
HIRO masuk ke dalam hutan yang gelap. Dia segera mencari jalan yang menghubungkan hutan Utara dengan Barat. Beberapa jenak Hiro berdiri di depan beberapa jalan. Dia harus memilih jalan yang benar. Dia menggunakan cahaya biru untuk melihat jejak kaki di tanah, tapi tidak membantu.
Hiro berpikir sejenak dan menghela nafas. Sedetik kemudian, sebuah cahaya merah berpijar dari jari-jarinya. Dia membungkuk dan melihat banyak jejak di jalanan ke dua. Dia segera berjalan masuk dan tiba di sebuah pintu.
Hiro seharusnya segera menuju perumahan di Barat SOS, hanya saja dia tetap berdiri di tempatnya dan berpikir. Tidak ada lagi cahaya dari tangannya. Tapi dia bisa merasakan ada yang berbeda dengan hutan ini dengan sebelumnya. Entah apa itu, dia yakin ada sesuatu yang terjadi di tempat itu. Dia bermaksud untuk menyusuri hutan, namun segera teringat pada Alyx.
Hiro berlari menuju ke bangunan yang dikelilingi cahaya biru. Sebuah toko kertas. Setibanya disana. dia segera menemukan pilar di belakang bangunan.
“Ahhh,” teriakan Alyx terdengar saat melihat Hiro yang mendekat. “Apa yang kau lakukan di sini?” Dia berdiri, nampak ingin segera menyembur Hiro. “Bukankah sudah kukatakan padamu untuk ke Timur?”
Hiro tidak memperdulikannya dan berlutut di samping Alyx. Menyentuh benang biru.
“Jangan menyentuhnya, kau akan… apa yang terjadi?” tanya Alyx saat Hiro memutuskan benang biru dengan tangan kosong.
“Aku konduktor panas yang baik..”
“Tapi, kenapa kau di sini?”
“Kupikir aku harus segera ke Barat?” Hiro balik bertanya.
“Apa? Adikku di Timur sekarang. Aku salah telah mempercayakan ini padamu. Seharusnya aku menyelesaikan ini dengan cepat,” Alyx berjalan ke samping jendela dan mengintip ke dalam.
“Maafkan aku.”
“Pergilah dari sini,” Alyx menggigit bibirnya. Dia menghela nafas berat. “Aku salah telah mempercayakan orang-orang yang kusayangi pada orang yang baru saja kukenal.”
“Aku hanya ingin membantumu,” kata Hiro pelan.
“Tidak, kau tidak membantu sama sekali,” Alyx berbalik. “Aku akan menyelesaikan ini sendiri dan ke Timur.”
“Tidak. Aku yang akan ke timur.”
“Sudahlah Hiro, kau membuang waktuku,” Alyx kembali mengintip di jendela dan matanya menemukan Jane. “Jane…”
Hiro melihat Jane yang duduk bersandar di rak. “Aku akan ke Timur sekarang.”
Alyx tidak mengatakan sesuatu dan berjalan menuju pintu. Saat berbalik, Hiro sudah tidak di sana. Dia menghela nafas. “Aku juga akan segera ke Timur, menyelamatkan adikku sendiri.”
Alyx menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak menemukan seseorang, dia segera masuk dan mencari Jane yang tadi dilihatnya. Alyx berjalan pelan menuju ke ruangan paling belakang. Penuh dengan kewaspadaan.
“Jane…”seru Alyx pelan saat di menemukan Jane.
Jane membuka matanya pelan dan mendapati Alyx. Dia terseyum kecil dan memeluk Alyx. “Kau datang untukku?” tanyanya pelan. Suaranya bergetar.
“Tentu. Kau baik-baik saja?” tanya Alyx melihat wajah Jane yang terlihat pucat.
Jane mengangguk. “Tom…” katanya pelan.
“Setelah mengeluarkanmu dari tempat ini, aku akan segera menyusul Hiro. Sepertinya dia sudah ke sana. Atau dia sudah kembali ke rumahnya. Tapi, aku akan menyelamatkan Tom sendiri.”
