
CUACA November akhir memang sangat mendung. Warna dinding universitas sejak pagi hari telah berwarna abu-abu. Beberapa daun yang berwarna cokelat, terlepas dari tangkainya, saat angin bertiup kencang.
William meninggalkan Alyx dan kembali kepekerjaannya. Sedang Jane sudah berjanji akan menemani Alyx sepanjang hari menunggu kelas pertama yang akan dimasukinya. Mereka berdua duduk di dinding pembatas menuju taman.
Jane memandang Alyx yang sudah beberapa kali hari itu menghela nafas berat. Kepalanya dimiringkan dan besandar di tiang penyangga yang besar. Sesekali matanya menyipit saat angin tertiup ke wajahnya. Menyibak rambutnya.
Sementara itu, Jane menikmati angin yang berhembus. Dia menarik nafas dalam-dalam. Membiarkan udara yang
terasa sangat segar itu masuk ke dalam setiap pori-pori tubuhnya.
“Kau akan masuk angin.” Alyx membuyarkan kesenangan Jane.
Jane mencibir. “Meski sedang mendung, tapi udara saat ini sangat segar.”
“Kau benar.” Alyx melihat jam besar di menara universitas. “Sudah pukul dua, kenapa mereka belum memulai
kelas?”
“Entahlah. Sepertinya mereka melakukan banyak persiapan. Kau mau berjalan-jalan dulu?”
“Kurasa ide yang bagus.”
Mereka menyusuri trotoar. Melangkah pelan dia setiap kelas. Sesekali wajah Alyx mendekat ke jendela,
menyaksikan bagaimana kerennya pelajar di universitas itu. Yah, yang dipikirkan Alyx adalah, praktek memang membuat semuanya sempurna.
“Kau sudah lulus ujian di kelasmu, Jane?”
“Apa?” Jane mencibir, “saat itu, aku bahkan tidak bisa menggerakkan pikiranku sendiri, lebih-lebih pikiran orang
lain.”
“Kau harus berlatih lebih sering. Tapi, kurasa masalah utamamu adalah, kau tidak ingin melakukannya, iya kan?”
Jane mendengus. “Mungkin seperti itu, atau mungkin juga aku memang tidak bisa melakukannya. Kalau sampai aku belum bisa, aku tidak bisa lulus kuliah semester ini.”
“Kau pasti bisa,” Alyx menyemangatinya, lalu perhatiannya beralih pada seorang pria berambut hitam gelap yang menyeruak di antara mereka.
“Jangan menyentuh Alyx,” Jane menarik orang yang tiba-tiba merasa dia adalah teman mereka. Sekarang Jane
berdiri di tengah.
“Ada apa?” tanya Hiro yang terkejut dengan respon Jane.
“Bukankah kau api?” tanya Jane.
“Kau penggemarku yah?”
“Tidak. Hanya saja, saat ada kau semua terasa jadi panas.”
Hiro mendorong kepala Jane. “Baiklah aku mengerti itu. Kau adalah keturunan pemimpin Aldachberta kan?
Setelah mengumumkan pengunduran dirinya, pastinya dia telah memberi apa yang telah dimilikinya. Jadi untuk sekarang aku tidak akan menyentuhmu.”
“Jadi kau bermaksud menyentuhnya di kemudian hari?” Jane menunjuk Hiro yang segera mengalihkan pandangannya dan menyengir.
“Tapi, kau harus tahu, kalau dia akan menjadi sainganmu kelak.”
“Saingan apa?”
“Bukankah kau telah terdaftar sebagai kandidat pemimpin?”
“Kau dengar dari mana?” kata Hiro santai, “berita itu cuman isapan jempol. Kurasa Max yang lebih berminat menjadi pemimpin, meskipun perbandingannya sembilanpuluh sembilan berbanding satu persen, dia bisa jadi pemimpin.” Tawanya lepas.
“Kau benar-benar tidak ingin?” tanya Alyx.
“Aku masih mempunyai mimpi yang lain. Tapi, karena kau yang akan menjadi kandidat, aku akan mendukungmu.”
Alyx tersenyum. “Seharusnya kau menyemangati saudaramu.”
Hiro mencibir. “Kau harus tahu bagaimana dia sebagai saudara,” gumamnya. “Sudahlah. Jangan membicarakan bocah nakal itu.”
“Oh iya, hari itu, kau ke London, mencari seseorang bernama Sidney atau Mary?”
“Ah, aku sudah menemukannya. Dia ada di depanku sekarang.”
“Sepertinya aku tahu maksudmu adalah aku, tapi kenapa kau mencariku?”
