
ALEXANDRA bisa merasa sedikit lebih tenang, saat ini dua orang sedang berada di hadapannya. Dan dia tahu kalau mereka adalah orang baik-baik. Alexandra memandang keluar mobil. Lampu seketika menjadi jarang. Hanya lampu jalan yang membuat Alyx tahu kalau mobil itu memang masih berjalan di jalan raya.
Pandangan Alyx kosong, dia berusaha tidak memikirkan hal yang bisa membuatnya berada dalam masalah. Untung saja dia sangat ahli dalam mengosongkan pikiran, seperti saat ini. Tom sebenarnya tidak mengatakan apa pun mengenai tempat yang akan didatanginya. Jadi Alyx tidak perlu benar-benar mengosongkan pikirannya. Hanya saja, bagi Alyx, dia tidak sudi berbagi pikiran dengan Max atau siapa pun itu.
Akhirnya perjalanan mereka selesai malam ini. Sekarang jam menunjukkan pukul dua seperempat. Tom meminta Alyx dan Jane turun saat mereka sudah berada di dalam garasi.
“Kau tak perlu lagi mengosongkan pikiranmu. Kita berada di tempat yang aman sekarang,” kata Tom membuka pintu menuju sebuah ruangan. Jane dan Alyx mengikuti Tom di belakang. “Ayah dan ibu sedang di SOS, jadi tak ada orang lain di sini. Ini kamarku—ruang kerjaku,” jelas Tom setelah membuka pintu.
Alyx melihat sekeliling. Ruangan yang dimasukinya berwarna dominan putih. Beberapa perangkat komputer tersusun rapi. Alyx melihat Tom yang seketika telah berada di depan computer miliknya.
“Pengalih sensor—bahkan Jane sendiri tidak bisa menggunakan keahliannya untuk melucuti pikiranku di tempatku.”
“Benarkah?” tanya Jane mengejek.
“Untuk beberapa saat kita aman di sini, sementara itu kami akan berusaha membuka chip di tubuhmu.” Tom beralih pada Jane, “kau bisa membantuku, Jane,” kata Tom bukan dengan nada meminta—melainkan menyuruh Jane.
“Tidak bisa. Aku belum lulus kuliah,” jawab Jane asal.
Beberapa jenak kemudian Jane berdiri mengambil kacamata—dengan ukuran besar dan kaca yang lebih tebal—dari
dalam laci, sementara Tom masih sibuk dengan komputernya. Jane menarik kursi untuk dirinya dan menunjuk kursi di samping Tom, Alyx cepat berpindah tempat.
Alyx duduk. Menatap Jane dengan penuh pertanyaan. Tak ada jawaban dari rasa penasarannya. Alyx diminta sedikit merunduk, membuat rambutnya terurai ke samping kanan dan kiri.
Tom menempelken sebuah alat sensor pada leher Alyx—yang terhubung dengan komputernya. Dia menggerak-gerakkan—ke kanan dan ke kiri.
Alyx berusaha melihat apa yang sedang dilakukan Tom, tapi Jane menekan kepalanya, membuatnya tetap menunduk. Alhasil dia hanya bisa melihat lehernya di layar computer—dengan melirik membuat matanya sedikit lelah, jadi dia menyerah.
Tom berhenti menggerakkan alat sensor saat itu mengeluarkan suara. Ia meletakkannya di atas meja dan menunjuk satu titik.
Jane dengan sigap mengambil alih. Sebuah kacamata pembesar bersandar di hidungnya yang mancung. Dia membungkuk sedikit. “Apa-apaan ini?” Jane mengeluh sambil melepas kacamatanya. “Aku tidak bisa melihat apa pun. Chip itu terlalu kecil.” Dia kemudian menekan sebuah tombol dengan arah ke bawah di samping kacamata. “Nah begini,” Jane memulainya kembali. Setelah menemukan chip yang ditunjukkan oleh Tom tadi, dia mengambil
sebuah alat jepit seperti pinset—hanya saja lebih kecil—mendekatkannya ke leher Alyx dan menjepit sesuatu. “Selesai. Bangunlah.”
Alyx meregangkan kepalanya. Cukup lelah dengan posisi merunduk seperti tadi. “Aku mau melihatnya.” Alyx melihat Jane menunjukkan sesuatu di telunjuknya dan membuat dirinya menggeleng. Dia tidak bisa melihat apa pun.
Jane tersenyum kecil dan menyerahkan kacamata yang dikenakannya.
