
“WILLIAM Holder, maksudmu?” Alyx dan Jane sudah di rumah sekarang.
Jane menatap Alyx tidak percaya. “Bagaimana mungkin nama keluargamu saja tidak kau tahu.”
Tatapan sinis diperlihatkan Alyx.
“Maaf. Maaf. Bukan salahmu yang tidak mengetahui margamu sendiri,” kata Jane dan tertawa kecil. “Kau harus tahu, mengenai Arthur Holder yang adalah…”
“Aku sudah membaca itu,” sela Alyx.
“Ah, banyak sekali yang sudah kau ketahui.”
“Jadi, Arthur Holder itu kakek buyutku?”
“Begitulah. Kebanyakan orang menyamakan kedudukan keluarga Russell dan Holder. Dari awal keluarga Russell
telah memperlihatkan sikap hormat dan kepedulian mereka terhadap anggota keluarga Holder. Kurasa hanya Max, yang bertingkah menyebalkan di depan ayahmu.”
“Ehm.” Alyx mengangguk pelan. “Dimana Tom?” tanyanya kemudian. “Kenapa dia tidak menampakkan diri?”
“Entahlah. Sedang sibuk mungkin.”
“Kenapa tidak kau temukan pikirannya?” kepala Alyx sudah bersandar di bahu sofa.
“Terlalu jauh,” kata Jane dan masuk ke kamarnya. Tiga menit kemudian, dia keluar dan telah berganti pakaian
dengan baju kaos bertuliskan I LOVE LONDON—dan hotpant yang tertutupi baju kaosnya yang panjang sepaha. “Aku membelinya saat berjalan-jalan di dekat apartemenmu.”
Alyx hanya tersenyum melihatnya.
“Oh iya, Alyx, kau menanyakan mengenai Tom pada ayahmu?”
Alyx menjawab dengan anggukan dan menggerakkan alisnya bertanya kenapa.
“Sepertinya dia tidak tahu mengenai kau bersaudara atau tidak dengan Tom. Aku mendengarnya.”
“Jadi apa kesimpulanmu?”
Jane nampak berpikir keras. “Ehm, kurasa… biarkan waktu yang menjawabnya,” katanya dan tertawa.
“Ah, entah bagaimana ayah akan bertanya pada Mr. dan Mrs. Wilder. Tapi, ngomong-ngomong tentang Tom—kalau
benar dia adalah anak dari pemimpin, bukankah dia bisa jadi menjadi kandidat pemimpin selanjutnya.”
“Kau benar.”
“Kenapa?” tanya Alyx mendengar nada suara yang tidak terlalu bersemangat.
“Tom tidak pernah memikirkan hal itu. Dia bahkan tidak punya cita-cita untuk menjadi pemimpin.”
“Mungkin saja dia telah merubah pemikirannya setelah tahu kalau ibunya adalah pemimpin.”
“Melihat pemimpin bekerja saja sudah membuat dirinya lelah dan lagi pula…” Jane berhenti dan menatap Alyx, “tidak. Eh, ayahmu sudah datang.”
“Kau tidak ingin ikut?”
Jane menggeleng. “Aku ada test besok. Aku harus berlatih, kalau tidak aku mungkin tidak lulus. Pergilah, cepat—kata ayahmu.”
Alyx tidak perlu lagi bertanya bagaimana Jane bisa tahu. Dia sudah berlari kecil, keluar dan menghampiri mobil.
William berdiri di samping mobilnya dan membuka pintu untuk putrinya.
“Trim’s," gumam Alyx.
“Lalu, apa saja yang kau lakukan tadi di universitas?” tanya William saat mobil sudah melaju.
“Hanya berkeliling. Bertemu dengan Sir Herwit, dia menanyakan namaku, dan nampak terkejut setelah mendengar Jane mengatakan bahwa namaku Alexandra Holder. Aku juga sedikit terkejut.”
“Jadi kau belum tahu itu?”
