
Dua puluh menit sebelum pukul dua belas malam. Alyx masih terduduk di tempatnya, memandangi kursi yang telah kosong. Azazil dan Darrell telah menghilang. Dia seharusnya telah menghabisi mereka, kalau saja tidak ada yang menghentikannya.
Alyx mencoba berdiri. Memegang perut bagian kirinya. Bajunya penuh dengan darah, namun bekas pisau yang tersisa hanya ada di tusukan terakhir. Azazil menghilangkan luka hanya dengan mengusapnya menggunakan telunjuk. Alyx tahu tidak akan mudah untuk menghabisi Azazil, tapi dia juga tahu bagian mana yang harus dilukainya untuk membuat Azazil tidak bergerak lagi, tapi seseorang telah menghentikannya.
Dia berjalan tergopoh-gopoh, meski luka lainnya telah menghilang, tapi itu masih terasa sangat perih.
“Maafkan aku,” gumam Jane saat Alyx berjalan di sampingnya.
Alyx berhenti.
Jane menyesal telah menggerakkan pikiran orang lain, tapi… “Kalau saja dia bukan Tom,” tangis Jane pecah.
Alyx terkesiap, berbalik, dan duduk di hadapan Jane. “Apa maksudmu, Jane?”
Jane tidak menjawab. Dia hanya bisa menangis terseduh-seduh. “Alyx… Tom, dia…”
Alyx mengerti. Jane bisa saja menggunakan Darrell untuk menusuk Azazil, tapi dia tidak melakukannya. Karena Azazil sekarang bukan sepenuhnya Azazil.
“Tidak ada yang bisa kulakukan selain membiarkannya pergi,” kata Jane di sela tangisnya.
Alyx berdiri. Menghela nafas. Bergumam tidak jelas. Dan berteriak.
Jane mendongak melihat Alyx yang nampak sangat bingung.
“Ayolah,” Alyx telah berdiri di depan pintu.
Jane mendekat. “Kemana?”
“Aku akan membawamu ke tempat yang aman.”
Jane menarik nafas panjang, membuat dirinya lebih rileks. “Aku akan ikut bersamamu,” kata Jane dan mengikuti Alyx yang telah berjalan dengan cepat ke timur.
“Aku tidak tahu siapa seseorang yang dimaksudkannya. Semua orang bisa saja digunakannya.”
“Tapi, itu bukan aku. Itu karena kau.”
“Kerena itu, kau tiddak perlu mengikutiku,” Alyx berbalik, emosinya meladak.
Jane terkejut.
Alyx menghela nafas. “Maafkan aku. Aku benar-benar bingung. Aku bahkan tidak tahu apa yang Azazil ingingkan sekarang.”
“Dia mengingkan kalian.”
“Apa?”
“Aku pun tak tahu siapa yang diinginkannya, tapi selain kau seorang diantara mereka.”
Alyx berjalan cepat dan meminta Jane mengikutinya. “Jane, kau bisa mengetahui dimana ayahku sekarang berada?”
Jane mengangguk kecil. Masih bingung dengan apa yang akan direncanakan Alyx. Jane berusaha menemukan pikiran-pikiran orang-orang yang baru saja disebutkan oleh Alyx.
“Bagaimana?” Alyx telah bertanya beberapa kali.
Jane menggeleng.
Tujuan mereka adalah pusat. Alyx memandang puncak bangunan utama dan memperlamabat langkahnya. “Butuh sepuluh menit lagi untuk tiba di sana. Sepuluh menit lagi pukul dua belas,” gumam Alyx. “Apa yang akan dilakukan Azazil saat pukul dua belas malam?” Alyx bertanya pada Jane yang baru saja tiba di sampingnya.
Jane mengambil nafas. Terlalu lelah telah berlari jauh.
“Aku harus membawa Nick kembali,” kata Alyx sebelum Jane menjawab. “Kau pernah membaca kisah Azazil?”
“Aku tidak begitu yakin.”
“Apa kau bisa meminta Prof. Singh ke tempat ini?”
“Memang kenapa?”
“Jangan banyak bertanya, Jane.”
“Baiklah. Aku tahu. Aku tidak yakin apa Prof. Singh baik-baik saja.”
“Well, Jane, dia memang pria botak yang tua, tapi dia lebih keren dari yang pernah kau bayangkan.”
Jane mendengus. “Aku tidak pernah membayangkan itu,” gumam Jane. Dia kemudian melangkahkan kakinya ke selatan sambil menarik nafas dalam-dalam. “Dia tidak suka saat orang-orang menghinanya. Pria botak tua,” teriak Alyx, “kau mendengarku. Cepatlah ke tempat ini.” Sejenak kemudian, Jane berbalik, “Aku tidak yakin, Alyx,” katanya dan menggeleng. Beberapa detik kemudian, Jane tersadar dengan benda kecil di sakunya.
