
ALYX dan yang lainnya telah sampai di kediaman John Walcott.
Jane baru saja memberi selimut pada Alyx yang telah berbaring di ranjangnya. Tubuh Alyx masih sangat lemah.
Tadi dia beberapa kali tersadar saat pengawal Max telah membekap mulutnya dengan kloroform, sehingga membuat mereka menyuntikkannya ke dalam tubuh Alyx.
Jane menatap wajah Alyx lekat dan terkejut saat Alyx bersuara.
“Jangan menatapku seperti itu,” kata Alyx tanpa membuka matanya. “Aku mengantuk sekali. Apa dia sudah pulang?”
Jane tahu kalau Alyx sedang membicarakan mengenai William. “Dia sedang mengobrol dengan ayah.” Tidak ada suara dari Alyx dan membuat Jane khawatir. “Alyx,” Jane memanggilnya berulang-ulang.
“Aku mengantuk Jane. Kalau boleh aku pinjam kamarmu sebentar saja.”
“Tentu. Tidurlah yang nyenyak, aku tidak akan mengganggumu,” kata Jane, keluar dan bergabung dengan yang lainnya. “Dia sangat lelah,” jawab Jane saat ditanya keadaan Alyx.
“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya John pada sahabatnya.
William menghela nafas panjang. “Untuk beberapa hari, biarkan dia di sini dulu, sementara aku membereskan kekacauan yang dilakukan Max.”
John mengangguk dan melihat Jane yang tersenyum—senang mendapat teman sekamar.
“Memang apa yang diinginkan Max, paman?”
Pertanyaan Jane membuat Tom yang duduk di luar menajamkan pendengarannya.
“Entahlah, Asahy. Tapi, sepertinya aku akan segera tahu, setelah menemuinya.”
“Menemui siapa?”
William menjawab pertanyaan Jane dengan sebuah senyuman. “Aku akan melihat Alyx sebentar, lalu pergi.” William masuk ke kamar Jane.
Alyx menelungkup. Sebagian wajahnya tertutup selimut.
William mendekat. Menyentuh rambut putrinya. Dan menatap wajah yang mirip dengan wajahnya, tapi kemudian dia menggumamkan sesuatu, “tapi, kau secantik ibumu. Dia pasti senang melihatmu.” William keluar seteleh mengkecup dahi Alyx.
Alyx membuka matanya pelan, melihat pria yang selama ini dicarinya itu menghilang di balik pintu. Dia memegang dahinya. “Ayah,” gumamnya dan sebutir air mata terbentuk di sudut matanya. “Ibu?” tanyanya kemudian dan tertidur.
*
Alyx membuka mata dan menyadari malam telah berganti pagi. Dan ini adalah pagi pertamanya di SOS. Dia menyibak selimutnya dan ke kamar mandi sebentar. Setelah selesai, dia merapikan tempat tidur.
“Wah, sering-seringlah menginap di kamarku,” kata Jane saat mendapati Alyx menarik selimut—merapikannya.
Alyx tersenyum dan berhenti saat Jane memandangnya lama. “Kau membuatku ngeri. Kenapa memandangku seperti itu?”
“Kau sangat cantik. Seperti seseorang yang kukenal.”
“Kau juga sangat cantik. Sangat mirip dengan orang yang kukenal. Oh iya, kemarin aku juga mengatakan itu pada
foto Tom. Dia juga mirip seseorang yang kukenal. Dan paman John…”
“Sudah… sudah… aku tahu dia mirip dengan siapa,” Jane diam sejenak, “Megure,” katanya dan tertawa, dan mendapati Alyx tidak menanggapi. Sepertinya lawan bicaranya tidak tahu.
“Miss Asahy,” suara seorang wanita terdengar, “sarapan sudah siap dari tadi.”
“Iya Mrs. Duffy. Dia saudara ibuku, dari Irlandia,” katanya pada Alyx. “Ayo sarapan.”
Alyx mengikuti Jane yang keluar lebih dulu. “Apa itu Asahy?”
“Arabic, warna-warni—atau bisa kau katakan ekspresif,” Jane tersenyum.
“Pagi, Paman John,” sapa Alyx pada John yang telah duduk di kursinya sambil membaca surat kabar. Sepertinya dia sudah sarapan lebih dulu.
“Pagi Alyx, tidurmu nyenyak kan?”
“Tentu ayah,” Jane yang menjawab, “dia bahkan tidak menyadari kalau aku memeluknya saat dia tidur.”
“Apa?” Alyx berseru.
John tersenyum, melipat surat kabar. “Dia mengiramu gulingnya. Ah, baiklah, aku berangkat sekarang. Anak-anak,
jadilah anak yang baik,” katanya dan pergi.
“Kalimat favoritnya.”
