
“MAAFKAN aku Alyx, tapi dia benar-benar tidak ingin menemuimu,” kata Charlie saat Alyx meminta untuk menemui Nick yang sudah tidak ditemuinya sejak seminggu yang lalu.
“Apa yang terjadi?”
“Aku tidak begitu yakin. Dia mengurung diri di kamar, setelah bertengkar hebat dengan ibunya. Aku sama sekali tidak tahu apa yang mereka perdebatkan.”
Alyx menunduk. “Kurasa, aku akan datang lain kali,” katanya bersamaan dengan pintu gerbang yang terbuka.
Membiarkan sebuah mobil mewah masuk. Alyx melihat seorang wanita yang sepertinya sudah berumur lebih dari setengah abad duduk di dalamnya. Meski begitu dia masih tetap anggun dalam balutan pakaian yang juga mewah.
“Nyonya sudah kembali,” kata Charlie memandang mobil yang berhenti di depan kediaman utama rumah itu.
Alyx memperhatikan dari jauh, saat wanita itu keluar dari mobil mewahnya. “Apa mereka pernah berdebat sebelumnya?”
“Kurasa ini pertama kalinya, aku belum pernah melihat mereka berdebat sehebat itu.”
“Kau tidak mendengar apa yang mereka perdebatkan?”
“Aku berusaha untuk tidak mendengar mereka—mungkin hal ini sesuatu yang sangat pribadi bagi keluarga ini,
tapi mungkin saking emosinya—suara Nyonya kadang bernada tinggi sehingga beberapa tertangkap oleh pendengaranku. Dan anehnya, mereka menyebutkan mengenai kehidupan Nick.”
Alyx hanya mengangguk-angguk, padahal pikirannya hanya tertuju pada rumah yang besar itu. “Sepertinya aku
harus pergi sekarang. Tapi Charlie, apa aku salah kalau usia Nick dan ibunya, cukup jauh?”
Charlie tertawa kecil. “Bukankah Nick memang sangat istimewa? Kami menunggu kehadirannya di rumah ini cukup
lama. Setelah hampir sepuluh tahun pernikahan tuan dan nyonya—dia baru dinyatakan hamil. Nyonya menghabiskan masa kehamilannya di luar negeri. Nick bahkan tidak lahir di sini.”
Sekali lagi Alyx mengangguk, kali ini dia mendengar dengan baik yang dikatakan Charlie. “Aku sudah harus
benar-benar pergi. Terima kasih telah menamaniku berbincang, Charlie. Dan tolong katakan pada Nick, kuharap dia bisa segera menghubungiku.”
Alyx meninggalkan rumah itu. Tujuan selanjutnya, Parliament House. Kamera yang digantung di lengan kanannya diambilnya. Bidikan pertamanya, jam besar di hadapannya. Beberapa kali jepretan telah diambilnya saat telepon genggamnya berbunyi dari saku jaketnya.
“Hi Indah…” sapa Alyx.
“Alyx, kau pasti sedang tidak di rumah kan?” tanya Indah hanya untuk meyakinkan dirinya.
“Tidak.” Alyx menggantung kembali kamera di lengannya, setelah mendengar suara Indah yang sedikit bergetar. “
Memang ada apa?”
“Aku pulang cepat hari ini dan saat keluar dari lift, kulihat dua orang pria sedang berusaha masuk ke tempatmu. Karena kutahu kau tidak mungkin di rumah sekarang, aku segera masuk ke apartemenku, tanpa membuat mereka curiga kalau aku telah mendapati mereka masuk ke apartemen orang lain—karena aku sedang sendiri saat ini.”
“Kau melakukan hal yang benar.”
“Tapi Alyx, aku mendapati salah satu dari mereka—sebelum aku masuk—berbalik dan tersenyum—menyeringai padaku. Aku sudah menelpon Tom dan menyuruhnya memanggil penjaga keamanan. Dan sekarang aku menelponmu,” kata Indah menambahkan.
“Aku akan segera pulang.”
*
Alyx tiba di apartemennya, empat puluh menit kemudian. Indah, Tom, dan dua orang keamanan yang sering dilihatnya berjaga-jaga di depan aparteman itu sedang berbincang. Alyx memandangi mereka satu-persatu, bertanya apakah mereka sudah menangkap pencuri itu.