Dia mengeluarkan sebuah dadu kecil dengan satu tombol kecil bulat berwarna merah. Ditekannya tombol itu dan dilemparkan ke atas udara. Jane dan Alyx saling berpandangan. Namun, beberapa detik berikutnya, mereka menutup telinga, menunduk. Terkejut dengan suara ledakan dari dadu kecil itu.
“A…pa yang kau lakukan?”
Jane menggeleng. Dia pun terkejut dengan benda pemberian Singh.
Semenit kemudian, sebuah lubang persegi panjang muncul di tengah jalan. Professor Singh keluar dari sana. Alyx memperhatikan perpustakaan yang terlihat dari lubang itu.
“Prof. Singh,” seru Alyx.
Jane berbalik dan menghampiri Singh, melongokkan kepalanya ke dalam.
“Kau hampir membunuhku,” omel Jane.
“Aku sudah mengatakan padamu untuk melempar setelah menekannya. Baiklah apa yang terjadi?”
“Kurasa kau tahu apa yang terjadi, prof. Singh. Lalu bagaimana denganmu, aku rasa mereka mengatakan hal yang buruk telah terjadi padamu.”
“Well, tidak ada yang harus dikhawatirkan dariku. Aku telah mengirim kembaranku.”
“Kembaran?”
“Aku akan menceritakannya nanti. Lalu apa aku harus membantu kalian?”
“Kurasa pertanyaanmu salah. Seharusnya kau bertanya apa yang bisa kau bantu?”
“Baiklah.” Singh berdehem, “apa?”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Alyx kemudian.
Professor Singh tidak menjawab. Dia hanya diam. Tapi, karena terlihat seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu, Alyx tidak mengganggunya.
“Ehm, Alyx, sebenarnya apa yang kau takutkan?”
“Apa? Apa?”
“Well, kau menguasai banyak hal selama berada di rumahku, jadi kuharap sekarang kau bisa mengendalikan rasa takutmu. Entah apa yang harus kau takuti, tapi selama kau percaya dengan kekuatan dirimu, semua akan sesuai dengan yang kau rencanakan.”
“Tidak. Ini tidak semudah yang kau katakan.” Alyx berbalik dan duduk menjongkok. Menyentuh dahinya.
“Alyx, tiga menit lagi pukul dua belas,” Jane mengingatkan setelah melihat jam di ruangan Singh.
“Aku tidak perduli.”
Jane yang tadi bermaksud masuk melalui lubang pintu, berbalik. “Ada apa lagi?”
“Kumohon, jangan selalu mengajukan pertanyaan. Kau membuatku semakin pusing.”
Jane menarik diri. Wajahnya di tekuk.
“Masuklah. Biarkan aku menenangkan diri. Kalian harus tahu ini terlalu cepat bagiku. Aku bahkan baru berada di SOS untuk beberapa bulan dan harus menghadapi kekacauan seperti ini.”
“Maafkan aku, aku seharusnya tidak membawamu ke tempat ini,” nada menyesal terlontar dari mulut Jane.
Singh berdehem, “memang selalu ada dua jalan.”
“Tidak hanya ada satu jalan.”
Semenit kemudian Alyx, Jane, dan Singh bisa mendengar jam berdenting.
Tepat pukul dua belas malam, cahaya di Pusat SOS menghilang.
“Kurasa seseorang telah memutus benang itu,” gumam Alyx, mengingat Ace yang telah pergi lebih dulu. “Bisakah pintu ini membawa kita ke Bangunan utama.”
Singh menepuk bajunya dan mengangguk. Dia memindahkan lubang itu tepat ke arah Timur. Pintu terbuka dan mereka telah berada di laboratorium utama. Alyx keluar lebih dulu dan masuk ke ruang pemeriksaan. Nick masih terbaring di dalam tabung.
“Ayah…” seru Jane saat melihat John yang masih sibuk dengan layar di hadapannya.
“Jane…” John segera memeluk anaknya. “Kau baik-baik saja?”
Jane mengangguk dan melepas pelukannya. Saat berbalik melihat Alyx, dia tahu kalau temannya itu tersenyum—meski sebentar.
“Bagaimana dengannya?” tanya Alyx.
“Setelah kubuka tabungnya, kau harus segera membawanya kembali.”
“Aku tahu.”
John menekan salah satu tombol dan tabung terbuka. Pria di tabung itu membuka matanya.
“Alyx,” kata Nick pelan.
Alyx memeluk sahabat baiknya. “Kau bisa berdiri?”
Nick berusaha bergerak. Tangannya digenggam Alyx. Dia mengikuti kemana Alyx membawanya.
“Alyx…” panggil Jane yang berdiri di belakang John, “aku tidak tahu apa itu, tapi kurasa akan ada yang terjadi di Timur. Jadi, kumohon jangan pergi ke sana sendiri.”
