
PARA angel sepertinya lebih dulu melukis semburat jingga di langit SOS. Matahari sudah mulai terbenam di barat. Sekelompok burung beterbangan membelah langit. Pemandangan yang sangat membuat seseorang terpesona.
Alyx tak berkedip melihat panorama yang baru pertama kali dilihatnya—dia berharap bisa memegang kameranya
sekarang, tapi tentu saja dia harus menelan kekecawaan—bahkan alat komunikasi pun tidak dibawanya.
Sebuah Negara kecil yang megah terhidang di hadapannya. Dia menyaksikan bagaimana pohon-pohon seperti
membentuk sebuah lingkaran di sekelilingnya—memberi penanda batas bangunan-bangunan, perumahan, dan semua milik SOS yang lain. Di samping kanan dan kirinya, pohon-pohon seperti yang dilihatnya dari kejauhan, tumbuh subur. Benar-benar hijau. Dan semuanya terasa begitu damai.
Alyx segera tahu bangunan yang tepat berada di tengahlah yang paling besar dengan puncak menara tertinggi.
“Lingkaran SOS,” suara Jane menghentikan lamunan Alyx. “Kau lihat bangunan yang berada di tengah itu?”
Tentu saja. Mata Alyx sudah sedari tadi terpancing memperhatikan bangunan terbesar itu.
“Itu adalah pusat SOS,” tangan Jane membentuk lingkaran. “Saat pusat runtuh, hancurlah semua yang lainnya. Tapi, kau tidak perlu memikirkan itu, kau nanti akan tahu bagaimana pusat SOS dilindungi begitu kuat.” Jane tersenyum. “Nah sekarang kita berada di pintu timur di atas gunung tertinggi di SOS—karena itu kau masih bisa melihat matahari tenggelam di barat sana. Ini tanah kelahiranku.”
“Pukul berapa sekarang?”
Jane tertawa kecil. “Perbedaan waktu tiga jam dengan London,” kata Jane menjawab rasa penasaran Alyx yang
meniggalkan London saat matahari masih terik-teriknya. “Kau tahu,” Jane memulai mengikuti Tom yang telah berjalan lebih dulu—tangannya memegang lengan Alyx, “gunung di Barat lebih rendah. Coba saja London lebih dekat dengan barat.”
Alyx sama sekali tidak tahu kenapa Jane harus mengeluh mengenai gunung padanya. Tapi beberapa saat kemudian dia mengerti. Alyx melihati susunan tangga yang harus dituruninya. Dia dan Jane menghela nafas bersamaan—membuat Jane tertawa. Karena tidak ada jalan lain, Alyx mengikuti Tom yang telah menuruni anak tangga lebih dulu.
Tubuh Alyx menjadi semakin berat dengan Jane yang bergantungan di lengannya. Tapi, dia tidak mengeluhkan itu.
Anak-anak tangga itu berukuran cukup rendah antar anak tangga—sekitar sepuluh centimeter. Sedang lebarnya cukup untuk Alyx dan Jane melangkah bersamaan.
Jane—senang sekali rasanya dia mengomel di samping Alyx. “Aku berharap sebuah tangga berjalan dibangun di
sini.”
“Lalu…”
“Katanya terlalu banyak resiko yang akan dimunculkan oleh sebuah lift,” Jane mendengus. “Orang-orang yang
menggunakan mobil—mereka beruntung—tidak perlu menuruni anak tangga ini, meskipun harus menempuh jarak yang lebih panjang.”
“Sama saja kalau begitu,” Alyx menyimpulkan.
Tidak terasa, mereka telah sampai pada anak-anak tangga terakhir. Beberapa yang terakhir memiliki jarak yang
lebih lebar—mereka harus melangkah dua kali dan berhati-hati untuk menuruninya.
“Kau tahu Alyx,” kata Jane saat melangkah di anak terakhir yang berukuran satu meter, “berapa anak yang telah
kita lewati? Semuanya…”
“Seribu lima,” jawab Alyx.
“Bagaimana kau bisa tahu? Kau menghitungnya?”
“Kata ayahmu, aku orang yang teliti, jadi yah ayahmu sedikit adanya benar,” gumam Alyx, meski ia bisa menebak sejak awal.
