
“KENAPA? Apa ada yang salah?” tanya Alyx saat melihat Tom melirik Jane—sinis. Yang ditanya hanya diam. “Kuharap kalian tidak bermain rahasia-rahasian dariku.” Alyx mengatakannnya dengan nada sedih. “Kalian menganggapku seorang teman, kan?”
Jane mengangguk pasti dan Tom meninggalkan mereka berdua.
“Lalu apa Jane?” Alyx menatap Jane.
“Kata Tom, terserah aku mau cerita atau tidak. Jadi kuputuskan untuk cerita,” kata Jane dan tersenyum. “Kau ingat
mengenai kabar angin yang kukatakan tadi yang tidak ingin Tom kukatakan padamu?”
Alyx menangguk. “Lalu kabar angin apa yang tidak diinginkannya diceritakan padaku?”
“Ini mengenai orang tua Tom.”
“Ehm, maksudmu, Mr. and Mrs. Wilder?”
“Iya. Beberapa orang tahu kalau mereka tidak bisa memiliki anak.”
“Maaf,” tidak enak hati menyela Jane lagi, tapi Alyx harus bertanya, “bukankah mereka bisa mempunyai anak, bayi
tabung mungkin?”
“Nah itu. Mr. dan Mrs. Wilder ini pengembang rekayasa ini dan orang-orang tahu bahwa meski mereka tidak bisa
mempunyai anak, keluarga Wilder tidak mau menggunakan cara ini—dan setahuku ternyata sudah dua puluh lima tahun yang lalu rahim Mrs. Wilder sudah diangkat,” kata Jane pelan dan kemudian melanjutkan, “sedang Tom seumur denganku.”
“Lalu kabar angin yang kau dengar?”
“Tom bukanlah anak kandung Mr. dan Mrs. Wilder. Mereka hanya merawatnya dan memebesarkan Tom. Dia bertanya mengenai kebenaran ini, tapi mereka tidak mengatakan apa pun dan seperti menutup-nutupi sesuatu.”
“Jadi karena ini Tom marah pada Mrs. Wilder,” gumam Alyx.
Jane menggeleng. “Tom kemudian mencari tahu kebenarannya—dia berusaha untuk membuktikan bahwa Mr. dan Mrs. Wilder itu adalah orangtua kandungnya—dengan melihat sistem keja otak mereka, kau tahu sebenarnya seorang anak itu mempunyai sistem kerja otak yang sama dengan otak orang tua, tapi Tom tidak menemukan kesamaan. Iya, sebenarnya aku sudah memikirkan ini sejak lama, kau bisa lihat sendiri kan, kalau tidak ada
kemiripan diantara mereka. Sejak hari itu, Tom mulai mempertanyakan orang tua kandungnya dan menemukan suatu hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya atau bisa kukatakan kalau ini menakjubkan.” Suara Jane bersemangat.
“Apa itu?”
“Bahwa Duchess Abel Adalbrechta Russell adalah ibunya.”
“Oh.”
“Kau tidak terkejut mendengarnya?”
“Kenapa harus terkejut? Yah itu keren, karena ibu kandungnya adalah seorang Pemimpin.”
“Tidak hanya itu, kawanku. Tapi hal pentingnya adalah, tak ada yang tahu kalau Pemimpin sudah pernah menikah.”
“Hanya kau yang tidak tahu atau orang-orang lain juga tidak tahu? Kau kan tidak tahu banyak,” gumam Alyx.
“Kukatakan tidak ada yang tahu.”
“Apa kau yakin?”
“Entahlah. Tapi bagaimana mungkin dia sudah menikah dan tidak ada orang lain yang tahu. Dia kan menjadi pemimpin saat berusia dua puluh tahun.”
“Mungkin saja dia menikah di usia muda—misalnya sembilan belas tahun—dan memiliki seorang anak, hanya saja kehidupan lamanya tidak terekspos dan hanya menjadi sebuah gossip seperti yang sekarang kau dengar. Jadi, kupikir kemungkinan Pemimpin SOS adalah ibunya—tidak dapat disalahkan.”
