SOS

SOS
Chapter 33



ALEXANDRA meninggalkan pusat menuju utara, tanpa berbalik lagi. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin saja dia tidak akan bertemu dengan orang tuanya. Tidak ada yang jelas baginya.


Di tengah perjalanannya menuju Timur, Alyx sesekali berbalik. Merasa seseorang sedang mengikutinya. Namun, tidak ada orang yang dilihatnya. Dia akhirnya mempercepat langkahnya.


Semenit kemudian, Alyx berhenti dan berbalik. Dia tersenyum mendapati Jane membungkuk—kelelahan.


“Kembalilah!”


Jane mengatur nafasnya dan menggeleng. Dia mempercepat langkahnya saat Alyx telah kembali berjalan. “Aku harus pergi.”


“Apa yang akan kau lakukan?”


“Aku bisa membantumu. Aku… aku harus menyelamatkan Tom.”


“Kau sepertinya menyayangi dia lebih dariku.”


Jane tersipu malu. “Maafkan aku.”


“Kenapa?”


“Tidak seharusnya aku menyukainya seperti ini, tapi, kau harus tahu kalau dia adalah belahan jiwaku.”


Alyx berhenti.


“Jangan menertawaiku.”


“Bagaimana kau bisa tahu itu?”


“Karena aku bertemu dengannya lebih awal dari waktunya.”


“Aku tidak mengerti,” kata Alyx dan berjalan lebih cepat dari sebelumnya.


“Well, hanya ada satu chip untuk dua bayi SOS. Kau tidak akan mengerti karena tidak mempelajari ini. Tom adalah belahan jiwaku.”


“Kau membuatku ingin tertawa. Tapi, aku tidak mungkin tertawa di saat seperti ini.”


“Kau jahat sekali. Kau seharusnya mempelajari ini.”


“Aku tidak perlu mempelajari mengenai belahan jiwa.”


“Kau benar.”


“Tapi, Bagaimana kau meyakinkan dirimu?”


“Ah?”


“Misalnya, seseorang mengatakan mengenai belahan jiwamu, bagaimana kau membuat dirimu yakin kalau orang itu benar-benar tepat?”


“Kau akan segera tahu, Alyx.”


Alyx menghela nafas.


“Amaris mengatakan padaku.”


“Hiro…”


*


“Tenangkan dirimu, kau tidak biasa seperti ini,” kata William menggenggam tangan Abel. Mereka telah berada di ruang kendali SOS.


“Bagaimana tidak, dua anakku sedang berada dalam bahaya dan tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu.”


“Alyx akan memakiku kalau aku tidak mengikuti keinginannya,” William telah beralih ke layar monitor. “Kita harus percaya padanya. Bukankah sekarang dia pemimpin kita?”


“Aku tahu. Tapi, kau tidak bisa membiarkannya sendiri…”


“Sayang sekali kau salah, Adalbrechta,” suara John membuat Abel berbalik. “Kurasa anakku satu-satunya telah menyusul, Alyx.”


“Kalau begitu aku tidak perlu terlalu khawatir?”


“Kau memang tidak perlu khawatir. Sesuai permintaan William, aku telah memerintahkan tim SOS Timur untuk menunggu mereka di setiap jalan. Untung saja kau bisa memperbaiki sistem komunikasi dengan cepat.”


Abel melihat William yang ternyata juga khawatir.


“Well, sayangku, aku tidak mungkin membiarkannya sendiri.”


“Aku tahu.”


“Ah, ngomong-ngomong mengenai Jane, kau tidak ada bedanya dengan anakmu.”


“William, sahabatku, kau seharusnya menanyakan ini pada Adalbrechta.”


William menaikkan alisnya.


“Adalbrechta menceritakan mengenai belahan jiwanya. Kau tentu tahu alasan dia selalu mengikuti kemana pun Tom pergi.”