Jane menganggukkan kepalanya. “Aku harus menghitungnya berulang-ulang kali karena selalu mendapat jawaban yang salah. Meski bisa kiperkirakan berapa jumlahnya, tapi mereka meminta bukti. Kau tahu ini sebuah hukuman yang sangat menyiksa, bagaimana aku harus kehilangan fokus di tengah hitungan.”
“Hukuman?”
“Saat itu, aku dihukum karena menggunakan mobil ayah tanpa license. Mereka memang senang sekali menghukum dengan cara seperti itu—para polisi itu,” Jane menambahkan, “punya mata lebih dari dua.”
Alyx tersenyum. “Kukira tadinya ada lima ratus lima—aku pernah mendengar mengenai nomor darurat itu,” katanya
penasaran dengan jumlah anak tangga.
“Tadinya anak tangga itu hanya ada lima ratus lima. Tapi karena banyak yang mengeluhkan jarak mereka harus
melangkah ke anak tangga berikutnya, pembangunan dilakukan. Kau lihat lima anak tangga terakhir—seperti itu sebelum dibangun.”
Alyx berbalik dan melihat kembali jarak anak tangga ke anak tangga berikutnya—lebih tinggi dari lututnya.
Perjalanan dilanjutkan, mereka harus menyeberang jembatan. Tapi kemudian Alyx berhenti. Tangannya menyentuh pembatas jalan. Melihat ke bawah. Perhatiannya tidak lepas pada aliran air.
“Ini perairan terdalam di SOS,” kata Jane meski Alyx tidak bertanya mengenai sungai itu.
“Benarkah?”
“Jangan sampai berenang di sini. Kau tidak akan selamat,” kata Jane cekikikan.
“Tidak akan,” Alyx menolak, yakin.
Mereka kembali berjalan. Dan Alyx berhenti lagi, bukan sungai, tapi sebuah bangunan berbentuk lingkaran kini
menarik perhatiannya.
Jane berjalan mundur. “Ada apa?” Dia melihat apa yang sedang dilihat kawannya. “Oh.”
Alyx memandang ratusan mobil yang bejejer rapi di dalam sebuah lingkaran—seperti sebuah stadion olahraga. Dia
memajukan kepalanya, melihat sebuah mobil yang melintas di bawah mereka dan masuk ke dalam stadion itu.
Pengemudi-pengemudi yang baru saja masuk, memarkirkan mobil mereka dan keluar melalui sebuah pintu keluar menuju sebuah jembatan yang lebih pendek dari yang dilaluinya.
“Apa yang mereka lakukan?”
“Seperti yang sedang kau lihat, mereka memarkirkan mobil-mobil mereka. Ayolah,” Jane menarik tangan Alyx.
“Tempat parkir,” kata Jane menjawab pertanyaan Alyx yang menanyakan mengenai mobil-mobil itu lagi.
“Kita akan ke mana?”
“Ke rumah orang yang berjalan sangat cepat itu,” Jane mengeluhkan Tom yang sudah berada jauh dari mereka.
“Cepatlah, Alyx.”
Alyx dan Jane harus berlari kecil untuk bisa menyamai langkah kaki Tom yang cukup lebar.
“Ada apa?” tanya Jane pada Tom.
“Jangan membuang waktu. Mereka bisa saja segera tahu kalau ada pendatang baru,” kata Tom saat mereka sudah
berjalan di jalanan yang tidak terlalu besar.
“Kupikir tadinya seseorang mengejar kita,” Jane mengatakan itu sambil berbalik.
“Apa itu?” tanya Alyx saat melihat sesuatu yang ganjil menurutnya.
“Aku akan membawamu berjalan-jalan lain waktu,” Jane sedikit sulit mengatur nafas.
“Benar-benar berjalan dengan kaki?” canda Alyx.
Jane menggeleng.
“Kau punya mobil di salah satu mobil yang terpakir di sana?”
Lagi-lagi Jane menggeleng.
Alyx melihat beberapa sepeda yang terparkir, seperti bicing—sepeda-sepeda yang dikelolah pemerintah. “Lalu, kita
akan menggunakan sepeda?”
“Aku punya mobil.”
“Mobil SOS—tidak seperti mobil yang sering kau pakai di luar SOS—tidak menghasilkan polusi. Menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan. Warga SOS yang mempunyai mobil dari luar, bisa memarkirnya sebelum masuk ke kawasan bebas polusi.”
