SOS

SOS
Chapter 7



ALEXANDRA kembali ke apartemennya pukul sepuluh malam bersama Tom menumpang di mobil Indah dan suaminya. Polisi memperingatkan padanya agar menghubungi 911 hanya pada saat yang memang benar-benar darurat. Indah tidak habis pikir dengan polisi yang tidak terlalu mempercayai dirinya. Suami Indah hanya bisa mengiyakan yang dikatakan istrinya.


“Malam ini kau tidur di apartemenku saja,” bujuk Indah. “Kau sedang dalam masalah.”


“Tidak. Kurasa dia tidak akan datang malam ini.”


“Bagaimana kau bisa tahu? Mungkin saja dia sedang menunggu di kamarmu.”


“Dia sendiri yang mengatakannya. Entah apa yang diinginkannya dariku. Aku harus tahu itu.” Begitulah kata Alyx


dan masuk ke kamar tidurnya.


Sungguh dia tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Bagaimana mungkin dia bisa terlelap saat dia tahu kalau penjahat itu bisa keluar masuk di apartemennya dengan mudah. Tapi, yang membuatnya sedikit lebih tenang adalah dia tahu kalau orang-orang itu tidak punya niat membunuhnya. Mungkin belum saatnya. Karena seperti yang dia pikirkan, mereka pasti sudah lama mengikutinya, dan tak ada tanda-tanda mereka akan menyakiti dirinya. Dan soal tembakan yang kemarin, mungkin itu hanya sebuah gertakan. Hanya saja, yang tak habis pikir adalah bagaimana mungkin peluru itu bisa menghilang dari tempat itu. Alyx berusaha tenang. Dia akan mencari tahu semuanya besok.


*


“Kau pernah mendengar sebuah peluru yang menghilang setelah ditembakkan?” tanya Alyx pada salah satu kolektor senjata yang sering ditemuinya.


Robert Stewart, pria berumur tiga puluh tahun lebih tua dari Alyx itu tersenyum saat mendengar pertanyaan sahabat


photographinya. Sudah sejak dua tahun yang lalu dia mengenal Alyx. Meski berumur cukup jauh darinya, dia menganggap Alyx teman bicara yang cukup enak diajak ngobrol. “Kau tidak tidur semalam?”


“Ah?” Alyx terkejut dengan pertanyaan Rob. Rob pasti memperhatikan lingkaran hitam di sekitar matanya. “Yah, sedang ada sedikit masalah,” gumam Alyx kemudian.


“Berhubungan dengan peluru yang kau tanyakan itu?”


Alyx mengangguk kecil. Rambut sebahunya ikut bergoyang.


“Aku sudah mencari senjata itu cukup lama dan baru menemukannya beberapa bulan yang lalu.”


“Kau memiliki senjata seperti itu?”


Rob berdiri. Berjalan menuju sebuah lemari. Dikeluarkannya kunci dari saku celananya. Sepertinya dia selalu


membawa kunci itu kemana pun dia pergi. “Aku mendapatkannya dari seorang warga Amerika. Dia tak tahu cara menggunakannya. Dan sebagai seorang yang biasa, dia pikir tidak perlu memiliki ini. Atau mungkin saja dia tergiur dengan uang yang kutawarkan padanya.” Rob sudah duduk kembali di hadapan mejanya. “Dia menyerahkan senjata ini dan sebuah kotak yang dia tidak tahu cara membukanya. Entah dari mana dia mendapatkan ini, sehingga kode membuka kotak itu saja tidak dimengertinya? Mungkin dia mengambilnya tanpa izin.” Rob menjawab sendiri pertanyaannya dan  tersenyum. Dia kemudian mengambil kotak itu dan memasukkan tiga buah angka di tiga kolom.


Bunyi klik terdengar. Kotak itu terbuka. Rob memperlihatkan isi kotak itu, beberapa butir peluru yang hanya


seukuran polpen. Diambilnya satu butir dan diisi ke dalam lubang peluru. Rob mengarahkan senjata ke tembok hadapannya. Di samping pintu ada tembok yang sering dijadikannya sasaran tembak.