“Tidak ada yang mengatakan itu padaku.”
“Apa kau yakin? Alexander sering menyebut-nyebut nama itu saat kau kecil, kau saja mungkin yang tidak ingat.”
“Benarkah? Ah, aku tidak ingat itu, pasti mereka hanya membahas sekilas,” gumam Alyx.
William mengangguk. “Lalu apa lagi?” William seperti ingin mendengar Alyx bercerita.
“Ehm,” Alyx berpikir, “sebelumnya, aku melihat cat dinding yang berganti warna, aku bermain bersama hewan-hewan kecil yang tidak mau meninggalkanku, dan kami masuk dan keluar melalui pintu kecil yang dibuat oleh Jane menggunakan alat Tom.”
“Apa tadi yang kau katakan?”
“Pintu kecil?”
“Tidak. Tidak, sebelumnya.”
“Bermain bersama hewan-hewan kecil?”
“Iya. Apa itu?”
“Aku baru melihat hewan yang begitu ramah padaku. Kata Jane—jangan menyentuh laba-laba hitam yang beracun—aku memang tidak menyentuhnya. Karena hanya laba-laba itu yang berada paling belakang barisan hewan-hewan kecil. Yang lain, semuanya mendekat. Mereka benar-benar membuat barisan,” kata Alyx tertawa senang.
“Kau tak tahu artinya itu?”
“Apa? Apa itu berbarti buruk?”
“Kenapa harus berarti buruk?” William diam sejenak. "Lalu?"
"Oh, aku bertemu dengan seorang pria yang juga kutemui di London, Hiro," Alyx tersenyum, mengingat. "Mereka juga memanggilnya Ace." Setelah menyebut nama itu, ia mendengar tawa kecil dari ayahnya.
“Ngomong-ngomong, apa kau penasaran dengan nama SOS-mu?”
Alyx tidak pernah berpikiran untuk mendapat nama baru, tapi kalau William yang bertanya, sudah pasti dia dengan
senang hati mengatakan, “iya.”
*
William dan Alyx sudah tiba di kantor William. Ia menempelkan pegelangan tangannya di alat Sensor yang kemudian berbunyi klik
“Apa yang kau lakukan? Maksudku kenapa menggunakan pergelanganmu?”
William meraih tangan Alyx. “Disini,” katanya menyentuh pergelangan tangan Alyx, “tertulis SOS, terbentuk dari materi genetika. Jadinya seperti sebuah sidik jari yang membuatmu berbeda dengan yang lainnya.” William menarik kembali pintu ruangannya.
“Kenapa?”
“Kita lihat apa keluarga Holder yang satu ini, masih terdaftar disini,” William menempelkan tangan Alyx dan bunyi klik terdengar.
“Bagaimana bisa?”
“Sudah kuatur dan hanya keluar Holder yang bisa masuk ke tempat ini.”
“Baiklah. Dan aku adalah salah satu keluarga Holder.”
“Selain kau, ibumu juga bisa masuk di sini,” katanya tersenyum. William mempersilahkan Alyx duduk di sofa.
“Sudah bertemu dengan Mr. Wilder?” tanya Alyx saat duduk di sofa berwarna putih sebelum menanggapi pernyataan ayahnya.
William mengangguk.
“Apa yang dikatakannya?”
“Setelah semuanya rapi, akan kuceritakan semuanya dengan sangat jelas. Aku harus bertanya pada ibumu dulu.”
“Ibu? Jadi dia benar-benar di SOS?”
“Tentu. Dimana lagi dia berada? Dia tidak bisa pergi kemana-mana selain di Negara kecil ini.”
“Benarkah? Kudengar pengasuhku mengatakan ibu meninggalkanku,” gumam Alyx.
William tertawa dan berhenti saat Alyx memandangnya. “Ada apa?”
“Memang apa yang kau pikirkan tentang ayahmu ini?”
“Kukira kau orang yang serius dan kejam.”
