
Azazil telah beridiri di atas jembatan. Sebuah rencana sedang disiapkannya. Yang dilakukannya sekarang hanya menunggu perempuan yang akan mengubah hidupnya.
Dia memperhatikan angin yang menerbangkan rambut panjangnya. Menaikkan tangannya. Dan tersenyum saat perempuan yang ditunggunya muncul di ujung jembatan.
“Kemarilah!”
Bagaikana di hipnotis, Alyx melangkah mendekat.
“Bagus. Lebih dekat lagi.”
Angin seakan membawa Alyx menuju ke tempat yang nyaman. Dia sekarang berdiri hanya sejengkal dari Azazil.
“Jangan memberontak, Alyx. Kau akan menyesal kalau melakukannya.” Azazil menengadah. Mencari bintang biru miliknya.
Azazil melihatnya. Tepat di langit di atas Alyx. Dia kemudian meletakkan telunjuknya di dada Alyx. Cahaya biru kemudian menembusi dadanya hingga tersambung di atas benda kecil yang melayang di atas bangunan pusat.
Azazil menggunakan pemancar turren untuk mempermudah proses pengalihan chip.
Azazil kemudian menghentakkan kakinya dan mengakibatkan setengah jembatan termasuk yang dipijaki Alyx hancur.
Alyx melayang di hadapan Azazil. Dari jemari tangannya keluar cahaya biru. Menghubunghkan dengan sesuatu di dalam air.
Berikutnya, Azazil menarik cahaya seperti sedang menarik benang dan menautkannya di dadanya. Cahaya biru telah menghubungkan Azazil dengan bintang biru dan di dalam air. Bintang biru juga terhubung dengan pemancar turren. Setelah semua terhubung, proses pun dimulai.
Azazil tersenyum proses pemindahan kekuatan yang diakukannya lebih mudah yang dibayangkannya. Dengan menggunakan dua orang yang mempunyai sepasang chip jiwa, dia bisa memperoleh kekuatan dari dua orang tersebut. Kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Kemungkinan hidupnya di luar SOS akan lebih besar. Dia bisa menguasai seisi dunia—setelah menggunakan kekuatan yang dimilikinya nanti untuk mengumpulkan kekuatan dari orang-orang terkuat SOS.
Hanya saja, senyum Azazil berhenti mengembang saat menyadari sesuatu sedang terjadi di bangunan pusat. Cahaya terputus.
Mata Alyx terbuka. Tangannya dikepal. Alyx menyerang bagian tengah Azazil dan membuatnya terkapar.
Alyx hampir saja terjatuh ke dalam air, kalau tidak mengaitkan jarinya di besi jembatan yang masih utuh. Dia mengangkat tubuhnya ke atas. Bersamaan dengan Azazil yang telah berdiri.
“Kukatakan padamu, jangan mela…”
Alyx bergerak maju selangkah. Mengayunkan kakinya dari atas ke bawah. Sasarannya adalah kepala Azazil.
Azazil berlutut di hadapannya. Cairan berwarna biru mengucur di dahinya. “Sudah kukatakan.” Tangan kirinya di renggangkan.
Alyx tidak perduli apa yang sedang dilakukannya. Dia menendang Azazil. Membuatnya terkapar memandang ke langit. Alyx mengangkat tangannya. Membuat dinding pembatas bergerak ke tengah. Dan membentu segitiga di atas tubuh Azazil. Sedetik kemudian, Alyx terkejut dengan sesuatu berwarna merah melintas di atasnya.
Alyx memperhatikan cahaya biru dari tangan Azazil yang menggerakkan benda merah itu. Dihempaskannya kemudian ke dalam air. Azazil tertawa kecil.
Beberapa jenak kemudian, Alyx merasakan hal aneh di dadanya. Dia berusaha mengatur nafasnya. Dia jatuh berlutut.
Tawa Azazil semakin membesar.
Alyx berdiri. Melangkah pelan. Melihati wajah Azazil yang tertawa. Alyx kemudian menutup wajah Azazil itu dengan dinding. Dia kemudian berlari kecil ke jalanan menuju tangga kecil ke daratan di samping sungai.
