
JAM menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat, saat Alyx membuka mata. Dia tidak mendapati Jane di sampingnya. Dia bangun dari tidurnya dan melangkah pelan ke samping jendela. Membuka gorden dan melihat rumah-rumah di sekitarnya. Sepi.
Tadinya, dia bermaksud untuk segera keluar, tapi berhenti dan duduk di depan meja. Dia baru saja akan menyalahkan computer di hadapannya, saat Jane membuka pintu.
“Jangan,” teriak Jane dan kemudian tertawa saat melihat ekspresi terkejut Alyx. “Aku bercanda. Silahkan lanjutkan
yang ingin kau lakukan tadi,” katanya dan melemparkan dirinya di atas kasur, yang bahkan belum dirapikan.
“Apa ini tersambung ke internet?”
“Tentu.”
“Aku tidak membawa teleponku, mungkin aku bisa melihat beberapa berita dari temanku.”
“Silahkan,” respon Jane singkat.
Dan benar saja, ada beberapa berita yang masuk ke email Alyx. Dia hanya tertarik membuka pesan dari Indah. Setelah membaca, dia menutup kembali, dan mematikannya. “Berapa jam perjalanan ke London?”
“Sekitar dua-tiga jam. Kalau naik kereta, mungkin bisa sampai lebih cepat. Ada apa?”
“Aku harus kembali. Kenapa Tom tidak membawa barang-barang penting yang lainnya. Kata Indah, hp dan kameraku saja masih di sana.”
“Oh. Kalau begitu aku akan menemanimu.”
Mereka bersiap-siap. Alyx kemudian mengobrak-abrik kotak karton yang sepertinya telah dikeluarkan dari bagasi oleh Tom. “Mana Tom?”
“Setelah mondar-mandir tidak jelas, dia langsung pergi.”
Alyx tidak menanyakan lebih lanjut. Setelah menemukan sebuah topi di dalam karton, dia mengambil tas punggung berwarna merahnya. “Ayo.”
Jane memberhentikan taksi yang lewat di depan mereka. “Stasiun,” katanya pada supir taksi saat sudah duduk di
dalam.
Alyx memperhatikan sebentar, bagian dalam taksi yang tidak seperti biasanya. Di luar tadi, taksi ini seperti pada umunya, tapi saat berada di dalam, mereka sedang berada dalam sebuah mobil mewah.
“Taksi SOS,” kata Jane menjawab rasa penasaran Alyx. “Dan kita baru saja meninggalkan perumahan SOS. Bagi para pekerja, mereka berhak memiliki rumah pribadi di luar Negara SOS.”
Lima belas menit kemudian, Alyx dan Jane sudah di sebuah stasiun kereta. Setelah mengambil karcis, mereka
segera berlari kecil saat melihat kereta telah berhenti.
“Apa SOS juga punya kereta mewah?” tanya Alyx tersenyum, setengah menggoda.
“Tentu,” Jane mengatakan itu dengan bangga.
Kereta berhenti. Alyx dan Jane keluar.
“Alyx, kita berpisah di sini, aku harus masuk ke kelas sekarang.”
“Baiklah.”
“Ayah akan segera memberitahukan langkah selanjutnya,” kata Jane sebelum pergi.
Alyx melihat Jane yang pergi lebih dulu. Dan semenit kemudian, dia melangkah, berjalan bersama orang-orang yang juga baru saja keluar.
*
Saat tiba di apartemen, Alyx melihat seorang wanita yang tidak dikenalinya berjaga sebagai resepsionis. Tentunya wanita ini yang menggantikan Tom, sekarang. Dia tak menghabiskan waktu dan segera ke lantai apartemennya.
“Alyx,” seru Indah setelah melihat siapa tamu yang datang. “Masuklah.”
Alyx mengikuti tuan rumah. “Kau sendiri?”
“Suamiku baru saja berangkat kerja. Dan aku baru akan membersihkan sarapannya. Tapi sekarang aku akan
menyiapkan sarapan untukmu, kau pasti belum makan kan? Duduklah.”
