SOS

SOS
Chapter 20



ABEL Adalbrechta Russell kembali ke bangunan utama setelah mengikuti rapat yang sebenarnya bisa saja tidak diikutinya. Hanya saja ada hal penting yang membuatnya memutuskan untuk mengikuti rapat.


Para petinggi sudah berkumpul di ruangan tengah, tempat bertemunya pemimpin dengan ke duapuluh petinggi SOS. Mereka duduk melingkar dan memusatkan perhatian mereka pada satu orang—Abel.


Beberapa pelayan masuk untuk menuangkan teh ke cangkir yang terletak di atas meja di hadapan para petinggi.


Makanan kecil juga sudah terhidang. Memang sejak Abel menjadi pemimpin—dia membuat pertemuan tidak se-kaku saat para pendahulunya yang memimpin.


Diantara ke dua puluh petinggi dan Abel—dirinyalah yang termuda. Sehingga membuatnya tetap menghormati para


petinggi meski Abel merupakan pemimpin.


“Ada apa, Adalbrechta?” tanya salah satu petinggi—wanita yang duduk dekat dari Abel saat melihat Pemimpin SOS itu terlihat murung.


“Tidak ada yang terjadi, Amaris.”


Tapi, Amaris—wanita bertubuh subur itu, tahu sekali apa yang terjadi pada Abel. “Tenangkanlah pikiranmu. Semuanya akan seindah rembulan,” kata Amaris tersenyum.


Saat para petinggi sedang berbincang, pintu terbuka. Seorang pria yang masuk dengan wajah marah yang


dicoba tidak diluapkannya. Semua kepala mengarah padanya—termasuk ayahnya, Addison—yang duduk di kursi paling dekat dengan pintu masuk.


“Apa yang kau lakukan, Adney?”


Max menatap ayahnya sebentar dan berjalan masuk dengan sikap congkaknya. Dia membungkuk sekali, mencoba bersikap sopan pada orangtua di hadapaannya. “Bolehkah aku berbincang sebentar dengan Pemimpin Adalbrechta?”


Para petinggi saling melihat satu sama lain, tidak mengerti mengenai sikap pria yang tiba-tiba masuk itu.


“Silahkan, Adney. Dan kuharap ini sesuatu yang penting. Bukan sebuah lelucon lagi,” Abel mempersilahkan.


“Tentu, tapi apakah Anda sudah memikirkan mengenai lelucon kemarin? Aku membutuhkan jawaban Anda, sebelum bercerita di depan para petinggi yang lain.”


Abel berpikir sebentar. “Tentu, aku masih mengingat setiap detail leluconmu dan meski tidak lucu aku berusaha untuk memahaminya, dan setiap kali itu pula aku berpikir tidak ada salahnya kalau anda mengatakan lelucon itu di depan para petinggi yang lain. Jika saja, Anda merasa siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi kemudian.”


Max berpikir sebentar dan bermaksud keluar dari ruang tengah, tapi kembali lagi dan berbicara dengan sangat keras. “Sudahkah Para Petinggi mengetahui tentang rahasia Adalbrechta?”


Suara-suara dari petinggi mulai terdengar—tak menyukai pertanyaan Max yang tidak sopan.


“Apa yang kau lakukan, Adney?” Addison mendesis menyuruh putranya keluar segera.


“Tidak Ayah.” Max kembali dengan sikapnya yang sangat percaya diri.


“Semua yang kau katakan akan tersampaikan ke telinga penduduk SOS yang lain,” bisik Addison.


Max malah tersenyum menyadari makelar berita sering sekali mendapat berita heboh saat pertemuan antar


pemimpin.


Addison tidak tahu lagi bagaimana memberitahu putranya dan dia kembali duduk.


“Bukankah Yang Mulia harus selalu berusaha mendengar rakyatnya yang ingin menyampaikan sesuatu? Maka ijinkanlah aku menyampaikan hal penting ini. Bahwa Duchess Abel Adalbrechta Russell harus segera mengundurkan diri dari jabatan kepemimpinan.”


“Lancang sekali kau berpendapat seperti itu,” Para petinggi mulai merasa sikap Max sangat keterlaluan.


Abel tersenyum kecil.


“Menurut pengamatanku, pemimpin Adalbrechta telah melanggar undang-undang dengan merahasiakan keberadaan keturunan yang seharusnya selalu berada dalam pengawasan petinggi SOS.”


Addison telah membenamkan wajahnya di telapak tangannya.


“Lalu apa yang menjadi masalahmu, Adney?” tanya Amaris.


“Pemimpin SOS harus melepaskan jabatannya dan harus segera mencari penggantinya.”


“Anda terlalu terburu-buru,” kata Carney, pria jangkung keturunan Irlandia, “sangat terburu-buru mencalonkan diri.” Ia tersenyum.


“Benar. Andai saja rahasia pemimpin adalah sebutir beras, maka kami pun akan menemukan sebutir beras itu,”


kata Amaris yang sudah berdiri dari kursinya. Nampaklah, tubuhnya yang pendek dalam balutan gaun berbahan bulu domba.


