SOS

SOS
Chapter 15



ALYX menutup buku catatan dari Mrs. Sydney Holder dan mengembalikan ke tempatnya semula. Pengetahuannya mengenai SOS bertambah. Ia terkejut saat air mata mengalir di pipinya. Ia membuang nafas, keras, menghilangkan sesak di dadanya.


Alyx kemudian membuka buku catatan dari arah berlawanan dan menemukan sebuah catatan kecil. Sebuah tulisan tangan Mrs. Holder.


Ada yang aneh. Aku menemukan keanehan saat kau pergi. Dia keluar dari kamarmu, tanpa seorang pun yang memperhatikan dirinya. Sedang aku, aku bahkan tidak bisa bertanya siapa dia. Aku mematung melihatnya.


Alyx telah membaca kalimat itu beberapa kali saat telinganya menangkap banyak suara dari luar. Dia bergerak ke


depan jendela perpustakaan. Menarik gorden, sehingga bisa melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.


Pandangganya tertuju pada seorang wanita di depan pintu yang bentuknya setengah melingkar—cembung. Tapi, menurut Alyx tidak mungkin wanita itu yang mengeluarkan banyak suara pria. Dia menunggu sebentar. Dan kemudian pintu di samping gerbang terbuka. Beberapa—ada lima pria dengan pakaian seragam masuk.


Wanita bertubuh pendek itu jelas adalah Mrs. Wilder—ibu Tom. Dia berbalik menatap ke lima pria dengan seragam


berwarna merah-biru dengan dasi sepanjang badan mereka. Mrs. Wilder terheran-heran dengan kedatangan pria-pria itu.


“Ada apa?” tanyannya. Tangan kanannya memegang kunci rumah, sedang tas tergantung di lengan kirinya.


“Kami mendengar seorang penyusup telah berada di rumah Anda, Madam.”


“Apa?” Mrs. Wilder nampak terkejut dan beberapa jenak kemudian menjadi lebih tenang. Sepertinya, Tom sudah


mengabarkan mengenai kedatangan Alyx di rumah mereka. “Kalian ada-ada saja. Memang ada seseorang di rumahku, tapi bisa kutekankan kalau dia bukanlah penyusup, dia kawan anakku, Alden.”


“Alden?” kening Alyx mengkerut.


Kalau begitu biarlah kami melihatnya,” kata salah satu dari mereka yang berdiri paling depan. Wajahnya sangat tidak bersahabat. “Sebenarnya Max Adney Russell telah meminta kami kami untuk membawanya. Sepertinya Sir Adney banyak mendengar hal yang tidak menyenangkan mengenai kawan anak Madam.”


“Tunggu saja, saat anakku Alden kembali. Dia sendiri yang akan membawanya kalau diperlukan.”


Tapi, pria itu tidak ingin ditolak. Tangannya menyingkirkan Mrs. Wilder yang berdiri menghalangi mereka masuk. Mrs. Wilder bersikeras tidak mengizinkan mereka dan akhirnya dia terjatuh karena dorongan pria kuat itu.


Alyx tidak bisa tinggal diam. Dia segera keluar. Membuat orang-orang di depan itu mengalihkan perhatian mereka padanya. “Kalian sangat tidak sopan,” katanya dan membantu Mrs. Wilder berdiri.


Mrs. Wilder yang dibantu malah mendorong Alyx kembali masuk. Tapi, para pria itu menarik Alyx keluar. Mereka memaksa membawa Alyx. Dua diantara kelima pria itu menarik tangan Alyx dengan keras—sehingga membuatnya meringis kesakitan.


Beberapa jenak kemudian, tangan Alyx terlepas dari dua pria yang kemudian melihat Alyx tidak percaya. Gadis itu pun merasa keheranan dengan kuatnya tangannya memelintir pria-pria dengan lengan berotot itu.


Sejenak para pria itu berpandangan dan kembali menarik Alyx yang lagi-lagi dengan mudah melepaskan diri. Merasa gadis di hadapannya tidak lemah, mereka mulai mengeluarkan tenaga ekstra.


Alyx mencoba untuk menghindar dari segala pukulan yang dimaksudkan padanya. Hanya beberapa kali tangannya bergerak untuk memblock serangan.


Mereka—kelima pria itu berhenti sejenak. Saling berpandangan. Memberi anggukan pada kawan-kawannya—yang merupakan sebuah kode untuk meniggalkan kediaman Mr. Wilder—karena semenit kemudian batang hidung mereka sudah tidak terlihat lagi.


Alyx berbalik dan melihat Mrs. Wilder—yang telah bergerak ke hadapannya dan menyentuh pipinya.


“Ayo kita masuk nak, ayo,” tangannya menarik tangan Alyx lembut. Mereka masuk dan duduk di sofa. “Alden mengatakan kau di sini dan aku segera kembali.”