Alyx tidak menerima dan tidak menolak. Jadi Indah segera menyiapkan makanan untuknya.
“Aku mendapati barang-barangmu di dalam karton di depan pintu apartemenmu,” kata Indah di tengah sarapan Alyx. “Setelah kutekan belmu—tidak ada yang menjawab. Jadi aku coba menghubungi nomormu, tapi aku malah mendengar suara dari karton itu. Saat kubuka, isinya beberapa kamera dan handphonemu. Dan kupikir lebih baik membawanya masuk. Aku kemudian mengirimu pesan email.”
“Aku membaca pesan dan ke sini.”
“Kukira kau takkan kembali, tapi tadi kulihat Tom masuk ke apartemenmu. Aku bertanya sebelum dia masuk, apa yang dilakukannya. Katanya dia sedang memperbaiki kamarmu.”
“Tom?”
“Kupikir pintu itu memang harus diperbaiki, kalau tidak pencuri bisa saja masuk dengan mudah,” kata Indah yang
telah mengambil kesimpulan sendiri.
“Kapan dia datang?”
“Sepertinya pagi-pagi sekali. Padahal kukira dia sudah berhenti—sudah dua hari ini aku tidak melihatnya—dan
seorang wanita sudah menggantikan posisinya. Atau dia beralih menjadi tukang reparasi?”
Alyx hanya tersenyum dan segera menghabiskan makanannya. “Aku akan ke ruanganku sekarang,” kata Alyx setelah memeluk kotak plastik berisi kameranya. “Terima kasih atas sarapannya.”
Indah tersenyum lebar.
Sebelum masuk, Alyx berdiri di depan pintu apartemennya. Dia baru saja akan mencoba membuka pintu, tapi pintu
telah terbuka lebih dulu.
“Kau datang?” Tom muncul dari balik pintu.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Alyx saat melihat Tom kembali ke aktifitasnya semula—memeriksa tembok.
Dilihatnya Alyx sebuah computer di atas meja. Dia mendekat dan meletakkan kotak plastik di samping komputer. Alyx melihat sebentar pada layar dan tak mengerti dengan angka-angka yang tertera. “Kau mengerjakan PR matematikamu di rumahku?”
Tom mencibir. Dia berdiri dan menggeser Alyx yang duduk di depan komputernya.
“Tega sekali kau membiarkan kameraku di…”
“Aku kembali dan tidak mendapatinya,” sela Tom dan tetap melihat layar computer. “Kupikir tetanggamu itu telah lebih dulu mengambilnya. Kalau aku mengetuk pintu dan memintanya memberiku barang-barangmu, dia akan banyak bertanya.”
“Oh.” Alyx kemudian menangkap lirikan Tom. Dia mendengus. “Ada apa?” tanya Alyx dan menaikturunkan alisnya.
Tom berhenti dari pekerjaannya dan melihat Alyx. “Aku baru saja mendengar sebuah berita, kurasa hanya kabar
burung, dan kalau aku pikir-pikir—ah, aku tidak habis pikir,” kata Tom dengan nada menyerah dan kembali ke computer di hadapannya. “Aku sudah memperbaiki kondisi kamarmu. Kukira tadinya telah menempatkannya di tempat yang benar. Tapi, sedikit ada kesalahan sehingga membuat mereka bisa menggunakan alat transportasi ke kamar ini.”
Alyx jadi bingung sendiri. “Apa yang kau bicarakan?” Alyx menghempaskan dirinya di sofa di depan TV.
“Alat transportasi SOS memungkinkanmu berpindah dari suatu tempat di SOS ke tempat yang lain—mungkin
orang sejenis dirimu baru bisa menciptakan alat seperti itu seribu tahun lagi, ah, lupakan—tapi aku sudah memperbaiki sensor yang kupasang dua tahun lalu, yang entah kenapa bisa berganti tempat sehingga terjadi kesalahan kordinat. Jadi mereka tidak bisa keluar masuk dengan mudah.”
“Memang kau letakkan di mana?”
