SOS

SOS
Chapter 30



“BERI ruang untuknya,” suara tinggi John terdengar di antara kerumunan. Sekali-kali dia menenangkan orang-orang yang memandang ngeri pria muda yang tiba-tiba telah tergeletak di tanah. Dia mendekat. Membungkuk dan memeriksa nadi pria itu. “Dia masih hidup. Bantu aku membawanya ke dalam.”


Beberapa orang membantu John. John memperhatikan wajah pria itu seperti mengenalinya.


Seluruh tubuh Nick dingin. Dia seperti membeku. Dia tiba-tiba telah tergeletak di antar kerumunan orang yang segera melingkarinya. Sekarang dia tidak sadarkan diri, terakhir yang diingatnya, dia masih berada di sebuah ruangan tanpa penerangan yang cukup.


*


“Kita tidak akan bisa melewati lingkaran ini,” kata Hiro saat mengamati lingkaran biru yang mengelilingi bangunan utama.


Alyx melihatnya dengan bingung.


“Kurasa kita harus kembali, rumah sakit SOS berada di luar lingkaran ini,” kata Hiro menunjuk ke utara. “Lorong di bawah tanah menghubungkan semua ruangan.”


“Kurasa mereka di sana,” kata Alyx melihat sebuah cahaya berpendar, melingkar di sebelah selatan.


“Juga di sana,” Hiro menunjuk ke langit sebelah barat. “Kurasa dia telah menemukan empat orang,” lanjut Hiro saat cahaya melingkar yang terakhir muncul di sebelah timur. “Tidak akan ada yang bisa keluar atau pun masuk tanpa ijinnya. Ayo, kita tidak punya waktu yang banyak.”


Alyx mengangguk dan mengikuti Hiro. “Ibu, ayah, Tom, dan Nick. Menurutmu ke empat orang itu?”


“Aku tidak tahu,” jawab Hiro saat mereka telah masuk ke lab.


“Kalian kembali?” tanya Amaris terkejut saat melihat kedatangan dua orang itu.


“Tidak ada jalan keluar. Kami harus ke ujung bangunan di utara.”


“Kenapa tidak kau coba melepaskan segel biru itu, Ace?” Amaris mengernyit.


“Maaf, Amaris, aku tidak bisa melakukannya,” Hiro memasang wajah menyesal.


“Lalu apa yang bisa kau lakukan? Bukankah kau mempelajari hal ini sejak kecil?” gerutu Alyx.


“Sebenarnya, Alyx juga bisa melakukannya,” Amaris menyela.


“Ayolah,” Hiro menarik tangan Alyx dan keluar berjalan ke lorong.


“Kau bisa melakukannya?” pipi Alyx mengembung.


“Tidak,” jawab Hiro singkat.


“Kau tidak mencobanya.”


“Sudahlah, Alyx.”


“Kau harus mencobanya.”


“Tidak bisa. Kau saja yang mencobanya,” Hiro mencibir.


“Cepat… cepat…” beberapa suara terdengar.


Alyx dan Hiro memperhatikan orang-orang yang baru saja memasuki lorong. Dan memberi jalan.


“Paman John,” gumam Alyx.


Hiro menarik Alyx, tapi Alyx tidak bergerak. Dia kembali memperhatikan pria yang dipapah. Dan tersadar kalau pria itu adalah sahabatnya.


“Nick…” Alyx melepas genggaman Hiro dan berlari masuk ke lab. “Apa yang terjadi?” tanyanya pada John.


“Tubuhnya sangat dingin, Azazil telah membuatnya sangat menderita. “Dia mengembalikannya setelah merasa tidak membutuhkannya, tapi tidak dengan separuh jiwanya.”


“Apa yang kau katakan?” Alyx mendekat dan menyentuh Nick. “Nick… Nick… sadarlah.”


Hiro melihati Alyx yang bersedih. Dia menunduk. Dan berusaha tersenyum, saat Amaris yang duduk di dekatnya menyentuh kelingkingnya.


