SOS

SOS
Chapter 5



“Dari mana kau dapat nomorku?” Alyx yang baru saja bangun karena suara ringtone, pagi itu menggeram dalam hati. Dia baru tidur pukul empat pagi tadi. Dan pukul enam lebih, sudah ada seseorang yang menelponnya.


“Aku sedang jogging di sekitar apartemennmu dan seketika mengingatmu.” Suara berat dari seberang telpon membuatnya tambah geram.


Alyx menekan kepalanya yang sakit. “Lalu?” Alyx mendekat ke jendela dan menarik gorden, melihat ke luar. Matahari sudah mulai menampakkan cahayanya.


“Bagaimana keputusanmu?”


“Maaf. Aku belum memutuskan apa pun. Jadi, sebaiknya kau berhenti menghubungiku untuk beberapa saat, sampai aku memutuskannya. Sampai jumpa.” Alyx menutup lebih dulu dan menyengir melihat pria paru baya sedang memandangi hpnya di lingkungan apartemennya. Benjamin.


Sudah beberapa kali Benjamin menghubungi Alyx, membuatnya seperti orang yang selalu diikuti oleh pria itu.


Memang seberapa pentingnya SOS itu, sehingga membuat pria itu ingin mencari tahu mengenai itu.


Alyx baru saja mandi saat Katie datang ke apartemennya.


“Nick belum datang-datang juga ke kantor. Aku khawatir semua ini akan terbengkalai,” kata Katie yang membawa


dokumen yang harus segera ditandantangani.


“Kalau begitu aku akan membantumu. Jadi kita harus mulai dari mana?”


Katie mencoba menunjukkan pekerjaan yang harus dilakukan pada Alyx yang selalu mencoba menghubungi Nick, tapi tidak ada yang menjawab. Entah apa yang terjadi padanya.


“Oh iya, Kat, sejak kapan Benjamin bergabung di AM magazine?”


“Mr. Benjamin?” Katie mencari tahu mengenai Benjamin di tabletnya. “Sekitar dua bulan setelah AM Magazine dirilis. Setahun berikutnya dia berhenti, sepertinya saat perusahaannya bangkrut, tapi dia telah kembali beberapa bulan yang lalu—ehm tiga bulan yang lalu. Memangnya ada apa?”


“Tidak. Lalu apa dia mendapat untung yang banyak dari majalah kita? Juga apa dia selalu meminta hal-hal yang aneh?”


“Untungnya setimpal dengan apa yang dia iklankan. Tapi hal aneh apa maksudmu? Selama ini, dia tidak pernah meminta apa pun dari AM magazine.”


“Lalu… lalu…” Alyx berdiri dan mondar-mandir di ruang kerjanya. Katie jadi pusing dibuatnya. “Benjamin baru


muncul beberapa bulan terakhir ini, sebelum-sebelumnya bukan dia yang menemui kita, tapi meminta anak buahnya yang mengurus semuanya.”


“Itu masuk akal.”


“Kenapa?”


“Kenapa kau menanyakan itu padaku. Kenapa kau tidak tanya sendiri saja? Dan sebaiknnya kita selesaikan semuanya, sebelum kau memikirkan hal yang aneh lagi. Aku kan harus segera pulang,” gumam Katie.


Alyx mencibir.


*


Beberapa hari kemudian, Alyx mencoba menghubungi salah seorang temannya yang tinggal di Amerika. Dia bekerja di salah satu kantor detektif terkenal di sana. Tapi, sekarang dia masih menjadi seorang asisten detektif


yang menemani kemana pun sang detektif pergi.


“Apa yang terjadi?” wajah tirus sang asisten detektif terlihat di layar monitor computer Alyx.


“Hi, Jaden, seharusnya kau menyapaku dulu sebelum bertanya seperti itu.”


“Jadi…” Jaden tanpa melihat ke layar kembali bertanya tanpa basa-basi. Dia tahu betul kalau Alyx menghubunginya pasti membutuhkan sesuatu.