“Kau tak bisa melihatnya. Terlalu kecil.”
“Jangan-jangan kau yang menghancurkannya?”
Alyx mencibir untuk pilihan kata Tom. “Kau pikir aku tahu segalanya, kau hanya perlu menunjukkan di mana kau
meletakkan barang yang kecil itu dan aku tidak akan menyentuhnya.”
“Di setiap sudut. Kalau terkena air panas akan terlepas. Satu saja yang terlepas, bisa menimbulkan masalah. Dan
kurasa kau pernah menyiramkan…”
“Aku tidak tahu kau menempelkan sesuatu di sana.” Alyx menyela. “Sekarang aku akan lebih berhati-hati dan tidak
menumpahkan kopiku di setiap sudut. Kau puas? Tapi kukira Indah mengatakan mereka masuk melalui pintu?”
“Kalau tetanggamu itu melihat mereka, dia akan segera melapor padamu, dan kau akan segera datang. Sekarang…
karena aku harus kembali ke SOS, untuk sementara kau kembali ke tempat ini. Aku akan membawa barang-barang yang lain, besok.”
Alyx jadi berfikir kalau apa yang pria ini lakukan sebelumnya tidak berguna, apalagi memasukkan barang-barangnya di kardus.
“Kupikir, kau akan tinggal di perumahan SOS, jadi…” Tom sepertinya mencoba menjawab pikirannya.
“Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu akhir-akhir ini,” kata Alyx segera, sebelum dikira tidak tahu untung.
Tom tidak menanggapi. Tidak mengatakan apa pun dan langung pergi.
Alyx mengarahkan pandangannya ke sekeliling, kemudian menutup matanya. Dia akan sendiri lagi hari ini.
*
Alyx yang jenuh dengan bulan-bulan pertamanya menjadi seorang dokter membuatnya ingin berlibur, mengikuti naluri berkeliling dunianya. Mengabadikan keindahan tempat yang didatanginya dengan kamera yang sudah di bersamanya cukup lama—dia hanya perlu mengganti lensa untuk membuatnya lebih baik. Menjadi dokter adalah cita-citanya selama ini dan membidik dengan kamera adalah hobi yang tak bisa tergantikan.
Hari itu—tiga tahun yang lalu, Alyx sedang berjalan-jalan di Parliament House, setelah memutuskan untuk berlibur
di London—kota dimana dia menimba ilmu. Setiap sudut menjadi sasaran bidikannya.
Saat berada di depan Big Ben, dia mendongak. Dia memandanginya cukup lama. Dan kemudian dia mengambil
kameranya. Membidiknya beberapa kali. Dalam berbagai sudut pandang. Membidik orang-orang yang sedang lalu lalang. Dan membidik seseorang yang sedang memandangi jam besar itu. Itu William, ayah Alyx.
Alyx mengenal ayahnya. Hampir setiap malam wajah itu selalu muncul dalam mimpinya. Walau sekarang ada janggut yang tumbuh, tapi dia tahu betul kalau itu ayahnya. Pengasuhnya pernah menunjuk pria yang sudah berada di hadapannya itu dan membisikinya, itu tuan William, dia ayahmu. Ingatannya sangat kuat dan membuat dirinya mengingat betul setiap detail wajah pria itu.
Dia masih mematung di tempatnya. Kepalanya kemudian memikirkan semua yang sering dipertanyakannya selama ini. Apa benar dia ayahku? Bagaimana kalau suster itu hanya bercanda? Kalau pria itu memang benar-benar ayahku, kenapa saat dia datang di Indonesia, dia tidak menjemput dan membawaku pergi bersamanya? Atau hanya sekedar menyapaku? Tapi, suster bilang ini rahasia dan dia benar-benar ayahku.
Akhirnya Alyx memutuskan untuk menemui pria yang hanya berada sepuluh meter darinya. Dia berjalan, menembus banyaknya orang-orang yang juga sedang liburan di hari minggu itu, dan se-meter lagi, dia akan meraih bahu ayahnya, tapi…
“Apakah ada dokter? Istriku pingsan. Ya Tuhan, ada apa dengannya.”