“Kudengar nada suaramu tidak terlalu perduli. Iya, memang warga SOS menikah di usia dua puluhan. Tapi, tunggu sampai aku mengatakan selanjutnya? Kau ingat tadi aku mengatakan kalian nampak sangat mirip. Bagaimana kalau kalian adalah saudara?”
*
Di hadapan Alyx, William duduk menatapnya. Beberapa lama tidak ada suara yang terdengar, sampai Alyx bertanya.
“Boleh aku mendengar mengenai ibuku?”
“Hal apa yang baru saja kau dengar dari Jane?” William balik bertanya dan tersenyum. “Kau ingin berjalan-jalan?”
ajak William kemudian. Mereka keluar dari kediaman Walcott dan berjalan di taman. Tak ada Jane, dia sudah masuk ke kelas sekitar satu setengah jam yang lalu setelah mengatakan akan kembali untuk membawa Alyx bersamanya.
“Apa kemunculanku di SOS mempersulitmu?”
William tersenyum. “Aku harusnya berterima kasih karena kau sudah datang lebih awal dan… bahkan kau telah
memililki teman.” Pandangan William tertuju pada seorang gadis yang berlari ke arah mereka.
Alyx melihat Jane yang tidak perduli dengan dress yang terangkat saat berlari.
Jane nampak ngos-ngosan dan berhenti di depan pintu gerbang rumahnya. “Alyx…” teriaknya dan melambaikan
tangannya—meminta Alyx mendekat. Sudah saatnya dia mengajak Alyx.
“Dia mengajakku berkeliling Universitas SOS.”
“Kalau begitu pergilah.”
“Tapi ada banyak hal yang ingin kutanyakan.”
“Kita akan bertemu sore ini. Aku akan menjemputmu nanti dan kau boleh berkeliling di kantorku.”
“Benarkah?” Alyx nampak sangat senang mendengar tawaran itu. “Tapi…” katanya kemudian sedikit ragu.
“Ada apa?”
“Apakah aku dan Tom bersaudara?” Tanya Alyx tiba-tiba mengingat pernyataan Jane.
Kening William berkerut, tidak mengerti dengan pertanyaan putrinya.
“Beberapa orang mengatakan bahwa Mr. dan Mrs. Wilder bukanlah orang tuanya. Dan ibunya adalah ibuku…”
“Alyx,” suara Jane terdengar lagi.
Alyx mendesis dan mamandang William yang tersenyum.
“Pergilah! Aku akan berbicara dengan Mr. Wilder untuk mempertanyakan maksud kalimat putriku.”
Alyx menghela nafas dan berbalik melihat Jane sudah berdiri tidak sabaran sambil memegang besi pintu gerbang.
“Alyx,” suara William terdengar sebelum Alyx menjauh.
“Ah?”
“Kita akan segera bertemu dengan ibumu. Dia akan sangat senang saat melihatmu berdiri di hadapannya.”
Alyx tersenyum dan menghampiri William—memeluk ayahnya untuk pertama kalinya. William membelai rambut
putrinya. Alyx awalnya mengira akan membenci ayahnya saat menemukannya, tapi baginya suatu kesempatan berharga untuk masih bisa bertemu dengan seorang ayah.
Senyum Alyx tak berhenti mengembang saat dia menghampiri Jane.
“Cepatlah,” kata Jane dan berbalik pada William saat mereka telah berjalan menjauh.
“Ada apa?”
“Tidak. Hanya mendengar sesuatu. Ayo cepat!” tangan Jane sudah menarik tangan Alyx dan berlari kecil masuk ke
sebuah lorong sempit.
Betapa bingungnya Alyx saat hanya mendapati sebuah tembok beton raksasa dan tidak menemukan pintu. Hanya ada sebuah papan yang bersandar.
