
“SUDAH sejak lama Azazil mencari jiwa-jiwa yang kuat untuk digunakan demi kepentingannya, menanamkan semua chip yang mempunyai kekuatan dahsyat dalam dirinya. Sedang baginya jiwa lemah dan chip biasa hanya untuk membuatnya tetap bertahan hidup. Tapi, karena peristiwa yang menghilangkan kekuatannya, dia harus berusaha untuk menghidupkan dirinya dengan menggunakan orang lain. Salah satu tujuannya setelah dia kembali adalah menguasai SOS yang membuat kekuatannya terkumpul dan membuat dirinya lebih kuat.
“Dan sepertinya dia mengira kalau pemimpin Adalbrechta masih memiliki chip hati yang hanya berkembang di sesama keluarga Russel itu. Dia akan mencoba mengambil chip hati dengan menekan jiwa pemimpin agar dia bisa dengan mudah mengambilnya. Caranya dengan mengumpulkn orang-orang yang pemimpin sayangi dan membuat mereka menderita di hadapannya. Mencoba mencuri setiap jiwa yang kuat dan membuatnya lemah.
“Beberapa hari yang lalu pemimpin Adalbrechta dan William menghilang. Dan tadi, Nick juga menghilang. Entah kenapa dia bisa membawa Nick. Padahal kupikir dia hanya mengumpulkan orang-orang yang pemimpin sayangi. Aku harus membawamu pergi tadi, hanya agar dia tidak melihatmu.”
“Aku harus pergi sekarang,” kata Alyx setelah mendengar cerita Hiro.
“Tidak. Kau tidak boleh pergi, pemimpin Adalbrechta telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu. Kau baru saja masuk ke SOS dan tidak perlu untuk berkorban banyak.”
Alyx tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya diam dan menatap wajah Hiro. Memintanya mengerti kalau dia sangat
menginginkan untuk menyelamatkan orang-orang yang dia sayangi.
Hiro menggeram, dia tidak bisa melihat wajah sedih Alyx. “Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu?”
“Aku juga tidak bisa membiarkan keluargaku dalam masalah. Hiro… kumohon.”
“Apa yang bisa dilakukan oleh wanita sepertimu,” Hiro menggumam.
“Aku kuat, Hiro. Dan… ada kau, kuharap kau mau membantuku. Ini permintaan terakhirku.”
“Tidak.”
Alyx mengengadah, melihat wajah Hiro yang memerah. “Kalau kau tidak mau, aku akan pergi sendiri.”
“Tidak, jangan katakan ini permintaan terakhirmu,” kata Hiro lemah.
Wajah Alyx berseri.
*
“Oh Tuhan, apa yang kalian lakukan di sini,” seru Prof. Singh saat melihat kedatangan Hirp dan Alyx. Dia buru-buru menutup dan mengaktifkan pelindung kediamannya.
“Alyx…” Jane setengah berteriak saat mendapati Alyx di ruang tamu.
“Jane…”
Jane menghambur di pelukan Alyx, “kau baik-baik saja? Ayah memintaku untuk berlindung di tempat ini. Kau
seharusnya tidak di sini, Alyx. Dia membenci dunia di luar SOS dan dia tidak akan menemukanmu di sana.”
Alyx menggeleng.
“Iya. Ya, aku tahu, kau akan melakukan ini,” nada suara Singh menjadi khawatir. “Bagaimana ini? Ace, apa
yang kau lakukan?” dia mengatakannya dengan nada marah pada Hiro.
“Aku yang memintanya,” Alyx menggenggam tangan Ace. “Maafkan aku, Singh, tapi aku tidak ingin sesuatu
terjadi pada keluargaku.”
Jane melihat tangan Alyx dan Hiro. “Well, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan ini, tapi apa yang terjadi
pada kalian?” tanya Jane penasaran.
Alyx segera melepas genggamannya.
Singh mencibir. “Dasar anak muda.” Singh bergerak ke samping jendela, membuka gorden, dan melihat keluar.