“Lakukan sesuatu, John,” teriak Alyx.


John meminta mereka memasukkannya di sebuah tabung. “Dia bukan warga SOS, kurasa setelah memulihkannya, kita harus membawanya keluar dari sini.” John melihat ke layar computer. “Apa dia sebelumnya pernah ke tempat ini?”


“Kurasa iya. Kudengar dia adalah produk SOS.” Banyak suara lagi yang memberi informasi.


“Well, tidak banyak yang bisa kita lakukan, jika dia melakukan pengobatan di SOS, setelah dia sadar mungkin dia akan kembali ke kehidupannya. Dengan kata lain, dia akan kembali cacat.”


Alyx meringis. Menggigit bibirnya. Berusaha menahan tangis dan amarahnya.


“Aku akan memulihkannya sekarang.”


“Tunggu.” Alyx menyeruak, “Apa tidak ada cara lain?”


“Tidak ada, Alyx. Kau menginginkannya tetap hidup atau membiarkannya begini saja?”


“Baiklah,” gumam Alyx putus asa.


“Kau bisa mengobatinya saat semua sudah membaik.”


“Aku tahu.” Alyx menghela nafas berat dan menunduk di samping wajah Nick yang pucat. “Ini salahku. Maafkan aku. Aku akan segera kembali dan membawamu pulang, Nick.” Dia melihat saat penutup tabung tertutup dan segera pergi.


Hiro memperhatikan Alyx yang berjalan cepat.


“Cepatlah, Hiro, kalau Nick di sini, itu berarti seorang yang lain sedang tidak aman.”


*


“Well, ini benar terjadi. Amaris mengatakan kebenaran kan?” Seorang pria telah menunggu kedatangan Alyx dan Hiro.


“Darrel,” seru Hiro.


“Temanmu tidak akan selamat. Azazil pikir dia adalah pria yang disayangi ibumu. Sepertinya aku yang benar,” kata Darrel dan menunjuk gelang yang dikenakan Alyx. “Aku sudah benar dari awal. Kau tahu aku mempunyai kekuatan seperti ibumu. Aku sudah benar membawamu ke tempat ini.”


“Kau pengikut Azazil?” Hiro mendekat padanya.


“Tenanglah, Hiro. Aku hanya datang membawa pesan.”


Hiro mengerutkan keningnya.


“Lihatlah,” Darrel menunjuk ke ujung cahaya di langit. “Pesan darinya.”


Di ujung cahaya, seorang dengan jubah sedang berdiri sambil melipat tangan. Rambut dan jubah hitamnya tertiup angin.


“Dia belum bisa bertemu langsung denganmu sekarang,” Darrel mendekat pada Alyx.


“Jangan coba menganggunya, Darrel,” seru Hiro.


“Ouh, apa yang terjadi sekarang?” ejek Darrel. “Tenanglah, ayahnya masih bisa melindunginya sekarang. Perlindungan yang kuat. Bahkan Azazil saja tidak bisa bergerak di sekitarnya. Tapi, setelah tubuhnya sempurna, dia hanya butuh satu orang lagi, untuk membuatnya lebih kuat lagi.”


“Lalu apa yang ingin kau katakan?” tanya Alyx sambil melihat ke Azazil.


“Sungguh tidak sabaran. Setelah dipikir-pikir, tepatnya besok adalah hari penentuan, bukan? Kami hampir terjebak dengan tipuan kalian. Kau tahu kenapa hari penentuan di laksanakan terjadi setiap tanggal besok? Karena… besok adalah hari kelahiran Azazil.” Darrel cekikikan. “Dan… Azazil yang terbaik, dia memberimu kesempatan untuk memilih menyelamatkan dua orang dari ke empat tempat cahaya yang bersinar itu sebelum pukul dua belas.”


“Apa?”