“Mengenai keturunan Adalbrechta Russell—karena seorang ayah berhak untuk melindungi buah hatinya, maka kami menyerahkan masalah keberadaannya itu pada Sir William Holder…”


“Kalian juga tahu itu?” wajah Max mulai pucat.


“Dengarkan aku dulu, Adney, biar semua ini menjadi jelas untukmu. Kemudian,” Carney yang menjadi juru bicara


melanjutkan, “tentang pengawasan dari petinggi—yang dilaksanakan setelah calon penerus dianggap telah dewasa—maka empat tahun yang lalu, kami telah mencari tahu keberadaannya dan memulai pengawasan itu, seperti yang juga kami lakukan padamu dan kandidat lainnya. Jadi, apa masih ada yang menjadi masalah bagimu?”


Max tidak bersuara, seperti sedang berpikir keras. “Tidak. Bagaimana dengan Tom?”


“Anda juga tahu itu?” tanya Amaris. “Itu berarti Anda hanya akan menjadi kandidat ke sekian yang diperhitungkan, Adney.”


“Tidak,” teriaknya. “Kalian tentu tidak tahu mengenai keabsahan keturunan yang dimiliki Tom? Dia tidak lahir dari


rahim seorang ibu? Dia berkembang dalam sebuah tabung.”


“Kami yang telah meminta Adalbrechta untuk melakukan tindakan itu, Adney. Dia harus segera memimpin.”


Tak ada suara lagi. Abel yang sedari tadi menunduk kemudian angkat suara, “Lalu, bagaimana dengan kedua


keturunanku, Adney?”


Max berbalik meninggalkan ruang tengah yang seketika menjadi neraka baginya.


*


Addison hanya terdiam di ruangannya. Dia baru saja meminta bawahannya untuk membawa Max kehadapannya. Dan beberapa saat kemudian pintu ruangannya terbuka. Max masuk dengan wajah lesu.


“Lalu apa yang sudah kau dapatkan, Adney?”


“Seharusnya kau mengatakan semua ini.”


“Apa yang kuketahui telah kuberitahukan semua kepadamu. Aku bahkan memintamu untuk tidak bertindak


sebelum semuanya jelas. Bagaimana mungkin kau seceroboh ini. Kau harusnya tahu bahwa apa yang kudengar belum semuanya—aku bahkan baru menjadi petinggi  beberapa tahun yang lalu,” gumam Addison.


“Kau…” nada suara Addison menjadi lebih tinggi, “membuatku ragu untuk mencalonkanmu. Mungkin saja aku akan


“Apa?” suara Max bergema di dalam ruangan. Dia berdehem dan menenangkan dirinya. “Tidak, aku akan membuktikan padamu, Ayah, akulah yang terbaik.”


Addison nampak berpikir. “Baiklah, aku akan menunggumu, jangan membuatku kecewa kali ini lagi, Adney.”


“Aku berjanji,” katanya dan senyum mengembang di wajahnya. Dia sekarang lebih rileks duduk di hadapan ayahnya. “Bukankah kau meminta orang-orangmu untuk mengawasinya…”


“Bukan aku, Adney," Addison menelan ludah. "Dan kau seharusnya tidak…”


Max mengerti, ayahnya yang malah pernah mencelakai gadis itu. Dia tidak memperhatikan lagi ayahnya yang mengomel tidak jelas. Sekarang sebuah ide telah muncul di otaknya.


*


Sebuah ruangan besar di bangunan utama nampak sangat sepi, pemiliknya belum kembali. Terdapat rak buku di samping kiri. Beberapa buku tidak dimasukkan ke dalam rak yang sudah penuh, juga tumpukan buku di depan


meja yang tidak tersusun. Sepertinya pemiliknya masih bingung—memilih buku mana yang akan dikeluarkannya dari rak dan mana yang akan digantikan dengan yang baru.


Ada sepasang meja dan kursi berukir yang kokoh. Di belakang kursi, jendela tertutup kain gorden berwarna


merah maroon polos—seperti pemiliknya menyukai warna itu, terlihat dari beberapa benda yang memiliki warna senada.


Dinding di belakang sebuah sofa panjang yang juga berwarna merah marron, terdapat tiga buah peta elektronik


yang tertempel dengan ukuran yang sama. Satu peta dunia dan satunya adalah peta SOS, sedang yang lain adalah peta atau lebih mirip sebuah denah bangunan utama SOS. Beberapa titik merah bergerak di atas peta. Juga di atas denah bangunan utama. Sekarang sebuah titik berjalan menuju ruangan itu. Mendekat dan semakin mendekat.


Pintu terbuka. Dua orang pria dan dua orang wanita berhenti di depan pintu, berdiri, kemudian berbalik membelakangi pintu. Seorang wanita dengan jas hitam dan rok selutut berdiri di tengah pintu.


“Kalian, beristirahatlah!”


Kedua pria dan wanita yang selalu mengikutinya itu membungkuk—melaksanakan segera perintah dari pemimpin.