“Kau bisa mencari tahu mengenai SOS?”


Perhatian Jaden teralih dari dokumen di hadapannya. “Kenapa kau menanyakan hal itu?”


“Sepertinya kau tahu mengenai SOS. Jadi, kuharap kau bisa membantuku untuk mencari tahu…”


“Seperrtinya tidak bisa,” sela Jaden. “Bukannya aku tidak mau, tapi masalahnya aku tidak tahu banyak mengenai


SOS.”


“Benarkah? Kalau begitu yang kau ketahui saja.”


“Memangnya akan kau apakan? Sebaiknya kau tidak perlu mengurusi masalah orang lain, berhubungan dengan SOS akan menimbulkan masalah. Beberapa keluarga kaya pernah datang mengadukan masalah yang tidak pernah bisa diselesaikan dengan hukum. Dan kau tahu, semuanya berhubungan dengan SOS.”


Percakapan berakhir. Alyx memutar kursinya, membuat pandangannya melihat ke luar jendela. Sebenarnya dia belum memutuskan apakah akan mengangkat tema mengenai SOS. Tapi kalau menurut Jaden saja ini tidak memungkinkan, sepertinya Alyx juga tidak akan melanjutkannya. Terlebih lagi, ada hal yang membuatnya berpikir keras. Kemarin lusa dia baru bertemu dengan teman kuliahnya yang menginginkan membuat majalah untuk anak.


Dan mungkin saja Alyx akan beralih.


*


Alyx membuka pintu apartemennya, pagi ini dia ada janji dengan Benjamin di restoran tempat pertama kali mereka bertemu. Dia berhenti sebelum menutup kembali pintunya. Sebuah amplop besar bersandar di dinding menarik perhatiannya. Dia mengambilnya. Membuka amplop berwarna cokelat itu. Dan mengeluarkan separuh. Kertas yang menjadi sampul bertuliskan SOS membuatnya tertarik dan mengeluarkan seluruhnya. Sebuah dokumen. Beberapa puluh halaman.


“Jaden?”


Sepertinya Jaden yang mengirimkannya. Terlalu cepat, baru kemarin dia meminta Jaden memberikannya dokumen mengenai SOS dan itu sudah sampai di apartemennya. Jaden bahkan tidak bilang akan mengirimnya melalui pos.


Alyx memasukkan dokumen itu kembali ke dalam amplop dan membawanya pergi bersama.


“Pagi, Miss Alyx.” Tom menyapa Alyx yang baru saja keluar dari lift.


“Tom, lama tak melihatmu, kau dari mana saja?”


“Aku…” Tom lalu diam, lama.


Alyx melangkah keluar dari apartemen. Menghentikan taksi. Dia akan berangkat dengan taksi karena tempat


yang ditujunya cukup jauh dari apartemennya. Dia meletakkan amplop cokelat di sampingnya. Walau tertarik membaca mengenai SOS, dia memutuskan untuk tidak membukanya.


Taksi berhenti di depan sebuah restoran. Alyx keluar setelah menyerahkan beberapa pound.


Di dalam restoran, Benjamin sudah menunggu dengan beberapa hidangan di atas meja. Dia tidak menunggu kedatangan Alyx untuk bisa menikmati makanan, karena sepertinya dia sudah menyantap beberapa hidangan dari tadi.


“Apa anda bersama orang lain tadi? Kursinya terasa hangat.”


“Apa? Tidak, aku sudah dari tadi di sini. Baiklah bagaimana keputusanmu?”


“Begini,” Alyx memutuskan untuk langsung membicarakannya tanpa berbasa-basi, “aku sudah membuat keputusan untuk bergabung dengan temanku untuk mengelolah majalah anak. Jadi, aku tidak bisa meneruskan kerja sama denganmu mengenai SOS. Tapi, karena kau sepertinya sangat menginginkan semua tentang SOS, ini untukmu.” Alyx menyerahkan amplop cokelat pada Benjamin.


“Apa? Tidak,” serunya.


