
“AKU tidak menemukannya di sana,” teriak Tom saat tiba di rumah John. “Ini salahku. Seharusnya aku tidak membiarkannya sendiri.”
Jane yang berdiri di samping Tom, mencoba untuk menenangkannya. Sementara John duduk di kursinya—hanya menatap ke depan.
“Tenangkan dirimu,” kata John beberapa saat kemudian.
Tom duduk, mencoba untuk lebih rileks. Wajahnya di tenggelamkan di kedua telapak tangannya. “Jelas ini
perbuatan Max,” gumamnya saat Jane duduk di sampingnya. “Dia pasti menginginkan sesuatu dari Alyx,” kata Tom yakin.
“Apa menurutmu Max menginginkan chip pelindung—kupikir itu hanya ada satu. Paman William yang menanamkan chip di otak Alyx dan Max akan mengambilnya.” Jane menatap Tom tak kalah yakinnya dengan kesimpulan yang telah dibuatnya.
Tapi, berikutnya John mematahkan keyakinan mereka. “Setahuku, William tidak pernah menanamkan chip apa pun di otak Alyx.”
Jane dan Tom seketika saling berpandangan, terkejut dengan kalimat John.
“Tapi, Jane memberi Alyx sebuah chip pengaktifan—meski bersifat sementara—kupikir itu berhasil mengaktifkan chip yang telah tertanam di otak Alyx.”
Jane tersenyum kecil—merasa penemuannya berhasil, tapi kemudian menyembunyikan kembali senyumannya.
John berdiri dari tempat duduknya, tangannya disilangkan di belakang. “Bayi yang berumur satu bulan, akan
ditanamkan chip. Berbeda dengan Alyx, hari dimana penanaman chip pengaktifan dan pemilihan chip yang lain, Alyx malah menghilang. Dia diculik oleh seseorang yang sampai sekarang tidak kami ketahui—siapa yang telah melakukan itu. Dan sehari kemudian barulah Alyx ditemukan di ruang kerja William dan saat itu William memutuskan untuk membawanya keluar dari SOS, setelah memberinya chip eksternal yang hanya dipasangkan di jari masnisnya—agar tidak ada yang mampu melacak tempat dimana Alyx berada. Chip yang dibicarakan oleh-oleh orang-orang memang benar adanya hanya satu.”
“Apa? Apa?” Jane tidak percaya. “Itu berarti chip pemberianku hanya mengaktifkan kemampuan tersembunyi Alyx?”
tanya Jane—lebih pada dirinya sendiri.
“Tapi, kurasa,” Tom berdiri, “ada sesuatu yang paman tidak ketahui. Max tidak mungkin membawa Alyx tanpa sesuatu yang diinginkannya dari gadis itu.”
“Kita belum tahu, apa benar Max yang telah melakukan tindakan ceroboh seperti ini. Kita hanya harus menunggu.”
“Menunggu sampai sesuatu terjadi padanya? Tidak. Aku akan menemui paman William dan membawa kami menemukan Alyx. Dia pasti lebih tahu apa yang harus kami lakukan,” kata Tom meniggalkan ruangan John.
Jane menatap pintu yang ditutup dengan keras. Dia berdiri dan melihat sebentar ayahnya. “Kurasa, Tom benar, Yah.” Jane berlari keluar dan mengikuti Tom.
*
LABORATORIUM UTAMA SOS
Tom dan Jane memandang tulisan dengan huruf besar-besar di atas pintu gerbang laboratorium utama. Mereka baru saja tiba kurang lebih sejam kemudian. Laboratorium terletak lima ratus meter dari bangunan pusat yang dipagari melingkar oleh pepohonan.
Tom telah mengatakan pada sekertaris yang menjaga di depan ruang kerja William, tapi sekertaris malah menyuruh mereka menunggu—karena sedang ada rapat di lantai atas.
Tom menunggu dengan gelisah. Dia tidak bisa duduk dengan tenang. Sebentar saja dia duduk, dia akan berdiri lagi,
atau kalau tidak dia akan mondar-mandir—membuat mata sekertaris mengikutinya berbolak-balik.