“Kamarmu terbuka saat kami ke sini, tapi saat masuk kami tidak menemukan seorang pun di dalam,” kata Tom
melihat pertanyaan di wajah Alyx.
“Tapi aku yakin melihat dua orang masuk ke dalam dan belum melihatnya keluar sampai Tom datang bersama dua orang ini,” kata Indah yakin.
“Sebaiknya, sekarang kita masuk dan memeriksa apa ada barangmu yang hilang, Alyx,” usul salah satu penjaga dan masuk lebih dulu.
Setelah memeriksa barang-barang yang dianggap penting, Alyx menggeleng. “Aku tidak kehilangan apa pun.”
“Kalau begitu ini bukan kasus pencurian. Lalu apa yang diinginkannya di kamarmu Alyx?” Indah terlihat khawatir atau sepertinya ketakutan.
“Sudah kuduga,” kata penjaga ke dua yang berdiri di depan kamar Alyx. “Tidak ada kerusakan di pintu, sepertinya
dia masuk menggunakan kunci. Kau tidak kehilangan kuncimu, kan?”
“Tidak. Dan hanya ada satu kunci, setelah aku menghilangkan yang satunya setahun yang lalu. Karena aku tidak kehilangan apa pun, kurasa kalian bisa pergi sekarang.” Alyx mengantar tamu yang mendadak datang ke apartemennya.
“Segera telepon saat terjadi sesuatu yang aneh,” kata Tom sebelum pergi. “Aku akan memeriksa CCTV dan memberitahumu kejelasan dari semua ini.”
“Terima kasih, Tom.” Alyx masuk saat melihat Tom dan dua penjaga lainnya masuk ke dalam lift. Sedang Indah masuk setelah gagal membujuk Alyx untuk ke apartemennya.
*
Beberapa hari ini, Alyx selalu merasa ada yang aneh. Merasa seseorang sedang memperhatikan dirinya. Dan benar saja saat sore hari, sepulang dari tempat pemotretan, Alyx yang tiba dengan keadaan lelah masuk. Dia menutup
pintu dan terkejut sekali saat seorang pria berdiri di belakang pintu. Pria berumur sekitar seperempat abad dan lebih tinggi dari Alyx itu menunjukkan ekspresi yang aneh, seperti sedang memainkan sebuah lelucon yang malah membuat Alyx ketakutan.
Alyx berbalik bermaksud membuka pintu, tapi terhalang oleh pria yang segera menutup jalan keluar, kemudian
bersandar di pintu. Alyx mundur beberapa langkah, berjalan ke samping seperti seekor kepiting, dan berhenti di depan mini bar. Kursi berputar saat Alyx menyenggolnya. “Apa yang kalian lakukan di apartemenku?”
“Hanya bermain,” suara itu tidak datang dari pria yang menghalangi Alyx keluar, tapi dari seorang pria di depan TV yang duduk dengan santainya.
Alyx berbalik ke sumber suara. Berusaha melihat wajah pria yang tertutupi topi setengahnya.
“Ed, nyalakan TV ini, aku merasa sangat bosan.”
“Baiklah.” Pria yang dipanggil Ed, berjalan cepat menuju TV, jelas sekali kalau dia adalah seorang pesuruh. Meski
umurnya lebih tua dari pria yang memintanya melakukan sesuatu yang sebenarnya lebih mudah dijangkaunya, dia dengan sigap melaksanakan perintah itu. “Ada lagi yang kau inginkan, Max?” tanyanya setelah menekan tombol dan memberi remote pada pria bernama Max.
Max menggeleng. Memperbaiki posisi topi bundar berwarna hitam di atas kepalanya. Dan menyilangkan kaki di atas meja.
Pria bernama Max itu tersenyum saat menonton tayangan di TV, tapi tiba-tiba alisnya yang tebal mengerut,
membuatnya menjadi segaris. Sepertinya dia tahu sedang diperhatikan. Dia berbalik melihat Alyx, memandangnya dengan tajam, dan tersenyum licik. “Ed, lakukan sesuatu.”
Ed yang berdiri di samping kaca setinggi Alyx, memasukkan tangan ke dalam saku jasnya. Alyx memperhatikan
setiap gerak Ed dan kemudian terkejut saat Ed mengeluarkan sebuah pistol kecil. Alyx menyiapkan langkah mundur, tapi tak ada jarak lagi yang bisa dilangkahinya ke belakang. Dia berbalik. Mungkin sebaiknya dia ke belakang mini bar. Tapi saat dia berjalan ke samping, Ed menarik pelatuknya. Alyx berhenti dan bersandar di tiang yang lebih lebar dari tubuhnya.