“Kau terlalu mempercayai kesetiaanku. Tapi, maafkan aku Jane, aku tidak sebaik itu.”
“Apa yang kau katakan, Alyx…”
Alyx menarik nafas dalam-dalam. “Maaf… aku akan pergi bersama Nick.”
“Alyx…” Jane menarik baju John dan menyandarkan kepalanya.di punggung ayahnya. Tidak sanggup melihat gadis yang telah dianggpanya saudara dengan tega meninggalkan mereka.
“Dimana kita, Alyx?” tanya Nick sambil sesekali menengok ke belakang.
Nick mempercepat langkahnya, mengikuti Alyx yang membawanya ke ruangan pemimpin.
Setibanya di bangunan utama, Alyx bisa memperhatikan para petinggi yang masih melindungi pemancar di ruang tengah. Alyx sedikit lebih tenang, toh ada mereka yang akan melindungi SOS.
Sebelum berbalik ke lorong menuju ruang pemimpin, Alyx berhenti saat sesuatu bergerak seperti angin di sampingnya.
“Ada apa Alyx?” tanya Nick bingung melihat Alyx yang terlihat kebingungan mencari sesuatu.
“Kau mendengarnya?” Alyx berbalik ke kanan.
Beberapa jenak kemudian, suara langkahan terdengar mendekat. “Alyx… Alyx… kau di sini?”
“Amaris…”
Amaris berjalan tergopoh-gopoh sambil menarik tangan Alyx masuk ke dalam ruangan pemimpin.
“Dia tidak bisa masuk ke tempat ini.”
Alyx melihat Amaris yang seperti sibuk sendiri.
“Kau melihatnya, Alyx?”
“Siapa yang kau maksud, Amaris?”
“Azazil. Aku mendengar suaranya menggemah. Dia ada di sini. Dia pasti sedang meninggalkan tubuh yang digunakannya.”
“Tom…” sela Alyx.
“Apa? Tom. Iya, sudah kuduga. Tom datang padaku dan memintaku menceritakan mengenai tubuh Azazil.”
“Dia sudah melepaskan Tom? Kuharap kalian bisa menemukan dia segera.”
“A…pa maksudmu? Jangan katakan, kau akan meninggalkan SOS,” kata Amaris tidak percaya.
Alyx tidak memperdulikan Amaris dan berjalan menuju jendela yang menghubungkan SOS dengan dunia luar. Dia menyibak gorden.
“Alyx… kumohon, kau tidak bisa meninggalkan kampong halamanmu seperti ini,” Amaris jatuh terduduk.
“Kalau dia menginginkan sesuatu dariku, dia bisa mendatangiku di tempat yang hanya diketahui oleh diriku sendiri.”
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi di tempat ini?” tanya Nick kebingungan.
“Aku akan menceritakannya nanti, Nick. Masuklah,” pintah Alyx setelah membuka pintu jendela yang seketika membuat Nick terkejut.
“Oh Tuhan…” jerit Amaris, “aku tidak habis pikir. Banyak orang yang telah berkorban untukmu dan kau… kau menyia-nyiakan pengorbanan mereka.”
“Ada apa dengan wanita itu? Kurasa kita harus membantunya.”
“Kau tidak tahu apa-apa, Nick.” Alyx mengikuti Nick yang telah masuk lebih dulu.
“Tapi Alyx… kau dengar yang dikatakan Azazil. Aku tidak bisa mengungkiri kalau yang dikatakannya memang benar. Baiklah, kurasa mereka memang menginginkan kau tidak di sini. Pergilah, Alyx, sebelum terlambat.”
Alyx yang menunduk lesu seketika terkejut. “Kalau itu benar… maafkan aku… katakan pada Papaku kalau kau adalah sahabatku, Nick. Sampai jumpa,” kata Alyx menutup pintu dan menghancurkan pintu menuju kamarnya dengan sekali tendangan.
Alyx menatap jendela yang sudah hancur. Dan berbalik membantu Amaris berdiri.
“Aku menyuruhmu pergi dan kau tetap di sini, dasar gadis yang aneh.”
“Well, apa yang harus kulakukan sekarang, Amaris?”
Amaris menatap Alyx dan memperbaiki rambut gadis itu. “Ayo kita menemui orang tuamu.”
“Ayah dan ibu?”
“Mereka di ruangan Petinggi.”
“Mereka baik-baik saja kan?”
Amaris hanya diam dan mengajak Alyx mengikutinya.
*
“Ibu…” seru Alyx setelah membuka pintu dan mendapati William dan Abel.
William duduk berlutut di samping Abel yang terbaring lemah di sofa. Tangannya menggenggam tangan Abel. Tak henti menggumamkan nama istrinya.
Alyx mendekat.