Alyx berlari kecil di sekitar sungai dan mulai berteriak tidak jelas. Tapi, berhenti saat menangkap cahaya merah dari dalam air.
“Kaukah itu, Hiro?”
Tidak ada jawaban.
“Well, Hiro, aku sudah mengatakan tidak akan berenang di tempat ini. Jadi, sebaiknya kau segera berenang ke tepi,” kata Alyx dan tetap berjalan masuk ke dalam air. “Kenapa jadi seperti ini?” Alyx menekan dadanya yang terasa sesak.
Akhirnnya Alyx mengambil nafas dan berenang. Namun, kebingungan saat tidak mendapati cahaya merah itu. Dia bergerak ke permukaan air. Mencari kemungkinan menemukan cahaya merah itu lagi. Tapi, tidak ada.
Alyx memutuskan untuk berenang lebih dalam. Saat berada satu meter dari permukaan air, tubuh Alyx bercahaya. Dia bisa bernafas dengan baik. Dia bergerak cepat bagai air menuntunnya masuk ke dasar yang ditempuhnya lebih dari sepuluh menit.
Dia berhenti bergerak saat mendapati seseorang di dasar sungai. “Hiro…” Alyx berusaha meyakinkan dirinya kalau orang itu benar-benar Hiro.
Hiro terkulai lemah. Rambutnya berwarna merah terang. Tubuhnya bersinar berwarna merah. Tak ada raut wajah yang sering dilihat Alyx. Dia terlihat sangat lemah.
Alyx mendekat. “Hiro…” tangannya menyentuh tubuh Hiro yang bersuhu panas.
Saat Alyx menggenggamnya beberapa saat, tangan Hiro mendingin. Dia menyentuh wajah Hiro dan memeluknya. Sejenak rasa sesak di dada Alyx menghilang.
Alyx menyelam ke dasar. Memperhatikan cahaya yang mengikat pergelangan kaki Hiro. Alyx menyentuhnya. Menghisap cahaya itu menggunakan telapak tangannya. Setelah terlepas, Alyx memeluknya dan membawanya ke permukaan.
Alyx menarik Hiro ke daratan. “Hiro, bangunlah,” katanya dan memukul pelan wajah pria berambut merah itu. Alyx melakukan CPR. Mencoba membangunkannya. Tapi, Hiro tidak membuka matanya.
Alyx duduk berselonjor dan menatap Hiro kelelahan. Sejenak kemudian, dia mengingat yang dilakukan Jane. Alyx merangkak mendekati Hiro.
“Hiro…” bersamaan dengan itu, Alyx membuat Hiro berdiri. Dia mendekat dan memeluknya. Alyx menutup matanya. Menarik nafas pelan. Mengalirkan kekuatan dari tubuhnya. Mendorong chip jiwa yang tertanam di dadanya.
Beberapa detik berikutnya, suara Hiro terdengar. Dia membuka matanya. Berusaha melepaskan pelukan Alyx. “Alyx…” panggil Hiro dengan suaranya yang serak. Perlahan tubuh Hiro mulai berwarna.
Alyx yang belum menyadari Hiro yang telah sadar, masih berusaha untuk menyerahkan chip jiwanya. Sebelum chip itu berpindah dari tubuh Alyx, Hiro mendorongnya.
“Apa yang kau lakukan?”
Alyx membuka matanya.
Hiro seketika tersenyum geli melihat tampan bodoh Alyx. Tapi, sedetik berikutnya Hiro telah jatuh berlutut di hadapan Alyx.
Alyx kebingungan melihat Hiro. Pria yang telah membuatnya merasa sesak. Pria yang akan menjadi masa depannya. “Hiro…” panggilnya dan menyandarkannya. Dia tahu kalau Hiro sedang tertidur, mungkin sedang memulihkan kekuatannya.
Alyx merasakan suasana yang berubah dengan cepat. Angin bertiup dengan kencang. Bahkan menggerakkan mobil-mobil di tempat parkir. Dahan-dahan pohon patah. Beberapa bahkan tumbang.
Alyx mengengada ke langit. Dan mendapati pria berjubah hitam melayang di udara. Tangannya bergerak ke kanan dan kiri, mengendalikan kejadian yang sedang terjadi.