“Ini bagian belakang kampus. Kalau tidak lewat sini, aku harus berkeliling lagi dan memakan waktu lama,” kata Jane sambil tetap berjalan. “Alat Tom sangat membantu.” Jane mendorong papan yang berukuran tidak lebih dari satu meter. Dan nampaklah lubang pintu, berukuran lebih kecil dari papan penutupnya. Lubang itu sekitar sepuluh centimeter dari permukaan tanah dan hanya setinggi satu setengah meter. “Ini kotak persegi pembuat lubang. Aku tidak tahu cara melepasnya dan kuminta saja pada Tom—tadinya dia mengomel, tapi kemudian dia menggunakannya juga.” Jane baru saja akan melangkah masuk, tapi berbalik, “untung saja badanmu tidak besar.”
“Kenapa?”
Jane tidak perlu menjawab pertanyaan Alyx.
Alyx melihat pohon yang menutupi-menghalangi lubang. Dia menghela nafas dan mengikuti cara Jane memiringkan badannya sehingga bisa melewati pohon itu.
Jane berkacak pinggang, wajahnya seperti sedang memikirkan seseuatu. Sedang Alyx menyingkirkan daun-daun kecil yang menempel di pakaiannya.
“Jadi kuliahmu sudah selesai?”
Jari telunjuk Jane diletakkan di mulutnya—meminta Alyx untuk diam sejenak. Kemudian, dia berdehem. “Kau tahu, ada,” tangannya menunjuk-nunjuk di udara, “banyak pikiran yang sedang melayang-layang. Dan aku sedang mencari pikiran orang yang ingin kutemui.”
“Lalu, kau sudah menemukannya?”
“Dia tidak di sini. Ayolah.”
“Kemana?”
“Aku sudah mengatakan akan mengajakmu berkeliling kan?” tangan Jane kemudian menarik tangan Alyx—membuatnya cepat melangkah.
“Jadi, kelasmu sudah selesai?”
“Sudah. Tapi masih ada kelas yang kedua—setengah jam lagi, barang-barangku sudah di sana untuk bukti aku akan hadir," kata Jane asal, sepertinya malas menunggu, "jadi kita masih bisa berkeliling sebelum masuk ke kelas.”
Alyx dan Jane telah berjalan di depan kelas-kelas yang pintunya tertutup. Tentunya sedang ada siswa yang sedang
belajar di dalam sana.
Tapi tiba-tiba Alyx terkesiap saat menyadari warna cat dinding yang tiba-tiba berganti warna—yang tadinya berwarna biru lembut sekarang menjadi abu-abu. Jane kemudian menjelaskan bagaimana warna dinding itu mengikuti cuaca yang sedang terjadi. Saat langit cerah, dinding akan berwarna biru muda, sedang saat gelap akan berwarna abu-abu. Atau berubah mengikuti musim.
Bangunan yang mereka lalui sekarang menghadap ke utara—dimana pintu gerbang berdiri kokoh.
“Kita sedang di ST College, Programming Department. Mereka memprogram alat-alat dan mesin-mesin yang lainnya di sini—pembubuhan kode dan membuatnya berguna.”
Alyx hanya melihat sekilas dari kaca jendela bagaimana mahasiswa itu dengan sangat cepat menyatukan—merangkaikan alat-alat yang terpisah menjadi satu bagian—seperti melihat sebuah film yang diputar cepat.
“Hebat,” gumam Alyx.
“Ya, ya, ya,” Jane mendengar gumaman Alyx berkali-kali, “kau pasti berpikir mereka melakukan itu sudah sejak awal?”
Alyx menangguk pasti.
“Kau salah. Mereka harus menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berlatih sebelum bisa masuk ke kelas programming—tingkat tertinggi dalam ST. Tapi, masih ada kelas setelah itu, kelas tambahan, seperti yang diikuti Tom—pemprograman sistem otak. Lecturer hanya memberi teori untuk satu semester—selebihnya kalau mahasiswa masih merasa kurang dengan teori yang mereka miliki, mereka masih bisa mengambil tambahan,
dan baru naik ke tingkat berikutnya—sisa semester semuanya akan dilakukan oleh Instructor.”