Hampir sejam kemudian, barulah sekertaris mengatakan rapat telah selesai. Tom telah berdiri di depan ruang rapat. Menunggu ayah Alyx keluar. Dan semenit kemudian pintu terbuka. Beberapa orang dengan jas putih keluar. Tom memperhatikan setiap yang keluar, tapi yang ditunggunya belum-belum juga menampakkan diri. Dia memberanikan melangkah. Melongokkan kepala ke dalam dan melihat seseorang di depan whiteboard—yang masih sibuk dengan kertas-kertas di tangannya dan mencocokkannya dengan tulisan yang memenuhi papan tulis.
“Professor William,” suara Tom menggelegar di ruang rapat.
William berbalik. Sosok pria tampan dengan kacamata persegi menghias wajahnya—tersenyum. Tom menghampirinya. Mereka nampak sama tinggi.
Tom menatap ke mata William dan menggeleng—melenyapkan pikiran-pikirannya yang lain mengenai kabar angin yang sudah di dengarnya. Tom kembali ke permasalahan yang telah disebabkannya. “Kupikir aku harus mengatakan ini pada Anda.”
“Ada apa, Alden?” suara William terdengar—menggetarkan hati. William menatap anak lelaki yang selalu kabur saat dia mengunjungi rumah keluarga Wilder.
“Aku telah berbuat kesalahan. Alexandra menghilang.”
Kening William berkerut. Tidak mengerti bagaimana bisa Alyx telah berada di SOS.
“Aku membawanya kemari dan sekarang seseorang telah menculiknya, kurasa. Kupikir Anda bisa membantunya.”
William terdiam beberapa jenak. Meminta Tom untuk mengikutinya.
Jane yang menunggu di luar—segera mengikuti langkah-langkah cepat ke dua pria itu. Mereka menuju ruang kerja
William.
Ruang kerja William terletak di lantai dua. Mereka bertiga masuk ke ruang dengan warna dominan putih. Sejak melangkah dari pintu sampai ke dalam, semuanya berwarna putih.
Dilihatnya komputernya, memasukkan beberapa angka yang berhubungan dengan chip eksternal di jari manis Alyx, lebih mudah melacak keberadaannya saat di SOS. Dan segera mengetahui di mana putrinya berada sekarang. Wajahnya mendadak gelisah, dahinya berkerut, berpikir mengapa orang-orang itu membawanya ke laboratorium.
“Dia ada di lab.,” katanya kemudian.
“Di sini.”
“Tidak. Tapi di lab. bangunan pusat.” William berdiri dari kursinya dan segera keluar diikuti oleh dua orang remaja yang sama-sama bingungnya dengan William.
Sekertaris William baru saja berdiri untuk menyapa bosnya, tapi duduk kembali saat William berjalan dengan sangat cepat.
Tom memperhatikan langkah kaki-kaki William. Itu berarti sedang terjadi sesuatu. Mereka sekarang sudah turun ke
lantai satu dan masuk ke sebuah lift yang membawa mereka ke lantai bawah.
Pintu lift terbuka, sebuah jalanan lorong yang terang karena lampu-lampu dan berdinding perak menyambut. Tom dan Jane mengikuti William. Mereka berdua belum pernah menginjakkan kakinya di lorong yang sepertinya terhubung dengan lab. bangunan pusat.
Tiba di ujung, William memasukkan beberapa angka dan pintu terbuka. Laboratorium yang cukup besar yang berada di bawah tanah terlihat sangat mengagumkan—hanya keluarga Russel yang biasa melakukan percobaan di ruangan utama laboratorium.
Tom dan Jane menatap dengan kagum. Mereka belum pernah melihat lab. semegah ini. Dan mereka segera tahu bahwa chip-chip terbentuk di lab. ini.
*
Dua jam yang lalu.
Alyx membuka kaca mobil bertanya dengan sopan pada seorang pria yang terlihat tua dan sedikit menyeramkan dengan janggot yang tumbuh lebat.
“Apa kau Alexandra?” bibirnya yang tebal bergerak dengan sangat lambat.
Alyx mengangguk.
“Kalau begitu, bisakah kau membuka pintu mobil, dan keluar sebentar.”
“Apa?” Alyx jadi sedikit mencurigai orang itu. Dia mencoba menaikkan kaca jendela mobil, tapi dicegah oleh pria itu.
Tangannya kuat menahan kaca dan menarik pintu.
Alyx tidak bergerak saat seorang pria lain yang lebih kecil telah membekap mulutnya dengan kloroform.
