SOS

SOS
Chapter 8



ALEXANDRA melihat kucing berwarna putih di pelukan Ed—yang berdiri di  samping Max. Dia begitu yakin dengan kucing yang sekarang berada di kamarnya itu adalah Michi. Suara eongan Michi terdengar—membuat Alyx mendekati Ed. Dia ingin sekali melihat lebih jelas kucing itu, tapi dia berhenti beberapa meter. Segera ingatannya tertuju pada hari dia mendapati Michi tergolek lemah. Bahkan dirinya sendirilah yang memakamkan Michi.


“Siapa yang datang itu?” Ed berbicara pada kucing sambil mengelus bulunya yang sangat lembut. “Dia tuanmu? Ah, sekarang bukan lagi. Tapi, bermainlah sebentar, karena sepertinya kau masih mengingat dirinya.” Ed menurunkannya.


Kucing yang hanya setinggi sejengkal itu berlari kecil ke kaki Alexandra. Alexandra membungkuk, memandangi


kucing itu sebentar, dan segera memeluknya.  Michi mengeong keras di pelukan tuannya. Dia pastinya juga merindukan Alexandra.


“Michi—bagaimana mungkin?”


“Begitulah—membuat sesuatu menjadi mungkin,” gumam Ed.


Alexandra masih bisa mendengar Ed menggumamkan itu dan tahu jelaslah dia sekarang siapa mereka. Tapi, Alyx masih bertanya pada mereka, “kalian dari SOS?”


“Kau baru tahu? Sungguh sangat lamban.”


“Apa hubungan kalian dengan Benjamin?” Alyx menanyakan pertanyaan yang sudah dibuatnya tadi.


“Dia tidak terlalu berguna bagi kami,” kata Ed bersandar di meja. Sedang Max hanya diam memandang ke luar jendela, seperti yang dilakukannya kemarin. Malam ini dia juga mengenakan topi seperti yang dikenakannya kemarin. “Sepertinya kau mulai banyak bertanya sekarang.”


“Kalian sendiri yang membuatku bertanya seperti ini. Tidak bisakah kalian menceritakan maksud kedatangan


kalian. Kau dan dia membuatku tak bisa berpikir jernih.”


“Hei… hei… kau membuat kucing itu tak bisa bernafas.”


Alyx terlalu emosi sehingga tak sadar telah memeluk Michi sangat erat. “Maafkan aku, sayang,” bisik Alyx pada Michi.


Ed tertawa. “Dia bukan kucingmu yang dulu, kau ingat bagaimana kau menguburkannya dengan tanganmu sendiri.


Kucing itu hanya hasil cloning kucingmu yang berpenyakitan itu.”


“Jadi kalian yang telah membunuh Michi?”


“Sudah kukatakan kemarin, kami tidak membunuh kucing kasihan itu, hanya saja kami mempercepat kematiannya. Dia sudah terlalu lemah untuk hidup dan bagaimana mungkin kau tidak mengetahui kalau kucing itu sakit. Bukankah kau seorang dokter?”


“Bagaimana kalian tahu semua tentangku? Apa pentingnya diriku…”


“Tidak-tidak, kau sama sekali tidak penting,” sela Max yang sedari tadi hanya diam. Dia berbalik, “itulah yang membuatku bingung. Tak ada yang begitu membuatku takut mengenai kemunculan dirimu. Yah setidaknya aku tahu kalau lawanku bertambah dan aku akhirnya bisa menemuimu sebelum kita bertemu di tempat yang sebenarnya.”


Apa lagi itu, Alyx menjadi sangat bingung. Dia tidak mengerti apa yang sedang dikatakan lawan bicaranya.


“Dia berusaha menjauhkanmu dari dunia kami, tapi toh dia sendiri yang telah menunjukkan keberadaanmu.”


Alyx memikirkan siapa lelaki yang dimaksudkannya.


“Setelah kupikir-pikir, dia mungkin ingin membawamu masuk ke dalam duniaku, itu berarti kau akan berhadapan


denganku.”


“Dunia apa yang kau maksud?”


“Jangan berpura-pura tidak mengerti, seharusnya pesuruh lelaki itu telah memberi tahumu banyak. Cukup sekarang saja, kedudukan pemimpin dikuasai oleh seorang wanita,” katanya lebih tepat pada dirinya sendiri dan berbalik, kembali memandangi gedung-gedung di luar jendela.


