu, Alyx, dengarkan aku baik-baik—agar ini tidak membahayakan ibumu.”
Alyx berhenti berjalan dan berbalik.
“Saat kau menghilang di hari penanaman chip di otak, ternyata Adalbrechtalah yang membawamu. Dia memberikanmu chip yang ditanamkan di sini,” Jane meletakkan telunjuknya di tengah dada Alyx, “dan saat hari dimana kau pingsan, ibumu berusaha untuk mengaktifkan itu dengan memberimu kekuatannya. Tapi kemarin saat
melakukan itu, dia salah mentransferkannya.
“Layaknya sebuah batang magnet yang memiliki kutub utara dan selatan. Chip yang kau miliki adalah potongan
chip—magnet yang dimiliki Adalbrechta. Dia utara dan kau selatan. Tapi, hari itu dia menyalurkan kekuatan utara yang kemudian ditolak oleh chip-mu yang hanya bisa menerima kekuatan yang sama dengan chip.”
“Sepertinya aku mulai mengerti.”
“Dan, menurutku—meski paman William belum menceritakan mengenai ini—Adalbrechta masih berusaha untuk menyalurkan kekuatan selatan yang dimilikinya. Itu berarti kau tidak akan bisa bersentuhan dengannya.”
“Menurutku teorimu itu salah. Bukankah kutub utara dan selatan saling tarik menarik.”
“Tentu. Dan kau akan menarik semua kekuatan utara ibumu, karena setelah menyalurkan kekuatannya, kau menjadi lebih kuat darinya. Bukankah yang kuat yang selalu menang dalam tarik-menarik.”
“Jadi… menurutmu aku harus menghindari ibuku?”
“Entahlah. Kuharap kau bertanya pada ayahmu.”
*