“Ini antara kita saja, ibuku adalah sahabat ibumu, dan dia menyuruhku memperingatkanmu untuk berhati-hati.
Tapi, betapa konyolnya aku, yang tidak mengenalimu.”
“Bukankah kau memang seperti itu,” gumam Jane.
“Wah, kau sepertinya harus diberi pelajaran Miss Spyglass.”
Jane mendengus, tidak suka. Sejenak kemudian, dia tersenyum, “dia datang,” kata Jane dan Hiro bersamaan.
“Aku akan pergi sekarang. Ehm,” Hiro berdehem sekali, “sampai jumpa lagi, Alyx.”
Alyx membalas dengan senyuman.
Hiro sudah beberapa meter jaraknya dari mereka, saat Jane tertawa dan berteriak. “Aku tahu, Ace.”
“Ada apa denganmu?” tanya Alyx melihat tingkah aneh sahabatnya.
“Kau tahu, dia sepertinya menyukaimu.”
“Oh.”
“Ih, kenapa tanggapanmu seperti itu?”
“Aku sudah memperkirakan itu.”
Jane mencibir. “Kau narsis juga.”
“Bukannya narsis, Jane. Tapi tentu kau akan tahu kalau ada seseorang yang memperhatikanmu.”
“Hush,” Jane melatakkan jari di bibirnya. “Dia mendengarnya.”
“Apa?” Alyx terkejut. “Kau yakin?”
“Maksudku, dia akan mendengarnya nanti, jadi berhenti membicarakan dia. Dan orang yang dihindari Ace, datang.”
“Jane, kau melihat Ace?” Adara dengan balutan dress putih nampak sangat cantik.
Jane menggeleng.
Adara melihat Alyx yang kemudian menunjuk ke arah Ace menghilang.
“Terima kasih,” katanya datar dan pergi.
“Ada apa dengannya? Ayo, Alyx, mungkin saja kelasmu akan dimulai sekarang.”
*
Jane sesekali mengintip melalui jendela. Melihat Alyx yang sudah berada dalam ruangan yang hanya berisi beberapa meja yang cukup besar. Tapi, karena merasa bosan, dia lalu pergi menyusuri taman.
Alyx duduk di salah satu kursi yang mempunyai dudukan yang empuk di belakang meja yang cukup besar. Di atasnya ada banyak buku tebal. Alyx melihati judul satu per satu buku-buku itu. Namun, tidak ada yang menarik perhatiannya. Baginya, itu hanya sekumpulan buku tebal yang sebenarnya hanya berisi selembar peristiwa penting.
Dia menyandarkan punggungnya di kursi, menunggu pengajar yang akan masuk ke ruangan yang seperti ruang belajar kerajaan. Matanya menganalisis setiap sudut ruangan yang terawat dengan sangat bagus itu. Hanya ada empat meja besar. Dan salah satu ditempatinya.
Lalu perhatiannya berhenti pada bunga di atas salah satu meja di samping jendela. Potnya berwarna cokelat. Sedang bungannya seperti bergambar seorang yang tersenyum—mengeluarkan kilatan-kilatan cahaya. Alyx tak berhenti memandangnnya dan dia pun ikut tersenyum.
“Itu *smiling*flower,” suara yang begitu tegas mengejutkan Alyx.
Alyx berbalik dan mendapati seorang pria yang baru saja masuk dan berdiri di depan ruangan.
“Saat kau sedang bersedih, kau harus memandanginya. Dia memberi senyum untukmu,” sekali lagi suaranya
menggelegar di dalam ruangan yang tertutup itu. “Aku Prof. Pritpal Singh.”
“Alexandra, Prof.”
Prof. Pritpal Singh adalah seorang dengan tubuh kecil—seperti tidak sesuai dengan suaranya yang begitu besar dan tegas. Matanya sipit dan berwarna biru. Kulitnya tak terlalu putih, tapi dia sepertinya sangat merawat dirinya. Pakaiannya sederhana, dia mempunyai beberapa cincin terpasang di jarinya yang tidak sederhana—berkilauan.
“Ceritakan sekarang!”
Alyx melongo. Matanya melirik ke kanan lalu ke kiri. “Cerita apa?” tanyanya ragu.
“Cerita tentang diri Anda,” kalimat Singh terpotong-potong.
“Apa yang harus kuceritakan padamu?” Gumam Alyx yang jadi bingung sendiri dengan professor di hadapannnya.
“Bagaimana kalau kau yang bertanya dan aku yang menjawab. Aku tidak terlalu pandai bercerita.”
“Apa?” Suara pria kecil itu membuat Alyx terlonjak. “Maaf. Maaf.” Dia memulai mengatur kembali kalimatnya.