Pria yang lebih besar menggotong Alyx dan memasukkannya ke dalam mobil. Membawanya ke sebuah tempat yang lumayan jauh, mereka baru sampai sejam kemudian di sebuah laboratorium di bawah bangunan pusat.
Seseorang menyambut pria-pria yang telah membawa Alyx.
“Maaf membuatmu menunggu lama, Sir Adney.”
Max tersenyum puas dengan kerja bawahannya. Dia berbalik dan memasukkan beberapa angka dan pintu terbuka. Max meminta mereka membaringkan Alyx di sebuah kursi panjang dengan sandaran yang sudah dinaikkan. Tapi, beberapa menit kemudian, dia memerintahkan bawahannya untuk memindahkan Alyx lagi.
*
“Ada apa Sir?” tanya salah seorang peneliti yang mengenakan seragam putih seperti William. Dari balik kacamatanya, telihat matanya yang menyipit—meski tidak tersenyum. Dia lebih muda dari William
“Juro, kau melihat Adney membawa seorang gadis ke lab. ini?”
Juro—pria Jepang itu mengangguk. “Tapi, dia telah keluar sekitar dua puluh menit yang lalu bersama dua orang
lainnya dan aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dengan membawa gadis itu. Aku tidak berani bertanya, Sir.”
William menghela nafas. “Sepertinya dia mengubah titik koordinat chip di jari Alyx,” gumamnya. “Ke arah mana mereka pergi?”
Ada empat pintu, William, Tom, dan Jane masuk dari pintu selatan. Mereka memperhatikan jari Juro yang menunjuk pintu ke arah timur.
Tom bisa menangkap ekspresi terkejut dari William, tapi dia tidak sempat bertanya saat William telah berlalu pergi.
William memasukkan nomor identitasnya dan pintu terbuka. Sebuah lorong lagi menuju ruangan lainnya.
“Kemana?” Jane bertanya pada Tom mengenai tempat yang akan ditujunya, tapi Tom menggeleng, ini pertama kalinya mereka berada di tempat ini.
Saat tiba di ujung lorong, William lagi-lagi menghela nafas.
Tom dan Jane memperhatikan tulisan yang tertempel di atas pintu. Mereka sering mendengar tempat ini, tapi baru kali melihatnya langsung. “Investigation Room.”
Pintu terbuka setelah William lagi-lagi memasukkan angka-angka.
*
Dua puluh menit yang lalu.
Max hanya tersenyum, tapi jelas terlihat di wajahnya kalau dia bisa saja terlonjak gembira—tertawa terbahak-bahak kalau saja tidak ada bawahannya di ruangan itu. Dia kemudian memerintahkan mereka untuk membawa Alyx yang tergolek lemah dan mengikutinya.
Tak ada yang berani menanyakan maksud dari Max yang sangat jarang menginjakkan kakinya di laboratorium. Para peneliti yang lain hanya bisa melihatnya berbuat sesukanya.
Pintu timur terbuka, Max dan bawahannya yang mengangkat Alyx masuk menuju ke ruangan investigasi. Entah apa maksud Max membawanya ke ruangan yang hanya ditempati untuk menyidang warga SOS yang terbukti bermasalah.
Alyx ditidurkan di kursi yang sama dengan yang di laboratorium. Tangannya terkunci di atas lengan kursi. Sedang Max duduk di kursi yang membelakangi pintu masuk. Dengan senyuman sinisnya, dia yakin orang yang ditunggunya akan datang.
*
William, Tom, dan Jane mendapati seseorang yang duduk membelakangi pintu masuk. Dari warna jasnya, Tom tahu kalau yang duduk itu adalah Max, tapi Tom tidak memperdulikannya lagi, saat perhatiannya tertuju pada seorang gadis yang tertidur di hadapan Max.
“Apa yang kau lakukan, Adney?” suara William membuat senyum Max mengembang.
“Ah.” Max berdiri. Mengibaskan jas panjangnya ke belakang. “Apa kabar, Sir William? Aku tak tahu Anda akan datang ke sini. Bisa Anda jelaskan maksud kedatangan Anda?”
Tom menjadi geram sendiri. Setidaknya dia ingin menghancurkan deretan giginya yang rapi, kalau saja tangan Jane tidak menyentuh lengannya.
“Sebenarnya aku baru saja akan menyidang seorang gadis, tapi kurasa dia belum sadarkan diri. Jadi aku menunggu dengan sabar dan ternyata Anda datang.”