“Maafkan aku,” kata Abel menyesal, tapi seketika tersenyum pada John


“Tidak masalah, akan lebih baik baginya jika dia sendiri yang menyelamatkan Tom. Setidaknya Tom tidak akan lagi mengacuhkannya.”


“Apa katamu, John? Tom tidak pernah mengacuhkannya.”


“Well, kau benar, dia hanya memiliki sifat sepertimu.”


“Jangan menggodaku di saat seperti ini.”


*


“Jangan menggodaku di saat seperti ini,” kata Alyx.


“Aku tidak menggodamu. Hanya terkejut. Tapi, tidak begitu terkejut, seharusnya kau tahu dari awal. Atau, sepertinya aku tidak begitu yakin. Ah, entahlah.” Jane berhenti dan berteriak.


Alyx bergerak cepat dan membungkuk di samping tubuh yang tergeletak tak bernyawa. Dia membuka jubah yang menutupi wajah orang itu. memeriksa denyut nadinya. Alyx membaca tulisan yang tertulis di baju pria itu. “Pingsan.”


Jane berjalan mendekat dan mengenalinya sebagai seorang prajurit SOS yang pernah datang ke rumahnya.  “Alyx… di sana,” kata Jane menunjuk ke jalanan di depan mereka.


“Jane…”


“Iya?”


“Kau yakin akan tetap berjalan bersamaku?”


“Aku harus tetap kuat untuk Tom. Tidak ada yang bisa kulakukan selain itu.”


“Dia akan merasakan kekuatan itu.”


“Kau tahu itu?”


“Sebenarnya aku membaca banyak buku di perpustakaan Prof. Singh—termasuk buku yang kurasa aneh.”


Jane menyerahkan tangannya dan lansung diraih oleh Alyx. Mereka berdua berlari kecil.


Tangan Alyx menggenggam Jane erat.


“Alyx, aku bisa mendengar ibumu.”


“Apa?”


Jane melihat Alyx tersenyum. “Apa kau terlalu tegang, kau mengeluarkan banyak kekuatanmu.”


“Apa sih?”


“Aku sebenarnya tidak bisa menelusuri pikiran di frekuensi yang terlalu jauh, tapi karenamu aku bisa mendengar Adalbrechta.”


“Aku tidak tahu yang kau katakan, tapi tanyakan pada ibu apa dia baik-baik saja.”


Jane diam sejenak dan mengangguk.


“Syukurlah.”


“Katanya, kau harus bisa mengendalikan dirimu, apa pun yang terjadi.”


“Kuusahakan.”


“Alyx… kenapa tanganmu begitu dingin?”


“Aku tidak tahu, sudah sejak tadi. Tegang mungkin.”


“Apa sesuatu terjadi pada Hiro?”


“Bukankah dia orang yang kuat? Tapi Jane, aku tidak begitu yakin dengan belahan jiwaku adalah Hiro. Seandainya itu benar, aku mungkin sudah merasakan sesuatu. Apa dia sedang berada dalam masalah atau sekarang dia baik-baik saja, aku bahkan tidak tahu. Kau mengerti maksudku, kan?”


Jane mengangguk dan menggeleng—bingung. “Tapi, dimana dia sekarang?”


“Aku tidak tahu. Dia mengatakan akan ke Timur.”


“Sesuatu terjadi di antara kalian?”


Alyx diam. “Entahlah. Aku sedang emosi tadi.”


Alyx dan Jane akhirnya bisa melihat lingkaran cahaya biru dengan jelas mengelilingi tempat parker mobil.


“Akhirnya kalian tiba,” suara Darrell terdengar. Dia berdiri di dalam lingkaran cahaya biru di depan pintu masuk. “Kupikir kau akan melarikan diri. Kalau memang kau tidak mampu, sebaiknya kau menyerahkan  kekuatan itu pada Azazil. Kalau tidak, dia akan menghancurkanmu.”