“Jadi, kau kuliah hanya untuk berlatih?”
“Bukankah practice makes perfect? Yah kau harus tahu, kalau sebenarnya universitas adalah tempat kami-kami melatih keahlian atau kemampuan kami. Tapi, bagi yang tidak berniat untuk membuat keahlian mereka bertambah, mereka bisa ke universitas lain yang seperti di kotamu.”
“Maksudnya?”
“Mereka mempersiapkan diri mereka untuk terjung ke luar SOS lebih awal—kami sebenarnya juga bisa untuk bekerja di luar SOS, tapi apakah orang-orang akan mudah menerima keahlian khusus seperti itu,” kata Jane kemudian sambil menunjuk ke sebuah tembok, “kecuali di tempat tertentu.”
Alyx melihat ke arah yang ditunjukkan Jane. Seorang pria paru baya dan berjas berwarna biru tua—rapi sedang memperhatikan tembok itu untuk beberapa saat dan mencatat sesuatu di kertas yang dipegangnya.
Jane tersenyum melihat kebingungan di wajah Alyx. “Ini Art College. Mulai folk art, art of management, art of painting, bahkan kau bisa menemukan art of camouflage di sini—seperti yang kutunjukkan padamu.”
“Ok,” kata pria berjas biru.
Sesaat kemudian, seorang pria muncul di tembok—menempel seperti seekor cicak. Dia bersorak kegirangan dan mendekat pada instruktur yang baru saja mengambil nilainya.
“Dia berkamuflase,” kata Jane menarik tangan Alyx yang masih memperhatikan pria itu. “Orang-orang seperti dia, sering dibutuhkan di luar SOS, penyamaran mereka tidak pernah terbongkar. Banyak biro penyelidikan yang setidaknya mempunyai hubungan baik dengan SOS.”
Jane dan Alyx sekarang berjalan di sekitar Taman siswa. Sesekali Jane berbicara—menjelaskan.
Perhatian Alyx kemudian tertuju pada beberapa siswa yang sedang berbincang di taman dan beralih pada anak-anak yang lain. Pakaian yang mereka gunakan sangat anggun—pria mengenakan kemeja atau jas dan perempuan menggunakan dress seperti yang dikenakan Jane. Sedang dirinya, dia menunduk, melihat pakaian yang sedang dikenakannya. Sebuah kemeja dan baju kaos sebagai dalaman, dan jeans.
“Apa semua orang menggunakan pakaian ke pesta?” tanya Alyx melebih-lebihkan—pakaian mereka sebenarnya
sederhana, tapi terlihat sangat anggun.
Jane tersenyum dan berhenti untuk mengakat kaki kanannya. “Lihat, aku menggunakan sepatu kets.”
Alyx melihat sepatu kets putih yang dikenakan Jane.
“Seharusnya, aku meminjamimu salah satu dressku,” kata Jane dan memandangi Alyx dari atas ke bawah.
“Apa aku terlihat aneh?”
“Tidak. Aku juga sering menggunakan pakaian seperti itu, saat sedang libur. Tapi, bagi kami Sekolah itu tempat penting—selain di pesta, pertemuan penting juga terjadi di sini. Beberapa instruktur memang telah benar-benar ahli di bidangnya dan juga bekerja di kantor SOS—yah, mereka orang-orang penting,” Jane tersenyum. “Dia datang,” serunya beberapa saat kemudian.
Seorang gadis, berjalan dengan sangat percaya diri ke arah mereka. “Aku sudah menunggumu dari tadi.”
“Lalu dimana kekasihmu itu?” tanya Jane dengan nada tidak perduli.
“Dia di dalam,” Adara menunju ke salah satu kelas.
“Lagi-lagi dia masuk ke kelas Psychoanalysis,” gumam Jane. “Ace itu berusaha untuk bisa menganalisa jiwanya,” bisiknya pada Alyx.
“Sebentar lagi dia keluar. Aku akan berbicara dengannya di depan kelas,” kata Adara dan berjalan ke depan pintu.