“Kau tahu yang dimaksudkan oleh Azazil?” tanya Amaris yang berdiri di samping Alyx. “Dia tahu kalau dia hanya perlu menyakiti jiwa satu orang untuk menyakiti yang lainnya.”
“Ibu…” Alyx memandangi wajah Abel yang pucat pasi.
“Alyx, kau baik-baik saja anakku?” tanya William yang baru saja menyadari kehadiran Alyx.
Alyx mengangguk. Dia kemudian membungkuk. Meletakkan tangannya di atas dada ibunya. Semenit kemudian, Alyx jatuh terduduk dan tesenyum pahit.
Abel terbangun dan menarik nafas panjang. Dia merasakan sesuatu telah masuk kembali masuk ke dalam tubuhnya. William langsung memeluknya, menyadari belahan jiwanya telah sadar kembali.
Alyx menatap lantai dengan tatapan sedih.
“Aku tidak bermaksud menolaknya, kalau kau tidak bisa mengemban kekuatan itu, tapi aku tidak bisa memiliki itu lagi.”
“Maafkan aku, aku hampir mencelakaimu.”
“Tidak. Kemarilah.”
Alyx merangkak mendekat dan memeluk ibunya. Kini dia tidak bisa lagi menahan air matanya. “Ibu.”
Abel menepuk pundak anaknya, berusaha menenangkan. “Chip hati menyesuaikan diri dengan pemiliknya. Menolak untuk diserahkan dan akan datang kembali kepadamu.”
Alyx melepas pelukannya. “Benarkah?”
Abel mengangguk.
“Aku akan menyelamatkan Tom. Azazil menggunakan tubuhnya.”
“Tom yang membiarkannya,” kata William, “dia berusaha mengatur ulang sistem otak yang menghuubungkannya dengan pikiran Azazil. Tapi, Azazil lebih kuat dari yang dibayangkannya dan sekarang dia telah berbalik dikuasai olehnya. Dia bahkan tidak menyadari telah menyakiti ibunya sendiri.”
“Bukan dia yang melakukannya,” bela Abel. “Kita masih bisa menyelamatkan Tom.”
“Aku akan pergi.”
Alyx memperhatikan William yang berdiri.
“Ahm, tidak. Biar aku saja, Yah.”
“Tidak, Alyx.”
Alyx tersenyum. “Aku setidaknya belum mempunyai seseorang yang harus tersiksa saat kehilanganku.”
“Jangan bicara seperti itu, Alyx.”
“Aku bercanda. Aku akan segera kembali, bu.” Alyx baru saja bersiap keluar dari ruangan, tapi kemudian terduduk di sofa.
“Ada apa?”
“Kurasa aku sedikit degdegan.”
Abel menggenggam tangan Alyx. “Kenapa tanganmu sangat dingin?” tanya Abel dan menyentuh wajah Alyx yang sedingin es.
“Entahlah. Oh ya, sepertinya SOS akan membutuhkanmu nanti, Yah.”
William menaikkan alisnya. Tidak mengerti.
“Tetaplah berada di ruanganmu, sampai beberapa jam ke depan. Meski tidak begitu yakin apa yang akan terjadi, tapi kuharap semua akan seperti yang kupikirkan. Dan ibu, beristirahatlah,” katanya dan memeluk Abel. “Aku sayang ibu.”
“Ibu juga menyayangimu. Selamatkan adikmu.”
“Aku tahu.” Alyx melepas pelukannya dan berbalik memeluk William. “Kuharap bisa memiliki pasangan seperti ayah.”
Amaris telah keluar lebih dulu.
“Ayah… ibu, aku pergi, jaga diri kalian baik-baik,” katanya dan menyusul Amaris.
“Selesaikan semuanya sebelum matahari terbit,” kata Amaris pelan. “Aku akan menemanimu berjalan sampai ke depan.”
“Terima kasih, Amaris.”
“Ingatlah, saat Azazil meninggalkan tubuh yang digunakannya, dia akan menggunakan tubuh aslinya.”
Amaris berjalan keluar dari bangunan utama. Di lapangan tidak ada lagi orang-orang. “Lihat dia sengaja melepas segel biru itu. Membiarkan orang-orang itu pergi dan saat tiba waktunya, mereka akan menyakiti semuanya.”
Alyx memandang sepatu kets putihnya.
“Alyx, dia mengatakan kau hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka.”
“Ehm.” Sejenak kemudian, Alyx meringis kesakitan.
“Ada apa?”
“Entah kenapa, tapi kurasa dadaku sesak.” Alyx menekan dadanya dan menarik nafas dalam.
“Sepertinya dia sedang berada dalam masalah, Alyx. Kau harus bisa menyelamatkan keduanya—salah satunya untuk menyelamatkan hidupmu.”
Alyx menutup matanya.
*