“Kau terlalu banyak bicara,” Alyx tersenyum mengejek. “Kau selalu mengatakan Azazil kuat—Azazil ini, itu, lalu apa yang bisa kau lakukan? Kau tidak berniat menghancurkanku sendiri?” Alyx mengatakannya dengan percaya diri, sedang Jane yang berdiri di belakangnya hanya bisa menarik kemeja Alyx.


Wajah Darrell seketika berubah merah padam. Dia menjentikkan jarinya dan masuk ke tempat parker. Sejenak kemudian, sekitar sepuluh orang berjubah keluar dari persembunyian mereka.


“Alyx…” bisik Jane saat merasakan banyak pikiran yang melayang di otaknya.


Alyx dan Jane berbalik pelan.


“Kau bisa melakukannya lagi?” tanya Alyx.


“Terakhir melakukannya, aku hanya bisa mengendalikan hemisphere kirimu. Aku tidak yakin bisa melakukannya.”


“Aku sudah mendengar banyak orang mengatakan ini padaku—Percayalah pada dirimu.” Alyx menepuk pundak Jane.


Orang-orang berjubah itu mengelilingi Alyx dan Jane.


“Mereka ingin menangkapmu, Alyx,” bisik Jane saat membaca pikiran mereka.


“Aku tahu itu,” kata Alyx sambil mengamati sekitarnya. “Jane…” panggil Alyx, tapi tidak ada jawaban dari gadis itu.


Jane terdiam dan berkonsterntrasi pada dua orang di hadapan mereka.


Salah satu dari mereka menggerakkan tangannya dan menarik lengan di sebelahnya. Mereka kemudian saling tarik menarik.


Jane mengambil kesempatan dan menarik Alyx. Mereka berlari dan bersembunyi di belakang dinding pembatas.


“Ada apa?”


Alyx menghela nafas. “Seharusnya kau bisa lebih kuat saat dia di sana.”


Jane menahan nafas dan menggeleng.


“Bernafaslah, bodoh.”


Jane mencoba mengatur nafasnya. “Dia terlalu kuat, kalau aku menjadi kuat, chip jiwa kami akan pecah.”


“Lalu, kenapa kau ikut denganku, kau tidak bisa melakukan apa pun.”


“Maaf,” kata Jane menyesal dan menekuk wajahnya.


Alyx mencibir. “Jangan berwajah seperti itu. Ehm, baiklah,” katanya dan berdiri, “tetaplah di sini dan pikirkan sesuatu bagaimana membawa Tom kembali.”


Jane mengangguk.


Alyx keluar dan berlari meninggalkan tempat persembunyian mereka. Sesaat kemudian, orang-orang itu mengejar Alyx. Alyx berbalik memastikan berapa orang di sana. Dia menghela nafas lelah berlari. Alyx menurunkan kecepatan berlarinya dan berjalan pelan. Mereka pun berhenti berlari.


Sekali lagi Alyx memperhatikan benda-benda di sekitarnya. Saat beberapa orang mendekat di belakangnya, pohon-pohon yang berdiri kokoh seakan melentur—membengkok. Seperti sedang dalam permainan baseball, pohon melempar orang-orang itu. Alyx berbalik dan mendapati tiga orang yang masih berdiri lima meter darinya.


Tiga orang itu saling berpandangan. Ragu-ragu melangkah ke depan.


Alyx memandangi mereka dengan wajah bodoh. Membuat mereka merasa diremehkan. Mereka berlari ke depan. Alyx mengangkat tangannya ke atas. Membuat tanah terangkat. Menarik ke tiga orang berjubah menuju lubang sedalam badan mereka. setelah terjebak di dalam lubang, Alyx menjatuhkan tanah kembali dan hanya menyisahkan kepala ke tiga orang itu.


Alyx meninggalkan mereka dan berjalan ke tempat Jane berada.


*


SOS menjadi terang saat lampu-lampu menyala. Bersamaan dengan itu, cahaya biru yang mengelilingi tempat parkir menghilang.


Alyx kebingungan tidak mendapati Jane di belakang dinding pembatas. Dia mencarinya ke tempat lain. Dan menemukannya di depan pintu masuk sambil memandang ke atas.