Alyx terkejut melihat Benjamin dengan ekspesi yang aneh dan seperti orang yang ketakutan.


“Itu untukmu saja. Ah, tidak… Maksudku kau sudah membaca ini atau belum?”


“Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja.”


“Aku baik-baik saja.” Benjamin berusaha bersikap tenang meski wajahnya terlihat pucat. “Tentu. Dan sebaiknya


kau mengambil ini kembali, aku sudah tidak membutuhkannya. Maksudku, kalau kau tidak akan mempulikasikannya, kau tidak perlu memberiku ini. Aku bisa mencari orang lain. Dan aku akan pergi sekarang. Aku… ah, sebaiknya kau berhati-hati.” Benjamin pergi sebelum Alyx mengeluarkan kata lagi.


Alyx memandang amplop cokelat yang tergeletak di atas meja. Apa yang terjadi sebenarnya. Benjamin menjadi sangat aneh.


“Halo Katie, ada apa?” Alyx segera bertanya saat mendengar suara Katie dari seberang telepon.


“Benjamin membatalkan kontrak.”


“Oh.”


“Apa yang terjadi? Sponsor utama kita menghilang dan kau hanya mengatakan oh.”


“Tidak masalah Katie.”


“Tapi, dia menghilang tanpa jejak.”


“Aku baru saja bertemu dengannya.”


“Apa?  Bagaimana mungkin, pekerja di kantor Benjamin mengatakan, bos mereka telah menghilang sejak dua pekan yang lalu. Dan sebentar lagi kantor itu akan ditutup, seharusnya kita tidak membiarkannya menandatangani kontrak sebesar ini.”


“Kat, aku sebenarnya tidak mengerti, tapi aku akan kesana segera. Dan membawa temanku. Kalau Nick tidak


datang lagi ke kantor itu berarti…”


*


Seminggu kemudian, AM Magazine telah beralih tangan pada salah seorang teman Alyx. Dia tidak tahu lagi bagaimana mengurus studio dan urusan-urusan lainnya.


Pagi ini adalah pagi pertama Alyx bersantai, setelah masalah kantor yang membuatnya bingung. Alyx menikmati


secangkir kopi di hadapan meja kerjanya, sambil melihat gambar-gambar yang diambil kameranya. Dia tidak mendapatkan apa pun dari gambar-gambar itu, tapi kemudian dia berhenti saat sebuah email masuk. Jaden.


“Maaf baru mengirim ini.” Pesan dari Jaden dan file attachment. SOS.


File mengenai SOS baru saja dikirim oleh Jaden dan seminggu yang lalu Alyx juga menerima sebuah dokumen SOS. Alyx segera menghubungi Jaden dan mendapat jawaban bahwa memang bukan Jaden yang mengiriminya.


Alyx mulai mencari amplop berisi dokumen SOS yang diletakkannya di atas meja. Berada paling bawah. Alyx mencoba menariknya dan membuat buku-buku di atasnya terjatuh. Alyx tidak memperdulikannya dan segera membuka amplop.


“SOS. Siapa yang mengirimnya?” Alyx mulai membaca halaman pertama. Dia tidak mengerti. Berkali-kali dia melemparnya menjauh. Berkali-kali dia mengambil dan kembali membacanya. Meski tidak mengerti, beberapa kalimat membuatnya penasaran. “Mengerikan.” Alyx tiba di halaman terakhir. Dia bersandar di depan meja kerjanya. Setelah selesai dia beralih ke computer di atas meja. Membuka file dari Jaden dan membacanya.


Tangan Alyx menopang dagunya. Menurunkan scroll ke bawah.