“Apa? Kenapa hanya dua? Well, kau bisa menyelamatkan semuanya, kalau kau bertindak benar dan cepat. Tapi, Azazil akan segera berada di dua tempat terakhir—dua tempat yang mungkin akan kau datangi atau tidak.. Ada beberapa jam untukmu, sayang. Kusarankan pada kalian untuk selalu bersama. Semoga berhasil,” katanya tertawa dan menghilang. Dan jalan keluar yang baru saja Hiro dan Alyx lalui pun terutup.


Alyx melihat ke langit dan sebuah cahaya berkilau pergi menjauh. Dia diam dan terduduk di tanah. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.


“SOS sedikit lebih terang sekarang,” kata Hiro kemudian dan menyerahkan tangannya.


Alyx meraihnya dan berdiri. “Tempat pertama?”


“Kita punya banyak waktu jika tidak membuangnya di sini. Kau bisa menyelamatkan mereka semua tanpa sepengatahuannya.”


“Menurutmu begitu?”


“Kurasa,” Hiro menggerakkan pundaknya.


“Lalu…”


Hiro melihat ke selatan. “Alyx… kau dengar itu? Adalbrechta…”


“Ibu?”


“Jane?”


“Iya. Ayolah.” Hiro menarik tangan Alyx, namun Alyx tidak bergerak.


“Lebih baik kita berpencar, Hiro. Akan lebih cepat.”


“Tidak. Aku akan pergi kemana pun kau pergi.”


“Kumohon.”


Hiro mendecakkan lidah. “Aku akan ke tempat ayahmu,” gumamnya menyerah


“Terima kasih.”


“Aku akan menemuimu di barat. Asahyl di sana.”


“Benarkah? Tapi, kau bisa ke Timur—pasti Tom di sana.”


Hiro terdiam.


Alyx menelan ludah dan berlalu pergi. Sebelum melangkah lebih jauh lagi, dia berbalik dan memeluk Hiro. “Terima kasih karena sudah menolongku,” kata Alyx. Beberapa saat dia memeluk Hiro yang terasa hangat, seakan dia tidak ingin melepaskannya.


“Aku akan menyelesaikannya dengan cepat.” Hiro menyentuh lengan Alyx. Melepaskan pelukannya. Dan pergi lebih dulu.


Alyx memperhatikan Hiro yang menjauh. Dia sekarang harus mencari tahu harus menggunakan apa untuk bisa mencapai daerah Selatan. Saat berbalik, Alyx memperhatikan orang-orang yang berada di dalam lingkaran cahaya biru. Dia tidak menemukan satu pun anak-anak—entah bagaimana nasib mereka.


*


Hiro mengamati cahaya yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Dia harus mengerti elemen pembentuk cahaya biru itu. Namun, betapa terkejutnya dia, saat seorang pria muncul di hadapannya.


“Ahh,” Hiro setengah berteriak, “kau mengagetkanku.”


William tersenyum kecil. “Kenapa lama sekali?”


Hiro mencibir, “kau pikir mudah untuk datang ke tempat ini tanpa satu pun alat transportasi yang berfungsi?”


“Lalu kau berlari ke tempat ini?”


Hiro tidak menjawab.


“Baiklah. Sekarang hilangkan penghalang ini.”


“Mudah sekali mengatakannya,” kata Hiro dan menjongkok. Dia mengambil sebutir kerikil dan melemparkannya ke dalam cahaya, dan membuat kerikil itu menjadi debu.


“Apa yang kau lakukan?” William ikut menjongkok.


“Aku sedang berpikir.”


“Baiklah, aku menunggu. Jangan terlalu lama,” kata William dan mundur beberapa langkah. Menyandarkan punggungnya di dinding kayu dari satu-satunya rumah yang berada di hutan utara.


“Kau dan Aldachberta…”


“Kenapa?”


“Kalian masih bisa berkomunikasi dalam suasana seperti ini,” Hiro tersenyum.