“Apa ini?” kata Alyx—lebih pada kagum dengan benda yang sedang dilihatnya. Sebuah keping yang sangat kecil
berbentuk segi empat, berwarna hitam—lebih kecil dari sebuah titik bekas terkena jarum di tangan Jane.
“Kita akan menghancur…”
“Tidak,” Tom menyela—dia sedikit berteriak. “Maaf. Letakkan di sini,” katanya dan menyerahkan wadah bening yang baru saja diambilnya dari dalam laci. “Kalau ada waktu, aku bisa mempelajarinya.” Setelah menutup wadah itu, dia memasukkannya kembali ke dalam laci. “Nah, sekarang kita tahu, meski kau belum lulus kuliah, kau sepertinya sudah berguna,” kata Tom pada Jane. Dia sekarang menyandarkan punggungnya.
Jane mencibir. “Ayolah Alyx,” Jane menarik tangan Alyx dan keluar dari ruangan pribadi Tom. “Biasanya…” katanya
sambil berjalan menuju sebuah ruangan, “kalau sedang di sini, aku bermalam di kamar tamu ini.”
Alyx masuk setelah Jane mempersilahkannya lebih dulu. Jane menyalahkan lampu. Alyx bisa melihat kalau ruangan ini memang benar-benar untuk seorang tamu. Hanya ada sebuah tempat tidur, sepasang meja dan kursi—beserta lampu belajar dan sebuah komputer di atasnya. Untuk apa mereka menyediakan computer untuk tamu, pikir Alyx.
“Ayo istirahat sekarang,” kata Jane yang telah merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk.
Alyx begitu lelah, jadi dia segera menerima tawaran Jane, dan berbaring di sampingnya. “Kau belum tidur kan?”
tanya Alyx saat beberapa jenak tak ada suara lagi.
“Aku sama sekali belum bisa terlelap,” kata Jane, meski suaranya tidak sejelas biasanya.
“Kau jurusan apa?” Alyx memulai pembicaraan dan bertanya mengenai statement Jane yang belum lulus kuliah.
Jane berpikir sebentar dan mengerti kalau Alyx sedang bertanya mengenai kuliahnya. “Tadinya aku kuliah di ST—Science and Technology—padahal sudah setahun, tapi berpindah ke SCIMID.”
“Maaf?”
“Science and Mind Development. Sebentar lagi aku akan lulus,” kata Jane, ceria.
Meski tak ada penerangan—karena Jane sudah mematikannya tadi—Alyx tahu kalau Jane sedang tersenyum setelah mengatakan akan segera lulus. Tapi berikutnya tak ada respon dari Alyx. Dia sepertinya bingung. Dia belum pernah mendengar itu.
“University of SOS. Aku suka dengan tekhnologi—aku bisa membuat yang kuinginkan, seperti alat jepit itu—itu karya pertamaku.”
“Itu hebat. Lalu kenapa kau harus pindah?”
“Sebentar lagi usiaku dua puluh tahun, chip yang telah ditanamkan di kepalaku akan merespon daya otakku yang
mempunyai keahlian dan membuatnya lebih kuat. Karena itu aku harus belajar untuk mengendalikan diri dan belajar mengenai pengembangan pikiran.”
“Hebat.” Hanya itu yang dikeluar dari mulut Alyx. “Bagaimana dengan Tom?”
“Dia lebih cepat lulus dari siapa pun. Dia lulus dari ST beberapa tahun yang lalu dan menjadi seorang pencuri,” kata Jane dan tertawa.
Dari tawa Jane, Alyx tidak perlu mempercayai kata-kata Jane mengenai Tom yang menjadi pencuri setelah lulus, tapi tetap saja dia menanyakan itu. “Pencuri?”
“Iya, setelah lulus, dia berusaha masuk ke kelas yang dianggapnya berguna untuk pekerjaannya kelak, kelas
mikrobiologi, biokimia, dan lainnya—kau tahu kenapa, karena dia ingin sekali menggantikan posisi ayahmu di SOS.”
“Memang apa posisinya?”
“Direktur yang merencanakan dan melaksanakan pembangunan SOS. Dia berperan banyak dalam kehidupan SOS. SOS sudah banyak dibantu oleh ayahmu.”
“Apa karena hal ini seseorang membencinya dan setelah tahu kalau aku anaknya, mereka mulai mengejarku.”
Jane diam sejenak. “Mungkinkah seperti itu?” Jane balik bertanya.
“Kau tidak tahu?”