“Saya ini tidak terlalu mengurus berita yang sedang dipermasalahkan oleh orang-orang di luar sana. Jadi nama Anda adalah Alexandra?”
Alyx mengangguk.
“Kenapa Anda baru masuk ke kelas setelah kelas sudah berjalan beberapa bulan?”
“Maaf, Prof.”
“Maaf? Kenapa maaf?” Singh mundur selangkah. “Aku kan bertanya ‘kenapa’?”
mana yah,” gumam Alyx sambil menggosok dahinya, “aku juga tidak mengerti, Prof.”
“Eh, bagaimana tidak?”
Alyx merasa kalau pengajar di hadapannya itu hanya tahu kalimat tanya. “Begini, aku baru tahu kalau aku
adalah penduduk SOS dan akhirnya bertemu dengan ayah dan ibu…”
“Ayah? Ibu?” sela Singh
“William Holder dan Abel Russel.”
“Apa? Apa?”
“Apa apa Prof?”
Singh mencibir. “Anda yang terbaik. Baiklah, kita akan memulai…”
“Tidak ada tanya jawab lagi?”
Singh mendekat ke mejanya. “Beberapa orang tidak menyukai pemimpin, tapi aku ini penggemar berat pemimpin Aldachberta,” bisiknya. “Pemimpin telah memintaku secara pribadi untuk membantu Anda. Baiklah, baiklah.”
Singh menarik sebuah kursi ke depan Alyx. “Kita berteman sekarang, panggil aku Singh, dan aku memanggilmu?”
“Alyx.”
“Alyx? Iya, iya. Apa kau menyukai teori?”
“Tunggu. Aku akan belajar sendiri?”
“Tentu. Ini privat. Permintaan pemimpin. Jadi kuulangi pertanyaanku, kau menyukai teori?”
“Tergantung.”
“Itu berarti tidak. Jadi kita langsung ke praktik. Kemarikan tanganmu,” katanya dan menyingkirkan buku-buku yang menghalangi padangnnya.
Alyx meletakkan tangannya di atas meja.
Singh memperhatikan setiap garis yang berada di telapak tangan Alyx.
“Jadi… kau adalah peramal?”
“Bukan. Aku ini pembaca. Wah…”
“Kenapa?”
“Kau tidak ingin menjadi seorang pemimpin?”
“Entahlah. Menurutmu apa aku pantas?”
“Tergantung dirimu. Kau mau menjadi orang baik atau orang jahat? Karena seperti yang kau ketahui tidak sedikit
yang memilih pilihan ke-dua. Yang jahat tidak bisa jadi pemimpin. Kau tahu,” suaranya berbisik, “beberapa siswa dari klan pemimpin, sangat terobsesi jadi pemimpin, tapi dia tidak punya jiwa kepemimpinan.”
“Bagaimana mempunyai, jiwa kepemimpinan itu?”
“Ah, semuanya dari dalam dirimu. Ngomong-ngomong, kau belum merasa ada yang berbeda dari dirimu?”
“Seperti apa?”
“Kudengar pemimpin telah mengalirkan kekuasaan pada keturunanya, itu kau kan?”
Alyx mengangguk, ragu.
Pandangan Singh tertuju pada pertemuan ujung leher Alyx. Dia menyengir dan menarik tangannya. “Berhati-hati, yah.”
“Sudah banyak sekali orang yang mengatakan itu padaku. Memang, menurutmu apa yang akan terjadi? Apa aku akan mendapat suatu musibah.”
Singh menggeleng, “tidak tahu. Tanyakan saja pada pemimpin.” Dia diam sejenak, “begini setelah aku membersihkan penghalang, kau harus menggunakan kekuasaan ini sebijak mungkin.”
“Aku tahu itu. Kau seperti chip pengaktifan?” Alyx tersenyum mengatakan itu.
Singh mencibir. “Aku hanya membersihkan aura jahat yang menghias dirimu.”
“Apa? Jadi ada kemungkinan aku menjadi orang yang jahat.”
“Setiap orang mempunyai kemungkinan untuk menjadi si jahat. Jadi, jangan mudah mempercayai orang lain, ingat yang kukatakan ini.”
Alyx mengangguk mengerti.
“Kau yakin bisa mengatur kekuatanmu dengan baik, kan?”
“Apa kau ragu denganku? Kalau menurutmu aku tidak bisa, kau tidak perlu melakukannya.”
“Iya. Iya. Begini, aku akan menghilangkan dinding penghalang satu per satu. Kita akan lihat, bagaimana kau mengaturnya nanti. Setelah merasa kekuatan itu tidak merugikanmu, kita akan melanjutkannya ke tingkat selanjutnya—kau bahkan bisa melakukannya sendiri.”
