
ALEXANDRA sudah tiga kali keluar masuk dari perpustakaan ke ruang tamu professor Singh yang sekarang ini dijadikan ruang rapat oleh para petinggi. Para petinggi telah datang dua jam yang lalu dan membuat Alyx
penasaran dengan kedatangan mereka. Dia tadinya ingin bergabung, tapi tak ada seorang pun yang mengajaknya, jadinya dia hanya berdiri di balik pintu—mendengar apa yang sedang mereka bicarakan dan saat seseorang keluar, dia akan buru-buru berlari ke lantai atas.
Alyx mengembalikan buku ke rak dan berniat kembali menguping, tapi langkahnya terhenti saat Amaris berdiri di
hadapannya. Dia belum pernah berbincang lagi dengan peramal berbadan besar itu sejak kejadian hari itu.
“Apa yang terjadi?”
“Ikutlah, kami sedang membahas mengenai hari penentuan.”
“Memang apa yang terjadi?” Alyx tetap bertanya dan saat masuk ke ruang tamu wajahnya menjadi kebingungan. Dia menjumpai para petinggi dengan wajah bersedih, marah, dan beberapa malah ketakutan.
Alyx dipersilahkan duduk di sebuah kursi besar. Dia merasa seperti seorang yang akan disidang. Semua mata
menatapnya.
“Hari penentuan akan dilaksanakan lusa. Setelah matahari tenggelam, kau sudah harus berada di bangunan utama. Aku sudah meminta anakku, Hiro, untuk menemanimu. Kau tidak boleh berada di SOS besok,” kata pria berjanggut putih yang adalah ayah Hiro.
“Kenapa?”
“Itu sudah menjadi peraturannya, Alyx.”
Alyx mengangguk kecil, meski tidak memahami maksud dan tujuannya.
Saat para petinggi—selain Amaris yang masih tinggal berbincang dengan Singh—meninggalkan kediaman Singh, Hiro datang. Dia menyapa Alyx. Memintanya untuk segera bersiap.
“Amaris, sebelum aku pergi, aku ingin bertanya sesuatu,” kata Alyx pada Amaris.
Amaris tersenyum dan mengangguk kecil pada Alyx. Mempersilahkan.
“Kau mengatakan padaku mengenai Nick? Apa yang terjadi dengannya? Apa kau melihat masa depan?”
“Nick? Maafkan aku, aku tidak tahu.”
“Aneh,” gumam Alyx.
Semenit berikutnya, Alyx dan Hiro telah melewati pintu tak terlihat kediaman Singh—yang hanya bisa dilalui si
manusia berhati baik. Alyx segera tahu alasan kenapa ayahnya meminta dia tinggal di tempat itu. Selain itu dia banyak mendapatkan ilmu dan berlatih lebih sering. Pagi, siang, dan malam, bahkan saat sedang menikmati makanan.
Alyx masuk ke dalam mobil berwarna merah milik Hiro. Hanya untuk dua orang.
“Apa yang terjadi?”
“Siapa Nick?”
Alyx dan Hiro bertanya hampir bersamaan. Hiro mengangguk, memberi isyarat pada Alyx untuk menjawab lebih
dulu.
“Teman baikku.”
“Bukan, bukan seperti itu. Kenapa kau sangat mengkwatirkannya?”
“Lalu menurutmu apa?”
“Tapi, untuk sekarang ini, kau tidak bisa memiliki hubungan dulu.”
Alyx mencibir. “Kenapa?”
“Kita akan kemana?” Hiro tidak menjawab pertanyaan gadis di sampingnya.
“Kukira kau yang harus menentukan. Tapi kurasa kita harus ke London.”
“Menemui Nick? Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Kau hanya perlu mendengarku.”
Mereka telah tiba di pintu timur yang akan membawa mereka ke London. Alyx baru saja akan meletakkan pergelangan tangannya di alat sensor, tapi Hiro kemudian menariknya.
“Biar aku saja.”
Alyx memandangi punggung Hiro yang telah berjalan lebih dulu. Dia diam sejenak dan baru saja bertanya saat Hiro
akan membuka pintu ke perpustakaan.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Hiro?”
“Ada yang tidak harus kau ketahui saat ini,” katanya dan pintu terbuka. Dia menyapa Alice yang sibuk dengan buku
di tangannya.
Alice tersenyum dan kemudian menatap Alyx lekat-lekat. “Semoga beruntung,” katanya.
“Kau akan melihatnya sendiri, Alice,” kata Hiro yang tidak bisa dipahami oleh Alyx.
Saat keluar dari perpustakaan, Hiro menarik tangan Alyx. “Jangan jauh-jauh dariku.”
Deg. Seperti aliran listrik mengalir dari jemari Hiro menuju jantung Alyx. “Baiklah. Kalau itu maumu,” kata Alyx setelah memandangi tangan Hiro yang memengangnya erat.