“Kalian berbicara mengenai SOS? Tapi, perlu kalian ketahui, kalau aku tidak berniat berurusan dengan siapa pun


dari kalian, atau dunia SOS kalian, atau entah semua yang kalian bicarakan tadi. Kalian benar-benar membuatku muak.”


Ed yang sedari tadi diam, sekarang berada tepat di hadapan Alyx. Dia bergerak sangat cepat, bahkan Alyx sendiri


pun tidak menyadarinya. Alyx mundur beberapa langkah menjauhi Ed.


“Sepertinya dia benar-benar belum tahu apa pun,” kata Ed setelah menatapnya lekat-lekat.


Max berbalik. “Apa yang kau katakan?”


Ed berjalan ke samping Max.


“Seperti yang kukatakan pada kalian, aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakana,” kosakata Alyx


sepertinya jadi berkurang berhadapan dengan dua orang ini. “Tapi, kalau kau menjelaskan semuanya lebih jelas, kurasa semuanya akan seterang tempat ini.”


Max dan Ed tidak memperhatikan yang dikatakan Alyx. Mereka malah memperdebatkan sesuatu.


Alyx berusah menangkap apa yang mereka bicarakan. Dia maju beberapa langkah tanpa membuat salah satu dari Max atau Ed berbalik.


“Seharusnya kita tahu dari awal, tapi untuk apa Ayah menempatkan begitu banyak orang untuk mengikutinya. Apa


mereka benar-benar suruhan Ayah? Tapi, Darrell mengatakan seperti itu. Kalau di SOS belum ada yang tahu mengenai gadis ini, dari awal, aku bisa segera melakukannya.”


 “Kalau begitu kita yang hampir saja membuat SOS tahu mengenai keberadaannya, tapi kenapa ayah tidak segera menyuruh salah satu dari mereka untuk menghabisinya segera kalau dia bahkan belum tahu mengenai SOS?” tanyanya lagi—tepatnya bertanya pada dirinya sendiri. “Bukankah ayah menginginkan diriku menjadi satu-satunya penerus.”


“Kurasa dia punya alasan lain.”


“Tidak. Tidak. Ayah sepertinya tidak tahu mengenai ini. Kalau begitu aku akan segera menjalankan sesuai yang


dikatakan Darrel.”


“Tidak, tuan Max,” Ed menekankan kata tuan, seperti memperingatkan kedudukan Max saat ini. “Ini akan menjadi


masalah bagi anda di hadapan para petinggi.”


“Kalau begitu kau saja yang mengurusnya.”


Alyx terkejut mendengar kalimat Max. Alyx mundur beberapa langkah. Terlebih lagi saat Ed mendekat padanya.


“Aku tak membawa senjata. Apa yang harus kulakukan padamu,” kata Ed dan menaikkan tangannya setinggi bahu Alyx.


Alyx menghindar.


“Jelas sekali semua telah dipersiapkan oleh orang itu.” Ed mencoba mendekati Alyx lagi. Sekali lagi Alyx berhasil melapaskan diri dari cengkraman Ed.


Alyx belum banyak melakukan perlawanan, saat merasakan sesuatu telah mendarat di tengkuknya. Dia terjatuh,


lututnya menyentuh lantai. Michi yang sedari tadi dipeluknya dengan tangan kiri, terlepas. Seketika pandangannya kabur, setelah pukulan ke dua di daratkan padanya. Tapi, dia masih sempat berbalik dan melihat siapa yang memukulnya, sebelum pipi dan rambutnya menyentuh lantai.


Max berdiri di belakang Alyx. Dia tersenyum licik dan mengeluarkan sebuah pistol dari saku jasnya.


“Tidak tuan. Darrell hanya mengatakan sebaiknya membawanya.”


Suara samar-samar dari Ed masih bisa terdengar oleh Alyx. Kalau tidak berdebat terlebih dahulu, Alyx mungkin


telah ditembakinya. Di saat perdebatan Max dan Ed, mata Alyx yang terbuka sedikit melihat pintu apartemennya terbuka. Kaki yang dilihatnya berlari cepat ke arahnya dan sepertinya merubuhkan sesuatu di belakang Alyx. Dan kemudian dia tidak tahu apa lagi yang terjadi.


