SOS

SOS
Chapter 25



ALEXANDRA meletakkan kakinya di tengah-tengah hewan-hewan kecil itu. Mereka berlomba-lomba naik ke atas sepatu Alyx, tapi kupu-kupulah yang lebih dulu hinggap di sana.


Alyx meraihnya. “Sama,” kata Alyx menyadari itu adalah hewan yang sama. Dia membiarkannya terbang dan kemudian merunduk. “Kalian senang?” tanyanya.


Jane melihat sahabatnya itu dan tersenyum. “Apa kau senang, Alyx?”


Alyx berbalik dan menatap Jane. Tersenyum.


“Semoga kau menjadi pemimpin yang lebih dari ibumu.”


Alyx menghela nafas dan bersandar. Menengadah. Menatap awan yang bergerak dengan lambat. “Bukankah para petinggi yang harus menentukan?”


“Penentuan akhir. Tapi karena kau adalah kandidat pertama, dan dibandingkan dengan Max—dia tidak ada apa-apanya, dia hanya bisa menggunakan kedudukannya untuk membuat sesuatu bergerak—kurasa mereka akan menjatuhkan pilihannya pada dirimu.” Jane berdehem, bersiap mengatakan sesuatu, tapi kemudian diam.


“Ada apa?” Alyx penasaran. Karena tidak ada jawaban, dia melanjutkan, “tapi, Jane, beberapa orang menyuruhku


untuk berhati-hati. Menurutmu apa yang akan terjadi? Apa seseorang berniat menggeserku?”


Jane menekuk kepalanya. Ucapannya tak terlalu jelas karena kepalanya ditekuk sangat dalam.


Alyx mencibir. Dan beberapa saat kemudian, dia menyadari sesuatu datang ke arah mereka dengan sangat cepat.


Tangannya merespon menangkap benda yang hampir saja mengenai wajah Jane.


Alyx melihat jarum di tangannya. Berpikir sejenak. Merasa dia pernah melihat benda ini.


*


Alyx di kamar kecil saat ini. Mencuci tangannya. Dia bisa menangkap suara-suara dari luar. Di ruang keluarga Jane, sudah ada tuan rumah John dan ayahnya William. Mereka sedang memperdebatkan sesuatu. Sementara Jane, Alyx tahu kalau sahabatnya itu sedang mondar-mandir di depan ruang keluarga. Setelah merasa bersih, Alyx keluar dan mendapati Jane dengan wajah yang begitu berbeda dari biasanya.


Jane berjalan bolak-balik di depan pintu. Tangannya di remas. Wajahnya memancarkan kekhawatiran. Namun, saat menyadari kehadiran Alyx, dia tersenyum.


“Kau sudah selesai, aku baru saja mau masuk ke ka…”


Alyx menarik tangan Jane. “Ada apa?”


“Tidak ada apa-apa.”


Alyx menatapnya tajam. Jelas sekali kalau Jane yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi itu sedang merahasiakan sesuatu.


Wajah Jane kemudian melemah. Tersirat kesedihan di wajah mungilnya. Dia menundukkan kepalanya. Dan membuat rambutnya menutupi wajahnya.


“Kurasa sedang terjadi pemberontakan,” dia hampir saja menangis mengatakan itu saat Alyx dan dia berada di kamarnya.


Alyx tidak tahu harus mengatakan apa. Baginya pemberontakan seperti itu tak menjadi masalah, tapi kenapa gadis


di hadapannya itu harus merasa bersedih.


“Alyx,” gumam Jane.


“Apa ada yang lain yang ingin kau katakan? Aku tipe pendengar yang baik,” kata Alyx dan menyentuh tangan Jane.


“Kau ingat mengenai pemberontakkan yang pernah kuakatan padamu sebelumnya.”


Alyx mengangguk. Waktu itu Jane bercerita saat mereka di rumah Tom.


“Beberapa tahun yang lalu, saat masih kecil, seorang peramal pernah datang ke rumah kami.”


Alyx tidak tahu apa hubungannya peramal itu dengan pemberontakkan yang dimaksudkan Jane. Tapi sebagai pendengar yang baik. Dia mencoba untuk mendengar semua yang dikatakannya.


“Dia setengah berteriak. Karena itu, kami bisa mendengarnya dari dalam dan segera keluar. Dia wanita bertubuh


pendek dan kurus, jari-jarinya juga kurus, tapi sedikit panjang, sungguh aneh dengan melihat tubuhnya yang hanya setinggi aku saat berusia duabelas tahun. Dia berdiri di depan gerbang, kepalanya bisa saja dimasukkan di antara pintu gerbang itu saking mungilnya dia.