“Alden? Siapa Alden, Mrs. Wilder?” tanya Alyx yang telah sejak tadi penasaran, karena tidak melihat foto orang lain selain mereka bertiga di foto keluarga.


Mrs. Wilder tertawa kecil. “Tom


Alden Wilder. Sudah sejak lama, para tetua di keluarga memberi julukan pada seorang bayi yang baru lahir—atau beberapa nama SOS berdasarkan chip yang terpilih. Dan nama SOS Tom adalah ‘Alden’—pelindung yang bijaksana.”


Alyx menangguk, meski tidak terlalu memahami.


“Nama ini digunakan untuk menyebut seseorang dengan sopan dan menghargainya.”


Sekali lagi Alyx menangguk.


Berikutnya tidak ada suara dari mereka berdua. Sepertinya tidak tahu harus mengangkat topik yang apa bisa dibicarakan oleh dua orang yang baru saja bertemu.


“Ehm…” kata mereka kemudian hampir bersamaan.


Alyx tersenyum dan mempersilahkan Mrs. Wilder lebih dulu.


“Aku sudah sering mendengar namamu, mereka bilang kau gadis yang cantik, dan setelah kulihat kau memang seperti yang mereka katakan. Benar-benar sangat mirip…” katanya dan tersenyum. Dia nampak sangat senang bertemu dengan Alyx.


“Anda sering bertemu dengan ayahku?”


“Suamiku berteman baik dengannya. William sering mampir ke rumah ini.” Mrs. Wilder diam sebentar. “Kau akan segera bertemu dengan ayahmu,” katanya dan menyentuh tangan Alyx.


“Aku pastinya akan sangat gugup kalau harus menemuinya—atau kurasa dia tidak mengenaliku lagi.”


Mrs. Wilder nampak sedih mendengar itu dan menggenggam tangan gadis di hadapannya. “Kau harus bisa mengerti ayahmu. Dia menyayangimu, juga SOS. Tapi, keadaan membuatnya harus membuat prioritas, kau tahu itu?”


Alyx menggeleng.


Mrs. Wilder berdehem. “Kau akan segera mengerti semuanya,” katanya dan saat itu pintu terbuka. Tom masuk.


Alyx bahkan tidak menyadari kedatangannya. Tak ada suara mobil.


“Hi, Mrs. Wilder,” sapa Tom pada ibunya.


Yang disapa malah berbalik dan berbisik pada Alyx, “Dia sedang marah.” Mrs. Wilder tersenyum.


Tom melihat Alyx. “Ayolah! Mrs. Wilder, aku pergi lagi.”


Alyx mengikuti Tom setelah berpamitan pada Mrs. Wilder. Tom membuka pintu mobil untuknya. Dia segera masuk di mobil yang diparkir di luar gerbang.


“Kau sudah bertemu dengan paman John?”


Tom mengangguk dan tetap memperhatikan jalan di hadapannya.


“Apa yang dikatakannya?”


“Dia hanya sedikit terkejut dengan rencana kami,” Tom diam sebentar dan menambahkan, “dan menatap kami dengan tatapan ‘kalian sangat bodoh’.”


“Jadi?”


“Kau akan mendengarnya sendiri.”


Alyx tak bertanya lagi dan lebih banyak memperhatikan ke luar jendela mobil.


Langit SOS semakin gelap. Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan. Membuat gedung-gedung yang dilaluinya masih terlihat dengan jelas. Rumah, toko-toko, dan lainnya—semuanya tertata dengan sangat rapi. Meski beberapa bangunan kuno masih menghias jalan yang lain, tapi justru itu yang menambah kecantikan SOS.


Alyx melihat bagaimana orang-orang di jalan yang saling bertegur sapa dan membalas senyum yang lainnya. Jalanan yang mobil lalui tidak terlalu besar, hanya muat untuk dua mobil, sedang jalan untuk para pejalan kaki lebih luas.


Beberapa pedagang kaki lima—yang baru menyiapkan dagangan malam mereka di trotoar tidak mengganggu pejalan kaki. Mereka menawarkan barang-barang jualan mereka, sambil terus menyapa dan tersenyum.


Saat melewati jalan yang penuh dengan penjual buah-buahan, Alyx tidak melepaskan pandangannya pada buah-buah yang begitu menggiurkan diterpa cahaya lampu. Tampak sangat segar dan lebih besar dari yang biasa dilihatnya.


“Paman John mengatakan, kau sudah dipastikan adalah warga SOS. Dia bahkan sudah mengatakan semuanya saat kau bersama Jane, tapi tidak satu pun dari kalian yang menangkap pernyataannya.”