Jane menarik Alyx untuk bersembunyi di belakang salah satu tiang penopang berbentuk persegi yang cukup lebar untuk bersembunyi. Jane mulai mengintip dan Alyx hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Dia kemudian bersandar dan melihati bunga-bunga dengan banyak warna menghias pinggiran koridor. Bahkan ada
banyak kupu-kupu yang beterbangan bebas. Dia harus terbiasa dengan keramahan hewan untuk memulai berteman dengan manusia—salah satu kupu-kupu dengan sayap lebar bertengker di telapak tangannya.
“Apa ini asli?”
Jane berbalik melihat apa yang ditanyakan Alyx. “Kau pikir itu plastik? Tentu saja itu asli.”
Alyx mencoba menerbangkannya, tapi kupu-kupu cantik itu tidak meninggalkan.
“Coba saja, aku bisa mengartikan bahasa hewan, aku mungkin akan tahu apa yang dikatakannya. Karena sepertinya dia sedang berbicara. Lihat, matanya itu menatapmu dengan tajam.”
Alyx mendekatkan kupu-kupu itu di hadapan wajahnya dan tersenyum. “Kau menyukaiku?”
Jane mencibir dan kembali ke pengintaiannya. “Dia keluar. Dia keluar.”
“Lakukan saja tugasmu.”
“Bagaimana kalau dia tahu? Mungkin saja sekarang dia lebih pintar.” Jane melihat Adara yang berbalik dan menyuruhnya tenang.
“Memang apa yang ingin Adara kau ketahui dari kekasihnya?”
Jane berbalik ke sumber suara dan mendapati Alyx menjongkok dan bermain bersama hewan-hewan kecil di sana. “Apa yang kau lakukan? Jangan menyentuh laba-laba hitam itu, dia beracun.”
Alyx mendongak. “Dia menatapmu tajam, Jane,” katanya dengan senyum mengembang di wajahnya.
Jane mendengus dan kembali pada tugasnya.
Alyx kembali pada permainannya bersama hewan-hewan kecil yang sudah berkumpul di hadapannya. Dia pernah
menemukan banyak hewan-hewan seperti ini di Indonesia, tapi kali ini berbeda. Karena mereka berkumpul, tanpa saling mencederai, pikir Alyx.
Suara Adara sekarang terdengar, setelah membiarkan siswa yang lain pergi lebih dulu. “Aku sudah menunggumu
lama.”
“Aku tidak menyuruhmu menungguku.” Seorang pria keluar. Jas sudah dilepaskannya dan dikalungkan sembrono di
lehernya. Wajahnya terlihat sangat lelah, tapi tidak menghilangkan wajah yang sudah terlanjur tampan. Dia menggerakkan lehernya, membuat poninya yang panjang menutupi mata. “Ada apa? Ah aku sangat lelah,” katanya sebelum Adara menjawab pertanyaannya. “Kau bilang ada perlu, kan?”
Jane tersenyum mendengar sikap kekasih Adara yang acuh tak acuh.
“Apa saja yang kau lakukan sampai tidak sempat menghubungiku?” tanya Adara dengan nada rendah tapi sedikit emosi.
Jane lagi-lagi tersenyum. Sepertinya dia akan dilibatkan dalam pertengkaran konyol sepasang kekasih. Beberapa saat kemudian, Jane menarik diri, bersembunyi. “Hampir saja,” katanya dan mengelus dada.
Alyx mencibir, melihat Jane yang sibuk sendiri.
“Adara menanyakan hal yang sangat-sangat-sangat penting,” kata Jane. “Dan tidak ada jawaban dari pria di hadapan Adara. Ah…” Jane berteriak, terkejut sampai-sampai tidak menyadari telah menyenggol kepala Alyx yang hanya bisa mendengus sambil mengelus-elus kelinci yang baru saja bergabung—kelinci berwarna putih yang hanya sebesar telapak tangannya.
“Ace, aku minta maaf,” kata Jane sambil menggosok-gosokkan telapan tangannya di depan wajahnya.