Seorang wanita jatuh pingsan tepat di hadapan Alyx. Seorang pria memeluk wanita itu sambil tetap berteriak meminta pertolongan.
Alyx menunduk—melihat wanita itu sebentar—dan berpaling. Padangannya memeriksa. Mencari ayahnya. Hanya saja dia tidak melihatnya. Lututnya menjadi lemas. Dia berlutut di samping wanita yang pingsan. Coba saja dia lebih cepat berjalan. “Aku dokter,” katanya kemudian dan mengeluarkan peralatannya dari dalam tas merahnya.
*
Alyx membuka mata. Dia terkejut saat wajah Jane berada di depannya.
“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau ada…” Alyx berhenti saat melihat jam. Dua jam telah berlalu. Dia
berdiri. Meregangkan otot-ototnya. “Aku bahkan tidak lelah, tapi mudah sekali tertidur.”
“Mungkin pengaruh obat tidur.”
“Kau benar. Kau menggunakan apa ke tempatku?” tanya Alyx setelah keluar dari dapur mengambil minuman.
“Taksi.”
“Kukira dengan alat transportasi yang dibicarakan Tom, tadi.”
Jane memajukan bibir bawahnya. “Tidak. Kami hanya bisa menggunakannya sampai di tempat yang telah ditentukan.”
“Dan dimana itu?”
“Setiap satu blok dari stasiun—itu pun kalau memang harus menggunakannya atau dengan kata lain saat kami sedang berada dalam keadaan genting. Tadi Tom bersamamu?”
Alyx mengangguk. “Oh ya, Jane, seperti apa dia sekarang?”
Kening Jane terangkat, tapi membaca gerakan bibir Alyx, ia balik bertanya, “bukankah kau pernah melihatnya?”
Alyx mengangguk lagi. “Tapi, aku berpikir lagi, jangan-jangan orang yang kulihat bukan ayahku.”
“Wah, susah juga.” Jane memperhatikan wajah Alyx. “Mirip denganmu.”
Alyx mencibir.
“Hidung dan bibir kalian sama. Kau tinggi sama sepertinya.”
Alyx berdehem.
“Kenapa? Jawabanku terlalu sederhana, yah?”
“Kemiripan itu sering ditemukan. Yang kupikirkan sekarang adalah, mungkin kalian telah salah orang. Kalau memang dia ayahku, seharusnya dia sudah menemuiku sekarang…”
“Dia sedang sibuk sekarang,” sela Jane yang sedang membolak-balik majalah yang dipegangnya.
“Kalau saja dia ayahku, sudah sejak dari dulu dia membawaku ke SOS.”
“Dia pasti memiliki alasan,” jawabnya lagi tanpa perhatian.
“Kalau saja dia ayahku, dia tidak akan membiarkanku sendiri.”
“Kau tak sendiri, ada banyak orang yang selalu berada di sampingmu,” mata Jane tidak terlepas dari gambar seorang gadis di majalah.
“Kalau dia ayahku, dia akan menjagaku.”
“Ah,” Jane berseru, bersemangat. “Kudengar dia membuat chip guardian angel untukmu. Pastinya sudah tertanam di tubuhmu.”
Tak ada tanggapan dari Alyx.
“Itu… keping yang membuatmu bisa menjagamu. Aku tidak tahu bagaimana pengaruhnya. Kudengar itu bisa mengalahkan musuhmu dalam sekali sentuh,” Jane sudah bergerak tidak jelas, menendang ke segala arah. “Jadi, apa itu berfungsi?” dia melihat Alyx,
Alyx menggerakkan bahu.
“Dia membuat chip itu hanya satu. Sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana chip itu. Jadi tidak perlu diragukan lagi, ayahmu telah memasangkan chip padamu. Dia itu ayahmu.”
“Kalau dia memang benar-benar Ayahku, itu berarti dia tidak menyayangiku,” gumam Alyx.
*