*


Saat terbangun, Alyx sudah berada di sebuah tempat yang tidak dikenalinya. Alyx mengejapkan matanya berkali-kali. Ini pertama kalinya dia tidak sadarkan diri seperti ini. Setelah sadar betul, dia bangun dan duduk di sofa yang tadi ditidurinya. Dia memandang sekeliling ruangan.


Alyx berada di sebuah rumah berdinding kayu. Kayu bundar yang disusun menjadi dinding. Sebuah meja yang tidak lebih lebar dari sofa cokelat yang didudukinya sekarang, hanya terletak sebuh lilin yang telah habis terbakar. Dilihatnya perapian di hadapannya. Dengan bantuan api yang masih menyala itulah, dia bisa melihat ruangan dimana dia berada. Ada beberapa kursi kayu yang tersebar.


Tak ada hiasan atau pun lukisan di dinding. Hanya jam dinding bundar yang menggantung di samping jendela. Terlalu sederhana dan pemiliknya pun pasti seseorang yang sangat sederhana. Ada jendela yang tertutup rapat. Kaca luar jendela, basah—Alyx bisa melihatnya dari jauh. Setelah melihat jam yang menunjukkan pukul 5, tahulah dia kalau kaca basah pasti karena embun. Pandangan Alyx kemudian beralih pada dua kotak karton yang terisi penuh di samping pintu.


Alyx berusaha berdiri. Tapi, terduduk kembali. Dia masih merasa sedikit pusing. Dia bertanya-tanya pada dirinya yang mungkin saja diculik dan disekap. Tapi, penculik itu tak mungin meninggalkan kunci yang tergantung di pintu. Kecuali benar-benar ceroboh.


Alyx memegang kepalanya. Berusaha membuat sakit kepalanya menghilang dengan menekan pelipisnya.  Dan saat itu pintu yang berada di samping ruangan—terbuka. Alyx terkesiap.


“Kau baik-baik saja?” tanya pria itu kemudian yang melihat ekspresi Alyx terkejut.


“Tom?”


*


Tom keluar dari sebuah ruangan—sepertinya pintu itu menuju ke dapur. Dan benar saja Tom membawakannya nampan berisi makanan dan minuman hangat saat jam sudah menunjukkan pukul enam seperempat dari dalam sana. Dia belum bercerita apa pun mengenai yang terjadi. Dia meminta pada Alyx untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.


Perapian yang telah padam, membuat suhu menjadi cukup dingin. Itu wajar—karena kata Tom, mereka memang sedang berada di pegunungan. Alyx segera menerima selimut yang ditawarkan Tom. Tapi, yang membuatnya terkejut, dia mengenali selimut itu. Selimut itu miliknya sendiri.


Tom menjawab keterkejutan Alyx dengan melihat ke karton-karton yang tersusun rapi. “Untuk sementara aku hanya


bisa mengambil barang-barang yang penting terlebih dahulu.”


“Michi?”


“Mereka membawanya kembali. Meski dia dan Michi sama, kurasa kau tidak perlu mencarinya.”


Alyx menatap gelas berisi susu hangat di tangannya. Dia menyeruputnya beberapa kali dan meletakkannya di atas


meja.


Alyx hanya bisa menghempaskan nafas panjang. “Lalu apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Alyx saat di luar rumah sudah benar-benar terang.


“Aku tidak tahu harus menjelaskan darimana.” Jelas sekali kalau Tom sedang bingung.


Alyx menaikkan kakinya dan memeluk lututnya di dalam selimut. “Pertama-tama mungkin mengenai dirimu. Bukankah kau seorang resepsionis apartemen—kalau bisa kukatakan demikian.”


“Iya, itu kalau kau juga sedang berada di apartemen.”


“Saat aku tidak ada?”


“Aku menyuruh orang lain untuk menggantikanku.”


“Dan selanjutnya kau mengikutiku, begitu?” Alyx menggeleng-geleng, dia bingung. Ekspresi Tom menunjukkan bahwa jawaban dari pertanyaannya adalah iya. “Kalau kau bukan seorang resepsionis yang selama ini kukenal, lalu kau siapa? Salah satu dari mereka?”


“Tidak seperti itu. Kami berbeda, hanya saja berasal dari tempat yang sama.”


“Bisa kau ceritakan lebih jelas, Tom? Aku mulai merasa jengkel.”