Mereka sarapan sambil berbincang-bincang. Dan kalimat Jane kebayankan berhubungan dengan pria bernama Tom.
“Apa hubunganmu dengan Tom?”
Jane hampir tersedak dengan pertanyaan Alyx. Sejenak kemudian, senyum mengembang di wajahnya.
“Eh, jelas sekali kau menyukainya.”
“Benarkah?” Jane menyentuh pipinya.
“Kau selalu tersenyum saat meski hanya melihat punggungnya.”
“Alyx… seseorang mengatakan padaku kalau dia memiliki separuh chip jiwa yang kumiliki.”
Alyx diam dengan wajah bodoh.
“Lupakan. Kau tidak akan mengerti. Padahal kau juga pasti memiliki itu,” gumam Jane.
Setelah selesai, Alyx keluar lebih dulu dan duduk di hadapan TV.
“Kenapa tidak kau nyalakan?” tanya Jane saat melihat Alyx hanya melihat TV dengan layar hitam.
“Apa SOS punya artis?”
“Apa? Kau tidak lihat orang yang berdiri di hadapanmu ini?” Jane seketika bergaya dengan cangkir di tangan
kananya dan surat kabar dijepit di ketiaknya.
“Ah…” Alyx mendengus.
“Aku serius. Aku muncul di beberapa iklan produk TV ayah—seperti TV yang kau tonton itu. Tunggu yah,” Jane
menyalakan TV, “salah satu iklanku masih tayang.”
Mereka terdiam beberapa jenak sampai Jane mengeluarkan suara histeris yang membuat Mrs. Duffy berlari keluar.
Dia masuk kembali setelah melihat cengiran Jane. “Itu, kau lihat.”
“Iya. Iya. Tapi, kenapa gadis ini selalu muncul?” tanya Alyx setelah diam sejenak.
Jane mendengus beberapa kali. “Dia menggeserku,” katanya dengan nada sedih. “Dia Adara Gilly White—keturunan Inggris-Yunani, namanya melonjak saat ini. Icon gadis remaja SOS. Nama SOS-nya Adda yang berarti kaya raya. Yah memang dia remaja terkaya saat ini.” Jane mengangguk beberapa kali.
Alyx mendengar arti nama gadis itu. Cantik dan kaya raya.
“Tapi beberapa yang lain memberinya julukan berbeda. Dan saat sedang tidak menjadi icon remaja, dia lalu mendapat nama Gilly—dia sangat pandai memainkan pedang.”
Alyx ikut-ikutan mengangguk. “Kau sepertinya tahu banyak mengenainya?”
“Dia teman sekelasku saat sekolah dulu,” katanya dan tertawa.
Perhatian Alyx kemudian beralih dari TV ke Jane yang sedang serius membaca surat kabar. Sangat serius sampai Alyx tidak berani menganggu konsentrasinya. Alyx memperhatikan bagaimana kening Jane berkerut saking mendalami apa yang sedang dibacanya. Kalau saja dia tidak menegurnya, mungkin saja dia akan mulai berteriak.
“Kau lihat ini. Seharusnya keluarga Russell yang lain belum membicarakan mengenai hari penentuan. Kau tahu Alyx, seharusnya hari penentuan itu jatuh pada lima atau delapan tahun lagi.”
“Itu masih sangat lama,” sela Alyx.
“Iya, seharusnya seperti itu. Tapi, lihat ini,” lagi-lagi Jane menepuk-nepuk koran yang dipegangnya. “Mereka malah menyebutkan ke dua nama ini. Adney dan Ace. Tahu tidak, mereka ini saudara sepupu.”
Alyx mendengar penjelasan Jane yang berapi-api.
“Ada apa?”
Kedua perempuan itu berbalik ke arah suara yang baru saja terdengar.
“Lihat Tom,” Jane beralih pada Tom, “mereka mengumumkan kandidat baru dan kau tahu siapa—Ace, iya, pria bodoh itu. Tapi setidaknya Ace lebih baik dari Max.”
Tom sepakat dengan Jane, meski tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Ah, tapi kalau aku bisa memilih, aku tidak akan memilih salah satu dari mereka berdua. Lihat saja, aku sangat
yakin mereka berdua pasti sering berdebat sekarang. Ehm, apalagi Max, dia pasti tidak setuju kalau sepupunya itu yang menjadi pemimpin.” Jane melihat Alyx.
“Jadi dua orang itu sama-sama kurangnya. Max yang jahat dan Ace yang bodoh.”
Jane tertawa mendengar kesimpulan Alyx. “Pendapat pertamamu benar mengenai Max, tapi kau jangan mengartikan bodoh dengan benar-benar bodoh. Kau tahu arti Ace, kan?”
“Iyaaa.” Nada suara Alyx sedikit ragu. Tidak mengerti kenapa orang bodoh harus diberi julukan Ace.