“Tom…”
Alyx menunduk. “Ayolah…” Alyx membantu Jane berdiri.
“Alyx…” seru Jane dan membuat Alyx berbalik.
Kertas dari rak tingkat teratas sampai yang terakhir bertebaran ke tengah dan menutupi tubuh kedua orang yang mendekat. Alyx memapah Jane.
“Kau melakukannya?” tanya Jane saat mereka bersembunyi di belakang rak.
“Entahlah. Bagaimana keadaanmu, Jane?”
“Kurasa aku sudah lebih baik.”
“Bagus. Kau bisa berlari?”
Jane menangguk.
“Kita akan ke luar. Aku tidak melihat orang lain saat masuk.” Alyx menarik tangan Jane dan berlari menuju pintu, tapi saat berada di pintu yang terbuka, mereka berhenti.
Tiga orang telah menghadang jalan mereka. Alyx dan Jane berputar. Mengambil jalan ke kiri. Berlari di selah rak-rak yang menjulang tinggi. Tapi, mereka menemukan jalan buntu setelah rak yang merapat ke tembok dengan sendirinya dan saat memutuskan untuk berbalik di hadapan mereka telah berdiri dua orang.
Mereka berjalan mundur. “Bagaimana ini, Alyx?” tanya Jane saat dua orang pria yang semakin mendekat.
Alyx memfokuskan pikirannya pada kerta-kertas berwarna-warni di rak. Dan berikutnya, hanya selembar kertas berwarna merah yang terbang. Alyx menghela nafas. “Bodoh,” gumamnya.
Dua orang di hadapan mereka, tertawa.
“Kau melakukannya?” bisik Jane.
“Hanya selembar, bagaimana ini?” tanya Alyx sedikit panik.
“Kau hanya menerbangkan kertas berwarna merah.”
Alyx memperhatikan kertas yang lain. Hanya ada selembar kertas berwarna merah yang telah digerakkannya baru saja. Dia tertawa kecil. “Mungkin aku terlalu fokus padanya.”
Ke dua pria telah berada di depan wajah Alyx. Salah satu di antara mereka menarik tangannya. Beberapa jenak kemudian, Alyx telah berbalik memagang tangan ke dua pria itu. Dia memelintirnya dan mendorongnya ke tembok.
“Jane, aku akan segera menyusulmu.”
“Apa?”
“Cepatlah ke luar. Aku tidak akan lama.”
“Tidak,” Jane menolak.
“Jane…” teriak Alyx.
“Baiklah. Baik.”
Alyx melihat pungung Jane yang segera menghilang dari penglihatannya. Dia kemudian memfokuskan dirinya pada ke dua rak yang berada di sampingnya. Menarik nafas dan akhirnya ke dua rak yang tingginya hampir menyentuh langit-langit itu perlahan bergerak mengapit mereka.
“Apa yang kau lakukan?” suara salah satu dari ke dua pria itu terdengar.
Alyx melihat rak itu. kalau dia tidak segera ke luar, dia juga akan terjepit di sana. Dia mencari kesempatan untuk ke luar dari sana. Dan saat ke dua rak itu menyentuh lengan kanan dan kiri dari ke dua pria itu. Alyx bergerak mundur dan tetap memusatkan pikirannya pada ke dua pria yang tetap menempel di dinding.
Saat telah ke luar dari ke dua rak, Alyx membuat mereka saling berhadapan satu sama lain. Tubuh mereka saling menempel. Rak berhenti bergerak setelah membuat ke dua pria itu tidak bisa bergerak lagi. Mereka saling memalingkan wajah menghindari untuk saling berciuman.
Alyx menaikkan tangannya dan menerbangkan kertas merah diantara selah wajah ke dua pria yang saling berhadapan. Alyx tersenyum kecil dan terkejut saat berbalik.
Sebuah telunjuk mendarat di dahinya. Alyx terjatuh di pelukan Darrell.