Alyx menghela nafas. Menunduk lemah. Dia benar-benar lelah dengan semua ini. Hanya saja dia sudah berjanji pada dirinya akan menyelesaikannya dengan cepat. Tepat saat bintang fajar itu menghilang di langit, dia akan melakukan rencana yang sejak tadi dipikirkannya.
Tapi sebelum bergerak, sebuah senyum terukir di wajahnya. Dia memandangi wajah Hiro yang sedang tertidur. “Hiro… kuharap kita masih bisa bertemu,” bisik Alyx dan mengecup keningnya.
Alyx berlari kecil ke atas jembatan. Memandangi punggung Azazil yang masih memporak-porandakkan SOS dengan bantuan kekuatan bintang berwarna biru.
Alyx tidak menghentikkannya. Dia malah berlari menjauh dari Azazil. Menaiki anak-anak tangga menuju permukaan tanah dengan rerumputan hijau—tempat pertama dia menginjakkan kaki. Azazil terlihat kecil dilihat dari atas sana.
Sekali lagi, Alyx memperhatikan yang terjadi di SOS. Dia yakin yang dilakukannya akan menyelematkan orang-orang penghuni SOS.
Alyx kemudian meletakkan pergelangan tangannya di papan sensor untuk membuka pintu menuju dunia luar. Setelah terbuka, dia berbalik mengukur jaraknya dari Azazil yang sekarang melayang di udara lebih rendah dari sebelumnya. Alyx memperhitungkan berapa lama lagi bintang itu akan menghilang.
“Masih lama,” gumamnya. Jika menunggu, SOS akan lebih parah. Pandangan Alyx tertuju pada alat sensor. Dia mematahkannya dan melemparkannya. Memutuskan cahaya yang menghubungkan bintang dengan Azazil.
Azazil yang terkejut, berbalik. Dia bergerak maju menyerang Alyx, namun Alyx bergerak cepat—menghentikan serangan Azazil. Membuat tubuh Azazil menjadi kaku.
Alyx berjalan mundur sambil membuat Azazil mendekat ke arahnya.
“Apa yang kau lakukan?” mata Azazil membesar.
Alyx melangkahkan kakinya ke luar. Dia tiba di perpustakaan di London.
Azazil mulai meronta. Alyx tersenyum mengejek. Namun, dengan sisa kekuatannya Azazil melawan. Dia ingin kembali masuk ke SOS. Tapi, Alyx telah merobohkan jalan masuk.
Azazil begitu marah dan mendaratkan tinjunya ke tubuh Alyx.
Alyx balik menyerang dan menghempaskannya ke rak-rak buku.
Azazil berdiri dan menerbangkan buku-buku ke tubuh Alyx. Dia mengambil kesempatan untuk menyingkirkan penghalangnya untuk masuk ke SOS. Namun, Alyx telah berdiri berlari ke alat sensor masuk dan menendangnya. Azazil menatapnya tidak percaya. Dia baru saja akan pergi ke garasi di sebelah bangunan perpustakaan, tapi dia berhenti saat melihat alat sensor yang berdiri kokoh seketika hancur.
Alyx bergerak pelan menahan bahu Azazil. Menjatuhkannya ke lantai. Dan meletakkan telunjuknya di dada Azazil. Mulai menghisap kekuatan Azazil. Namun, Alyx terkejut dengan tubuh pria di hadapannya yang berganti-ganti. Rambutnya yang putih berganti-ganti warna menjadi merah-putih-merah, membuat Alyx kebingungan. “Hiro,” gumamnya.
Alyx menarik nafas. Memutuskan apa yang akan dilakukannya. Jika Azazil menggunakan Hiro, berarti dia akan menghancurkan Hiro jika tetap mrnghisap kekuatannya. Tapi, kalau itu hanya tipuan Azazil, dia akan benar-benar terjebak.
“Maafkan aku,” kata Alyx pelan. Dia mengepalkan tangannya. Menanamkan tinjunya dengan keras di dada pria yang tak bergerak lagi. Alyx menutup matanya. Sebutir air mata mengalir di pipinya.
*