
MALAM tampak begitu indah saat Alyx memandang ke luar jendela apartemennya. Dia baru saja mengantar Jane ke pintu. Tadinya dia pikir, Jane akan menginap di tempatnya, tapi gadis itu punya banyak urusan lain yang harus dikerjakannya.
Akhirnya, Alyx benar-benar yakin kalau ayahnya yang memang berada di SOS sekarang. Dia memperlihatkan gambar yang ditangkap kameranya pada Jane. Dan Jane mengangguk dengan sangat yakin.
“Sudah kukatakan padamu, kalian benar-benar mirip.”
Lamunan Alyx terhenti, saat smart phone miliknya bergetar di atas meja kerjanya. Sebuah pesan singkat. “Nick?” Alyx segera membaca pesan dari seseorang yang tiba-tiba menghilang dari dunianya.
“Alyx—temanku yang baik, aku akan pergi beberapa saat. Maaf.”
Entah untuk apa Nick meminta maaf padanya. Tapi, dia segera mengambil jaket dan topi yang tadi pagi dikenakannya.
“Alyx, ada apa malam-malam begini?” tanya Charlie yang terkejut melihat wajah Alyx yang tiba-tiba muncul.
“Mana Nick?”
“Dia baru saja pergi.”
“Kemana?”
“Entahlah. Kudengar nyonya akan membawanya ke luar negeri untuk berobat.”
“Apa? Memangnya dia sakit apa sampai harus berobat ke luar negeri?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak berani bertanya, apalagi masuk ke kamarnya dan melihat keadaan Nick, itu setelah
nyonya memberi larangan kepada siapa pun. Sebenarnya aku bahkan tidak tahu dia dalam keadaan sakit, karena baru kemarin dia ke tempat latihannya.”
“Benarkah?”
“Dan Alyx,” kata Charlie sebelum Alyx pergi, “sebenarnya Nyonya yang memintaku mengatakan padamu kalau Nick tidak ingin bertemu—tanpa alasan dari Nyonya.”
Alyx pergi. Dia tidak habis pikir kenapa ibu Nick berbuat seperti itu. Padahal selama ini dia selalu bersikap baik padanya. “Kalau Nick sakit, bagaimana keadaannya sekarang?” Alyx menggeram. Dia bahkan tidak sadar kakinya sudah melangkah sampai di tempat latihan mereka.
Alyx masuk. Nick orang yang cerdik—kalau ibunya hanya beralasan dia sakit untuk memaksanya ke luar negeri—dia bisa dengan cepat kabur ke suatu tempat. Mungkin saja dia ada di sini.
Dia mencari ke sekeliling. Berusaha menemukan sosok pria yang selalu sok tahu, tapi juga selalu baik padanya. Sementara matanya mencari, pikirannya malah memikirkan penyesalan. Dia menyesal tidak menghubungi Nick segera. Seharusnya dia tahu, Nick tidak mungkin berbuat sesuatu yang kasar padanya. Dia menggeram dan menjongkok sambil memukul-mukul kepalanya.
“Alyx,” seorang pria memanggil namanya.
Tapi Alyx tahu itu bukan suara Nick. “Hi, Chris.”
“Kemarin Nick datang ke sini, sendiri.”
“Iya aku tahu,” gumam Alyx, tak jelas.
“Tapi, baru kali ini dia tidak bermain. Dia hanya melihat-lihat sebentar dan pergi. Dia tidak sakit kan?”
“Aku baru mau menanyakan itu padamu.”
“Wah, kupikir kalian selalu bersama. Wajah Nick memang sedikit pucat, kemarin. Dia anak yang kuat, jadi kurasa itu tidak mungkin. Dan kupikir dia hanya sedang ada masalah dengan keluarganya.”
“Mungkin.”
“Kau tidak ingin bertanding. Setiap hari dia datang mencarimu,” katanya berganti topic.
Alyx mengikuti arah pandangan Chris. “Siapa dia?”
“Violet. Tadinya kukira kalian saling mengenal, tapi sepertinya kau tidak mengenalnya.”
“Dia mengenalku?”
“Teman kecil, katanya.”
“Tidak.”
“Maksudmu dia berbohong. Ah, tidak,” Chris segera meraih bahu Alyx yang sudah berbalik menuju pintu keluar.
“Ayolah,” katanya dan mendorong Alyx.