*
Jane menunggu di bawah jendela di samping bangunan. Dia menunggu sampai Alyx muncul. Tapi setelah lima belas menit menunggu, dia memutuskan untuk melihat ke dalam. Dia melihat melalui jendela dan mendapati beberapa orang lalu lalang.
Jane seketika menjadi panic dan mondar-mandir. Tangannya dikibas-kibaskan. Dia berusaha menenangkan dirinya. Menarik nafas dan menghempaskannya keras. Dia memutuskan untuk masuk dan membantu Alyx yang mungkin saja berada dalam masalah.
Namun, saat berbalik, Darrell sudah bersandar di dinding. Dan melihatnya sambil tersenyum.
“Hi, Jane…”
Jane menatapnya sinis.
“Aku akan membawamu melihat Alyx.”
“Apa yang kau lakukan padanya?” Jane setengah berteriak.
“Bukan aku. Aku hanya membantunya bertemu dengan Azazil,” kata Darrell tersenyum manis pada Jane.
Jane mencibir. “Kau membuatku muak. Dimana Alyx?”
“Dia di dalam. Ehm,” Darrell seperti berpikir, “cepatlah, empat puluh menit lagi sebelum pukul dua belas.”
Darrell yang telah berjalan, berhenti. “Dia menginginkanmu di sana?”
“Tidak. Aku tidak akan mengikuti. Aku akan membawa yang lainnya ke tempat ini.”
“Aku tahu kau akan mengatakan itu,” gumam Darrell, berbalik dan melihat punggung Jane. “Jane…” suara Darrell terdengar dan seketika membuat Jane berhenti. Dia berjalan ke hadapan Jane. “Bersikap baiklah, Jane,” katanya dan tersenyum. Dia meraih tangan Jane dan menariknya pelan untuk ikut bersamanya.
Mata Jane tidak berkedip sama sekali. Dia mengikuti setiap langkah Darrell. Dia duduk di sebuah kursi besi. Dan menunduk setelah tangan Darrell menyentuh kepalanya.
“Dia datang terlalu cepat,” suara terdengar dan membuat Darell berbalik.
Darrell menunduk sebentar dan tersenyum melihat pria berambut putih panjang duduk di kursi besar.
Azazil kembali duduk menopang dagu. Dia sesekali meniup poni yang menutupi matanya, tapi tetap saja poni itu kembali menutupi wajahnya. Dia tersenyum.
“Dia?” tanya Azazil sambil mengarahkan pandangannya pada Jane yang tertunduk.
“Dia Jane.”
“Aku tahu. Untuk apa dia di sini?”
“Dia akan menganggu saat membawa kabar ini ke bangunan utama.”
“Well, sebenarnya tidak ada yang bisa dilakukannya,” Azazil diam sejenak, “ahhh,gadis ini terlalu cepat datang,” ulangnya dan melihat gadis yang telah berbaring di hadapannya.
*
Alyx telah tergeletak di hadapan Azazil yang duduk di sebuah kursi besar sambil menunggu jarum jam menunjuk pukul dua belas. Jari tangan kirinya mengetuk lengan kiri kursi. Dia merasa sangat bosan.
“Bisakah aku melakukan sesauatu?” tanya Darrell kemudian.
Azazil menaikkan alisnya.
Darrell mendekat di samping Jane. Berlutut di hadapannya dan menatap wajah Jane.
Jane mengejapkan matanya dan tersadar. Dia mendorong Darrell dan membuatnya terjatuh. Jane berdiri. “Alyx,” teriaknya saat melihat Alyx tak sadarkan diri di hadapan Azazil. “Alyx… Alyx…” dia berusaha menyadarkan sahabatnya.
Perlahan Alyx membuka matanya. Matanya mengangkap sesosok pria yang menatapnya dari sela rambut putihnya. Alyx berusaha bangun, namun tertahan oleh cahaya biru yang mengikat badannya dengan meja. Kemudian, dia menengok ke sebelah kanan dimana suara memanggilnya.