Suara Tom mengalihkan perhatian Alyx. Dia memandang Tom.


“Karena itu dia mengatakan kalau aku terburu-buru membawamu ke tempat ini,” kata Tom dan melepaskan pegangannya pada stir.


Alyx sempat terkejut, tapi segera


Tom meremas rambutnya dan berbalik melihat Alyx. “Aku benar-benar bingung,” katanya dan menghela nafas.


“Kalau begitu kita hanya perlu kembali.”


“Tidak sempat lagi. Dia telah mengutus seseorang untuk mencarimu. Apa tadi seseorang datang ke rumah?”


Alyx mengangguk. “Lima orang.”


“Mereka tidak membawamu?”


“Tidak. Mereka pergi dengan kemauan sendiri--kurasa.”


“Bagaimana mungkin? Kau melawannya? Argh,” Tom menggeram setelah melihat anggukan Alyx. “Jangan-jangan chip yang diberi Jane mengaktifkan chip guardian angel yang tertanam di tubuhmu”


“Mungkin saja, kalau itu memang ada.”


Sekali lagi terdengar geraman Tom dan berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang berbeda dari bangunan yang ada di sekitarnya.


Alyx melihat ke samping kanan, di


depan tempat mereka berhenti. Saat melihat sebuah papan yang tergantung di depan


bangunan, Alyx tahu kalau ini adalah sebuah toko. Toko itu sepertinya lebih dulu berdiri dari bangunan lain yang ada di jalan Yash*ca—nama jalanan ini mengingatkan Alyx pada sebuah merk kamera.


“Kenapa berhenti?”


“Aku akan mengambil alat-alat kamera. Tunggu sebentar. Jangan keluar dari mobil,” kata Tom dan keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko.


Alyx berbalik melihat toko-toko yang ada di sekitar mereka. Segera dia tahu kalau mereka memang berada di kawasan pertokoan kamera. Dan sepertinya hanya toko tua inilah yang menyediahkan alat-alat, jika seseorang ingin merakit kameranya sendiri.


Di tengah memperhatikan toko-toko itu, sesuatu mengejutkan Alyx. Dia berbalik ke samping jendela dan melihat tangan seseorang sedang mengetuk kaca jendela. Dari tangannya, Alyx tahu kalau pengetuk itu adalah seorang pria. Dan benar saja, saat menunduk, Alyx hampir saja mengumpat. Tapi berusaha menenangkan dirinya saat melihat pria itu mengucapkan sesuatu. Dia membuka kaca jendela dan mendengar apa yang dikatakan pria itu lagi.


Di dalam toko, Tom menghampiri Mr. Acton yang sedang sibuk di samping mesin kasirnya. Tom menyapa Mr. Acton.


Pria bernama Mr. Acton itu mengangkat kepalanya. Kepala bagian depannya botak, dahinya berkeriput, matanya terlihat menyipit dari balik kacamatanya. Tangannya masih sibuk dengan baut-baut. Tanpa melihat, dia memasang baut itu di tempat yang diinginkannya. Dia melihat tajam pada Tom dari kacamata bundarnya.


“Ada apa?” tanyanya terganggu.


“Aku Tom,” katanya menyebut namanya—mungkin saja orang tua dihadapannya itu lupa dengan dirinya.


Dan benar saja, pria berbadan kecil itu baru mengingat pelanggannya. “Iya… iya…” Mr. Acton berdiri setelah meletakkan peralatannya. Tangannya menepuk-nepuk bagian depan bajunya yang kusut karena kelamaan membungkuk. Dia melangkah ke samping Tom. Tinggi Mr. Acton nampak sangat berbeda dari Tom.


Mr. Acton bertubuh pendek. Tangannya yang juga nampak mungil itu menarik lengan Tom dan masuk ke dalam ruangan. Dia menunjuk kursi di depan sebuah meja. Mempersilahkan tamunya untuk duduk.


“Aku tidak lama, Mr. Acton,” kata Tom saat melihat penjual peralatan kamera itu terdiam beberapa jenak di belakang meja kerjanya.


“Begini… kau menginginkan alat penguntit itu kan?”


“Pengintai, Mr. Acton—bukan penguntit.” Tom mencibir.


“Iya… iya… kau bermaksud memperbaiki rancangannya kan?”


“Kukira kau mengatakan alat-alat, sebelum ini.”


“Memang. Memang. Sudah kubongkar.” Mr. Acton mengambil kotak persegi dari dalam laci meja kerjanya. “Ini. Dan bagian terpenting yang kukatakan padamu, ada di sini,” katanya dan menunjuk plastic kecil. “Ini bagian terpentingnya,” katanya sekali lagi.


“Aku tahu. Semuanya akan kubawa.”