“Memang apa yang kau lakukan?”
Alyx mendongak baru menyadari suara Ace telah sangat dekat.
“Ayo Alyx,” Jane mengajak Alyx untuk pergi sekarang.
Tapi telapak tangan Ace sudah berada di kepala Jane—memintanya tidak beranjak dari tempatnya. “Jadi Miss Jane
Asahy Walcott atau spyglass…”
“Jangan menyebutku seperti itu,” kata Jane tetap menunduk, “aku bukan keker.”
“Baiklah, apa yang kau lakukan? Jelaskan dengan jujur.”
“Tidak ada. Aku… aku… hanya menemani temanku bermain dengan teman-teman barunya,” kata Jane kemudian sambil menunjuk Alyx yang pandangannya masih tertuju pada hewan-hewan kecil yang mencongak melihatnya.
“Ada apa, sih?” tanya Alyx saat Jane menarik lengannya.
“Aku sedang menemanimu bermain, kan?” bisik Jane.
“Ah, iya,” kata Alyx pada pria di hadapannya. Matanya menyipit berusaha tersenyum manis seperti Jane.
Jane sudah menarik Alyx berjalan, tapi berhenti lagi. “Ada apa lagi, Ace? Aku tidak mungkin membaca pikiranmu.”
“Ha, kau ketahuan.”
“Ace…” Adara sudah memanggilnya.
“Pergilah sendiri. Aku masih ada kelas,” kata Ace tanpa berbalik. “Gadis itu selalu membuatku tertekan,” gumam Ace. “Jadi… kau bisa masuk ke pikiranku?”
“Iya, saat kau menjawab pertanyaan Adara. Tapi, sebelumnya tidak, jadi aku tahu, kau hanya membiarkanku.”
“Itu berarti, aku sudah berhasil. Ah… senang rasanya. Baiklah Miss Spyglass, kau boleh pergi.”
“Ace…” Jane mendengus dan menarik Alyx.
“Jane…” seru Alyx, “Kenapa dengan binatang-binatang ini?”
Jane berbalik dan melihat beberapa hewan kecil mengikuti Alyx. “Ah, mereka membuatku ngeri,” kata Jane berusaha mengusir hewan-hewan yang tidak mau beranjak dari tempatnya.
Saat Alyx dan Jane berlari, hewan-hewan itu juga ikut berlari. Dan akhirnya mereka berhenti dan berbalik melihat hewan yang juga berhenti dan mendongak.
“Apa kau membawa makanan?”
Alyx menggeleng. “Apa mereka akan pergi setelah diberi makan?”
Saat Alyx dan Jane berdebat mengenai hewan-hewan itu, Ace mendekat dan membungkuk di hadapan Alyx.
“Ada apa dengan mereka?” tanyanya dan melihat hewan itu satu persatu. “Pergilah!” seakan tahu apa yang dikatakan Ace, hewan-hewan itu pun pergi.
“Binatang yang aneh,” seru Jane. “Ada apa lagi?” tanyanya congkak pada Ace.
“Aku tidak ingin berbicara padamu,” Ace mengejek. “Kau Alexandra, kan?” tanyanya pada Alyx yang kemudian
segera mengingat pria di hadapannya. “Aku Hiro.”
“Oh, iya,” seru Alyx menyadari wajah pria yang berbeda karena model rambutnya, “Hiro.”
“Jadi… kau? SOS?”
Alyx mengangguk pelan. “Aku juga baru tahu. Jadi kau itu Hiro atau Ace?”
“Dua-duanya,” katanya sambil mengulurkan tanggannya dan disambut oleh Alyx.
Mereka berjabat tangan sambil terus tersenyum—cukup lama, sampai Jane memisahkan mereka.
“Baiklah, kurasa kami harus pergi sekarang. Ayo, Alyx.”
“Sampai jumpa, Alyx, senang melihatmu di sini.”
“Entah kenapa aku bisa membaca pikirannya sekarang.” Jane kemudian berbisik saat mereka berjalan menjauh. “Jangan terlalu dekat dengan pria seperti dia.”