“Kau tahu, aku ingin sekali tahu mengapa mereka mengejarmu, dan kupikir-pikir kesimpulanmu mungkin saja benar. Yang tidak habis kupikir—ayahmu orang yang baik, bagaimana mungkin mereka ingin menghancurkan kehidupan orang yang telah membuat hidup mereka lebih baik.”
“Aku tadi mengatakan padamu kan, kalau ayahmu berperan penting dalam SOS. Seperti saat sepuluh tahun yang lalu, kalau saja ayahmu tidak ada, tempat SOS bisa saja diketahui oleh orang lain. Itu bisa membahayakan semua warga SOS.”
“Warga SOS? Maksudmu anggota organisasi SOS?” Alyx belum bertanya mengenai ini, dia hanya mendengar John mengatakannya beberapa kali.
“Itu yang kau ketahui?” tanya Jane sambil tersenyum.
Alyx mengangguk—tapi kemudian mengatakan iya saat menyadari Jane tidak mungkin melihat anggukannya.
“Saat kau berada dan melihat SOS, mungkin kau akan mengatakan SOS hanya tempat yang kecil dibandingkan Inggris atau Negara Eropa lainnya, tapi bagi kami SOS adalah sebuah Negara yang besar.”
“Negara? Tapi kenapa tak ada orang lain yang boleh tahu? Aku bahkan baru mendengarnya beberapa minggu yang lalu? Kalau SOS bisa membantu banyak kehidupan orang lain di luar sana, seharusnya mereka melakukan kebaikan itu.”
Jane terdiam lagi. “Sejak seratus tahun yang lalu SOS bisa hidup dalam damai, karena kami tidak punya orang-orang yang ingin menghancurkan negaranya sendiri.” Jane tertawa kecil dan melanjutkan, “SOS berusaha membatasi membantu orang lain—pembantuan ini pun hanya untuk menambah modal penelitian. Sedang orang lain di luar sana yang tidak sempat mendapat bantuan dari SOS, bisa mendapatnya dari luar—mereka punya banyak orang pintar, diantara mereka ada lima ratus lima orang yang mempunyai kemampuan luar biasa—hasil SOS.”
“Tapi yang kupermasalahkan sekarang adalah,” kata Jane setelah diam beberapa saat, “kenapa mereka menemuimu?”
Alyx bisa melihat wajah Jane mendekat.
Jane kembali membaringkan kepalanya. “Aku seharusnya memikirkan mengenai pemberontakan yang sering dibicarakan oleh yang lainnya. Tapi, aku terlalu terlena dalam kehidupan damai kami dan berpikir tidak mungkin ada yang melakukan kejahatan besar—yah karena harus kuakui beberapa masih sering melakukan plagiat—pencurian karya dan mengatasnamakan nama mereka. Kurasa hanya sebatas itu. Dan waktu aku tahu Max secara terang-terangan mendatangimu—membicarakan SOS langsung padamu, aku sangat terkejut. Kau tahu kan, kami tidak boleh bercerita banyak pada orang lain apa lagi sampai harus menghabisi nyawa. Atau kemungkin paling besarnya
adalah Max tahu kalau kau sebenarnya adalah warga SOS. Ah iya…” seru Jane seperti baru saja mendapatkan sebuah jawaban dari soal matematika yang sulit.
“Ayahmu adalah seorang warga Negara SOS dan ibumu?” tanyanya lagi.
“Aku tidak tahu dia, sepertinya kau salah, keluargaku di Indonesia pernah mengatakan mengenai ibu yang pernah
tinggal di sana. Tapi, aku tidak tahu mengenai dirinya, melihatnya saja tidak pernah. Kukira mereka pernah mengatakan kalau ibuku meninggal sewaktu melahirkanku, bahkan ada yang pernah bercerita di belakangku, kalau dia sengaja meninggalkan aku. Mungkin he dan she memang tidak menginginkanku.”
“Jangan berfikiran buruk. Ehm, anggap saja, kalau ibumu juga adalah seorang warga Negara SOS, jadi itu berarti kau juga berasal dari kami. Kurasa itu jawaban dari ayah yang menugaskanku untuk selalu bersamamu. Sesama warga SOS harus saling menjaga. Tapi…” kata Jane kemudian, “kenapa ayahmu membuatmu tinggal di Negara lain, bukan di SOS. Kemungkinannya ibumu adalah warga luar. Arrgh, semuanya menjadi samar kembali,” Jane menggeram.