Max berbalik. “Ah…” katanya dengan nada sangat gembira. “Apa Anda mengenal gadis ini, Sir? Kalau tidak aku akan memulai menyidangnya sendiri dan Anda bisa meninggalkan ruangan ini.” Max terdiam, menunggu reaksi yang akan muncul dari William.
William tersenyum—sikap tenangnya membuat Max terlihat sedikit geram. “Atas dasar apa Anda membawa gadis ini ke ruang investigasi?” William mengikuti cara Max bermain—yang bersikap sok formal. “Anda bahkan tidak pernah mengikuti beberapa sidang di ranah keadilan untuk tahu kapan seseorang bisa di bawah ke ruang ingvestigasi.”
“Tidak, tidak. Anda yang salah. Aku punya dasar bahwa gadis ini memang seharusnya segera disidang.”
“Tanpa menyidang terlebih dahulu di ranah keadilan. Anda terlalu ceroboh, Sir Max Adney Russel.”
Max sudah benar-benar geram sekarang. “Bukankah dia putri Anda?” tanyanya kemudian dan tersenyum penuh kemenangan. “Anda membuatnya tinggal di luar SOS padahal dia adalah warga SOS.”
“Aku sangat berterima kasih bahwa calon pemimpin seperti Anda mengurus urusan keluargaku.”
“Tidak, bukan seperti itu. Sepertinya, harus aku tekankan, bahwa Anda sebenarnya telah ikut bersalah dengan membiarkannya…”
“Anda tidak pernah mengikuti kelas Constitution, Adney?”
Max tersenyum kecut.
“Anda seharusnya tahu betul mengenai isi dari undang-undang SOS. Bahwa seorang warga SOS bisa tinggal di luar negeri SOS dengan sebuah alasan.”
Max kemudian tersenyum lebar dan mendekat. Dia sekarang telah berdiri hanya sepuluh centi di depan William.
“Maka sebuah alasan apakah yang mengharuskan Anda membawanya ke luar SOS, Sir William?”
“Tak banyak yang harus Anda ketahui mengenai kehidupan pribadi seseorang.”
“Tidak. Sebagai calon pemimpin, aku harus tahu mengenai semua ini—karena mungkin saja dia,” katanya menunjuk Alyx, “bisa berbahaya bagi negaraku.”
William tersenyum dan memalingkan kepalanya ke samping. “Bagaimana bisa gadis seperti itu bisa membayakan Negara kita. Atau sepertinya Anda merasa ada sesuatu yang istimewa pada putriku.”
Max sepertinya sangat tertarik mengenai pembahasan ini.
“Sedang, putriku pun tak memiliki sebuah chip yang tertanam di kepalanya, seperti yang Anda miliki.”
“Apa Anda yakin mengenai hal itu? Aku kok merasa tidak.” Max berbalik menjauh dari William dan mendekat ke samping Alyx yang berusaha membuka matanya. Max memperhatikan wajah Alyx dengan seksama. “Baiklah, kalau seperti ini, aku akan segera melaporkan pada mahkamah mengenai kisah putri Anda. Tentunya Anda juga harus berada di sana, Sir, karena telah membiarkannya…”
“Ah, tidak lagi, Adney. Tidak. Dia akan tinggal bersamaku. Dan kau tahu ini karena usaha siapa? Ini karena usahamu yang telah menemukan dirinya. Dan tentu kau tahu apa jadinya kalau semua orang tahu mengenai kehadiran putriku,” William telah berada di samping Max. “Kau… mendapat tambahan saingan, Adney,” suara William hanya bisa didengar oleh Max.
“Anda tidak memikirkan ketidakmungkinan yang akan terjadi, Sir. Sesuatu bisa saja terjadi saat semua orang mengetahui kehadiran putrimu yang saat hari itu telah dilaporkan menghilang. Dan yang paling penting adalah… rahasia siapa yang telah melahirkannya, Sir,” kata Max puas. “Tidak ada yang tahu bagaimana cara Anda bisa menyembunyikan kelahiran seseorang. Jelasnya, tidak ada yang tahu mengenai siapa yang melahirkan gadis ini, he.” Dia mengatakannya dengan suara menggelegar di ruang investigasi dan kemudian menyeringai. Seringaian Max tampak sangat menyeramkan.
Tom dan Jane yang sedari tadi hanya diam berdiri di depan pintu masuk—saling berpandangan, tidak mengerti mengenai rahasia yang dibicarakan Max.