“Ace—julukan yang diberikan kepada orang yang unggul. Ace ini orang yang sangat-sangat pintar, Tom pernah sekelas dengannya, hanya saja pria itu tidak tahu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ehm, dia harus bertanya pada seseorang dan akan menentukan langkah selanjutnya. Ah, dan sialnya dia kadang bertanya pada orang yang tidak tepat—dia itu orang yang gampang percaya pada seseorang.”
“Kau sepertinya juga tahu banyak mengenai Ace ini? Padahal yang pernah sekelas dengannya itu Tom.”
Jane tertawa besar. “Aku sebenarnya tidak tahu banyak. Aku hanya menyalurkan pikiran Tom,” katanya menunjuk
“Pantas saja, kau berbicara seperti seseorang yang menunggu. Eh, apa lagi yah.”
“Benarkah seperti itu?”
Alyx mengangguk.
Jane kemudian menatap Alyx.
“Ada apa?”
“Tunggu,” Alyx mencoba mengingat sesuatu, “Jane, kalau aku tidak salah, Max mencari sesuatu di jari manisku, dan mengatakan mengenai sebuah chip pelindung.”
“Benarkah?” Jane bergegas ke kamarnya dan keluar dengan kacamata terpasang diwajahnya. “Ayo kita lihat,
dimana paman William menyimpan itu.” Jane berbicara sambil bersenandung membuat Tom mencibir. Jane memperhatikan setiap detail jari manis Alyx. “Kenapa tidak ada? Berarti Max telah mengambilnya—sepertinya benar, dia memang menginginkan itu, ya kan Tom?”
“Entahlah.” Tom menggerakkan bahunya ke atas.
“Ah, kau sama saja seperti Alyx, tidak tahu apa pun.” Jane bersandar di sofa dan menghela nafas berat.
“Ada apa lagi?” tanya Alyx kemudian.
“Aku sedang mendengar kabar angin,” kata Jane denga nada datar. “Aku sudah katakan pada orang yang sedang
dibicarakan oleh orang itu untuk bertanya langsung pada yang bersangkutan, tapi dia menolak usulku. Ya sudah…”
Sepertinya Alyx tahu siapa yang sedang dibicarakan oleh Jane. Karena saat mengatakan itu Tom langsung keluar.
“Memang berita apa mengenai Tom yang sedang tersebar?”
“Dia berteriak di otaknya untuk tidak mengatakannya padamu, Alyx.”
Alyx mendengus dan diam.
“Itu aku takut kalau Tom akan marah. Kau tidak marah kan?”
“Apa siapa yang marah. Aku hanya sedang berfikir.”
“Oh,” kata Jane singkat dan bersenandung tidak jelas.
“Apa Tom sudah pergi?”
“Dia melangkah kemana kakinya membawanya.” Jane mengatakan itu dengan nada tidak jelas.
Alyx menghela nafas dan ikut menyandarkan punggungnya di sofa. “Kau ingin menjadi seorang penyanyi?” tanya Alyx asal.
“Kenapa kau menanyakan itu? Apa karena suaraku terdengar bagus?”
Lagi-lagi Alyx menghela nafas dan segera mengganti topik. “Dimana kampusmu?”
“Di belakang rumah. Lewat lorong sempit di sebelah, sampai. Kenapa? Kau mau ke kampusku.”
“Kau ada kuliah hari ini?”
“Tentu.”
“Bolos saja,” usul Alyx bergurau, “temani aku jalan-jalan.”
“Baiklah.”
“Tidak jadi,” kata Alyx, cepat.
“Kenapa?”
“Aku hanya bercanda tadi. Kukira kau mengatakan ingin segera lulus, kalau kau bolos, kau tidak akan lulus lebih
cepat.”
“Jadi kau tidak pernah bolos?”
“Tidak. Hanya ketiduran dan tidak ke kampus.”
Kaki Jane menyenggol kaki Alyx. “Sama saja. Dia datang kembali.”
“Siapa? Tom?”
“Bukan. Si artis itu. Tadi dia berhenti di depan rumah sebentar, dan segera pergi. Tapi dia memutar mobilnya dan berhenti di depan gerbang. Dan sekarang dia turun, lihat gadis ini mengatakan setiap langkah yang dilakukannya di otaknya. Bukakan pintu! Buka saja sendiri. Kalau aku tidak membukanya, dia akan mencongkelnya dengan pedang, katanya. Terserah apa maumu.” Jane berteriak, berharap gadis yang sekarang mengetuk pintu itu mendengarnya.
“Kenapa kau tidak…” Alyx berhenti saat Tom masuk dan diikuti dengan gadis cantik di belakangnya.
“Dimana kau menemukan gadis itu, Tom?” kata Jane sinis. Tom tidak menjawab dan segera keluar.