Tak ada suara tembakan, tapi Alyx tahu kalau Rob telah menembak. Dia melihatnya menarik pelatuk.


“Sekarang lihatlah!”


Alyx mendekat pada tembok itu dan mencari bekas peluru. Masih terbenam di tembok berwarna putih itu. Alyx


menariknya. Saat berada di tangannya, peluru itu menjadi debu. Alyx melihat Rob yang tersenyum.


“Hebat bukan? Kau tidak akan menemukan yang seperti ini.”


“Apa yang terjadi?” tanya Alyx setelah duduk kembali di samping Rob.


“Setelah ditembakkan, peluru itu menghilang. Dan apa kau tahu siapa yang membuatnya?”


Alyx tidak mengatakan sesuatu, tapi jelas sekali lagi dia penasaran dengan itu. Rob mengambil kembali kotak


berisi peluru. Memasukkan kembali tiga angka yang membuat kotak itu terbuka. Alyx memperhatikannya. “505?”


Melihat Alyx yang tidak mengerti, Rob mengambil senjata berukuran kecil, hanya berukuran sedikit lebih besar dari


telapak tangannya. Mengambil kaca pembesar. Dan menunjuk tiga buah huruf di samping badan pistol yang menjadi terlihat lebih besar dengan bantuan lup.


“SOS.”


*


Alexandra sedang menyantap makan siangnya saat itu bersama Mr. dan Mrs. Stewart. Dia memang sudah terbiasa makan di sana, setelah habis memperdebatkan sesuatu mengenai dunia photography, misalnya, atau hal lain. Mereka bahkan telah menganggap Alyx sebagai putri mereka sendiri—berhubung Rob hanya memiliki seorang putra yang sedang bertugas di luar kota.


“Kau tahu mengenai SOS?” tanya Alyx pada Rob.


“Tidak banyak,” jawab Rob dengan santai, berbeda dengan wajah Melissa yang sepertinya terkejut dengan pertanyaan Alyx. Rob tersenyum dan berkata pada istrinya, “kami tidak sedang membicarakan itu. Hanya mengenai senjata yang kudapatkan.” Kata-kata Rob membuat Melissa lebih tenang. “Mereka membuat itu untuk kepentingan pribadi, sepertinya—berhubung senjata ini tidak ditemukan di tempat lain.”


Alyx mengangguk-angguk. Setelah makan siang, Alyx belum meninggalkan rumah yang penuh dengan senjata itu.


Kesenangan Rob dengan senjata telah ada sejak dulu—apalagi dulu dia adalah penembak jitu di kalangan tentara—sehingga saat menemukan senjata yang unik baginya, dia akan berusaha untuk memiliki itu.


“Aku tidak tahu kalalu ini buatan SOS, awalnya, tapi setelah memeriksanya aku tahu kalau itu memang buatan SOS,” Rob mengingat salah satu kejadian membingungkan di hidupnya, “dan aku kemudian mencoba memasukkan kode itu, akhirnya terbuka.”


“Darimana kau tahu mengenai kode itu?”


“Panggilan darurat.”


“Apa?” tanya Alyx saat Rob berhenti. “Ceritakan padaku, Rob. Aku tidak akan menanyaimu mengenai SOS, kalau


aku tidak tahu-menahu mengenai mereka,” dia menekan kalimatnya. “Menurutmu bagaimana aku bisa tahu mengenai senjata itu? Itu karena aku mendapati persitiwa yang aneh.”


“Apa maksudmu?” Rob memajukan badannya.


“Peluru itu hampir saja menghilang di kepalaku, untungnya orang-orang itu memang tidak ingin membunuhku mungkin,” cerita Alyx sedikit santai.


“Apa yang terjadi sebenarnya, Alyx? Kau tidak sedang ada masalah dengan mereka kan?”


“Aku sama sekali tidak mengerti, Rob. Mereka yang membuatku ada dalam masalah dengan mendatangi apartemenku dan menghilang begitu saja.”


“Kalau begitu ini benar-benar gawat.”