Alyx berjalan membungkuk. Tapi, dia menegakkan bahunya, saat gadis bernama Violet itu menatapnya dengan tatapan merendahkan.
“Apa aku mengenalmu, nona?” tanya Alyx, melipat tangannya di depan dada.
Tak ada jawaban dari Violet, hanya saja dia meniru Alyx melipat tangan.
Alyx berdehem. Berpikir sebentar.
“Kau berani?” tanya Violet dengan aksen berbeda dari Alyx. Dia pernah mendengar seorang berbahasa Inggris dengan aksen seperti Violet.
Alyx menghela nafas. Membuka jaketnya dan masuk ke arena tinju. “Begini, sebenarnya aku tidak terlalu… ohohh.”
Violet menyela dengan memulai pertandingan sebelum mendengar aba-aba.
Alyx memperhatikan wajah lawannya yang seketika menjadi beringas. Alyx mengambil ancang-ancang.
Mata Violet sipit—seperti orang Asia. Wajahnya panjang. Rambutnya hitam pekat. Alyx pikir, Violet mungkin akan
telihat lebih ramah—jika tidak menemuinya di arena seperti ini.
Violet mengepal tangannya. Dia sudah siap meninju apa pun yang bergerak di hadapannya. Tingginya tak lebih dari Alyx, tapi badannya lebih besar. Otot lengannya terlihat. Dengan otot seperti itu—dia pasti latihan paling tidak, dua kali sehari. Kulitnya kecoklatan—mungkin sering berjemur atau pekerjaannya lebih sering di luar rumah.
“Kau orang asia?” tanya Alyx sambil menghindar dari serangan Violet. “Argh,” serunya saat Violet menendang tulang keringnya. Lutut kananya menyentuh lantai arena, sedang tangannya mengelus kaki kirinya. “Kau dari Thailand, yah? Tak perlu kau jawab.”
Violet berhenti. Dia berdehem. Dan menendangkan kakinya ke wajah Alyx.
Untungnya Alyx lebih cepat bergerak. “Baiklah kalau itu maumu.” Alyx berlari kecil di tempat—melenturkan otot-ototnya. “Kau tahu Muay Thai? Itu dari negaramu kan? Apa gerakannya seperti ini?” Alyx menendangkan kakinya ke tulang kering Violet dan membuat gadis itu meringis. “Bukan-bukan seperti itu.” Alyx bermaksud membalas sakitnya tulang keringnya.
“Kau sudah mempelajari bela diri dari negaramu? Belum yah.” Alyx menjawab pertanyaannya sendiri. “Kalau begitu,
biar kuajarkan,” katanya dan memandang sebentar tangannya yang kosong dan tangan violet yang dibungkus glove. “Tak masalah.”
“Kau terlalu banyak bicara,” kata Violet dengan aksen thailandnya. Dan mendekatkan tubuhnya pada Alyx. Dia
bermaksud melakukan hook, sayangnya tidak sempurna—sikutnya tidak naik dan agak miring.
Giliran Alyx yang melakukan hook—wajah Violet yang menjadi sasarannya. Setelah mengenai sasaran, Alyx mundur, membuat jarak satu meter dari Violet. “Selain kekuatan tanganmu, kau juga perlu kekuatan pinggang,” Alyx menjelaskan seperti sedang melatih seorang murid.
Violet nampak geram dan menendang lurus ke depan—bermaksud mengenai bagian tengah Alyx.
Alyx melindungi rusuknya dengan block—menggunakan kakinya. Setelah memberi kesempatan pada lawannya, giliran Alyx yang memberi serangan. Sebuah high kick—sasarannya adalah rahang Violet. Alyx mengakhiri permainan dengan middle kick.
Violet jatuh tersungkur. Alyx memandangnya kasihan. Dan keluar dari arena. Mengambil jaketnya. Mengenakannya. Berbalik dan menendang ulu hati seorang gadis—dengan refleks. “Itu push kick,” gumam Alyx.
Violet yang ternyata berdiri dan hampir saja memukul kepala Alyx. Dan sekarang Violet nampak benar-benar sangat kesakitan.
Chris yang sedari tadi melihat pertandingan itu hanya mengikuti pergerakan Alyx dan Violet bergantian. Dia menghela nafas dan mendekati Alyx. “Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sendiri yang meminta untuk tidak mengganggu kalian—apa pun yang terjadi. Hati-hati di jalan,” kata Chris saat melihat Alyx berjalan keluar.