“Terserah kau,” gumam Alyx.
Singh mengamati lagi telapak tangan Alyx—dia tidak menyentuhnya. Baru setelah menemukan sebuah titik, dia
menggerakkan tangannya di atas sana. “Sepertinya aku akan menghilangkan beberapa dinding yang menghalang keahlian alamimu. Kau siap? Ini salah satu keahlian yang kau punya. Kau jago bertengkar, yah?”
Alyx menyengir. “Bukan bertengkar.”
“Nanti kau akan jago bertengkar,” Singh cekikikan dan kemudian berdehem. “Sekarang yang dari ibumu yah?”
“Apa itu?”
“Mengendalikan sesuatu melalui pikiran.” Singh baru saja akan menyentuh sebuah titik di telapan tangan Alyx.
“Tunggu-tunggu-tunggu. Kurasa tidak perlu.”
Tapi terlambat, Singh telah menyentuhnya. “Kau akan membutuhkannya. Seperti membuka pintu untuk dirimu
sendiri.”
“Kau meledek ibuku, yah?”
“Tidak, aku hanya bercanda,” kata Singh dan tersenyum aneh. “Baiklah, pembersihan hari ini selesai. Dan sekarang,” dia menggosok-gosok telapak tangannya, “ayo kita lihat, apa kekuatan pembersihanku masih sangat baik.”
Singh berdiri dan mengambil sebuah pot bunga di bawah meja pengajar. “Ini si grim flower.”
Alyx melihati bunga dengan wajah cemberut dengan lirikan mata yang tajam dan merendahkan.
“Aku biasa menggunakan ini untuk percobaan.”
Lirikan bunga itu menghujam Singh.
“Hentikan itu. Dan Alyx bisa kau mencoba fokus pada salah satu daun di bunga ini? Coba kau lepaskan—ah, ini akan cepat tumbuh lagi,” tambahnya saat melihat wajah ragu Alyx untuk menyakiti bunga berwajah masam itu.
Alyx memperhatikan bunga itu. Mencoba fokus. Tapi, tidak ada yang terjadi. Berjam-jam berlalu, Singh mencari
pekerjaan yang lain karena bosan menunggui Alyx.
Sesaat kemudian, bunga itu menyeringai. Merendahkan Alyx yang tidak bisa berbuat apa pun.
“Ih, dasar,” kata Alyx dan salah satu daun itu pun terjatuh.
“Kau berhasil. Berhasil.”
“Benarkah?” Alyx memperhatikan daun baru yang kemudian mulai muncul.
Singh menyingkirkan bunga itu ke tepi. “Sekarang kau bisa mengendalikan pikiran itu, tapi sayangnya kau harus
marah-marah dulu,” Singh tertawa.
“Apa? Aku tidak mungkin berada dalam kondisi marah setiap waktu. Itu bisa memutuskan syaraf-sayarafku.”
“Yah, gunakan sebutuhnya saja.”
“Iya, kupikir untuk membuka pintu, aku masih bisa menggunakan tanganku.”
*
“Prof. Pritpal Sing yang mengajarku,” jawab Alyx saat ditanya Jane—ketika mereka sedang duduk di salah satu kursi taman. “Kau mengenalnya?”
“Semua orang mengenalnya, tapi dia tidak mengenal orang lain,” kata Jane membayangkan tubuh kecil Singh. “Kau tahu penemuannya yang paling laris di masyarakat? Bunga ekspresi. Kurasa dia mencipatakan itu karena dia sebenarnya kesepian dengan kehidupannya sebagai seorang duda—setelah istrinya meninggalkannya dan membuatnya mengisolasi dirinya dari keramaian orang-orang.”
“Benarkah?”
“Dia orang yang pintar, meski orang yang melihatnya menganggap dia itu bukanlah apa-apa.”
“Kau benar. Tak seharusnya seseorang melihat penampilan orang dari luarnya saja. Oh iya, dia membantuku untuk mengaktifkan kekuatanku.”
“Telapak tangan merefleksikan yang ada pada tubuhmu. Dengan menyentuh titik kekuatan di telapak tangan, akan membuat kekuatanmu bekerja dengan baik. Seperti itu kan?”
“Kurasa kau benar. Professor itu memang sangat hebat.”
“Hanya ada beberapa di SOS—dan dia salah satunya yang berfungsi seperti pengaktif chip.”
Alyx menangguk kecil dan menatap hewan-hewan kecil yang lagi-lagi berkumpul di samping kakinya.
*