“Kusarankan kau jangan bergerak,” kata Ed santai dan menembak.
Alyx memang tidak sempat lagi bergerak. Dia mematung saat tembakan itu mengarah pada dirinya. Dia merasakan
sentuhan angin di samping wajahnya. Peluru itu tertancap pada tembok. Tapi, apakah Ed meleset atau memang sengaja tidak mengenai dirinya, Alyx hanya bisa bersyukur.
Ekspresi Max berbeda sekali dari Alyx. Dia tertawa terbahak-bahak di depan TV. Tanpa menoleh pada Alyx, tapi gadis itu tahu betul bahwa Max sedang menertawai dirinya yang benar-benar ketakutan.
Ed melihat pada Max dan berjalan ke arahnya. Dia memasukkan kembali pistol kecil yang tak mengeluarkan suara apa pun. Dia membungkuk dan membisikkan sesuatu di telinga Max. Ed kembali berdiri. Menyilangkan tangannya di belakang badannya yang kekar.
Max menoleh sebentar melihat Alyx yang berdiri mematung. Dia menggeleng. Melihat keluar jendela. Matahari mulai tenggelam. Dan sekali lagi menggeleng tidak percaya.
Alyx memanfaatkan situasi dan berlari ke belakang mini bar. Mengeluarkan handphonenya dan menekan 911. Dia
berbicara dengan suara yang sangat kecil. Menyebutkan namanya dan tempat tinggalnya. Dan kemudian melaporkan kejadian yang sedang terjadi di kamarnya saat ini. Dia berdiri setelah memasukkan kembali handphonenya ke dalam sakunya.
Saat berdiri betapa kagetnya Alyx, saat Ed dan Max melihat ke arahnya. “Kalian membuatku bingung,” kata Alyx
membuat ke dua pria itu saling berpandangan. “Apa sebenarnnya mau kalian? Untuk apa kalian datang ke tempatku?” tanya Alyx sedikit tegar, meski jantungnya berdegup kencang. Lima menit lagi polisi akan datang dan meringkus penjahat-penjahat ini, pikir Alyx.
Max kembali memandang keluar jendela. Pemandangan sore itu sangat cantik. Tapi sayangnya, bukan waktu yang
tepat saat ini untuk mengagumi keindahan itu.
“Apa kalian yang selama ini mengikutiku? Atau jangan-jangan kalian yang membunuh Michi? Tega sekali kalian.”
“Sepertinya kau sudah salah sangkah. Aku tidak mungkin membunuh seekor hewan yang tak punya perlawanan. Dan kau harus tahu, aku punya banyak urusan yang harus dikerjakan dari pada harus membuntuti dirimu yang tidak terlalu penting—seperti yang dilakukan orang-orang rendahan suruhan ayahku.” Max tertawa mengejek. Dia berdiri. Dia terlihat lebih kurus dari pada perkiraan orang lain yang melihat wajahnya lebih dulu. Pipinya sedikit berisi, tapi dia tidak memperlihatkan otot seorang pria berotot besar lainnya.
Max berjalan ke samping jendela, melihat ke bawah. Tepatnya ke sebuah restoran di depan apartemen. “Berapa banyak orang yang ditugasinya untuk membuntutimu? Terlalu banyak untuk seorang wanita yang lemah seperti dirimu.”
“Apa maksudmu?”
“Kau terlalu banyak tanya dan tidak mengerti apa pun. Sebagai perkenalan aku telah mengirimu beberapa halaman
yang kuanggap penting untuk dibaca oleh gadis yang ternyata sama sekali tak pintar.” Sekali lagi Max merendahkan Alyx. “Ed,” dia beralih pada Ed yang senantiasa mendengar apa yang dikatakan Max, “berapa lama lagi?”
“Tiga menit,” jawabnya setelah melihat jam di tangannya. “Sebaiknya…”
“Tunggu sebentar lagi,” sela Max dan berbalik melihat Alyx. “Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Ah, sayangnya aku tidak bisa memberitahumu lebih banyak lagi.”