Alyx bermaksud menegakkan posisinya, tapi Jane menahan badannya.
“Dia tidak perlu dihormati,” bisik Jane.
“Aku baru menandatangani kontrak film,” kata Adara.
Jane kembali berbisik, “dia itu sejenis dengan Max, hanya caranya yang berbeda.”
“Aku baru melihatmu, kau siapa?” tanyanya pada Alyx.
Alyx sudah benar-benar meluruskan punggungnya. Dia baru saja akan menjawab, tapi Jane menyelanya.
“Ada apa, Miss Adara? Bukankah kau ada kelas? Kenapa tidak pergi sekarang.”
“Aku ingin meminta bantuanmu,” kata Adara langsung saat Jane sudah mendorongnya keluar.
“Tidak. Tidak. Tidak.”
Alyx hanya memperhatikan mereka berdua.
“Ahhhh, ayolah, Jane. Kumohon!” perangai Adara sekarang berubah—matanya berbinar-binar meminta Jane memenuhi keinginannya.
Jane mendengus. Menghela nafas berkali-kali. “Ah, baiklah.”
“Nah, aku akan segera menghubungimu saat dia tiba di kampus,” Adara segera pergi setelah mengatakannya.
Jane menghempaskan dirinya kembali ke sofa. “Kau tidak bertanya kenapa?” katanya setelah diam beberapa saat.
“Bukan urusanku,” mata Alyx memperhatikan TV dihadapannnya, tapi pikirannya entah melayang kemana. “Baiklah, kenapa?” tanyanya kemudian mendengar Jane bergumam tidak jelas.
“Dia,” nada suaranya bersemangat, “selalu memintaku untuk membaca pikiran kekasihnya—orang yang selalu diikutinya,” Jane mengubah pilihan katanya. “Masalahnya aku kadang merasa diriku ini tidak berguna saat berhadapan dengan kekasihnya…”
“Karena kau menyukai kekasihnya juga.”
“Ha?” Jane terkejut dan tergelak. “Yah, itu salah satu yang membuatku tidak bisa membaca pikiran seseorang, tapi
aku tidak menyukai kekasih Adara, tentunya.”
“Lalu?”
Jane menghela nafas. “Dia Ace.”
“Ace yang kita bicarakan tadi?”
Jane mengangguk lemah. “Aku terlalu lemah untuk bisa membaca pikirannya.”
“Kukira dia orang yang ceroboh?”
“Iya, tapi dia yang terbaik, kurasa—selain cerobohnya itu. Dia bisa mengalihkan pikiran orang lain, menggerakkan sesuatu dengan pikirannya, seperti keahlian yang dimiliki Pemimpin.”
“Aku pernah mendengar seseorang hanya menggunakan pikirannya untuk menggerakkan barang.”
“Hanya ada beberapa di SOS. Lalu apa yang harus kulakukan, Alyx? Adara akan membuatku terlihat lemah. Aku tidak mau.”
“Manfaatkan kelemahannya—saat dia berada di titik lemahnya, kau hanya perlu menerobos pikirannya,” suara Tom
kembali terdengar dan ikut bergabung bersama ke dua gadis itu.
“Telinganya itu telinga kelelawar,” bisik Jane.
Tom berdehem. “Aku kadang penasaran juga apa yang sedang dipikirkannya. Saat terakhir bertemu, aku tahu kalau dia sedang mencari cara untuk menghilangkan kelemahannya.”
“Dia seperti program yang menelusuri setiap detail program-program otak seseorang,” bisik Jane lagi di telinga Alyx.
Tom hanya mencibir.
“Kalian semua hebat,” kata Alyx kemudian. “Apa itu semua karena chip?” tanya Alyx dengan nada ragu-ragu. Takut
kalau pertanyaannya akan membuat dua orang disekitarnya, tersinggung.
“Berumur sebulan kami dipasangi chip pengaktifan yang mengaktifkan keahlian terpendam. Chip di otak Tom
mengaktifkan kelebihannya untuk mendengar suara sekecil atau sejauh apa pun. Dan juga penambahan chip dimungkinkan…”
“Menggunakan alat pemilih chip? Aku pernah membacanya,” gumamnya.
“Kau tahu, iya itu benar. Alat pemilih chip itu diletakkan di kepala bayi dan sebuah chip akan terpasang sendiri. Chip tambahan Tom adalah pemprogaman.”
“Hebat. Bagaimana denganmu?”
“Chip mengaktifkan keahlianku membaca pikiran dan chip tambahan menggerakkan pikiran seseorang. Tapi, aku
tidak pernah menggunakannya, aku hanya menggunakan kecantikanku untuk menggerakkan pikiran seseorang.”
Tom dan Alyx mencibir bersamaan.
“Kalian mirip sekali saat melakukan itu,” kata Jane dan segera menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
*