Tom sedikit menyesal membuat Alyx merasa jengkel. “Aku melamar kerja di apartemen itu, sehari sebelum kau pindah ke sana. Pemilik apartemen telah berjanji tidak akan memberitahu mengenai diriku pada pekerja yang lain. Kukatakan padanya aku tidak membutuhkan gaji dan aku akan pergi ketika aku harus pergi, dan pekerjaan itu tidak akan aku kosongkan, aku meminta Jane untuk menggantikanku selama tidak di tempat. Dia bahkan datang walau aku tidak menyuruhnya datang, tapi bagus jika kami berada di tempat yang di suatu waktu—katanya.”


“Sepertinya dia menyukaimu,” Alyx menyela, gumaman yang tidak jelas keluar sendiri, mengingat ekspresi dari Jane saat berada di sebelah Tom.


Tom tidak menampilkan ekspresi sedikit pun pada pendapat Alyx yang tiba-tiba dan melanjutkan kembali. “Menurut


Jane, orang-orang penghuni apartemen lain akan merasa ada yang aneh kalau kami tidak pernah kelihatan berdua di depan umum. Jadi kuijinkan dia. Tentunya tidak masalah karena selain kuliah tidak ada yang bisa dilakukannya lagi. Ayah Jane juga memintaku membiarkannya bekerja seperti yang diinginkannya—sebagai pengalaman. Aku membiarkannya bertindak sesukanya, tapi sayangnya dia berbuat kesalahan dengan memberikanmu surat-surat itu.”


“Surat tanpa nama pengirim itu?”


Tom mengangguk.


“Memang kenapa?”


“Iya, aku beruntung karena kau tidak mempermasalahkan itu sama sekali. Kulihat kau juga tidak menanyakan mengenai surat-surat itu pada Jane, padahal aku sudah wanti-wanti pada Jane dan memberitahunya untuk mengatakan ciri sama seperti yang kukatakan padamu di telepon.”


“Aku percaya saja padamu dan memang aku sedang sibuk saat itu, kurasa.”


“Sebaiknya memang begitu.”


“Lalu siapa yang mengirim surat itu?”


“Mungkin saja…” Tom berhenti dan melihat ke pintu bersamaan dengan Alyx.


Pintu terbuka. Seorang gadis yang sedikit lebih muda dari Alyx masuk. Rambut yang berwarna cokelat dikuncirnya.


Dengan senyum lebar menghias wajahnya, dia menghampiri Alyx dan Tom. “Apakah aku terlambat? Kau sudah menceritakan padanya?” tanyanya pada Tom.


“Tenanglah, Jane.”


Jane menarik kursi kayu yang berada di samping sofa. Membawanya ke posisi yang diinginkannya. “Maaf, aku


terlalu ekspresif.”


“Tak ada yang jadi resepsionis lagi?” tanya Alyx yang penasaran dan setengah mengejek.


“Aku mendengar kalau kau telah dipindahkan ke tempat ini dari ayah,” Jane tidak berhenti tersenyum saat bicara. Dia sangat manis. “Kurasa tidak ada yang perlu menjadi resepsionis lagi.”


“Aku sudah mencari pekerja lain.” Tom berpaling pada Jane.


“Ayah akan datang hari ini, atau mungkin besok, sepertinya dia banyak pekerjaan,” jawab Jane lebih dulu sebelum


Tom bertanya. Alyx tidak bodoh untuk bisa tahu kalau Jane yang dihadapannya ini bisa menmbaca pikiran Tom. “Tidak. Aku tidak bisa membaca pikiran. Hanya menebak,” kata Jane tertawa puas.


“Kau membaca pikiranku?” tanya Alyx kemudian.


“Aku katakan hanya menebak,” Jane melihat Tom yang berdiri dari tempatnya, pandangannya mengikuti Tom yang


kemudian menghilang ke dapur. “Dia tidak suka kalau aku membaca pikirannya.”


“Jadi itu benar?”


“Tidak denganmu nona. Tadi aku hanya menebak ekspresimu.” Jane beralih tempat duduk. Dia menghempaskan dirinya di sofa di samping Alyx. “Dilihat seribu kali pun, aku tidak bisa. Tapi kami bisa dengan mudah melihat ke dalam matamu saat kau melotot seperti itu.”


“Seperti yang dilakukan oleh orang itu, dia memandangku begitu lekat sampai aku seperti membeku.”


“Ed.”


“Bagaimana kau bisa tahu?”