“… beberapa keluarga melaporkan kehilangan salah satu anggota keluarganya. Tepatnya orangtua yang merasa harus melaporkan menghilangnya anak-anak mereka. Tentunya kantor polisi merupakan tempat pertama yang mereka datangi, sayangnya tidak ada komentar dari polisi mengenai kasus ini. Bukan karena polisi tidak mau, tapi mereka tidak punya bukti. Karena itu mereka mendatangi kantor detektif untuk mencari tahu keberadaan putra-putri mereka. Mereka bahkan mendesak bosku untuk segera menemukannya. Kau tahu, meski mereka dari keluarga yang tidak biasa, bos tidak bisa berbuat banyak atau kukatakan bos tidak bisa berbuat cepat—karena sampai sekarang aku masih menemani bos untuk mencari tahu mengenai si penculik yang tidak dikenali atau tidak bisa diketahui ini.


Ehm, kau tahu maksudku, keluarga yang tidak biasa, mereka adalah keluarga kaya yang tidak bisa berbuat apa-apa, politisi, bangsawan, dan keluarga kaya kaya kaya lainnya. Kau tahu kenapa? Karena mereka sendiri yang meminta ini terjadi. Mereka sendiri yang dari awal telah menyebabkan penculikan atau apalah namanya kejadian ini dengan meminta bantuan pada SOS.


*SOS—organisasi rahasia. Kami tidak tahu dimana mereka, maksudku keberadaan mereka, maksudku bagaimana mungkin organisasi sebesar itu tak ada yang tahu dimana keberadaan mereka. Jangan tanya mengenai g*gle atau mesin pencari apa pun itu, tak ada sedikit pun berita mengenai mereka. Tempat mereka tidak terdaftar, kau tidak mungkin bisa menemukannya, kecuali mereka sendiri yang membawamu, tapi aku yakin kau tidak akan mau berhubungan dengan mereka.


Kami—bos dan aku harus mencari tahu sendiri mengenai apa sebenarnya SOS itu, karena kau harus tahu kalau keluarga kaya itu tidak memberitahu kami mengenai SOS dengan jelas. Katanya, mereka juga tidak tahu dan hanya berhubungan dengan pihak yang tidak tahu betul dengan SOS. Pihak yang tidak tahu betul dengan SOS juga ternyata mempunyai koneksi yang lain-yang lain-dan yang lain sampai ke angota SOS terluar. Betapa tersembunyinya mereka.


Lalu dimana sebenarnya orang-orang yang diculik itu? Menurut kami itu bukanlah kasus biasa. Saat kami kembali bertanya pada keluarga yang kehilangan, mereka tidak mau menjelaskan lagi. Tak ada yang diperjelas lagi. Sudah cukup bahwa anak-anak mereka telah kembali. Ya,mereka kembali, tapi kami tidak pernah melihat batang hidung mereka, sampai saat aku mencoba menyelinap ke salah satu rumah dan mendapati kondisi anak itu berbeda sebelum mereka diculik. Mengerikan? Tidak ini hanya sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin anak yang awalnya sehat-sehat saja atau awalnya seorang anak yang brilliant menjadi seperti anak-anak yang kurang dalam segala hal, kau tahu maksudku kan?


Orangtua-orangtua mereka pasti tahu apa yang terjadi, tapi lagi dan lagi, mereka tidak ingin yang lainnya tahu mengenai kejadian ini, seakan-akan nyawa mereka akan terancam saat semuanya terbongkar. Hanya mereka yang harus tahu kalau mereka mempunyai kontrak dengan SOS.”


Alyx menggosok matanya yang menjadi sedikit perih, setelah membaca dan melanjutkan di computer, terlebih lagi dia tidak mengenakan kacamatanya. Dia berhenti membaca.


Alyx menyandarkan punggungnya ke kursi. Menutup mata. *SOS*membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sepertinya itu yang sedang dipikirkannya. Dia tahu mengenai kontrak SOS yang dimaksudkan Jaden. Dia sudah membaca di dokumen itu. Dokumen yang berisi apa yang sebenarnya SOS itu dan bagaimana mereka bekerja. Tapi, kenapa anak-anak itu kembali seperti mereka semula.


Selanjutnya, apa yang terjadi pada mereka? Alyx tidak tahu, hanya itu yang dibacanya dan beberapa tindakan menyeramkan. Alyx berdiri di samping jendela. Menatap gedung pencakar langit yang lain.


*