“Jane… kau baik-baik saja?”
Jane menghela nafas sedih mendengar pertanyaan Alyx yang bertanya mengenai keadaannya. Namun, seketika dia menghindar saat Darrrell mendekat.
“Kau membaca pikiranku?” tanya pria itu dengan tersenyum.
“Kau menjijikkan,” kata Jane menatap Darrell sinis.
Darrell bergerak cepat dan menangkap lengan Jane yang akan berlari.
“Apa yang ingin kau lakukan? Lepaskan dia,” teriak Alyx sambil berusaha melepaskan diri.
“Jangan lakukan itu,” suara Azazil terdengar ringan, “kau akan menyakiti dirimu sendiri. Semakin kau bergerak, semakin kau akan merasa lemah.”
“Hentikan,” Alyx berteriak lebih keras saat melihat Darrell mmengeluarkan sebilah pisau.
Darrell tidak memperdulikan Alyx dan tetap menggerakkan tangannya yang menggeggam pisau. Sedang Jane, dia mematung di tempatnya. Hanya melihati apa yang dilakukan Darell. Darrell kemudian menyentuhkan mata pisau ke lengan Jane.
Jane mengerjap ketakutan. Berharap dia bisa melawan, namun selalu seperti ini. Dia tidak bisa mengendalikan ketakutannya, ketakutan yang terlalu berlebih.
Darrell menekan mata pisau dan membuat setitik darah mengalir dari lengan Jane.
Alyx menutup matanya sebentar dan menggerakkan tangannya. “Aku bilang… hentikan!” teriak Alyx.
Darrell berbalik saat menyadari pisau di tangannya telah berpindah ke tangan Alyx. Darrell tidak menyangka ini terjadi. Dia meninggalkan Jane yang masih mematung dan bergerak ke samping Alyx.
Alyx menantang dengan menatap tajam Darrell yang melihatnya dengan tatapan sangat marah.
Baru kali ini, Darrell terlihat sangat marah, terlebih saat melihat sebuah senyum terukir di wajah Azazil. Darrell mengambil pisau tajam miliknya, tapi kemudian menggunakan tangan kosong untuk mencekik Alyx. Darrell berniat menghabisi Alyx sekarang. Namun, berbeda dengan Azazil yang perhatiannya terarah pada gadis yang masih berdiri mematung.
Jane terlihat sangat kesakitan. Air mata mengucur di pipinya. Nafasnya tersengal-sengal. Dia tidak ingin melihat Alyx menderita seperti itu.
Azazil berdiri dari kursinya, meminta Darrell untuk tidak menutupi pandangannya.
“Jane, aku baik-baik saja. Jangan seperti itu,” kata Alyx mencoba menenangkan Jane yang tidak bisa menahan ledakan emosinya.
Darrell berpindah ke samping Azazil.
Azazil menunduk di samping wajah Alyx dan berbisik. Tangan di belakangnya telah menggenggam pisau milik Darrell. “Siapa dia? Kau menyayangi gadis lemah itu? Apa kalian memiliki hubungan darah?”
“Apa yang kau tanyakan, bodoh?” geram Alyx.
Azazil tersenyum. “Baiklah.” Azazil berjalan pelan mengelilingi Alyx. “Aku akan memberimu pilihan.”
Alyx menatap Azazil tidak percaya. “Pilihan apa yang kau bicarakan?”
Azazil berhenti di samping tubuh Alyx. Duduk, setelah kursinya bergerak maju. Kedua kakinya di hempaskan di atas perut Alyx yang seketika meringis kesakitan. “Ibu, ayah, atau gadis ini?”
“Apa?” tanya Alyx bingung.
“Well, aku hanya membutuhkan seseorang yang paling kau sayangi. Cepatlah,” kata Azazil dan menekankan pisau ke tangan Alyx yang diikuti jeritan Jane.