“Hanya ada beberapa yang mempunyai keahlian membaca pikiran sepertiku yang berasal dari Timur. Dan yang jahat hanya ada dua orang. Satunya sedang dalam masa hukuman. Sedang yang satunya sedang berkeliaran bersama tuan mudanya—dan itu Ed.”


“Lalu…”


“Kenapa kami tidak bisa membaca pikiranmu? Karena belum saatnya,” Jane cekikikan.


“Semua orang terlalu berbelit-belit,” kata Alyx menyandarkan kepalanya di bahu sofa.


“Katakanlah sebuah chip, yang sedang tertanam di kepalamu, membuat orang lain tidak mampu membaca pikiranmu atau menemukan dimana keberadaanmu,” Jane menatap Alyx lekat. “Benar. Tidak salah lagi, kau adalah orangnya.”


“Orang apa lagi? Maksudmu orang terpilih?”


Jane tertawa lebar sambil memegangi perutnya. “Memangnya ini sebuah arisan, dikocok, dan tadah kaulah orang yang terpilih.”


Alyx mencibir.


“Chip itu hanya sesuatu kecil—benar-benar kecil dari ukurannya. Orang yang menanamkan chip di kepalamu itu, tentunya bermaksud kau bisa hidup aman, tanpa diganggu oleh bad-SOS—itu istilahku untuk orang seperti Ed,” bisik Jane pada Alyx, “tapi, keampuhannya menurun dan membuat dirimu akhirnya ditemukan,” Jane menambahkan. “Apa kau dengar Tom sedang mengumpat?” tanya Jane kemudian.


“Siapa yang diumpatinya? Bukan aku kan?”


“Dia tidak mungkin berani mengumpatimu. Aku.”


“Kenapa?” sejenak kemudian, Alyx mengerti kalau maksud Jane adalah dirinya sendiri.


“Dia tidak suka kalau aku menerawang ke pikirannya,” jelas Jane masih dengan senyum terpasang di wajah.


“Sebaiknya tidak begitu, eh, jadi dia tahu kalau kau membaca pikirannya?”


“Tentu karena fungsi otak Tom memang seperti itu.”


*


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Tidak terasa, Jane sudah berbicara selama beberapa jam dan tidak ada tanda-tanda kelelahan dari wajahnya.


“Aku menjadi pembicara paling handal di kampus,” katanya saat Alyx bertanya mengenai hal ini.


“Bagus sekali.”


“Kau tidak bertanya lagi? Aku senang kalau kau menanyakan sesuatu, itu berarti kau menuangkan yang ada dalam


pikiranmu—yang tidak kuketahui.”


“Kau tahu, aku punya banyak pertanyaan sekarang, dan aku lebih berharap kau atau Tom bercerita tanpa aku bertanya, karena aku bahkan tidak tahu yang mana yang harus kutanyakan lebih dulu.”


“Aku akan menyiapkan makan siang dulu,” kata Tom dan kembali ke dapur.


“Apa pekerjaannya berhubungan dapur, sepertinya dia sangat suka ke dapur,” kata Alyx setelah melihat Tom


menghilang dari balik pintu yang tertutup.


Jane lagi-lagi cekikikan.


“Kau juga. Kau sangat senang tertawa.”


“Aku terlalu mudah mengeluarkan ekspresi yang seharusnya biasa-biasa saja.” Jane tersenyum. “Sangat mudah bagiku tertawa—saat memikirkan sesuatu yang lucu atau sebaliknya, sangat mudah bagi mengeluarkan air mata—saat melihat sesuatu yang menyedihkan. Kekuranganku,” katanya menambahkan.


“Itu bukan kekurangan, Jane.”


“Tidak, kau tidak tahu. Ini sangat menyakitkan. Apalagi saat sedang bersedih. Jadi, ayah membuatku selalu bisa


tertawa. Kata ayah, aku sangat manis saat tersenyum-tertawa,” dia melanjutkan kemudian setelah melihat anggukan setuju dari Alyx. “Tapi, kau tidak akan mau melihatku bersedih. Jadi, kuharap kau tidak bersedih di hadapanku.”


“Tak akan, Jane,” kata Alyx, membuat janji, dan tersenyum. “Tapi, ngomong-ngomong, tadi kau membicarakan mengenai ayahmu. Sepertinya dia mengenalku. Apa aku mengenalnya?”


Setelah pertanyaan itu, pintu terbuka.


*