“Dia mengatakan, ‘seorang dari mereka akan menjadi pengacau. Pengkhianat—karena Dia. Bahkan pembunuh.


Hentikan. Hentikan. Keluarga Russel itu tidak tahu diuntung… kau nona kecil’, dia menunjuk padaku dan menyeringai. Sangat menakutkan. Beberapa saat kemudian, dia pergi, dan kami tidak melihatnya lagi,” meski rendah, suara Jane bersemangat.


“Kami—aku, ayah, atau ibu, bahkan pekerja kami, tidak pernah mendengar seseorang yang memaki keluarga yang begitu terpandang seperti keluarga Russel. Dia yang pertama. Saat ayah mendekat untuk melihat wanita itu, dia sudah menghilang.” Jane mendongak melihat Alyx yang masih setia mendengarnya.


“Beberapa hari setelah itu, tepatnya di malam hari penentuan, seorang wanita datang lagi, dengan wajah yang


pasti kau kenali—dia Amaris. Dia menanyakan kepada kami mengenai wanita itu dan Amarislah yang menceritakan mengenai wanita itu yang adalah seorang peramal—seperti dirinya. Amaris kemudian menceritakan mengenai penelusurannya ke masa yang akan datang, dan tersenyum saat mengatakan memang akan terjadi pemberontakkan.


“Aku meringis saat itu. Bertanya mengapa Amaris tersenyum mengatakan itu—tapi dia tidak bercerita lebih lanjut.


Malah surat kabar yang kemudian bercerita lebih heboh mengenai pemberontakan di SOS. Beberapa tahun berlalu, sudah jarang yang membicarakan mengenai masalah ini. Dan hari ini aku kembali mendengarnya.”


“Siapa yang mengatakannya?” tanya Alyx.


“Paman William.”


“Benarkah? Aku akan bertanya padanya.”


“Jangan,” Jane menarik Alyx dan membuatnya kembali duduk dihadapannya. “Dia tidak ingin kau tahu.”


“Kenapa?”


Jane menggeleng.


“Apa karena kata peramal itu. Apa itu berarti seseorang yang dimaksudkannya adalah aku?”


Jane menggeleng. Ragu. “Kau dan Tom orang yang baik—aku ragu kalau itu diantara kalian.”


“Itu bagus. Kalau begitu Max. Dia yang tadi memanahkan jarum beracun itu?”


Jane mengangkat bahu.


“Aku pernah mendapatkan jarum seperti itu saat di Indonesia. Bukankah hanya keluarga Max yang membuntuti


keberadaanku. Bahkan Max dengan terang-terangan menunjukkan bawahan ayahnya.” Tak ada respon dari Jane, Alyx kembali bertanya, “benar kau tidak punya sesuatu yang disembunyikan?”


Jane menggeleng pasti.


“Kalau begitu, kita akan bertanya pada seseorang yang ahli.”


“Siapa? Amaris?”


“Kenapa Amaris? Bukankkah dia hanya tersenyum saat mengatakan itu, kupikir dia juga tidak tahu banyak. Lebih


baik kita tanyakan pada ibuku.”


“Pemimpin Aldachberta?”


“Tentu. Ayolah. Kau bisa menyetir kan?”


Jane berjalan cepat untuk bisa berjalan di samping Alyx yang melangkah dengan langkahan panjang.


“Kalian mau kemana?” tanya William saat mendengar langkahan terburu-buru melewati pintu ruangan tempat dia dan John berada. Dia melompat dari kursinya dan keluar dari ruangan. Tapi terlambat, kedua gadis itu telah pergi. “Sepertinya dia akan ke bangunan utama,” kata William pada John.


*


Alyx membuka matanya dan mendapati dirinya telah berada di salah satu ruangan yang pernah ditempatinya. Putih dan hijau. Dia menyentuh kepalanya. Dan mengeluarkan suara yang tidak jelas. Suaranya parau.


Pandangannya kemudian beralih pada seorang pria yang baru saja membuka pintu. Pria itu menggunakan kemeja luar putih. Alyx tahu kalau dia pastilah seorang dokter. Tapi, kemudian saat mendekat, dia mengenali pria itu sebagai Hiro.


Hiro menghampiri Alyx dan memberinya segelas air. “Kau baik-baik saja?”


Alyx mengangguk dan menyentuh lehernya.


“Apa kau yakin?”


“Aku juga seorang dokter dan aku tahu apa yang terjadi padaku—kecuali saat itu,” katanya diam sebentar. “Jadi… kau adalah dokter di klinik ini? Eh, mana Jane? Dia baik-baik saja kan, harusnya aku tidak membuatnya menyetir di malam hari.”


Hiro tersenyum. Tidak percaya saat melihat sifat Alyx. “Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”


Alyx menyibak selimut dan turun dari ranjang.


