SOS

SOS
Chapter 29



“DULU…” Professor Singh menjawab pertanyaan yang diajukan Jane, “kakek buyut keluarga Russell telah memenjarakan Azazil. Azazil adalah ciptaan pertama sebelum SOS terbentuk. Ciptaan keluarga Russel yang mengalami kegagalan.


“Kegagalan—terlalu sempurna untuk menjadi seorang manusia. Dia memiliki segalanya. Dia bertahan lebih dari yang diharapkan. Dia berparas seperti Russell, gagah, tinggi, dan kuat. Tidak seperti manusia pada umumnya. Dia bisa menyembuhkan dirinya yang terluka dalam sekejap. Dan yang membuat Russell khawatir, saat dia menyaksikan sendiri Azazil jatuh dari lantai dua puluh gedung dan dia bisa baik-baik saja.


“Kemudian, Russell membawanya ke laboratorium kecilnya untuk memeriksa sistem kehidupan dalam tubuhnya. Dan menemukan hal yang bisa berakibat buruk pada orang lain. Kalau saja Azazil tidak mengetahui rencana Russell untuk memperbaiki kesalahan yang dibuatnya, dia tidak akan bertahan sampai hari ini. Tapi, setelah mengetahui bahwa kekuatannya akan dihilangkan, dia memberontak kepada sahabat yang telah menghadirkannya.


“Azazil berkelana ke seluruh penjuru mencari jiwa yang kuat yang bisa diganggunya. Baginya mengganggu seorang yang berjiwa lemah hanya akan sia-sia, meski kadang dia menggunakannya untuk pelengkap. Dia menyukai sebuah tantangan. Dan saat yang berjiwa kuat menyerah adalah yang paling dia sukai.


“Lima tahun berlalu, Russell akhirnya menemukan Azazil yang menjadi lebih kuat. Meski begitu, Russell bisa mengalahkannya dan menyerap kekuatannya dan memenjarakannya berlawanan tempat dengan SOS. Di padang pasir, di Selatan SOS.


“Tapi, segel yang memenjarakan Azazil tidak bertahan lama, saat dua puluh tahun kemudian, dia hadir bersama Duke John Russell—pemimpin pertama SOS…”


“Bagaimana bisa?” sela Jane.


“Well, keluarga Russell selalu mengatakan Azazil seperti sebuah cahaya. Dia bisa membuatmu berada dalam dekapannya, tanpa kau tahu bahwa dia adalah seorang yang mengerikan. Kau tahu, dialah yang mengusulkan pada John Russell untuk membuat tureen yang disambut gembira oleh pemimpin pada masa itu. Azazil tahu bahwa turren itu akan membuat kekuatannya mengalir dengan baik ke tubuhnya. Butuh waktu yang lama untuk membuatnya dan kemudian baru saja berfungsi karena bantuan Arthur Holder yang kudengar telah menjadi incaran Azazil sebelum dia bergabung dengan SOS. Azazil yang telah mengabarkan mengenai SOS di telinga Arthur.


“John Russell baru sadar mengenai Azazil setelah bertahun-tahun dan yang bisa dilakukannya bersama kakek buyutku hanyalah mengkunci kekuatannya dan mengembalikan ke tempatnya semula. Dia terpenjara berpuluh-puluh tahun, para petinggi yang kemudian mengetahui mengenai keberadaan Azazil, setiap tahunnya—beberapa hari sebelum Hari Penentuan, berusaha memperbarui segel. Aku punya tugas untuk pergi bersama mereka. Dan kami menemukan keanehan, tidak ada suara menjerit meminta dikeluarkan. Saat membuka bukit pasir dari atas penjara Azazil, yang kami temukan adalah Max yang sudah melemah. Sepertinya, dia sudah berada di sana selama seminggu lebih.”


“Max? Bukankah dia muncul di TV kemarin?” tanya Jane merasa aneh.


“Kau tahu siapa dia, Jane?”


“Azazil,” gumam Jane, “tapi kenapa Max yang ada di dalam penjara itu?”


“Legenda, Jane. Legenda. Dia telah mendengar legenda itu. Temukan Azazil dan tak akan ada yang melebih kekuatanmu. Entah siapa yang menceritakannya? Tapi, menurutku, si bocah keturunan Azazil itulah yang telah membawanya masuk ke SOS.”


Jane menggeram.