“Setelah kupikir-pikir semalaman, aku merasa tidak ada yang perlu kukhawatirkan. Mereka datang ke apartemenku


bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting. Tapi, hanya cara mereka saja yang terlalu berbelit-belit.”


“Jangan menganggap remeh ini. Kau sudah melaporkannya ke polisi?”


Rob memandang Alyx dengan tatapan sayu. “Kau tak akan pernah mengira ini terjadi pada kami, Alyx. Dua puluh lima tahun yang lalu, kami mendapat sebuah nomor dari seseorang yang mengatakan akan membantu dalam penyembuhan anak kami. Bukan Tony,” Rob menyebut nama putranya sambil menggeleng. “Tapi adiknya, Alexandra—dia memiliki nama sama denganmu,” Rob tersenyum dan melanjutkan, “dia divonis menderita kanker, kami membawanya berobat kesana-kemari, tapi tidak menghasilkan sesuatu yang baik untuknya. Kami pikir dia takkan bisa lagi disembuhkan. Dan saat itu, seseorang memberiku tiga buah angka dan mengatakan, ‘nomor darurat’, aku bingung, tapi segera aku menghubunginya. Aku cukup degdegan saat itu, setelah tersambung, seseorang menyapaku. Dia seorang gadis, suaranya menandakan dia masih muda.”


Alyx mendengar cerita Rob dengan seksama.


“Mr. Rob Stewart…” panggil wanita di seberang telepon dan menyebutkan data lengkap Rob, sebelum yang punya nama memperkenalkan dirinya. Seperti gadis itu tahu kalau Rob akan menelpon. “Kau tahu bagaimana kami bekerja?” tanyanya pada Rob dan Melissa, istrinya juga berada di sampingnya.


“Maafkan aku, tapi kami belum mendapatkan kabar mengenai itu.”


“Baiklah, kalau begitu seseorang akan ke sana.” Telepon terputus dan saat itu juga seseorang menekan bel. Rob sampai berlari kecil untuk membuka pintu. Melissa tiba di depan pintu beberapa detik kemudian.


Mereka mendapati seorang pria dengan jas lengkap-rapi, menenteng sebuah koper. Dia masuk dan segera duduk di


kursi. Meletakkan koper di atas meja. Membukanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. “Kau akan membacanya atau langsung setuju saja dengan persayaratan mengenai putrimu. Kalau kau sudah setuju, kami akan membawanya menuju SOS.”


Ann berusaha untuk membaca persayaratan-persayaratan itu, tapi Rob keburu setuju dengan mengiyakan semua


yang dikatakan pria itu.


“Dan yang benar-benar harus kau perhatikan adalah melanggar kontrak berarti semuanya selesai. Kami akan


meninggalkan kontrak ini untukmu, sebaiknya kau simpan di tempat yang aman, dan tak ada seorang pun yang tahu. Kalau kontrak kau langgar kau harus segera menghancurkannya, kalian mengerti?”


Rob dan Melissa mengangguk bersamaan. Lissa masuk ke kamar putrinya, mempersiapkan segala urusannya.


Sedang Rob masuk menyimpan kertas yang seketika menjadi sangat penting ke dalam lemari yang kuncinya selalu dibawanya.


“Kalian tidak perlu ikut,” kata pria itu saat melihat Rob dan Lissa yang telah mempersiapkan segala


perlengkapan. “Cukup anak itu saja. Kalau kalian keberatan, tidak ada yang bisa kami lakukan.”


“Tidak… tidak…”


“Baiklah. Kalian hanya perlu mempercayakannya pada kami dan kami akan membuat sesuatu yang tidak mungkin


menjadi mungkin.” Mereka pergi setelah memasukkan putri Rob ke dalam sebuah mobil mewah.


Rob merangkul istrinya. Rob sama-sama terkejutnya dengan Lissa. Ini terasa begitu cepat. Dia bahkan tidak mengenal orang yang memberi nomor itu padanya. Tapi, dia memang pernah mendengar kalangan kaya lainnya menyebut SOS yang telah banyak berpengaruh di kehidupan mereka. Sehingga dengan mudah dan mengharapkan hasil yang sangat baik, Rob segera menghubungi nomor darurat milik SOS itu.