“Kejam?” dia tertawa lagi. “Aku sudah cukup serius saat di depan karyawan dan bagaimana mungkin aku
memperlihatkanmu wajah serius itu di depan putriku.”
Alyx hanya tersenyum dan menyebarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
“Ruanganmu sangat mirip dengan kamar Tom,” kata Alyx saat William sudah duduk di belakang mejanya. “Kalian
memiliki warna favorit yang sama, kurasa,” gumamnya.
“Benarkah? Oh, kemarilah!” William meminta Alyx mendekat. “Letakkan tanganmu di atas sini?”
Alyx meletakkan tangannya di atas sebuah papan sensor bergambar tangan.
“Menurutmu nama apa yang akan muncul?”
“Memang ini apa?”
“Pendeteksi keahlian. Aku bermaksud memasangimu chip tambahan, dengan mengetahui nama SOSmu terlebih
dahulu, akan mudah mencari chip tambahan yang cocok untukmu.”
“Begitu yah?”
Beberapa saat kemudian, William tertawa lebar.
“Ada apa?” tanya Alyx mendengar tawa William yang mungkin saja akan terdengar sampai di luar kantor.
“Lihat!” William menunjuk nama-nama yang tertera di layar.
“Memang kenapa?” kepala Alyx menjulur dari depan meja kerja William dan melihat ke layar computer.
“Putriku sayang, orang-orang yang lainnya hanya memiliki satu nama pokok. Lalu bagaimana kita akan memilih chip yang cocok untukmu?”
“Kurasa tidak perlu.”
“Kenapa tidak? Apa kau berpikir akan pergi dari sini lagi?”
“Tidak.”
“Kau harus tahu, aku membawamu keluar dari SOS untuk melindungimu dari hal yang tidak kuinginkan—karena kau masih kecil dan sekarang kau sudah besar dan berada di SOS, kau tak perlu berpikiran untuk pergi lagi.”
“Aku tahu,” gumam Alyx. “Jadi nama yang mana menurut Ayah paling baik untukku?” tanyanya dan tersenyum lebar di depan wajah William—yang lagi-lagi tertawa.
“Kau mau membacanya? Duduklah di sini,” William memberi kursinya.
Alyx memulai membaca dari yang paling atas. “Adelia—Mulia, Aurelia—Makmur bahagia,” yang selanjutnya Alyx
hanya membaca artinya, “yang diberkahi, surga, abadi, laut, pemimpin, beruntung, bahagia, bahagia—ada beberapa yang berarti bahagia--, damai, dewi perdamaian, dan—dan---ah, terlalu banyak,” katanya dan berhenti membaca. “Bagaimana menentukan chip dari nama-nama ini? Jane sendiri, nama SOSnya tidak berhubungan dengan keahliannya.”
“Kadang terjadi tumpang-tindih," William menggerakkan tangannya, "beberapa memang diberi oleh tetua di keluarga—pemilihan itu berdasarkan sifat yang dimilikinya.”
“Bagaimana caranya melihat sifat bayi?” kening Alyx berkerut.
“Itulah hebatnya para tetua.”
“Ehm, untuk sementara ini, panggil namaku seperti biasa saja. Aku tidak memiliki keahlian apa pun kurasa,” kata Alyx tertawa.
“Ayo,” William telah berdiri di depan pintu. “Kita akan menemui ibumu.”
Alyx melompat dari kursinya dan keluar bersama William. “Dimana kita akan bertemu? Hi,”Alyx melambaikan
tangannya pada sekertaris ayahnya.
“Kau mau ikut aku ke ruang rapat? Sedang ada pertemuan—kali ini bukan aku yang memimpin rapat, tapi kita
kedatangan tamu.”
William dan Alyx ke lantai atas dan masuk ke ruang rapat. Tempat William berada di tempat yang paling ujung. Alyx mengikutinya dan berusaha tidak memperdulikan orang-orang—wanita atau lelaki—memandangi dirinya. Mereka semua berjas putih, kecuali Alyx.