“Spyglass…” suara Hiro terdengar dan membuat Jane merinding.
“Dia mendengarmu?”
“Sudah kukatakan, kan, kalau dia unggul dalam segala hal? Eh, sudah waktunya masuk, ayo.”
“Kemana?”
Jane sudah menarik Alyx masuk ke dalam ruang kelas yang berkali-kali menolak. “Tidak masalah.”
Beberapa teman Jane melihati kedua gadis yang saling tarik di depan pintu.
Alyx dan Jane berdehem bersamaan. Menepuk-nepuk pakaian mereka. Dan Alyx mencoba untuk bersikap biasa.
Kursi-meja tersusun dari belakang-tertinggi ke tempat yang rendah—terbagi menjadi dua kelompok. Sedang di depan kelas, sebuah meja dan kursi yang lebih elit terletak di samping papan tulis.
“Hi, Jane,” sapa salah satu gadis, teman sekelasnya.
“Hi, Belva.”
“Siapa dia?” tanya Belva memiringkan kepalanya, melihat gadis di belakang Jane.
“Saudaraku. Aku mengajaknya berkeliling.”
“Kemari, duduklah,” Belva mempersilahkan Alyx duduk di salah satu kursi.
Alyx mengangguk. Dan duduk di samping Jane yang telah duduk di belakang meja di barisan paling depan.
“Bagaimana kau mengenalnya?”
Alyx tahu yang dimaksudkannya adalah Hiro. “Kami tidak sengaja bertemu di London, dia sedang mencari seseorang.”
“Benarkah? Ternyata dia pernah keluar SOS.” Jane meraba-raba di dalam laci meja dan beberapa saat kemudian
berteriak. “Mana tasku, Bertnard?” tanya Jane pada salah satu pria yang sedang sibuk melihat ke luar jendela.
“Tidak ada,” jawabnya tanpa rasa bersalah.
“Dasar. Akan kumatikan gagakmu itu, saat dia terbang di hadapanku,” teriak Jane jengkel.
Bertnard mencibir dan tersenyum lebar saat seekor burung gagak hitam hinggap di jendela. Sepertinya dia sudah
menunggunya dari tadi. Selembar kertas menempel di paruhnya. “Terima kasih, yah,” katanya dan mengelus bulunya lembut.
“Belva,” Jane kemudian bertanya pada Belva yang segera menunjuk di atas lemari.
“Dasar orang jujur,” kata Bertnard saat diminta mengambil kembali tas Jane.
Semenit kemudian, kelas menjadi sangat diam. Tidak ada yang bersuara. Seorang pria dengan topi bundar melangkah masuk ke dalam kelas. Dia memakai jas bermotif kotak-kotak kecil berwarna cokelat-hitam untuk menyamarkan perutnya yang buncit.
“Argh,” suara jeritan terdengar terpotong-potong.
Semua berbalik dan melihat Bertnard yang masih sibuk dengan burung gagaknya, bergerak patah-patah dan duduk di kursinya. Semua tertawa melihatnya. “Maaf, Sir,” katanya kemudian.
“Apa yang terjadi?” bisik Alyx.
“Seperti yang kau lihat, Sir menggerakkannya menggunakan pikirannya. Dia Instruktur senior—Sir Herwit—pelatih menggerakkan pikiran.”
“Miss Ashahy Walcott.”
“Yes Sir.” Wajah Jane tampak serius.
“Tampaknya kau sudah berhenti membenci kelas ini, yah?”
“Tidak, Sir… eh, maksudku iya, karena aku harus segera lulus,” guman Jane.
Pria keturunan Jerman itu tertawa lebar. “Iya. Iya. Segeralah lulus—bahkan kau tidak mau mempelajari bagaimana
menggerakkan pikiran seseorang. Lalu…” Sir Herwit mendekat, “Siapa gadis ini? Seperti wajahnya tidak asing.”
Jane mengangkat dagu, “Dia Alexandra Holder, sir.”
*