“Tapi,” kata Max beberapa saat kemudian, “aku tahu siapa. Dan apa yang terjadi kalau aku mengabarkannya ke seluruh penjuru SOS?” tanyanya lebih pada dirinya sendiri. “Ah, aku seharusnya berada disana pada saat dia dilahirkan, dan melihat jelas wajah yang telah melahirkan gadis ini,” katanya dengan nada mengejek dan membelai rambut Alyx pelan. Tapi, betapa terkejutnya Max saat seseorang memegang pergelangan tangannya kuat. Dia berusaha melepaskannya.
Alyx telah benar-benar membuka matanya. Matanya yang berwarna hitam, seperti bersinar, memandang Max. “Jangan menyentuhku,” kata Alyx dan menghempaskan tangan Max. Pandangan Alyx kemudian tertuju pada pria yang berdiri di samping Max.
“Wah, wah, sepertinya terjadi pertemuan yang sangat mengharukan.”
“Kau terlalu banyak berbicara,” kata Alyx yang telah bangun dari kursi.
“Kau harus lebih sopan padaku, Miss.”
“Iya, kalau kau lebih dulu bersikap sopan di hadapanku.”
William memegangi Alyx yang sedikit linglung saat berdiri. Tom mendekat dan membantu memapahnya. Mereka melangkah dengan pelan—menjauh dari Max.
“Kau harus bertanya mengenai kelahiranmu,” teriak Max pada Alexandra. “Kau tentunya penasaran mengenai ibumu…” Max tersenyum sinis.
William memikirkan orang yang mungkin saja menyokong Max. “Entah siapa yang berada di belakangmu, Max.” Ia baru saja akan memasukkan kode, tapi pintu telah lebih dulu terbuka.
“Ah,” Max hampir saja terlonjak kegirangan. “Duchess of SOS,” katanya dan sedikit membungkuk.
*
Pemimpin SOS membuka pintu ruang investigasi dan mendapati beberapa orang yang akan keluar mundur selangkah dan memberi hormat padanya. Jane dan Tom menggeser ke kiri dan memberi jalan untuk pemimpin setelah Max berteriak kegirangan.
Pemimpin SOS—Abel Adalbrechta Russell, saat ini berumur empat puluh dua tahun, meski begitu tidak ada tanda
penuaan yang terlihat di wajahnya. Wajahnya oval—terhias bedak tipis, hidung mancung, bibirnya terpoles lipstick berwarna merah—membentuk senyum yang begitu menawan. Melihatnya seperti dia adalah sebuah nafas kehidupan seperti namanya Abel.
Matanya bulat dengan bola mata putih dan lensa berwarna hitam yang jernih. Tatapannya begitu teduh. Mata itu
bergerak ke kanan dan ke kiri—memandang warganya satu-persatu. Dia mengenal Tom dan Jane.
Kemudian pandangannya terhenti pada seorang pria yang sering ditemuinya di kantor SOS yang sedang memapah
seorang gadis.
“Kebetulan sekali,” kata keponakannya dan berjalan mendekat. “Mungkin lebih baik, aku perkenalkan pada Anda, Adalbrechta—putri Sir William yang baru saja kembali ke kampung halamannya, meski kami belum mengetahui kebenaraannya karena saat aku bertanya mengenai ibunya yang apakah juga seorang warga SOS, dia sama
sekali tidak tahu. Tadinya aku akan mengecek kebenarannya tapi ayahnya keburu datang,” jelas Max panjang lebar.
Abel terdiam beberapa jenak.
“Kami akan pergi sekarang, Adalbrechta,” kata William dan berlalu pergi.
Alyx mendongak sebentar dan menunduk kembali lengannya tak sengaja menyenggol Abel yang hanya terdiam—tak merasa senggolan itu mengganggunya. Keempat orang itu sudah pergi. Para pengawal Max juga keluar setelah diminta.
“Hal penting apa yang tadi kau katakan, Adney?” suara Abel terdengar rendah, tak bernada.
“Aku sudah memperlihatkannya padamu. Apa kau tersentuh?” tanyanya sambil duduk bersandar di kursi. Dia tidak
melihat wajah bibinya. “Kau mengerti maksudku, tentunya. Para petinggi akan segera mengetahuinya.”
Abel hanya diam.