“Kau mau kemana?”


Alyx berbalik. “Tentu saja menemui….”


“Jane tidak di sini.”


“Jadi dia tidak terluka, kan? Ah pasti Paman John telah membawanya pulang. Aku akan menemui ayahku dan akan


menemui Jane di rumahnya. Baiklah aku per…”


“Jane juga tidak di rumahnya.”


*


Alyx berlari kecil keluar dari klinik dan mulai berjalan menuju bangunan utama yang cukup jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi, akan lebih baik untuk dia, pikirnya. Selama berjalan dia akan memikirkan kejadian tadi malam. Kejadian apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga dia bisa berada di rumah sakit saat membukaa mata. Hanya saja semakin dia memikirkan itu, semakin kepalanya berdenyut sakit.


Dia tidak mengingat apa yang terjadi padanya dan Jane yang menyetir mobil semalam. Apakah terjadi kecelakaan? Tapi dimana Jane sekarang?


Kaki Alyx semakin cepat melangkah. Beberapa saat kemudian, dia telah tiba di depan gerbang bangunan utama. Segera dia masuk. Dia harus melewati bagian ruangan tengah untuk sampai di ruangan ibunya.


Sebelum dia masuk ke koridor menuju ruangan pemimpin, seorang wanita keluar dari pintu ruang tengah dan mencegat Alyx.


“Aku harus ke ruangan ibuku sekarang, Amaris.”


“Kau sedang mencari seseorang?” tanya Amaris dengan suara datar. Tak ada senyuman dari wajahnya seperti senyum jenaka yang biasanya selalu tersungging di wajahnya yang bulat.


“Yah, begitulah.”


“Seorang pria?”


“Apa? Tidak, tapi…”


“Gelang ini.” Amaris menyentuh pergelangan tangan Alyx. “Pemberinya?”


“Nick?” gumam Alyx. “Apa maksudmu, Amaris? Bisa kau katakan lebih jelas.”


“Dia di SOS.”


“Ah, bagaimana mungkin dia di sini?”


“Setidaknya kau harus melihatnya sebelum dia pergi untuk selama-lamanya.”


Alyx menggigit bibirnya, matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Memikirkan sesuatu dan mengingat mengenai produk SOS.


“Dia di laboratorium.”


Alyx yang tadinya akan menemui ibunya, berbalik.


Sepeninggal Alyx, Amaris terjatuh. Beberapa yang melihat segera menolongnya. Petinggi Amaris pingsan—mereka


berteriak seperti itu. sementara di belakang tembok menuju koridor, seorang pria baru saja berbalik dan pergi.


Di taman bangunan utama, Alyx berlari kecil dan berhenti saat melihat sebuah mobil kecil di pinggir jalan.


Hanya berbentuk kerangka mobil dan sebuah tempat duduk. Dia tidak melihat seorang pun di sana—untuk meminta izin meminjamnya sebentar—jadi dia segera memakainya. Dari balik kaca spion mobil tak berpintu itu, Alyx bisa melihat pemilik mobil itu mencari mobilnya yang hilang.


Tidak lama, dia telah sampai dan masuk ke ruangan William yang segera mengantarnya ke laboratorium untuk melihat keadaan pria yang dimaksudkan Amaris.


“Tidak ada?” Alyx hampir saja berteriak saat penjaga laboratorium untuk warga luar SOS itu mengatakan tidak


ada yang bernama Nick di sana. Alyx terduduk dan berpikir sebentar.


“Ada apa sebenarnya, Alyx?” tanya William.


“Amaris mengatakan temanku itu ada di sini. Untuk apa dia mengatakan itu?” gumamnya dan beberapa kata lainnya.


Bahkan William yang berada di depannya tidak mengerti apa lagi yang dikatakan putrinya setelah itu.


“Jane. Ayah, kau tahu dimana Jane?”


“Aku telah mengutus beberapa orang untuk mencarinya.”


“Ayah…” kalau saja Alyx tidak terbiasa menahan air matanya mungkin saja saat ini dia akan menangis. Meski


begitu, suaranya terdengar bergetar. “Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku tidak mengingat apa pun?”


William menggeleng dan segera membimbing Alyx keluar. Mereka kemudian berangkat ke kediaman Walcott.


Sesampai disana, Alyx tidak banyak bicara, dia takut akan disalahkan dengan hilangnya Jane. Lagi pula, dia sedang berpikir keras sekarang—baik mengenai Jane, Amaris—yang memberinya informasi yang salah, dan juga teman baiknya, Nick—sudah lama dia tidak menghubunginya.


“Alyx… Alyx…”


“Iya.”


Suara John menyadarkannya. “Minumlah selagi masih hangat.”