“Well, hanya itu yang bisa kami lakukan untuk saling menguatkan. Aku hampir mati, jika tidak mengetahui dia baik-baik saja.”


“Bisakah kau tanyakan mengenai Alyx? Apa dia sudah berada di sana?” tanya Hiro sambil menunduk. Tidak ingin kekhawatirannya pada Alyx diketahui oleh ayah gadis itu.


“Apa yang kau pikirkan? Jangan coba-coba merayu putriku.”


Hiro berdiri, “baiklah. Tetaplah di sini.” Hiro berbalik dan bermaksud meninggalkan William yang masih berada dalam sangkar biru Azazil.


“Hei, kau belum melepaskanku, tolol,” teriak William yang membuat Hiro berbalik.


“Kau sama saja seperti Amaris,” gumam Hiro. “Bagaimana cara melepaskanmu? Kurasa kau tahu caranya.”


“Cepat cari sebuah pilar di hutan belakang sana.”


Hiro mengikuti William yang berjalan ke belakang rumah.


“Di sana?”


“Aku tidak melihat apa pun.”


“Kau tidak akan menemukannya kalau menunduk seperti itu.”


Hiro berbalik dan tertawa kecil.


William menatap Hiro dengan tatapan aneh. “Jangan tertawa di saat seperti ini.”


“Maaf-maaf. Aku hanya mengingat sesuatu.” Hiro mendongak. Memperhatikan benang yang berwarna biru bercahaya.


“Ikuti benang itu.”


“Aku tahu.” Hiro berjalan masuk ke dalam hutan.


“Jangan menyentuhnya.”


“Aku tahu. Aku menemukannya,” teriak Hiro.


“Baiklah, sekarang putuskan benang itu dari pilarnya.”


“Bagaimana aku melakukannya? Kau melarangku menyentuhnya?”


“Baiklah,” William berusaha tenang, tapi kemudian meledak, “gunakan kekuatanmu, bodoh.” Dia selalu bertingkah seperti remaja saat bersama Hiro.


“Jangan mengataiku.”


“Kau sendiri yang mengingatkanku kata itu. Aku selalu tidak bisa menahan diri saat bersamamu,” William menggumam, sambil memperhatikan cahaya yang menghilang seakan terserap ke dalam tanah.


Hiro muncul dan menggenggam sesuatu di tangannya.


“Kerja bagus, anak muda. Ayo,” William bersiap pergi.


“Kau tidak berpikir ini terlalu mudah?”


“Apa lagi yang kau pikirkan?” William berbalik dan terkejut mendapati Hiro sedang memainkan benang yang bercahaya.


“Sama dengan elemenku. Seharusnya dari tadi aku sudah tahu. Menurutmu, apa dia mempunyai rencana lain?” tanya Hiro sambil memperhatikan empat lingkaran cahaya biru masih berada di langit.


Beberapa jenak kemudian, cahaya di selatan menghilang.


“Alyx berhasil,” gumam Hiro. “Alyx pasti sedang menuju Barat sekarang, aku akan menyusulnya.”


“Abel menunjukkan jalan pintas pada Alyx. Masuklah ke hutan dan mengambil jalan ke Barat, akan lebih cepat. Kuserahkan padamu, Ace.”


“Kau tidak ikut?”


William menggeleng lemah. “Aku akan ke Selatan.”


“Adalbrechta?”


“Jangan katakan pada Alyx, dia tidak tahu bagaimana keadaan ibunya. Kau tahu, Abel pandai berakting kalau dia baik-baik saja. Kau harus menjaga Alyx, kalau sesuatu terjadi pada dirinya, aku tidak akan memaafkanmu, Ace.”


Hiro mangangguk. “Aku pergi sekarang.”


“Kau tahu,” William meneriaki Hiro, “besok hari kelahiran Alyx.”


“Aku tahu. Tepat pukul enam, bukan? Aku tahu semua tentangnya.” Hiro melambaikan tangan.


*