Langit SOS mulai berwarna jingga, suasana di sana tidak sedamai saat pertama kali Alyx menginjakkan kaki di
tempat itu. Semua nampak sepi dan mengerikan. Tidak ada yang berkeliaran di jalan.
“Kemana orang-orang?” tanya Alyx penasaran, memikirkan saat perjalanan mereka ke rumah Singh, dia tidak
menjumpai seorang pun.
“Sejak tadi pagi, penduduk SOS telah berkumpul di lapangan. Dia akan memanfaatkan keadaan ini. Apa rencana kalian?” tanya Singh pada Hiro dan Alyx.
“Jika malam ini tidak ada penetapan pemimpin, maka SOS akan dikuasai selamanya oleh dia, karena Pemimpin sekarang berada di tangannya,” Hiro menjelaskan, “jadi setelah matahari terbit kita harus membuat Alyx lebih dulu mengumumkan dirinya sebagai pemimpin yang baru.”
“Itu terlalu beresiko bagi Alyx, Ace. Lagi pula, kita tidak tahu dimana dia berada sekarang. Dia bisa muncul di mana saja—hanya mencuri jiwa yang lemah sebagai santapan siangnya sebelum menghilangkan pemiliik jiwa terkuat SOS.”
Jane bergidik mendengar itu.
“Jika dia sampai menemukanmu,” kata Singh pada Alyx, “dia akan membuatmu sakit.”
Alyx mengerutkan keningnya—tidak mengerti.
“Akan lebih sakit dari sakit yang pernah kau rasakan. Kau tidak pernah merasakan bagaimana melihat orang yang kau sayangi menderita. Dia akan membuatmu menyerahkan kekuatanmu, dan tak akan menghancurkanmu sebelum kau melihat orang-orang yang kau sayangi hancur.”
Alyx melihat Jane.
Jane balik menatap Alyx dan menaikkan ke dua alisnya bertanya.
“Dia tidak akan bisa masuk ke tempat ini, kan?”
“Tentu. Yang berjiwa jahat tak akan bisa masuk ke tempat ini.”
“Kalau begitu aku hanya perlu menyelamatkan tiga jiwa.”
“Apa maksudmu?”
“Hiro, bisa kau meminta bantuan Professor Singh untuk mencari keberadaan pengikut Azazil yang kalian maksud?”
Hiro mengangguk.
Singh memutuskan untuk membantu dan mengajak Hiro masuk ke laboratoriumnya. “Entah bisa menemukan sensornya atau tidak, coba saja kita tahu tubuh siapa yang digunakannya,” Singh mengoceh.
“Aku bisa mengusulkan beberapa nama,” kata Hiro yang berjalan di belakang Singh.
Alyx melihati Hiro dan Singh yang menghilang dari balik pintu. “Aku akan menenangkan diri sebentar, aku bisa
stress kalau mendengar ocehan Professor Singh.”
“Aku akan ikut,” kata Jane kemudian sambil menunduk.
“Ikut kemana?”
“Kemana pun kau pergi.”
“Tidak.”
“Aku harus ikut.”
“Kalau begitu kau saja yang pergi, aku akan tetap di sini.”
“Alyx…”
“Apa? Aku saja merasa deg-degan dan kau malah ingin membuatku tambah tertekan.”
“Tapi…”
“Jane, kau tahu, aku sudah menyayangimu seperti adikku sendiri. Dan akan membahayakan dirimu. Akan lebih aman jika kau berada di sini.”
“Aku ingin sekali membantumu.”
“Bagaimana kalau kau menghubungi yang lainnya. Minta mereka ke tempat ini. Tak banyak yang kukenali di SOS,
hanya ayahmu dan keluarga Wilder. Dan juga Tom—dia pasti sangat keras kepala, bujuk dia untuk datang. Kurasa dia akan lebih mendengarmu, dari pada aku.”