“Jadi tempat parkir itu penuh dengan polusi?”
“Ada penetralan udara yang terjadi di sana. Asal kau tahu saja ada sebuah mangkuk kecil yang menutup itu dan
sebuah mangkuk besar menutup SOS.” Jane mengatupkan tangannya di atas telapak tangan kirinya.
“Aku tidak melihatnya.”
“Tentu. Aku saja tidak melihatnya. Salah satu tugas ayahmu membuat mangkuk itu bekerja sempurna—karena kalau tidak…”
“Keberadaan tempat ini akan diketahui orang lain.”
“Ah kita sampai,” seru Jane dan segera masuk dari pintu kecil yang baru saja dibuka Tom.
Alyx memperhatikan sebentar gerbang rumah Tom dan masuk melalui pintu yang terbuka. Tadi dia melihat puncak
menara yang berada di pusat masih cukup jauh dari rumah yang disinggahinya.
“Karena kita mengobrol sambil berjalan, jadi tidak terasa sam… ahh,” Jane lagi-lagi berseru kencang. “Mobilku," serunya, berlari menghampiri mobilnya yang terpakir di depan bagasi.
Alyx melihat Jane. Melihat mobil Jane. Mobil yang tak lebih tinggi dari Jane itu berwarna hijau muda. Sepertinya
hanya muat untuk dua orang. Alyx mendekat, “ini mobilmu?”
“Kenapa? Tidak akan kau temukan di luar sana.”
“Hanya saja aku pernah melihat sebuah rancangan mobil seperti ini,” Alyx melihat body mobil Jane dari depan ke belakang. “Kau jarang menggunakannya, yah?” tanyanya saat melihat mobil itu terlalu mulus.
“Iya, jarak rumah dari kampus juga tidak terlalu jauh—aku lebih sering berjalan kaki dan mengenai kenapa mobil ini
ada di sini … aku saja tak tahu.” Jane berbalik melihat Tom. Menaikkan sebelah alisnya.
Tom menjawab sambil membuka pintu rumah.
“Tom,” Jane setengah berteriak.
“Maaf. Maaf," Tom mencibir, meminta mereka masuk. "Saat menemui ayahmu, kulihat mobil itu di sana. Dan aku meminjamnya dari ayahmu. Tenang saja, aku menggunakannya dengan baik. Kau bisa membawanya pulang nanti.”
“Lalu… apa sekarang?” tanya Alyx melihat ke dua temannya itu nampak begitu leganya berada di Negara sendiri.
Jane dan Tom saling lihat.
“Karena tidak ada alat untuk tes di sini, jadi aku akan membawamu ke lab.. Tapi, aku dan Jane harus menemui
paman John terlebih dahulu.”
“Baiklah. Dan aku akan menunggu di sini, seperti itu?”
Tom mengangguk. “Ayah dan ibuku akan segera pulang,” katanya setelah melihat jam berbentuk persegi di dinding.
“Kalau kau bosan, kau bisa membaca buku di sana.” Tom menunjuk ruangan di sebelah ruangan dimana mereka sedang berdiri. “Mungkin ada makanan yang bisa kau temukan di dapur.”
Setelah melihat anggukan pasrah Alyx, Tom dan Jane meninggalkan Alyx sendiri. Dia mendekat dan membuka sedikit gorden untuk melihat mereka pergi. Alyx memperhatikan nomor plat mobil Jane—nama Jane dan tiga angka tertera di sana—tentunya itu alasan utama kenapa dia tidak menggunakan mobil itu di luar SOS.
Gerbang terbuka, tapi mobil Jane berhenti di pertengahan. Pintu mobilnya terbuka, Jane keluar dan berlari kecil
kembali ke rumah.
“Ada apa?” tanya Alyx saat melihat Jane masuk.
Jane tersenyum. Di tangannya terdapat wadah bening berbentuk lingkaran. “Aku membuat ini beberapa minggu
yang lalu.”
Alyx tadinya berpikir itu wadah kosong, tapi segera ia mengerti apa yang ada di dalam sana.
“Ini chip eksternal pengaktifan—tapi, sifatnya hanya sementara. Aku ingin sekali tahu apa ini berfungsi atau tidak. Kalau tidak berarti aku telah gagal membuatnya. Jadi…”
“Dimana aku harus memasangnya?” tanya Alyx yang tahu kalau Jane ingin menjadikannya sasaran percobaan.