*


Abel memastikan tubuh yang tergeletak di hadapannya, lama-kelamaan menjadi debu. Dia bukan Max, seharusnya dia tahu itu. Saat mengarahkan pandangannya di setiap ruangan, dia tidak menemukan orang lain lagi yang sejak tadi mengawasinya.


“Alyx,” gumamnya. Dia segera keluar dari ruangan pengap itu, tapi berteriak kencang saat mengetahui dia terkurung di bawah tanah, di bagian selatan SOS.


“Pelankan suaramu, nona manis.”


Abel memencarkan pandangannya ke seluruh penjuru, namun tak menemukan sosok yang bersuara.


“Tidak perlu mencari.”


*


Dengan arahan para petinggi, Alyx dan Hiro pergi bersama Amaris ke suatu tempat. Sedangkan petinggi lainnya melingkar melindungi tureen. Mereka berpikir Azazil akan segera datang dan menguasai pemancar tureen yang didalamnya berisi sebuah karya dari Russell, penyeimbang energy jiwa. Jika dia menggunakannya, semua warga SOS akan tunduk padanya.


Mereka bisa saja segera menghancurkan turren itu, kekuatan Azazil akan segera melemah, dan akan lebih mudah untuk mengalahkannnya. Sayangnya, lima puluh persen jiwa SOS adalah anak-anak yang membutuhkan penyeimbang energy untuk bisa hidup. Anak-anak itu tidak akan bisa bertahan di luar negerinya.


*


“Untuk apa kita ke lab, Amaris?” tanya Alyx yang berjalan lebih dulu di sebuah lorong panjang.


“Bersembunyi.”


“Apa?” Alyx berhenti berjalan.


“Maafkan aku, Alyx. Ah.”


Alyx segera berbalik mendengar jeritan pendek Amaris. Dia terkejut melihat Amaris tak bergerak seperti patung, tepat di hadapannya.


Hanya mata Amaris yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Tangannya melayang di udara dengan telunjuk dan jari tengah yang seperti seseorang yang siap mematok dengan dua jarinya.


Alyx bertanya pada Hiro yang tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya. “Apa yang terjadi?”


“Tanyakan pada dirimu.”


“Aku?” Alyx sadar telah membuat syaraf Amaris menegang. Dia menarik nafas panjang, dan melemahkan kembali syarafnya. Tangannya memegang tangan Amaris yang langsung terduduk lemah.


“Aku menyerah. Mereka tidak seharunya meminta wanita tua sepertiku untuk melindungimu. Kau yang seharusnya melindungiku, bukan aku,” Amaris menghela nafas.


“Maafkan aku, Amaris. Kurasa sekarang, kau hanya perlu beristrahat di lab. ini. Setelahnya, biarkan aku dan Hiro.”


Amaris menyentuh tangan Alyx. “Kupercayakan SOS padamu. Jiwamu bisa melindungi SOS. Jangan bertindak gegabah dan biarkan si rambut merah membantumu.”


“Kau bicara melantur, Amaris?” kata Alyx tanpa pertimbangan.


“Aku memang sudah tua, tapi aku masih bisa berpikir dengan jernih melihat ke depan…” Amaris berhenti dan menengadah melihat pada Hiro yang sedari tadi melihat ke langit-langit—melamun. “Hei, kau…” panggil Alyx pada Hiro.


Hiro segera terbangun dari lamunannya. “Ya?”


“Dasar anak gila,” gumam Amaris.


“Jangan berkata seperti itu. Aku sudah berjanji tidak menganggumu. Aku menganggumu pun, karena selalu mengataiku saat kecil,” Hiro mengumam.


“Well, aku tidak menyangka ini benar-benar terjadi. Aku tidak pernah bisa memastikannya, tapi kuharap itu benar—sekali lagi kukatakan, kuharap kalian tidak bertindak gegabah. Pergilah, nak.”


“Ayo, Alyx,” Hiro baru saja mendudukkan Amaris di atas kursi dan membuka pintu keluar. “Cepat, Alyx,” panggilnya lagi.


Amaris melihatnya dan tersenyum. “Pastikan kalian kembali karena selalu ada dua jalan yang kulihat. Pastikan kau memilih jalan yang benar, Alyx, jangan lupa selalu bertanya pada si rambut merah yang tolol.”


Alyx tidak menanyakan lelucon Amaris, tapi sepertinya dia akan segera menemui seorang pria dengan rambut merah tolol yang juga pintar karena dia harus bertanya padanya—kalau itu benar yang dimaksudkan Amaris.