Alyx memakai sepatunya dan keluar meninggalkan sport club yang baru pertama kali ditempatinya bertanding.
Udara malam terasa sangat menyegarkan dibandingkan di dalam ruangan tadi. Alyx menarik nafas dan
menghempaskannya keras. Dia sudah di pinggir jalan raya, setelah keluar dari lorong menuju tempat latihan.
“Maaf.”
“Ya?” Alyx berbalik dan mendapati seorang pria berdiri di hadapannya.
Pria dengan rambut hitam gelap itu melihat sebentar secarik kertas yang dipegangnya. “Aku mencari sport club. Kau tahu…”
Alyx menunjuk ke lorong. “Jalan saja. Di ujung kau akan menemukannya.”
“Benarkah. Terima kasih. Aku sulit sekali menemukannya”
Alyx mendapati rambut pria itu berubah merah saat terkena cahaya, hanya sesaat dan membuatnya berfikir ia
keliru. Ia memasang senyum, “tempatnya memang tidak akan kau temukan kalau mencarinya sambil menunduk,” katanya yang sedang melihat ke kanan dan ke kiri. Belum ada taksi yang lewat di hadapannya.
“Apa?” pria itu menjadi bingung.
Alyx kemudian menunjuk papan iklan di atas mereka.
“Oh, iya, iya.” Pria itu menggeleng-geleng. Mengucapkan terima kasih lagi. Kemudian berlari kecil ke lorong sambil tetap menggeleng-geleng. Mungkin tidak percaya pada ketidaktelitiannya.
*
Keesokan harinya, Alyx kembali bertemu dengan pria yang bertanya alamat padanya. Hari ini pun, pria itu bertanya mengenai apartemen tempat Alyx.
“Iya benar, ini apartemennya,” jawab Alyx yang baru saja keluar dari gedung apartemen. “Kau sedang mencari seseorang?” tanyanya kemudian.
“Iya. Kau tinggal di sini, kau pasti mengenal seseorang bernama Mary atau Sydney atau…” dia berhenti dan
Alyx melihat sebentar tangan yang terhidang di hadapannya, mencoba menebak asal pria itu, tapi berikutnya ia
mengabaikan pikirannya, memberi namanya, “Alexandra.” Ia meraih tangan Hiro dan terdiam untuk beberapa saat.
Hiro yang juga diam untuk beberapa puluh detik lalu tersenyum dan segera pergi sambil menempelkan telepon genggam di telinganya.
“Sepertinya dia sangat sibuk,” pikir Alyx dan berjalan cepat menuju supermarket.
Pikiran Alyx sepertinya memang benar mengenai Hiro. Lagi-lagi mereka berpapasan. “Kau sangat sibuk yah? Kau berjalan ke sana kemari.”
“Ah Alexandra,” Hiro nampak terkejut melihat keberadaan Alyx. “Jangan bosan melihatku berjalan ke sana kemari,” katanya dan tertawa. “Orang yang memberiku informasi sangat tidak cekatan, terlalu lamban, dan orang yang kucari terlalu cepat bergerak.”
“Kau tidak sedang mencariku kan,” canda Alyx diikuti suara tawa Hiro.
“Aku memang mencari seorang gadis. Tapi, kurasa bukan kau. Kulihat kau sudah berbelanja. Sekarang aku yang akan mengitari supermarket ini.”
“Baiklah.”
“Iya, sampai jumpa.”
*
Hari itu, Alyx baru saja kembali dan mendapati Jane dan Tom sudah berada di dalam apartemennya.
“Dari mana saja kau?”
“Aku bosan di rumah,” Alyx menjawab sambil meletakkan dengan hati-hati kamera yang tadi digantung di bahunya.
Selama seminggu terakhir ini, Alyx memang tidak melakukan apa pun. Cara untuk menghilangkan kebosanannya adalah dengan berjalan-jalan sambil memotret.
“Ada apa? Kenapa kalian datang bersamaan? Memangnya kau tidak ada kuliah? Ah, kurasa aku harus memotong
rambutku.”
Jane dan Tom memandang Alyx tidak percaya. Mereka bahkan belum menjawab apa pun dan telah berganti topic lagi.
Alyx melihat Tom dan Jane bergantian.
“Kau mau ke SOS?”