Salah satu dari mereka menarik kursi untuk William dan Alyx menarik kursi sendiri ke belakang ayahnya.
“Hari ini ada pertemuan antar dokter,” William beralik dan berbisik, “kita akan membahas mengenai masalah
pengembangan otak yang sedang bermasalah di Barat SOS. Kau senang?”
Mata Alyx melebar. Dia senang kalau seseorang mengajaknya membahas mengenai photography, tapi dia lebih
senang saat diajak berdiskusi berkaitan dengan pendidikannya.
“Akan dimulai,” suara pria keturunan Jepang itu terdengar.
“Itu Juro yang menemukan masalah ini,” William mencoba menjelaskan apa-apa saja yang ada di ruangan itu, tapi Alyx memintanya untuk tidak melanjutkan saat orang-orang melihati mereka.
“Aku hanya akan duduk di sini.”
William tersenyum dan berbalik saat mendengar pintu samping di bagian depan terbuka.
Pandangan Alyx mengikuti seorang wanita yang masuk. Dua orang mengikuti di belakang. Alyx tahu wanita berwajah menyenangkan dan tatapan menyejukkan hati itu. Mereka pernah bertemu, meski hanya sekilas melihatnya.
Wanita itu duduk berhadapan dengan William—dengan jarak yang cukup jauh. Pemimpin SOS itu kemudian berbalik melihat Juro, menyuruhnya untuk memulai.
Juro memulai menjelaskan masalah yang timbul di bagian barat—masalah mengenai pengembangan otak tengah. Alyx sudah sangat sering mendengar pembahasan seperti ini sehingga perhatiannya lebih tertuju pada Abel yang menatap ke depan. Abel tidak bergerak atau berbicara sepata kata pun, tapi Alyx tahu kalau wanita itu sedang berkonsentrasi—seperti yang sedang dilakukan ayahnya.
Namun beberapa menit kemudian Alyx berhenti memperhatikan orang-orang yang berada di ruangan itu. Dia menundukkan kepalanya—tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Entah karena ruangan yang seketika menjadi sangat pengat atau karena dia menjadi bosan dengan hanya duduk di sana.
Dia memajukan kursinya, mendekat pada William. “Yah, bisakah aku keluar?” bisiknya.
“Tunggu sebentar lagi.”
“Tapi…” Alyx menurut dan memundurkan kembali kursinya. Menunggu sebentar lagi tidak masalah. Dia hanya perlu diam dan tidak berpikir, maka sakit kepalanya pun akan hilang. Sayangnya cara itu tidak manjur. Pandangannya mulai gelap. Dia merasa mual.
Juro masih menjelaskan di depan. Sementara pandangan Alyx masih bisa menangkap saat Abel berdiri di kursinya dan dia pun memuntahkan isi perutnya di ruang rapat.
*
Alyx membuka mata, mendapati dirinya sudah berada di sebuah kamar, bernuansa putih-hijau. Dia berbaring di salah satu kamar di klinik lab. William yang melihatnya membuka mata segera menghampirinya dan duduk di
sampingnya.
“Kau sudah baikan?”
Alyx bangun dan menyandarkan punggungnya. “Sepertinya. Ah, kurasa aku sudah mengotori lantai ruang rapat.”
William tersenyum. “Tidak masalah.”
“Baru kali ini, aku seperti ini,” gumamnya. “Kurasa kita tidak bisa menemui ibu sekarang?”
“Kau sudah bertemu dengannya tadi. Aku bahkan sudah membicarakan mengenai Tom.”
“Jadi dia di sini?” Alyx mencari dan tidak menemukan orang lain. “Kenapa tidak membangunkanku.”
“Kau tidur dengan nyenyak.”
Alyx menghela nafas keras. “Tunggu. Apa tadi Ayah bilang dia datang menemuiku?”
“Kubilang kau sudah bertemu.”
Mata Alyx menyipit, keningnya berkerut.
“Tadi di ruang rapat.”
*