Jane meraih tangan Alyx setelah membuka penutup wadah itu. “Di sini saja,” katanya dan menyentuh pergelangan
tangan Alyx. Beberapa jenak kemudian, “Apa kau merasakan sesuatu?”
Alyx diam. “Kurasa tidak.”
Jane menghela nafas. “Aku tidak membawa penjepit. Akan kubuka nanti,” katanya sedikit kecewa. “Padahal kukira
akan berhasil,” gumam Jane sambil keluar rumah.
Gerbang kembali tertutup saat mobil telah keluar.
Alyx berbalik setelah menarik gorden—menutupi semua jendela. Dia berkeliling ruang tamu Tom, melihat setiap
detail. Dan berhenti di depan sebuah foto di atas meja.
Seorang anak laki-laki diapit seorang pria dan wanita. Sepertinya dia Tom dan dua orang dewasa itu adalah orangtuanya—tapi yang dipikirkan Alyx adalah ke dua orang itu adalah kakek dan nenek Tom. Alyx beralih ke foto yang lain—Tom mengenakan toga, pasti saat acara kelulusannya.
“Wajah mereka tidak mirip,” kata Alyx memperhatikan wajah Tom dan orangtuanya secara bergantian. “Dia malah mirip seseorang yang kukenal. Siapa yah?” Alyx bertanya pada dirinya sendiri, “artis Hollywood.” Alyx tersenyum.
Alyx kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Tangannya memelintir
benang dari taplak meja di depannya. Kakinya di hentakkan di atas lengan sofa. Dia berhenti dan menghela nafas.
“Coba saja ada buku…” Alyx berhenti dan melihat pintu menuju ruangan sebelah. Tom mengatakan untuk membaca di sana. Alyx segera bangun dan berlari kecil.
Pintu tidak terkunci. Alyx masuk dan menutupnya kembali. Kunci tergantung di dalam.
“Keren.” Alyx terpukau dengan ruangan atau bisa dikatakan sebuah perpustakaan. Tiga sisinya terisi penuh oleh
buku. Tinggi rak itu lebih dari tiga meter. Ada sebuah tangga, untuk mengambil buku yang terletak di atas. Sedikit di tengah, ada sebuah meja dengan banyak tumpukan buku di atas dan di sampingnya.
Tak perlu menunggu lama, Alyx mulai mengitari perpustakaan. Membaca satu demi satu judul buku yang tersusun
rapi. Mencari judul yang mungkin akan menarik minatnya.
Dia berhenti saat melihat buku bertema medis. Orang yang memiliki perpustakaan ini pastinya orang yang
cukup rapi. Ada kertas yang ditempelkan pada rak—menunjukkan tema buku yang terletak di sana.
Alyx tersenyum. Dulu setiap hari dia membaca buku-buku tebal mengenai semua catatan medis. Buku pengobatan modern dan tradisional. Dan tentunya mengenai syaraf-syaraf dan otak manusia. Sebagai seorang ahli bedah syaraf, dia berpikir untuk mengetahui semuanya agar tidak menimbulkan kesalahan saat mendiagnosa atau mengoperasi seseorang. Sayang sekali dia harus meninggalkan pekerjaannya.
Dia mengambil salah satu buku dan duduk bersandar pada rak. Senang sekali rasanya membaca buku penting seperti ini. Buku adalah sesuatu yang sangat istimewa baginya.
Lembar demi lembar telah dibaca Alyx. Sekali-kali dia berhenti, menutup mata, dan membayangkan dirinya sedang
melakukan operasi. Dan kemudian tersenyum.
Ditutupnya buku yang dibacanya. Mengembalikan buku kembali ke tempatnya. Dan mundur dua langkah—supaya bisa melihat tema-tema buku apa saja yang ada di sana. Perhatiannya tertuju pada buku-buku yang berada di rak teratas.
Alyx mendorong tangga menuju bagian buku yang ingin diambilnya. Menaiki anak tangga. Mengambil salah satu
buku—lebih seperti sebuah catatan. Membolak-baliknya—melihat sampulnya—dan membawanya turun.
“*H*older of SOS.”
*