“Untuk apa? Tidak, aku tidak perlu ke sana dan aku juga memang tidak ingin,” jawab Alyx untuk pertanyaan Jane dan menyandarkan kepalanya di bahu sofa—membuatnya menghadap ke langit-langit. “Aku mendapat beberapa tawaran kerja,” katanya sambil menunjuk ke atas meja tanpa melihatnya. “Menjadi photographer di V-magazine di Amerika atau di tempat-tempat lainnya atau kembali ke Indonesia menjadi seorang dokter. Aku bisa membuka praktek di sana. Tapi, harus belajar bahasa terlebih dahulu,” dia sepertinya menujukan kalimat untuk dirinya sendiri.
Tom dan Jane hanya diam. Memandang satu sama lain.
“Kau mungkin mengatakan di sana negeri yang damai—tapi bagiku ini terlalu rumit. Lebih baik aku di sini dan tidak berurusan dengan kalian lagi. Toh sekarang tidak akan ada yang menggangguku lagi.”
“Kesimpulanmu terlalu cepat, nona,” kata Tom sambil memandang ke luar jendela.
“Mereka—Max tidak datang menemuimu karena sedang masa tambahan pelajaran—sebagai pengganti hukuman," Jane bernada khawatir menambahkan.
Alyx tertawa kecil. “Kalian benar-benar rumit. Kalau begitu aku akan benar-benar kembali ke kampung halamanku—Indonesia.” Alyx berdiri dan berjalan ke arah dapur. “Aku sudah tidak sabar.”
“Begini, sebaiknya aku ganti pertanyaan Jane tadi. Kau harus ke SOS.”
Alyx yang baru saja membuka lemari es—berhenti.
“Kau harus menjalani tes. Kami akan melihat apa kau benar-benar warga SOS atau tidak.”
Alyx tertawa kecil saat keluar dari dapur dan bergabung dengan kedua teman barunya. “Maksudmu tes DNA? Setelah kau tahu itu apa yang akan kau lakukan? Kau akan mengumungkan pada orang-orang kalau aku adalah warga SOS—takkan ada yang perduli.”
“Setelah mereka tahu bahwa seorang warga SOS tidak berada di tempat seharusnya mereka berada—itu akan membahayakan posisi ayahmu.” Tom menambahkan dengan suara rendah, “karena kita tidak tahu siapa ibumu.”
“Itu berarti aku belum tentu warga SOS.”
“Untuk itu, kami akan membawamu untuk tes.”
“Kalau begitu, tak perlu ada tes, dan takkan ada yang tahu kalau aku warga SOS atau tidak.”
“Kau keras kepala sekali. Kau saja yang bicara padanya,” kata Tom pada Jane dan meninggalkan mereka berdua.
Alyx melihat Tom menghilang dari balik pintu.
Jane diam sebentar. Baru kali ini dia melihat Tom kesal seperti sekarang. “Kau punya pilihan—kami yang membawamu masuk ke SOS untuk tes atau Max yang akan mencari tahu mengenai dirimu.”
“Kenapa Max itu terlalu banyak urusan? Kenapa dia harus menganggu kehidupanku?”
“Jawabannya adalah, dia mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui. Dan dia harus membuktikan apa yang dia
ketahui. Kalau memang menguntungkan bagi dirinya—dia akan segera melaksanakan apa yang dianggapnya perlu.”
“Apa semuanya berhubungan dengan ayahku?”
“Entahlah, Alyx. Aku juga belum mendapat kejelasan dari semua ini. Paman William dan ayahku sepertinya mempunyai sebuah rahasia yang tidak ingin dibaginya—bahkan denganku. Dan mengenai membawamu ke SOS, itu adalah rencana kami berdua.”
“Sebaiknya aku menunggu keputusan dari paman John, bukan dari kalian. Kau dan Tom bisa saja salah. Rencana ini belum diketahui mereka—kupikir itu cukup berbahaya, membawa warga asing masuk ke negaramu,” Alyx mencibir.
“Tidak. Tom sudah mengatur semuanya dengan baik. Dia tidak akan mungkin salah dalam perhitungan seperti ini. Tindakan seperti ini pasti sudah dipikirkan juga oleh ayah—meskipun saat ini dia belum bertindak. Dan…” Jane diam dan tidak melanjutkan.
“Apa ada kekhawatiranmu yang tidak kuketahui?”