Hiro berhenti berjalan setelah mendengar ucapan Alyx. Dia menatap Alyx dengan geli. “Well, kurasa ini aneh. Aku tidak seharusnya merasa geli di keadaan seperti ini,” dia cekikikan. “Kau benar-benar tidak ada hubungan dengan pria bernama Nick itu?” tanya Hiro saat mereka telah berjalan menyusuri kota London.
“Sudah sebulan terakhir ini, aku tidak menghubunginya. Kupikir dia akan marah,” jawabnya dengan nada sedih.
“Kurasa kau bisa melepas tanganmu,” kata Alyx saat mereka telah tiba di Parliament House. “Saat aku menjadi seorang pemimpin nanti, aku tidak akan bisa bergerak sebebas ini,” katanya. Berhenti di tengah keramaian orang-orang yang sedang menikmati keindahan kota London.
“Kau benar.”
Alyx berbalik melihat Hiro yang sedang mendongak menatap langit. Dia tidak menyangka Hiro akan membenarkan
pernyataannya.
“Kau tidak akan bisa bergerak sebebas ini,” Hiro mengulang. “Akan ada banyak orang yang memohon untuk
dilindungi. Kalau begitu, kau tidak perlu kembali ke SOS. Menurutmu, bagaimana kalau kita pergi saja menjauh, ke tempat dimana orang-orang SOS, tidak bisa menemukan kita.”
“Kita?”
Hiro memandangi wajah Alyx yang melihatnya dengan tampang bodoh. “Kau tak akan bisa bergerak bebas, tanpa orang lain yang mendukungmu,” katanya dan tersenyum.
Hiro dan Alyx telah berdiri di depan jam raksasa Big Ben. Memandanginya.
“Alyx… aku akan selalu bersamamu apa pun yang terjadi.”
“Banyak yang mengatakan itu padaku. Kuharap kau tidak seperti mereka. Pergi di saat aku benar-benar
membutuhkannya. Menurutmu, apa Nick bermaksud meninggalkanku juga?”
Hiro mengalihkan pandangannya. Tidak menyukai topic ‘Nick’.
Alyx tertawa kecil. “Kau seperti tidak menyukai Nick. Kau bahkan belum bertemu dengannya.”
“Dia bukan orang yang jahat kan?”
“Dia benar-benar orang yang baik. Meski tampangnya seperti tampang orang pembunuh, tapi dia sangat manis.”
“Sudahlah.” Hiro berjalan lebih dulu meninggalkan Alyx yang masih melihat jarum jam yang sedetik lagi menujukkan pukul dua belas siang.
Saat dia berbalik dan mengejar Hiro, jam sudah berbunyi.
*
Alyx dan Hiro sudah berada di depan gerbang rumah Nick. Dia berhasil membujuk Hiro untuk berkunjung sebentar.
Hiro hanya bisa menghempaskan nafasnya keras, melihat gadis yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya itu,
terlalu bersemangat untuk bertemu dengan pria lain.
“Masuklah, Alyx,” Charlie mempersilahkan.
Namun, belum Alyx menginjakkan kaki di pekarangan rumah Nick, Hiro menahannya. Dia menarik tangan Alyx dan
“Aku mendapat pesan dari ayah, kau tidak boleh menemui seseorang pun di sini,” kata Hiro sambil melihat pesan yang baru saja masuk.
Alyx melepaskan genggaman Hiro. “Ada apa denganmu?” katanya setengah berteriak. “Kau cemburu?” tanya Alyx yang tiba-tiba merasa geli dengan pertanyaannya.
Hiro sedikit kikuk. Menggeleng. Dia berdehem dan kembali meyakinkan gadis di hadapannya itu.
“Tidak masalah kan kalau hanya melihatnya sebentar. Aku hanya memastikan kalau keadaanya sudah baikan.”
Sebelum Hiro menyetujui, Alyx telah berbalik dan berjalan cepat kembali ke rumah Nick.
Setibanya di sana, Alyx menjadi kebingungan dengan keramaian yang sedang terjadi. Banyak sekali pria berjas
hitam yang lalu lalang. Semua nampak sibuk.
Alyx mencegat salah satunya. “Apa yang terjadi?”
“Nick menghilang. Seseorang datang dan membawanya pergi.”
“Siapa dia?” tanyanya yang tidak dijawab. Alyx berbalik melihat Hiro.
“Terlambat. Kukatakan padamu untuk tidak menemui siapa pun.”
“Apanya yang terlambat? Kurasa aku akan gila kalau tak ada yang menjawabku di sini.” Alyx setengah berteriak.
“Ayolah.”
Tak ada pergerakan dari Alyx.
“Apa kau akan tetap di sini? Percuma. Kita harus segera pergi. Aku yakin seseorang akan menolongnya.” Hiro
menghela nafas dan berdiri di hadapan Alyx. “Kau pasti sangat menyanginya, sampai dia saja tahu itu.”
Alyx mengerutkan keningnya.
“Iya, dia, dia akan mendapatkan semua yang kau sayangi untuk mendapatkan apa yang sebenarnya dia inginkan darimu. Jadi, sekarang percuma kau berdiri di sini. Tidak ada yang perlu kau perdulikan lagi, yang Terlatih akan segera membereskan masalah yang telah kau timbulkan,” Hiro nampak berapi-api. Dan sedetik kemudian, menyesal karena telah mengatakan itu.