Alyx menghampirinya. Melihat ke arah Jane melihat. Sedetik kemudian, Alyx telah berlari masuk ke dalam tempat parkir. Mobil-mobil membuatnya tidak leluasa bergerak.


Jane bergerak pelan di belakang Alyx sambil tetap memperhatikan ke atas.


Pria berambut putih melayang di udara. Sedang di bawah ada Darrell yang menatap tajam ke Alyx.


“Apa rencanamu, Jane?”


Belum Jane menjawab, terdengar suara yang bergemah.


“Aku… akan memberi kesempatan,” suara Azazil menggelegar, “padamu Darrell.”


Darrell mengangguk dan berlari ke depan. Tangannya mengeluarkan cahaya biru dan diarahkannya pada Alyx dan Jane.


Alyx mendorong Jane—menjauhkan dari serangan Darrell. Sedang dia terlempar ke dinding.


Darrell mendekat. Membuat Alyx terpaut di dinding dengan cahaya biru. Tangannya direntangkan. Darrell mengikat pergelangan tangan Alyx. Cahaya itu menghancurkan gelang Alyx.


Dari kejauhan, Jane berdiri mencoba untuk mengendalikan Darrell. Namun, Darrell bergerak cepat dan membuat Jane terhempas.


“Jane…” teriak Alyx.


“Jangan perdulikan dia. Lebih baik kau menghawatirkan dirimu sendiri.”


Alyx menatap Darrell sinis.


Telunjuk Darrell bergerak, bermaksud meletakkannya di dada Alyx.


Alyx menggerakkan jemari ke dua tangannya. Menggerakkan mobil dan menghempaskan ke tengah. Dia bahkan hampir melukai dirinya.


Darrell melayang di udara. Menghindari dua mobil yang bertubrukan. Wajahnya semakin beringas saat mengangkat kerangka mobil yang telah hancur itu.


“Jangan lakukan itu,” kata Alyx saat Darrell kembali meletakkan telunjuknya di dada Alyx.


Darrell memejamkan matanya. Berusaha menarik chip hati milik Alyx.


Alyx melepaskan cahaya yang mengikat tangannya. Sambil menutup mata, dia mengikuti Alyx meletakkan telunjuknya di dada Darrell.


Dari atas udara, Azazil jelas tersenyum melihat keadaan itu.


Beberapa jenak kemudian, Darrell melemah, kakinya tidak bisa menahan berat tubuhnya. Dia terjatuh.


Alyx meninggalkannya dan berlari ke arah Jane. Tapi, Jane yang tak sadarkan diri seketika melayang di udara. Alyx berbalik melihat Azazil.


Tangan Azazil dilipatnya ke depan dada. Rambutnya bergerak ditiup angin. Senyumnya terlihat semakin mengembang. Dengan dikalahkannya Darrell, dia tahu kalau Alyx memang sangat kuat.


Azazil menapakkan kakinya di tanah. Dan membuat Jane mencium tanah di samping kakinya. Azazil bergerak mengitari Jane.


Alyx menabak-nebak apa yang akan dilakukan Azazil. Dan sedetik berikutnya Azazil telah mengangkat Jane ke atas dan menghempaskannya di tanah.


Alyx berlari ke depan dan menendang Azazil. Dia membalikkan Jane. Memanggil-manggil namanya, mencoba menyadarkan gadis itu.


“Apa yang telah kau lakukan?” Alyx berdiri. Tapi sebelum melampiaskan amarahnya, Jane bergerak dan memegang jari Alyx.


“Tom…” suara Jane pelan.


Alyx mengerti, Jane tidak mungkin membiarkannya menyerang Azazil sekarang. Alyx membungkuk dan membantu Jane duduk.


“Dia disana, Alyx. Aku bisa merasakan pikirannya. Dia berusaha mengeluarkan Azazil dari tubuhnya,” kata Jane perlahan berdiri. “Kita harus melakukan sesuatu sebelum fajar.” Jane bergerak maju. “Alyx, bisakah kau membuatnya tak bergerak.”