“Kau tak memintaku untuk tidak melakukannya? Kita bisa melakukan negoisasi.”
“Aku tidak tahu apa maumu, Adney.”
“Jangan seperti itu. Desas-desus yang mengatakan kau akan segera mengundurkan diri telah tersebar luas.”
“Kau yang melakukannya?” sela Abel.
Max tidak menjawab, tapi jelas dari ekspresinya kalau dialah yang melakukannya. “Kau hanya perlu mengatakan
kepada para petinggi kalau kau mengundurkan diri dan menunjukku sebagai penggantimu. Bukankah kau tidak punya keturunan? Orang-orang tahu kau belum menikah, kan?”
Wajah Abel terlihat sangat tenang. Dia telah memimpin SOS sejak berumur dua puluh dua tahun dan sudah banyak
sekali jenis orang yang ditemuinya. Tapi, baginya orang yang bertindak sangat tidak sopan adalah orang yang sekarang berdiri di hadapannya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak menuruti keinginanmu, keponakanku?” Abel pikir sikap keponakannya itu lebih meluap-luap dibandingkan sepupunya yang adalah ayah Max.
Max terkesiap saat tantangan datang dihadapannya. “Kalau begitu rahasiamu akan kusebarkan, bibi.”
“Kau lebih ceroboh dibandingkan ayahmu. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi saat kau melakukan tindakan bodoh seperti itu? Tentu tidak, Adney, tapi aku, semuanya sudah sejelas dirimu yang berdiri di depanku. Aku permisi, keponakanku, aku telah meninggalkan tugasku dan datang ke tempat ini saat kau mengatakan ini sangat penting. Dan akhirnya aku hanya mendapati lelucon tidak jelas seperti ini.” Abel berbalik. Pintu terbuka seakan tahu mengenai Abel yang akan keluar.
“Kau akan menyesali tindakanmu,” teriak Max yang masih bisa didengar Abel sebelum pintu tertutup.
Abel berjalan di lorong. Dua orang mengikutinya di belakang.
Seorang pria dari arah berlawanan membungkuk—memberi hormat dan berjalan ke arah dari mana Abel keluar. Dia
menekan beberapa tombol dan pintu terbuka. Menyaksikan Max yang begitu geramnya sampai-sampai melemparkan barang-barang di hadapannya.
“Darrel,” Max menyadari kedatangan pria itu.
“Ada apa, sahabatku?” tanya Darrel, pria berwajah tampan yang pandai sekali mengambil hati seseorang. Dia pria yang sangat sopan, membuatnya disenangi banyak orang, dan kadang mereka menceritakan semua masalah mereka dengan sangat lancar pada Darrel.
“Dia pikir semua ini lelucon,” Max tertawa sinis. “Kupikir dia akan takut dan memintaku untuk berhenti. Tapi dia
malah menggertakku.”
“Dia yang Mulia, Sahabatku—dia bahkan tahu kalau aku akan datang menemuimu. Atau kita akan pergi bersama ke suatu tempat.”
Max akhirnya membuang nafas, mengingat kemampuan Abel.
“Tapi, tidak ada yang perlu kau takutkan. Pulanglah dan beristirahat—sudah larut. Dan aku akan memberitahumu
sesuatu yang pasti membuatmu berbahagia.”
“Apa itu?”
“Tapi apakah kau sudah melakukan yang kusampaikan padamu, Adney.”
“Mengambil chipnya. Tentu. Chip satu-satunya yang ternyata hanya diletakkan di jari manisnya, jadi sangat mudah
mengambilnya.”
“Ah,” seru Darrel sebentar. “Ada sedikit kesalapahaman yang terjadi diantara kita. Tapi, tentu, dengan segera akan kau perbaiki.”
Max memandang tajam Darrel. “Aku salah? Bukankah chip itu yang kau maksudkan.”
“Itu memang bisa membuat orang lain—bahkan Yang Mulia pun tidak akan mampu untuk menerawang apa yang akan kau lakukan.”
“Ah, itulah yang kubutuhkan, Darrel. Dia tidak akan tahu, kan?”
“Benar. Gunakanlah itu juga. Tapi ada yang lain, kawan—seperti yang kita miliki, atau lebih dari yang kita miliki. Milik yang Mulia yang sepertinya akan segera berpindah. Hanya saja, seperti yang kupikirkan, dia belum memberinya. Kita akan menunggu, Max.”
Max terdiam.
*