“Kau kakaknya, dia akan lebih mendengarmu dari pada aku,” Jane mencibir.
“Tapi, dia lebih dulu menyangimu.”
Jane menyenggol lengan Alyx. “Jangan menggodaku di saat sekarang ini.”
Alyx tersenyum dan beberapa jenak kemudian kembali serius. “Kenapa tidak ada yang meminta penghuni SOS untuk di rumah saja?”
“Para petinggi telah mengumumkan mengenai itu, agar tidak datang berkumpul di lapangan. Tapi, semalam, ada
pengumuman lain dari Carney yang meminta mereka berkumpul karena hari Penentuan dipercepat. Dan ayah berpikir kalau mereka tidak mungkin mengubah hal yang sudah disepakati, dan itu berarti Carney sedang di bawah kendali saat itu. Selain itu, Max yang sudah beberapa hari tidak terlihat, muncul. Dia sedang duduk di belakang Carney. Ada yang aneh dengan pria itu. Well, aku tidak tahu, hanya saja raut wajahnya sangat mengerikan, entah dimana aku pernah melihat wajah seperti itu.”
Alyx mengangguk kecil.
“Aku akan menghubungi Tom,” kata Jane saat mendengar langkah kaki mendekat. “Tapi, Alyx, aku tidak yakin dia
akan menurut. Pasti dia akan memutuskan untuk menemanimu.”
“Katakan padanya kalau aku sangat menyayanginya, apa pun yang terjadi. Meski dia tidak membantuku di luar sana karena akan sangat membantu kalau dia hanya duduk di sini.”
Jane tersenyum.
Hiro dan Prof. Singh keluar.
“Hati-hati, Alyx,” kata Jane sebelum meninggalkan ruang tamu.
“Kita akan ke bangunan pusat, mereka sama sekali belum menyentuh bangunan utama. Dan selatan menjadi tempat mereka berkumpul.”
“Mereka?”
“Dia melakukan yang terbaik untuk memiliki satu orang sepertimu. Jiwa kuat yang mudah terpengaruhi. Orang-orang yang bisa melakukan banyak kebaikan, tapi sangat mudah terpengaruh dalam impian yang tidak nyata.” Hiro menghela nafas.
“Ada apa, Hiro?”
“Aku kenal beberapa dari mereka,” Singh yang menjawab. “Aku hanya akan membantu sampai di sini saja, jangan
memanggilku saat kau sedang kesusahan.”
“Tenang saja, professor Singh. Baiklah, aku akan meminjam mobil super cepatmu.”
Hiro dan Alyx masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. Modifikasi mobil yang sempurna, pikir Hiro.
“Aku tidak sanggup melihat mereka pergi,” kata Jane saat Singh masuk.
“Kau membuatku terkejut, apa yang kau lakukan dengan telepon rumahku?” tanya Singh terkejut melihat Jane menarik gagang telepon dengan sangat jauh, membuat kabelnya lurus.
“Tadinya kupikir telepon jadul ini tidak akan berfungsi, tapi aku baru saja menggunakannya untuk menghubungi ayahku,” kata Jane dan kemudian melanjutkan menekan tombol di gagang telepon.
Alyx sedang menatap keluar kaca mobil. Hiro sesekali menoleh melihatnya. Dia nampak memikirkan sesuatu. memikirkan sebuah rencana besar. Rencana yang tak akan membuat yang lain mendapat kerugian. Rencana yang hanya dirinya yang akan tahu.
“Tom…” suara Jane terdengar gembira sekaligus merasa khawatir. Akhirnya, Tom menjawab telepon darinya. “Kau
dimana?”
“Aku akan segera kembali,” suara Tom terdengar parau.
“Apa yang kau lakukan? Alyx mengatakan kau harus di sini.”
“Aku…”
“Alyx akan merasa sedih kalau kau tak di sini. Kumohon, dia bilang…”
“Sudahlah, Jane, aku harus pergi sekarang.”
“Tapi…”
“Aku janji akan kembali.”