“Aku akan kembali ke SOS,” Alyx menatap sepatu ketsnya.
“Tidak.”
Alyx berbalik.
Hiro maju selangkah. Meraih Alyx. Meletakkan tangannya di atas kepala Alyx. Dan Alyx terjatuh di pelukan Hiro.
*
Hiro memandangi orang yang lalu lalang dihadapan mereka. Di sebelahnya, Alyx duduk, kepalanya bersandar di bahu Hiro—teridur pulas.
Beberapa menit kemudian, Alyx membuka matanya. Menegakkan kepalanya. “Aku tertitdur,” gumamnya.
“Kau terlalu lelah.”
Alyx diam sejanak. “Ayo, jalan lagi.”
Hiro mengikuti di belakang Alyx. Mereka tiba di Parliament House—tak ada orang lain selain mereka. Alyx
dengan leluasa mulai menangkap gambar menggunakan kameranya, dia tersenyum. Wajahnya sumringah.
Kamera kesayangannya di genggamnya kuat-kuat saat mereka berhenti di sebuah kios jajanan. Dia menggantung kamera di lengannya. Menyuapkan makanan untuk Hiro. Kemudian, kembali berjalan.
Saat berada di depan jam Big Ben untuk memotretnya. Alyx terdiam. Melihat jarum jam dari lubang kamera dan
dengan mata telanjang. Dia berbalik dan mendapati wajah Hiro dengan tatapan sedih.
“Ada apa?” tanya Hiro mencoba tersenyum, saat menyadari Alyx sedang melihatnya.
“Apa yang kau lakukan, Hiro?”
Senyum di wajah Hiro menghilang.
Jarum jam yang bergerak berlawanan arah, kamera, orang-orang. “Ilusi jiwa.” Alyx membuka matanya dan menyadari dia sedang berada di pondok dimana Tom pernah membawanya.
“Maaf,” kata Hiro dengan nada menyesal.
Alyx berdiri. Mencoba mengatur nafasnya.
“Ayah memintaku melakukannya. Tapi, kau bangun terlalu cepat.”
“Pukul berapa sekarang?” tanyanya sambil berjalan ke arah jendela. “Suasana di sini penipu. Aku tidak bisa mempercayai apa yang ada di pondok ini.”
“Delapan.”
“Delapan?”
“Pagi.”
“Delapan pagi? Itu berarti di SOS… kau tidak tidur semalam?”
“Ah?”
“Tidurlah. Aku akan menemanimu.”
“Tidak.”
“Kau nampak lelah, aku janji tidak akan kemana-mana.”
Hiro begitu lelah dan akhirnya menyetujui saran Alyx. “Duduk di sampingku.”
Alyx mengiyakan. Hiro memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di bahu Alyx.
Sudah lima belas menit Hiro tertidur dan Alyx sama sekali tidak bergerak di sampingnya—gerakan yang bisa menganggu tidur Hiro.
Alyx sedang berpikir. Berpikir keras. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menyentuh tangan Hiro. Pandangannya
kemudian melihat Hiro yang sedang menatapnya saat tidur. Alyx menunggu pandangannya menuju ke kejadian berikutnya, tapi tidak ada yang lain.
“Maaf, Alyx,” suara Hiro terdengar, “aku tidak bisa membiarkanmu mencuri pikiranku.”
“Mencuri?” Alyx terkaget.
Hiro membuka matanya dan menyentuh lehernya dengan tangan yang tak tergenggam oleh Alyx. “Kau tak tahu? Saat kau mencoba melihat apa yang terjadi, kau akan mengambil semua kenagan itu.”
“Seperti yang terjadi pada Jane?”
“Itu benar. Dia kembali ke dirinya semula saat kau mencuri ingatannya yang membuat dirinya syok.”
“Syok? Apa maksudmu?”
“Kejadian malam itu membuatnya kehilangan dirinya. Kejadian yang membuatnya melihat orang-orang yang tak
pernah ingin ditemuinya berada dalam keadaan yang mengerikan. Alyx…” kata Hiro lembut, “kau percaya padaku? Kalau iya, kau hanya perlu mendengar apa yang kukatakan.”
“Hiro,” kata Alyx kemudian dengan nada datar, “kau bilang akan selalu bersamaku.?” Tangannya menggenggam tangan Hiro erat.
“Tentu.”
“Kalau begitu, kau hanya perlu mengatakan apa yang bisa kulakukan sekarang.”
“Tidak ada.”
“Tidak, bukan dari para petinggi. Tapi darimu?” Alyx menatap mata Hiro.
Hiro diam sejenak. Menghela nafas. “Ada banyak hal yang akan terjadi saat kau kembali di saat yang tidak tepat.”
“Lalu kapan waktu yang tepat?”
“Saat dia telah menghilang.”
“Siapa dia?”
“Salah satu diantara orang-orang yang kau lihat pada malam hari itu— Azazil.”
*