Pertanyaan Alyx membuat Jane diam beberapa saat. “Begini,” kata Jane kemudian, “kami mendapat kabar—Ed telah mengabarkan pada orang tuanya yang bekerja di Mahkamah kalau dia mengetahui seorang gadis SOS sedang berkeliaran di luar. Kami pikir itu kau dan untuk membuktikannya…”
“Aku harus ke sana,” sela Alyx dan diam. “Baiklah,” katanya beberapa menit kemudian.
Jane melihatnya senang. “Ayo sekarang kita berangkat.”
“Sekarang?”
“Apa lagi yang kau tunggu?” kata Jane sambil melihat ke pintu yang terbuka. Tom masuk dan meminta mereka segera bergerak.
“Kau menguping?”
Tom mencibir ditanya seperti itu.
Satu blok dari stasiun kereta, Tom berhenti dan berbalik—masuk ke sebuah lorong yang hanya cukup dilewati oleh sebuah mobil. Jane dan Alyx mengikuti di belakangnya.
Mereka segera menepi—memberi jalan pada mobil hitam yang baru saja masuk ke lorong. Pengemudi mobil itu
membunyikan klaksonnya. Membuat Tom mengangkat tangan.
Alyx melihati mobil itu masuk ke sebuah garasi yang segera terbuka setelah pengemudi mengeluarkan tangannya dan menempelkan pergelangan tangannya pada kotak kecil—seperti yang sering dilihatnya di kasir, hanya saja lebih kecil dan disanggah dengan tiang berwarna putih.
Jane menarik lengan Alyx yang berhenti dan segera mengikuti Tom yang telah masuk lebih dulu ke sebuah bangunan besar dengan tulisan LIBRARY di depannya.
“Perpustakaan?” gumam Alyx. Setelah masuk, Alyx segera sadar mereka memang benar-benar sedang di perpustakaan yang besar. Beberapa orang sedang duduk membaca dan juga sedang mencari buku di rak-rak yang menjulang tinggi. Dia pikir mereka akan berhenti sejenak dan membaca di perpustakaan yang sepertinya buku-bukunya sangat lengkap. Tapi, Tom tidak berhenti dan berjalan menuju seorang wanita paru baya berkecamata sedang membaca buku.
“Hi, Mrs. Alice Durward.” Tom menyadarkan wanita yang terlalu fokus pada bacaannya.
Alice menurunkan bukunya dan melihat dari atas kacamata bacanya. “Ah, Tom.”
“Banyak pelanggan hari ini yah,” kata Tom basa-basi.
Alice mengangkat bahu, “banyak atau tidak, sama saja. Tugasku tetap sama—menunggui pintu masuk. Kau sepertinya sibuk akhir-akhir ini.”
“Begitulah. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa, Alice.” Ada dua pintu—tinggi berwarna cokelat, ada empat kaca
buram—seseorang takkan bisa melihat apa pun di dalam. Yah, semuanya terlihat biasa—pintu yang sangat biasa. Tom berjalan menuju sebuah pintu bertuliskan staff only.
Alyx memperhatikan Tom melakukan seperti yang dilakukan pengendara mobil tadi. Seperti seorang kasir yang men-scan barcode. Setelah bunyi klik, pintu terbuka. Tom mempersilahkan ke dua wanita itu masuk lebih dulu.
“Aku baru tahu kalau ada perpustakaan besar di sini,” kata Alyx.
“Samaran,” Jane tertawa.
“Apa mereka adalah warga SOS?”
“Beberapa. Ada yang lain—yang menganggap ini perpustakaan biasa. Dan keluar-masuk tanpa rasa curiga.”
“Curiga apa? Tempat apa ini?” gumam Alyx saat baru menyadari mereka telah masuk di sebuah ruangan kosong yang sempit dan panjang dengan dinding berwarna putih—bersih. Ada beberapa lampu berwarna putih di langit-langit yang membuat ruangan sempit itu sangat terang.
“Jalan masuk menuju SOS,” kata Jane yang mendengar Alyx.
Alyx mengangguk-angguk kecil.
Mereka tidak butuh waktu lama menyusuri ruangan itu dan mendapati sebuah pintu lagi. Tom membukanya. Keluar lebih dulu. Jane menyusul. Dan terakhir Alyx.
Sebelum keluar, Alyx memandang ke bawah. Rerumputan hijau menyambut langkahan pertamanya. Kakinya merasakan rumput yang sangat empuk dipijaki. Saat kedua kakinya telah berpijak di atas rumput—dia tahu telah berada di dunia lain.
*