“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, kau membuat dirimu pusing,” kata Alyx. Padahal dia juga ingin sekali mengetahui
kebenaran dari semua ini. Alyx sebenarnya sudah ingin berhenti bertanya, tapi pertanyaan kembali mengalir dari bibirnya. “Max mengirimiriku data mengenai SOS. Menurutmu kenapa dia mengirimkan data SOS? Sebenarnya aku berpikiran kalau SOS itu sesuatu yang mengerikan.”
“Apa?”
“Iya, kalau saja tadi tidak kau katakan kalau SOS Negara yang damai. Tapi, aku mengingat bagaimana mereka
membuat orang-orang yang melanggar kontrak itu kembali menderita. Bahkan menurut Max sampai ada pembunuhan.”
“Benarkah?”
Alyx menghela nafas. “Sepertinya kau tidak tahu menahu mengenai kejahatan SOS. Mungkin saja ayahmu merahasiakan bagaimana sebenarnya SOS itu, kau hanya tahu luarnya saja.”
“Jangan seperti itu. Aku lahir di Timur dan hampir tidak pernah mengurusi masalah yang terjadi di setiap sudut SOS. Ayah juga memang tidak pernah membiarkanku berkeliaran di *r*anah keadilan. Katanya aku belum cukup umur untuk ke sana.”
“Apa itu?”
“Tempat pengadilan yang bersalah. Kalau di sini, seperti sebuah kantor kejaksaan. Untuk apa Max menunjukkan data itu padamu?” tanyanya kemudian.
“Seharusnya aku yang menanyakan itu. Jane, kau mengenal Max?”
“Ehm, kami pernah berada di kelas yang sama, satu semester, jadi aku tidak terlalu mengenalnya. Dia tidak suka
bergaul dengan orang biasa. Dia lebih suka bersama teman-temannya—anak-anak para petinggi. Aku tidak terlalu suka dengan sikapnya yang sok—dan sebenarnya aku tidak terlalu perduli. Selama ini, dia juga tidak pernah berbuat suatu kesalahan yang bisa-bisa membuat posisinya jatuh. Dia mendatangimu—kurasa itu kesalahannya yang pertama—tidak ada berita di surat kabar, itu berarti orang-orangnya pasti telah berhasil menutup mulut makelar berita."
“Sedang Ed,” Jane menambahkan, “dia adalah tangan kanan Max. Mereka selalu bersama. Dia bisa melakukan apa
saja yang diperintahkan Max—kalau Max menginginkan dia menjadi kambing hitamnya, dia pun akan mau. Dia tidak akan membiarkan Max melakukan kejahatan…”
“Dia tidak membawa senjata hari itu, kurasa,” sela Alyx.
“Tentu… tentu. Dia ketahuan menggunakannya—terlacak. Dan tentu saja, Max yang kemudian membawa, dan hampir menggunakannya. Entah apa yang akan terjadi, kalau mahkamah tertinggi dan para petinggi tahu kalau Max
hampir saja melakukan kejahatan.”
Alyx berpikir sebentar. “Mahkamah tertinggi yang pastinya berada di ranah keadilan kan?”
“Iya.”
“Para tetinggi?”
“Para tetinggi—seperti seorang orang tua yang harus dimintai petuah, pendapat, atau nasehatnya, seperti dalam sebuah kerajaan—mereka kadang memberi perintah dan warga melaksanakannya. Mereka penentu. Bagaimana seorang pemimpin SOS harus mendapat persetujuan para petinggi di saat hari penentuan.” Jane seketika menjadi bersemangat. “Kau tahu, hari penentuan sangat menegangkan. Entah cara seperti apa para petinggi menentukan siapa yang terkuat di antara kandidat, yang jelas mereka tahu betul siapa yang berhak menjadi pemimpin. Beberapa bulan lagi—hari penentuan…”
“Dan Max adalah salah satu
kandidatnya?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Seperti yang kau katakan.”
“Aku sudah mengatakannya, yah?”
“Kurang lebih seperti itu. Oh iya,
kulihat Max masih muda. Apa tidak masalah membiarkan seseorang sepertinya
memimpin sebuah Negara.”
“Ah, kau harus tahu bagaimana keluarga kerajaan dididik. Mereka-para kandidat—kesemuanya adalah keturunan para pemimpin SOS. Mereka dididik dalam lingkup yang sama, jadi mereka bersaing secara sehat, kurasa. Dan Max adalah cucu dari pemimpin ke-59 yang sekarang menjadi kandidat yang sedang dibicarakan. Sedang ayah Max hanya mampu menjadi mantan kandidat yang dikalahkan oleh pemimpin SOS sekarang. Begitulah yang kuketahui mengenai Max.”
*