*


Jane berlari kecil saat mendengar seorang memanggilnya dari luar kediaman Singh. Sudah hampir tiga puluh menit tidak ada pencahayaan selain di bangunan utama. Ini menyebabkan dia sulit untuk mengenali wajah seorang yang berdiri di depan pintu tak terlihat milik Singh.


“Ini aku…” suara pria yang terdengar ringan membuat Jane segera tersadar.


“Tom? Kaukah itu?”


“Iya, ini aku.”


“Masuklah, Tom. Berbahaya di luar sana.”


“Di sini saja. Aku hanya sebentar. Jadi, kemarilah, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.”


“Tapi…” Jane berpikir sejenak. “Kau tidak sendiri?” tanya Jane sebelum melanjutkan saat melihat sesuatu bergerak di belakang Tom.


“Iya, ada Darrel, dia mengantarku ke tempat ini. Jadi, cepatlah, masih banyak yang harus kulakukan. Kalau kau tidak mau membantu…”


“Baiklah,” sela Jane. Dia memandang sisi persegi pintu dan sebelum melangkahkan kakinya, dia berbalik melihat Singh memandangnya dari jauh dengan tatapan sedih.


“Kau tahu ke mana Alyx pergi?” tanya Tom saat Jane berdiri di hadapannya.


“Kau ingin menemuinya? Kalau begitu, aku harus ikut.”


“Tidak, hanya tunjukkan padaku.”


“Aku harus ikut.”


“Tidak…” suara Tom meninggi.


Jane sedikit terkejut mendengar nada suara Tom saat memarahi dirinya.


Jane dan Tom masuk. Saat mobil telah melaju, Jane sadar bahwa hanya mobil yang ditumpanginyalah yang bergerak.


*


Mobil hitam mewah berhenti sebentar di sebuah jembatan panjang menuju ke sebelah selatan SOS. Darrel keluar. Memandang ke bawah, ke sungai SOS.


“Apa yang dilakukannya?” gumam Jane saat melihat Darrel yang mengacunkan tangannya di udara.


Setelah itu, Durrel kembali masuk ke mobil. “Apa kau benar-benar tahu di mana Alyx? Jangan sampai membuat kesalahan, gadis manis.”


“Aku tahu…” Jane berhenti saat menangkap sesuatu di pikirannya. Mendengar suara yang pernah di dengarnya, suara Abel.


“Apa ada masalah?”


“Tidak, tetaplah berjalan lurus,” kata Jane dan tetap fokus pada apa yang di dengarnya. Dan saat suara yang didengarnya semakin jelas, dia dengan spontan berteriak. “Berhenti di sini.”


Durrell memberhentikan mobilnya. Dan berbalik. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan nada yang tetap stabil.


“Tidak. Hanya ada sesuatu yang harus kulakukan di sini. Tetaplah melaju sampai kau menjumpai sebuah rumah yang satu-satunya memiliki pencahayaan. Mereka di sana.”


“Mereka? Siapa mereka?”


“Maksudku, Alyx dan Hiro. Iya. Mereka pergi berdua.”


“Well, miss Asahyl, aku tahu kau bukan orang yang pandai berbohong. Tapi, rumah yang bercahaya, yah?” Darrel nampak berpikir, “turunlah,” katanya kemudian dan pintu mobil terbuka.


Jane memandang keluar.


“Kau akan menemaninya?” Darrell bertanya pada Tom, “atau akan ikut bersamaku. Aku orang yang baik,” katanya dan bergumam tidak jelas.


Tom akhirnya memilih untuk keluar dari mobil yang saat menjauh terlihat bercahaya itu.


Jane memandang Tom. Meski tidak nampak jelas, tapi dia tahu orang yang berdiri di sampingnya adalah Tom—pria yang sudah lama disukainya.


“Apa yang ingin kau lakukan?”


Jane terkejut dengan pertanyaan Tom.


“Aku tidak bisa lama di sini.”


“Memang kau ingin kemana?” tanya Jane sambil menundukkan kepalanya.


“Tidak perlu tahu. Sebaiknya, kau pergi sekarang selagi kau bisa pergi.”


“Kenapa kau bisa bersama Darrel?” Jane mengabaikan perintah Tom.


“Hanya itu yang bisa kulakukan.”


“Apa maksudmu?”


“Ada hal yang harus kulakukan. Jangan membantah dan cepatlah kembali.” Tom memegang pundak Jane. “Kumohon, kembalilah, tidak akan lama lagi.”