“Tentu. Tentu. Silahkan. Silahkan.” Mr. Acton nampak sangat senang mengulang kata-katanya. “Tapi, kau akan memberitahuku bagian apa yang tidak berfungsi pada rancangan ini kan?”


Tom mengangguk, meyakinkan orang tua itu. “Baiklah. Aku pergi sekarang.” Tom mengambil kotak yang ditelah ditutup oleh Mr. Acton dan meninggalkan toko yang berisi banyak kamera tua itu.


“Maaf, membuatmu menunggu lama,” kata Tom saat masuk. Tapi, sejenak kemudian, dia terdiam. Dia memandang jok di sebelahnya yang telah kosong. Tom keluar kembali. Memanggil nama Alyx.


“Alyx…”


Tak ada jawaban dari gadis yang tadi bersamanya.


Tom menyusuri lorong kecil di samping toko Mr. Acton. Dan yang didapatinya adalah jalan buntu. Dia kembali. Menajamkan penglihatan pada jalanan di depannya. Masuk ke toko-toko yang lain. Berpikir kemungkinan Alyx akan tertarik melihat barang-barang yang berhubungan dengan hobinya. Sayangnya, Tom tidak menemukannya.


Tom kembali ke mobil. Berputar mengelilingi mobil yang terparkir—berharap akan menemukan jejak-jejak orang lain setelah memikirkan kemungkinan terburuk yang telah terjadi.


Tom berhenti di samping jendela mobil. Memperhatikan kaca jendela yang tidak tertutup sempurna. Dia segera mengambil sebuah alat berbentuk segi empat panjang dari dalam mobil. Menekan tombol yang kemudian mengeluarkan sinar merah di ujungnya. Mengarahkan sinar itu di kaca luar. Dan menemukan sidik jari. Hanya ada satu sidik jari.


Tom berpindah ke kaca bagian dalam. Mengarahkan sinar itu lagi. Dan menemukan dua sidik jari yang berbeda. Di bagian atas kaca jendela, ada empat sidik jari—yang pemiliknya sepertinya berusaha untuk menahan kaca jendela itu.


Tom mengambil sidik jari yang berada di dalam dan di luar kaca jendela. Mengeceknya melalui computer. Dan memeriksa sidik jari itu.


Tom menunggu beberapa saat, sampai computer itu mengolah data. Dan sebuah informasi ditampilkan. Nama, alamat, pekerjaan, dan beberapa data lainnya muncul beserta foto.


Tom memperhatikan dengan seksama dan akhirnya menyadari siapa pemilik sidik jari itu. Tom mengumpat tidak jelas. Diambilnya telepon dan segera menghubungi Jane.


“Mereka membawa Alyx. Antek-antek bocah nakal itu. Aku ingin sekali segera mengetahui apa yang akan dilakukannya. Aku akan langsung mendatangi mereka,” kata Tom dan memacu kendaraannya.


Setelah melewati beberapa belokan—Tom mengambil jalan pintas—dia akhirnya berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi. Di samping gerbang, ada sebuah nama yang terpampang di depan tembok. Max Adney Russel.


Tom telah dipersilahkan masuk ke dalam kediaman pribadi Max. Max menyambutnya dengan senyuman lebar.


Tapi Tom menjawab senyuman itu dengan nada ketus. “Dimana Alyx?”


“Kenapa kau mencari dia di tempatku, Alden?” Senyum puas muncul dari wajah Max.


Tom mengepal tangannya sangat kuat, kalau saja Max bukan keluarga pemimpin SOS, tangannya itu akan segera mendarat di wajah bulat Max.


Tom berusaha menenangkan dirinya. “Kulihat pengawalmu itu yang membawa kawanku.”


“Apa kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, Alden?” Max turun dari kursinya dan mendekat pada Tom.


“Aku mendapat bukti sidik ja…”


“Ah,” Max menyela, berbalik dan berjalan menuju tempat duduknya yang nyaman. Dikibaskannya jasnya yang panjangnya hampir menyentuh lantai. “Kau masih menggunakan alat kuno seperti itu.”


Tom mengedus. “Kenapa tidak langsung kau katakan saja, dimana pengawalmu membawa Alyx?”


“Kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya?” kata Max dengan tangan menopang dagunya.


Tom mengarahkan pandangannya ke sekeliling.


“Kau mau berkeliling di rumahku? Aku bisa menemanimu.”


Tom berpikir sebentar. Alyx sepertinya tidak di sini. Tom menghela nafas keras—membuat Max tersenyum. “Kuharap memang bukan kau yang membawanya pergi. Karena kau akan merasakan sakit saat aku tahu kau yang membawanya,” kata Tom dan meninggalkan ruangan Max.


Max menatap dengan geram. Dia berdiri dan segera meniggalkan kursinya.


*