Alyx menatap gelas dihadapannya. Tangannya yang akan mengambilnya ditarik lagi ke pangkuannya. Dia menunduk. “Maafkan aku, paman.”


“Tidak. Ini bukan salahmu. Hanya saja…” belum John menyelesaikan kalimatnya, dia berhenti dan menoleh ke pintu yang baru saja terbuka. Dia segera melompat dan memeluk gadis itu.


Alyx berbalik dan mendapati Jane dengan wajah tanpa ekspresi. Dia baru saja akan menghampirinya, tapi, beberapa detik kemudian, Jane telah jatuh pingsan.


*


Jane membuka mata dan mendapati Alyx yang membelakangi dirinya—yang menatap keluar jendela. Selama beberapa saat, dia memandangi punggung Alyx. Tak ada suara darinya. Suara yang akan membuat Alyx berteriak


kesenangan mengetahui dirinya telah sadarkan diri. Sayangnya, mulutnya terkunci rapat—meski Alyx telah berbalik dan melihat matanya yang segera menyipit saat Alyx menyibak gorden.


“Maaf,” kata Alyx dan segera menarik kembali gorden berwarna putih. “Kau baik-baik saja?”


Jane hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil dan menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut.


“Aku akan memanggil paman John.”


“Tidak,” suaranya kecil, tapi segera membuat Alyx mengerti kalau temannya itu tak ingin diganggu.


“Kalau begitu, akan keluar. Kalau kau butuh sesuatu, kau hanya perlu…”


“Ehm,” suara Jane dari balik selimut terdengar lagi.


Alyx segera merasa kalau dirinya tidak diinginkan di tempat itu. Dia keluar dan bergabung dengan yang lain. Alyx


menghela nafas berkali-kali, membuat William dan John yang sedang berbincang, berpaling dan melihatnya bersamaan.


“Ayah, aku ingin menemui ibu,” kata Alyx dan telah bersiap.


William nampak berpikir sebentar dan mengiyakan permintaan putrinya. Setelah berpamitan, mereka langsung pergi.


“Ada apa?” tanya William saat mobil telah melaju. Dia harus mengulang pertanyaannya untuk menyadarkan Alyx.


Dan tidak ada jawaban darinya. Hanya sebuah gelengan yang juga tidak dilihat William. Pikiran Alyx sedang


melayang jauh. Ada banyak hal yang dipikirkannya. Ada banyak hal yang ingin diketahuinya. Dan tak satu pun jawaban dia temukan.


“Beberapa hari lagi pengumuman mengenai pengganti pemimpin,” kata William yang didengar jelas oleh Alyx.


Pandangan Alyx hanya terarah ke luar kaca mobil. Dia tahu itu dan percuma saja kalau dia menolak pada masa-masa sekarang ini.


*


William dan Alyx telah tiba di bangunan utama. William segera ke laboratorium, sementara Alyx telah berjalan masuk ke dalam ruangan. Tadinya dia akan mencari Amaris, tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat. Dia segera memikirkan seseuatu yang baik mengenai salah satu petinggi SOS itu, tidak mungkin Amaris berbuat sesuatu yang menyebalkan seperti kemarin. Mungkin saja yang dilihatnya adalah masa depan yang akan terjadi—dan kalau seperti itu, dia harus segera bertemu Nick.


Pintu terbuka, sebelum Alyx mendorongnya. Tapi, bukan dia yang membuatnya terbuka, melainkan Abel yang


duduk di belakang mejanya sambil membaca sebuah dokumen. Dilepasnya kacamata bacanya, saat Alyx masuk dan berdiri di depan mejanya.


“Dudukah dan tunggu sebentar.”


Alyx menuruti keinginan ibunya dan duduk di sofa. Kepalanya disandarkan di bahu sofa dan melihat ke langit-langit


yang berukir-cantik.


Abel telah merapikan dokumen-dokumen yang berada di atas mejanya dan berpindah ke samping putrinya.


“Kau tahu semuanya, ibu?”


Pertanyaan Alyx, membuat Abel tersenyum. Dia diam beberapa jenak.


Karena tak ada jawaban darinya, Alyx menegakkan punggungnya dan melihat wajah ibunya.


“Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa denganku atau pada Jane? Dia bahkan tidak ingin melihat wajahku.” Wajah Alyx ditenggelamkan ke dalam telapak tangannya.


“Kakek moyang Russel adalah penyelamat jiwa,” kata Abel tiba-tiba.


Alyx mengangkat wajahnya. Dan seketika mengerutkan keningnya.


“Tak ada yang tahu tentang ini. Cerita ini hanya berkembang di sesama keluarga Russell—dan pemegang chip hati.”


*