“Kata Alyx… kau tidak perlu membantunya,” suara Jane terdengar lemah.
“Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengarmu.”
Telepon berakhir.
Jane memandangi gagang telepon yang sudah tidak berwarna seperti awalnya. Dia meletakkannya dan berbalik.
Mendapati professor Singh yang sejak tadi sudah berdiri di belakangnya.
*
Sepuluh menit sebelum pukul enam sore. Mereka masuk melalui laboratorium menuju ke Bangunan utama, karena di depan bangunan utama sudah dipenuhi warga SOS.
“Alyx…” kata Hiro saat mereka berada di ruang tengah, “ini pemancar tureen.”
Alyx memperhatikan.
“Saat semuanya di luar kendali, yang harus kau lakukan hanyalah mematikan alat ini.”
“Lalu apa yang akan terjadi?”
“SOS akan terlihat di dunia dan beberapa resiko yang lainnya.”
Alyx diam.
“Hanya cara itu, yang bisa membuat Azazil tidak berdaya. Kekuatannya akan segera melamah saat berada di luar SOS.”
“Aku tahu,” kata Alyx nampak tidak berminat.
“Alyx, jangan katakan kau punya rencana lain.”
“Tidak. Tidak.” Alyx mengelak. “Aku mengerti.”
“Baiklah. Ayo.” Hiro menarik tangan Alyx dan berlari kecil ke ruangan pemimpin.
Sesampai disana, pintu segera terbuka, Hiro berbalik dan mendapati wajah serius Alyx.
“Kau melakukannya?”
“Tidak mudah,” jawab Alyx. “Kurasa Prof. Singh berhasil mengajarku.”
“Tidak. Kau yang berhasil mengatur kekuatanmu. Pada awalnya memang tidak mudah. Aku pernah merasakannya.”
Alyx tersenyum dan segera mengitari meja kerja ibunya. Namun kemudian perhatiannya teralih pada benda yang tergeletak di atas meja. Dia tersenyum sedih. Dan mengenakannya di pergelangan tangannya. Mungkin karena
gelang yang sudah dikenakannya bertahun-tahun itu yang telah membuat Nick berada dalam bahaya.
Alyx bergerak menuju peta yang tertempel di dinding ruangan. Dia memperhatikan sensor dan titik berwarna merah
yang tepat berada di ruang utama.—itu sensor miliknya. Dan perhatiannya tertuju pada tiga titik merah lainnya.
Sedang Hiro sedang memandang ke luar jendela. Dia bisa melihat semua warga SOS memandang ke LCD besar. Sebuah kursi hitam dengan kayu kokoh telah nampak di sana. Tak ada orang yang terlihat. Sepi dan menyeramkan.
Beberapa saat kemudian, fokus kamera diturunkan. Tepat di depan dinding bata, duduk seorang wanita.
“Alyx…” panggil Hiro dan membuat Alyx mendekat.
“Ibu…”
*
Abel Adalbrechta Russel duduk di sebuah kursi kecil di belakang kursi berwarna hitam yang besar. Dia menunduk
lemah. Cahaya berwarna biru mengikat ke dua pergelangan tangannya. Rambutnya tak lagi tersanggul rapi. Seperti jas yang membalut tubuhya yang biasanya terlihat anggun. Dia sama sekali tak seperti pemimpin yang selalu terlihat di depan para warga SOS.
Matanya sedikit terbuka saat cahaya yang tiba-tiba menerangi ruangan yang sedari tadi gelap, sumpek, dan
pengap. Dia menggerakkan kepalanya. Menengadah ke depan. Dan melihat seorang yang menatapnya penuh kebencian. Dia mengalihkan wajahnya dan mendapati beberapa orang yang dikenalinya berada di ruangan mengerikan itu.