Alyx melihat ke sekeliling. Tapi, tidak menemukan apa pun.


“Cepatlah, Alyx.”


“Jangan meminta yang macam-macam Jane,” teriak Alyx dan seketika air keluar dari tanah dan menarik pergelangan tangan dan kaki Azazil—membuatnya tidak bisa bergerak.


Jane semakin mendekat. Wajah Jane hanya sejengkal dari Azazil. Jane memandangnya dan mengenali wajah Tom yang berbeda hanya rambut panjang dan berwarna putih.


“Apa yang kau lakukan?” suara yang berbeda dengan sebelumnya.


“Tom…” Jane memeluknya.


“Jangan…” kini suara Tom terdengar jelas. Beberapa jenak kemudian cahaya biru keluar dari tubuh Tom bersamaan dengan suara tawa yang terdengar.


Jane menunduk. Berlutut.


Tom menjadi dirinya sendiri. Alyx segera melepas air yang mengikatnya dan berjalan mendekat.


“Jane…” suara Tom mencoba membangunkan Jane.


“Apa yang terjadi?” Alyx terkejut saat melihat air mata mengucur dari wajah Tom. Dan lebih terkejut saat Jane sudah terkulai lemah di pelukan Tom.


“Jane… kumohon.” Tom menjadi lebih histeris.


*


Di bangunan utama.


“John…” Abel berteriak.


Semua orang yang berada di ruangan itu berbalik melihatnya.


John segera mengerti apa yang mambuat Abel histeris. Dia bergerak cepat dan menyiapkan pintu ke Timur.


“Aku ikut,” William mengajukan diri.


“Aku akan baik-baik saja. Tetaplah disini,” kata Abel dan menyusul John.


John dan Abel tiba di depan pintu masuk. Dan berlari kecil masuk ke dalam.


Alyx berbalik dan mendapati dua orang sedang berlari ke arah mereka.


“Alyx, kau baik-baik saja?”


Alyx mengangguk. Dia menatap ibunya sedih. “Ibu…”


John terduduk lemah di samping putrinya.


Alyx bisa mendengar Abel menghela nafas berat. “Apa yang terjadi pada Jane, bu?”


“Dia menyerahkan chip jiwa yang dimilikinya untuk Tom.”


Alyx menaikkan alisnya tidak mengerti.


“Dengan memiliki chip jiwa yang utuh akan menguatkan pemiliknya.”


“Dia menyelamatkan Tom?”


Abel mengangguk.


“Kau bisa menyelamatkannya?”


“Akan kuusahakan. Bawa dia ke laboratorium utama sekarang. Bergegaslah, Tom, kalau kau mau menyelamatkannya.”


Tom menggendong Jane. John mengikuti di belakang.


Abel menekan pelipisnya. Dan melihat ke jembatan di atas mereka. “Kau sebaiknya ikut kami.”


Alyx menggeleng.


“Lalu apa yang ingin kau lakukan di sini sendiri?”


Alyx terkejut mendengar suara ibunya yang meninggi.


Sekali lagi, pandangan Abel tertuju ke Timur.


“Apa yang kau lihat, bu?” tanya Alyx mengikuti arah pandangan Abel.


“Tidak…” kata Abel dan menarik tangan Alyx.


Sejenak kemudian, sebelah tangan Alyx sudah diletakkan di kepala Abel. “Maaf.” Alyx membaca pikiran Abel. “Kau melihat masa depan?”


“Tidak,” Abel menghempaskan tangan Alyx.


“Kembalilah. Hanya kau yang bisa menyelamatkan Jane. Biarkan aku mengurus urusanku di tempat ini.”


“Tidak. Tidak,” jerit Abel.


“Ibu… apa aku dan Hiro berbagi chip jiwa yang sama?”


Abel mengangguk pelan. “Selamatkan dia,” kata Abel akhirnya.


*