“Tidak bisakah kau mengatakan yang lainnya selain menyuruhku pergi?” teriak Jane.


Tom menarik Jane ke dalam pelukannya. “Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian, kumohon.”


“Tidak. Aku tahu yang kau pikirkan, Tom. Dan kumohon jangan melibatkan dirimu terlalu jauh,” Jane melapaskan dirinya. “Baiklah, aku akan pergi, tapi, setelah mengetahui dimana keberadaan Adalbrechta.”


“Apa?”


“Aku mendengarnya di sini. Tapi aku tidak mengira dia berada di salah satu di antara bangunan ini.”


“Apa? Jangan-jangan…” Tom membungkuk dan menyentuh permukaan tanah. Jane memperhatikannya. Namun, beberapa saat kemudian, Tom dan Jane telah tersungkur ke tanah.


*


Jane membuka matanya pelan. Terlalu berat. Dan setelah berhasil membuka matanya, dia kembali menyipitkan matanya saat mendapati sebuah cahaya biru di hadapannya. Lama kelamaan, dia mulai membuka mata setelah cahaya itu perlahan-lahan menghilang. Di pandangannya jelas terlihat seorang pria yang seketika mengajukan pertanyaan.


“Well, kau memang tidak berbohong saat megatakan mereka berada di sana, tapi bukan mereka yang aku cari,” kata Darrel sedikit kesal. “Sebuah jebakan bagus, hanya saja tidak pantas untukku. Entah apa yang telah terjadi pada professor itu.”


“Apa yang kau lakukan?” teriak Jane dan mencoba memberontak dari kursi setelah menyadari ikatan di tangannya.


“Yah, seperti ini,” Durrel menunjuk wajah Jane dan berbalik, menutupi pandangan Jane dari orang yang diajakknya berbicara, “aku ingat, dia gadis yang dulu tak bisa berhenti tertawa saat melihat film comedy, dan menangis saat melihat seekor kucing yang jatuh dari pohon. Dia tak bisa mengendalikan jiwanya,” katanya dan tertawa.


“Sangat bagus sekali,” kata seorang yang sedari tadi hanya mendengar ocehan Darrel. “Tapi, sekarang, cepat bawa gadis itu kemari, aku sudah tidak tahan.”


“Baiklah,” Darrel membungkuk dan berlalu pergi.


Jane melihat seseorang yang duduk di hadapannya.


Seorang yang duduk di sebuah kursi kokoh berwarna hitam. Tangannya menopang dagu. Dia seorang  pria. Mengenakan jubah berwarna hitam. Sangat kontras dengan rambutnya yang berwarna putih. Tak jelas bagaimana rupanya, karena rambut panjang dan tebalnya menutupi sebagian wajahnya.


Lengan jubahnya yang merosot turun, membuat Jane bisa melihat gambar di pergelangan tangannya. Sebuah gambar bintang. Jane tahu, pria itu adalah Azazil.


Jane memperhatikan Azazil yang terlihat bosan. Kepalanya digerakkan berapa kali. Dia menaikkan dagunya. Dan tersenyum pada Jane dan membuat Jane terbelalak. Dia menggerakkan tangannya, membuat poni yang menutupi wajahnya terangkat. Matanya yang berwarna biru dikedipkannya. Manis. Tampan.


Jane tersenyum. Namun, beberapa saat kemudian, Jane disadarkan oleh sebuah suara yang terdengar lemah.


“Jane…”


Jane berbalik dan mendapati Abel bersandar di dinding.


“Jangan tertipu oleh wajahnya. Dia akan membawamu ke neraka.”


“Adalbrechta, kau baik-baik saja?”


“Iya.”


“Aku sudah memintamu untuk membawanya ke tempat ini,” terdengar suara Azazil sebelum pintu terbuka.


“Maafkan aku,” Darrell segera menghadap, “tapi, sepertinya perempuan itu masih berada di Pusat.”


“Apa yang dilakukannya di sana? Apa dia sedang merencanakan sesuatu? Ehm,” dia berpikir sebentar, “kalau begitu bawa dia ke Utara. Aku akan melihatnya di pusat.”


“Tapi…”


“Tidak ada ‘tapi’, anakku sayang,” katanya yang terdengar aneh.


“Baiklah. Kami akan melaksanakan perintahmu.”


“Well, aku siap,” kata Azazil dan melompat dari kursinya.


*