*
Warga SOS berteriak ngeri mendapati pemimpin mereka berada dalam situsi mencekam, Mereka langsung riuh,
saling menatap sama lain bertanya apa yang sedang terjadi. Menerka-nerka dimana pemimpin sekarang. Dan siapa yang melakukan itu. Namun yang diketahui pasti hanyalah bahwa mereka sedang berada dalam masalah.
Mereka memutuskan untuk segera pergi dari lapangan, kembali ke rumah mereka masing-masing, dan segera mencari petunjuk apa yang harus dilakukan. Mereka mengerti situasi seperti ini akan terjadi. Situasi dimana pemimpin akan berada di bawah tekanan pihak lain. Sudah banyak cerita di masa lalu mengenai itu.
Tapi, beberapa jenak berikutnya, mereka berhenti bergerak. Berbalik menatap layar besar dan terkejut siapa yang menyuruh mereka tetap berada di tempat mereka.
Seorang laki-laki dengan jubah panjang berdiri membelakang kamera. Dia berbalik dan duduk di kursi besar.
“Yah seperti itu,” dia mengulang perkataannya, “jangan ada yang bergerak sampai aku mengatakan kalian bisa
melangkah.”
Mata warga SOS membelalak menyaksikan betapa mengerikannya ekspresi yang ditampilkan oleh salah satu
kelurga Russel, Max.
“Kau akan menyesal saat berusaha meninggalkan lingkaran ini. iya kalian sedang berada di lingkaran Azazil.”
Warga SOS terkejut saat cahaya biru melingkar dari atas permukaan tanah sampai ke atas. Semua lampu di SOS padam. Gelap. Mengerikan.
“Tetaplah tenang,” kata seorang bertopi bundar di antara mereka. John Walcott mencoba menenagkan orang lain dan juga dirinya. Dia memperhatikan setiap kata yang dikatakan pria di layar.
“Jangan menyentuh itu, kalau kau tidak ingin mati dengan sia-sia. Kalian tentu sudah mengerti apa yang terjadi.
Pemimpin kalian Abel Adalbrechta akan menyampaikan pengumuman penting yang harus kalian dengarkan dengan baik-baik.”
Ed mendorong kursi kecil sejajar dengan Max.
“Ayo katakan,” kata Max dan tersenyum jahat.
Tiba-tiba, kepala Abel tersentak. Dia nampak kesakitan. Namun, sepatakata pun, tidak diucapkannya.
“Baiklah, kalau itu maumu…” telunjuk Max diacungkannya dan melihat ke sebelah kanan ruangan. Sedetik kemudian suara jeritan pria terdengar. Alyx tahu betul siapa suara itu.
“Hentikan, bodoh,” suara Abel membuat Max tersenyum penuh kemenangan. “Jangan sakiti anak itu.”
“Silahkan.”
“Jabatan kepemimpinan SOS…”
“Bagus sekali. Lanjutkan.”
“Saya Abel Adal…”
Gambar terganti. Wajah Carney yang tirus muncul di layar. “Pengumuman resmi mengenai Kepemimpinan SOS…”
Wajah Max mulai memerah dengan kejadian ini. Dia berteriak tidak jelas.
“Seperti yang telah diumumkan sebelumnya tentang pergantian pimpinan yang telah diutarakan oleh Pemimpin Abel Adalbrechta dan sesuai dengan persetujuan para Petinggi SOS, maka pengalihan pimpinan akan diumumkan di hari penentuan ini. Pemimpin SOS ke 60, Alexandra Russel resmi memimpin SOS.”
Alyx duduk di belakang meja kerja yang sekarang menjadi mejanya. “Saya akan berusaha melindungi kalian…”
Layar tak menampilkan gambar.
Sementara itu.
“Kau tidak akan bisa memimpin SOS, bodoh,” teriak Abel dan membuat Max di sampingnya berteriak kesakitan.
Max berdiri dari kursinya. Terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri.
Abel berdiri. Melepaskan cahaya pengikat tangannya yang bisa sejak tadi dilepaskannya. Dia mendekat ke samping keponakannya dan merasa ada yang tidak beres.
*