“Kalian yang datang kemarin?” tanya Alyx berusaha menunda kepergian mereka sebelum polisi datang. Alyx bahkan telah melangkah ke depan. Pintu hanya berjarak tiga meter darinya. Setelah melihat kunci yang dijatuhkan Ed di atas lantai di belakang pintu tadi, Alyx berusaha mendekat.
“Tentu, kami berharap bisa menemuimu kemarin, tapi dia malah menelpon penjaga sebelum kau datang.”
Alyx mengerti maksud wanita yang dikatakannya, pasti Indah. “Kau pikir dirimu siapa? Kalian tidak berhak masuk
ke rumahku lagi.”
“Kau tidak membuatku takut dengan gertakanmu,” kata Max dan betapa terkejutnya Alyx, saat Max sudah berada di sampingnya. Nafas Alyx saling memburu. Dia bahkan tidak melihat Max mendekat, mungkin karena terlalu fokus pada kunci itu. “Benarkah kau tidak tahu apa yang sedang kubicarakan ini?” mata Max yang berwarna cokelat melihat Alyx dalam. “Sungguh sangat disayangkan. Mereka pasti berusaha keras menutupi dirimu dari dunia kami. Tapi, setelah para tertinggi tahu, mereka akan segera menggantikannya.”
Alyx mengerutkan kening, entah wanita siapa lagi yang pria ini maksud.
“Max,” suara berat Ed memanggilnya.
Max melihat ke pintu. “Tetaplah di sini, besok, atau lusa, atau minggu berikutnya. Kalau kau masih ingin bertemu
denganku.” Dia kemudian berjalan ke samping jendela. Ed mengikutinya. Max dan Ed berbicara dan tidak berbalik lagi
Merasa waktu yang tepat untuk Alyx, dia mendekat ke pintu. Mengambil kunci dan segera membukanya. Di saat itu, beberapa rombongan keluar dari lift, diikuti beberapa orang berseragam polisi.
“Mereka di dalam,” Alyx menunjuk pintu kamarnya.
Polisi-polisi itu membuka pintu, masuk dengan senjata di tangan masing-masing. Dan betapa merasa dipermainkannya mereka, saat tidak menemukan seorang pun di dalam. Salah satu dari mereka keluar, memanggil pemilik apartemen itu.
Alyx mendekat, di sampingnya ada Tom. “Apa maksudmu? Mereka tadi di dalam, saat aku keluar mereka juga masih… aku bisa memperlihatkan pada kalian, dia menembak ke arah sini,” Alyx menghampiri tembok yang tadi dijadikan sasaran tembak, tapi sayangnya polisi tidak menemukan peluru yang tadi dilihat Alyx menancap di sana. Hanya ada bekas seperti sebuah tumbukan benda lancip yang telah menghantam tembok tempat di depan wajah Alyx.
“Sepertinya kau baru saja menancapkan pulpen ke tembok,” kata salah satu polisi berbadan tegap itu dan tertawa.
“Kau gila,” gumam Alyx. “Aku serius. Kalian pikir aku bermimpi dan menelpon 911 karena itu.”
“Yah, bahkan ada yang menelpon 911 hanya karena dia tidak bisa tertidur. Atau anak kecil yang tidak bisa
mengerjakan PRnya, atau bahkan seseorang yang sedang kesepian, dan mungkin…” polisi itu mengangkat bahu. “Kami tidak tahu, tapi kami akan membawamu ke kantor.”
“Kurasa dia tidak perlu ke kantor polisi karena hal ini dan memang kemarin dua orang pria juga mendatanginya.”
“Kau melihatnya, tuan?”
“Tetangga apartemen sebelah yang segera melaporkan kepadaku.”
“Kalau begitu kami akan memeriksa CCTV untuk melihat siapa sebenarnya mereka.”
“Tidak, aku sudah melakukannya, tapi tak menemukan sesuatu,” gumam Tom.
“Kalau begitu sudah jelas nona ini dan tetangganya sedang ngelantur. Lebih baik kami membawanya ke kantor. Anda dan tetangga di sebelah juga akan kami panggil untuk memberikan kesaksian.”
Alyx menuruti semua yang dikatakan polisi. Dia turut saja saat polisi memintanya masuk ke dalam mobil polisi yang berada di apartemen. Dia tidak banyak bicara. Alyx memilih diam karena pikirannya sedang tertuju pada Max.
*