Alyx lebih menderita melihat Jane dibandingkan dengan tanganya yang telah mengeluarkan darah. “Jangan sakiti mereka,” kata Alyx pelan.
“Kau tahu apa yang terjadi pada Adalbrechta sekarang? Kuharap dia baik-baik saja. Tapi…” Azazil berlagak sedih, “kupikir tidak akan ada yang baik-baik saja malam ini. Tidak akan ada yang baik-baik saja di hari kelahiranku,” lanjutnya sambil menggeleng-geleng.
“Kupastikan semua orang akan baik-baik saja di hari kelahiranku, Azazil,” kata Alyx pasti.
Mata Azazil membesar. “Well, kurasa kita sudah ditakdirkan untuk seperti ini.”
“Seperti ini?” gumam Darrell. Dia tidak bisa menahan keterkejutannya. Dia bahkan tidak tahu rencana apa yang sedang dipersiapkan oleh Azazil.
Azazil meletakkan telunjuk di bekas pisau di tangan Alyx dan kemudian menggenggam pisau kuat dan…
“Ahh,” jerit Alyx. Dan menggigit bibirnya saat pisau telah mendarat di perutnya.
Jane yang melihat itu seketika menjerit lebih keras dari Alyx. Kakinya tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya. Dia terduduk. “Hentikan…” suaranya bergetar. Tangisnya tak henti. Dia tidak bisa mengatur lagi nafasnya. Tangannya memukul-mukul lantai.
“Apa yang kau inginkan darinya?” tanya Alyx.
“Ehm,” Azazil diam sejenak dan menjawab, “tidak ada. Hanya saja sangat senang melihat orang yang kau sayangi menderita, bukan?” Azazil menekan luka Alyx dengan telunjuknya dan mengusapnya. Kemudian dia kembali menusukkan pisaunya di perut Alyx.
Sekali jeritan pendek terdengar dari Alyx. Dia berusaha tidak memperlihatkan pada Jane kalau dia kesakitan. “Jane… kumohon, pergilah dari sini, sekarang…”
Alyx bisa melihat gelengan Jane. Tentu dia tahu kalau sahabatnya itu akan menolak untuk meninggalkannya. “Kalau begitu… kuatkan dirimu, bodoh,” teriak Alyx tidak sabaran.
Azazil kemudian menyerahkan pisau pada Darrell setelah diam beberapa jenak dan memandangi darah yang keluar dari perut bagian kiri Alyx. Dia memundurkan kursinya.
Darrell melihat Azazil. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Namun, Azazil hanya menggerakkan bahunya. Darrell menghela nafas dan memutuskan untuk melakukan yang sedari tadi diinginkannya.
Tangannya diangkat tinggi-tinggi, bersiap menusukkan pisaunya yang tajam pada Alyx. Tapi, sebelum mata pisau menyentuh Alyx. Darrell berhenti membuat pisau melayang satu centi dari perut Alyx. Ujung pisau berbalik menyerang penggunanya. Darrell mengincar lehernya sendiri. Mata kanannya mengerjap-ngerjap, berusaha memahami apa yag dilakukan oleh tangan kirinya. Sedang tangan kanannya digunakan untuk menahan pisau semakin mendekat.
Alyx memusatkan fikirannya, mencoba untuk melepaskan pengikat tubuhnya. Sesuai yang dikatakan Abel saat mereka bertemu. Berusaha bersikap tenang. Dan akhirnya terlepas. Kakinya menendang tubuh Darrell yang tak berdiri jauh darinya. Darrell terhempas ke dinding. Alyx melangkah cepat dan merebut pisau darinya. Berbalik dan berdiri di depan Azazil. Diayungkannya tangan kirinya dan saat pisau bermaksud menusuk dada Azazil. Alyx berhenti. Jatuh terduduk di hadapan Azazil. Azazil mengambil kesempatan dan ahirnya menghilang dari kursinya.
Alyx menunduk kebingungan. Kesal.
Sementara Jane di belakangnya masih sibuk dengan kata-katanya, “tidak… tidak…”
*