Minggu berikutnya, seperti yang memang diharapkan Rob dan Lissa, putri mereka kembali dengan keadaan sangat


sehat. Bukan pria kemarin yang mengantarnya tapi seorang wanita jangkung yang sama tingginya dengan Rob.


Rob dan Lissa menyambut mereka dengan wajah terkejut. Tapi, Alexandra—putri mereka terlihat sangat bugar menandakan dia sudah benar-benar lepas dari penyakitnya, seperti yang dijanjikan diawal. Rob bertanya apa yang telah dilakukannya, tapi wanita itu hanya menjawab dengan mengatakan mengenai penyisipan gen dan lainnya. Mereka tidak mengerti. Tapi itu penjelasan yang cukup untuk membuat mereka segera memeluk gadis mereka.


Alexandra melewati kehidupannya dengan sangat sehat, sampai saat dimana penyakitnya kembali lima belas tahun kemudian. Rob membawanya ke rumah sakit untuk mengecek kesehatannya dan sakit hatinya Rob saat mengetahui penyakit putrinya kembali mengancam kehidupannya.


Rob bertanya-tanya dalam hati dan segera mengingat mengenai kontrak yang pernah mereka bicarakan. Dia


mengeluarkan kontrak yang telah mendekam di lemari selama lima belas tahun lamanya. Dia membaca beberapa pelanggaran kontrak dan menghubungi istrinya yang sedang berada di rumah sakit. Lissa segera mengabarkan mengenai Alexandra yang positif menggunakan narkoba. Dan saat itu Rob tahu bahwa dia telah melanggar kontrak.


Hari itu, Rob berusaha menghubungi nomor darurat yang diberikan, tapi tak ada jawaban, bahkan Rob, berpikir dia


hanya bermimpi pernah mendapat jawaban dari nomor itu.


*


“Tak cukup setahun, setelah hari itu, Alexandra meninggalkan kami,” kata Rob pada Alyx.


“Aku turut menyesal.”


“Yah, begitulah, setelah hari itu aku menghancurkan kertas-kertas itu. Bukan karena mengingat perintah pria yang


menyuruhku menghancurkannya, tapi karena aku begitu kesal pada diriku. Seharusnya aku bisa menjaga putriku dari kawan-kawannya. Yah, kau tahu, merekalah yang memaksanya untuk menggunakan barang itu.”


“Seharusnya mereka mendengarmu menceritakan itu.”


“Siapa?”


“SOS.”


Rob tersenyum.


“Kenapa?”


“Alyx, kupikir ada banyak orang—mungkin ribuan yang berusaha untuk dilayani mereka, betapa pun pentingnya


dirimu—atau seberapa kayanya dirimu, dia akan memilah mana yang akan dibantunya.”


“Kenapa begitu?” tangan Alyx menopang dagunya.


“Karena begitulah cara mereka bekerja.”


Sekarang Alyx tahu bagaimana SOS bekerja, dari contoh kejadian yang diceritakan Rob. Pada hal yang didengarnya, mungkin semua orang bisa mengerti dengan mudah, termasuk dirinya. “Apa menurutmu mereka dari SOS? Maksudku orang yang mendatangiku.”


Rob mengangkat bahu. Dia tidak tahu itu, tapi untuk lebih amannya, Rob berusaha untuk meyakinkan Alyx untuk


tinggal di rumahnya. Alyx menolak.


Orang itu akan datang lagi, pikir Alyx. Ada banyak hal yang ingin ditanyakannnya. Saat itu Alyx pamit. Pertanyaan


pertama yang akan ditanyakannya, apa mereka dari SOS? Itu sudah jelas sekali, dia bahkan mengatakan telah mengirim dokumen-dokumen itu. Apa hubungannya dia dengan Benjamin? Dan yang paling penting, kenapa aku orang yang harus ditemuinya?


Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala Alyx. Semakin bertambah banyak saat dia dalam perjalanan pulang. Saat di kereta, bertambah lagi. Saat tiba di depan apartemennya. Dan saat masuk ke dalam kamar, semua pertanyaan itu menghilang.


“Michi.”


*