Pintu tertutup dengan sendiri saat Abel telah melangkah masuk. Dibukanya high heels yang dikenakannya dan


melangkah di atas karpet tebal berwarna merah maroon. Dia lebih senang menginjak itu dari pada di atas lantai yang dingin.


Abel berjalan ke belakang mejanya dan duduk bersandar di kursinya sambil menutup mata. Sesaat kemudian, dia


menarik laci mejanya, mengambil sebuah bingkai foto dan meletakkannya di atas meja.


Dia melihatnya beberapa jenak dan berdiri di samping jendela. Melihat keluar. Melihat penduduk SOS yang sudah


ramai di jalanan. Lututnya kemudian melemah, tangannya memegang gorden, dan lama-kelamaan dia terduduk. Menyandarkan badannya ke tembok. Menunduk. Memandangi pergelangan tangannya cukup lama. Dan sebutir air mata menetes di atasnya.


Air mata—luapan emosi yang sudah menjalar di sekujur tubuhnya. Dia yang telah memulai semuanya dan dia juga yang harus mengakhirinya. Dan akhirnya keluarga yang diimpikannya akan terwujud.


Abel mengangkat wajahnya dan melihat ke foto yang telah terbingkai emas. Gambar orang-orang yang selalu


dipikirkannya. Gambar orang-orang yang selama ini hanya bisa dilihatnya dari jauh. Gambar orang-orang yang selama ini hanya bisa dikasihinya sepihak. Gambar orang-orang yang akan segera mengatahui dirinya ada dan akan memberikan semua cinta untuk mereka.


Dan dengan segera mengambarkan pada ke dua buah hatinya bahwa dia adalah ibu mereka.


*


Duapuluh tiga tahun yang lalu. Usia penikahan Mr. dan Mrs. William Holder telah berjalan satu tahun dan mereka baru dikaruniai seorang buah hati setahun kemudian. Benih yang digabungkan dari separuh chip jiwa terbaik yang ditanamkan saat masih di dalam rahim.


Kelahiran putri pertama Abel Sidney Russell atau Mrs. Abel Holder sangat mendebarkan. Hari itu adalah hari


dimana hari penentuan karena posisi kepemimpinan yang kosong—setelah pemimpin meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Abel adalah salah satunya keturunan langsung dari pemimpin dan telah lama diperhitungkan sebagai pemimpin SOS selanjutnya—karena telah bertindak bijak saat pemimpin sakit dan menggantikan


tugasnya.


Hari penentuan bertepatan dengan hari bersyukur warga SOS. Para penduduk telah berkumpul di lapangan utama. Saling berdoa dan menyuarakan kemenangan. Dan menunggu pengumuman siapa pemimpin selanjutnya.


Sedang mengenai kelahiran itu, tidak ada yang tahu kecuali para petinggi. Carney—pria jangkung yang selalu menjadi pembicara muncul di LCD besar dan akan mengumumkan pengumuman yang sangat penting.


Sebenarnya saat itu Carney juga akan mengumumkan telah lahirnya keluarga Holder dan Russell yang baru. Tapi, Abel menolak untuk memberitahukannya pada penduduk. Dengan alasan—tidak ada orang lain yang tahu mengenai Abel yang telah menikah di usia muda dengan William Holder yang masih harus fokus pada pembaruan pengamanan SOS.


Carney kemudian mengumukan, pemimpin terpilih adalah Abel Sidney Russel—dan berganti gelar menjadi Duchess Abel Adalbrechta Russell. Pemimpin yang mulia.


Abel dan William harus terpisah. Abel berjanji akan selalu mengunjungi mereka, tapi karena beberapa keluarga


Russell yang tak menyukai Abel yang menjadi pemimpin—menaruh curiga pada Abel karena sering mendatangani kediaman Holder, maka sehari kemudian dia tidak lagi datang untuk melihat buah hatinya yang masih berumur beberapa minggu itu.


Usia putri mereka telah menginjak satu bulan. Tiba hari penanaman chip yang telah dibuat khusus untuknya,


sayangnya William kehilangan putrinya. Dia mulai mencari, tapi tidak menemukannya. Saat dia mencari Abel—William juga tidak menemukannya.


Sehari kemudian, William mendapati putrinya di ruang kerjanya, di atas sofa, berselimut kain berwarna merah


maroon.


William mencoba mengerti apa yang sedang terjadi. Dan akhirnya memutuskan membawanya keluar dari SOS. Tidak ada lagi penanaman chip di otaknya karena kelahirannya telah lewat satu bulan. Maka William hanya memasang sebuah chip pelindung di jari manisnya—agar tidak ada orang lain yang mengetahui keberadaannya.


Seminggu kemudian, Abel mendatangi William. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Mereka hanya saling bertatapan dan berbicara melalui pikiran. Seperti yang dilakukannya selama dua puluh tahun berikutnya.


William tidak bertanya mengenai siapa yang menculik putrinya—karena dia sudah tahu siapa dan apa modus dari


kejadian itu.


Dua bulan kemudian, pelantikan pemimpin SOS akan dilaksanakan seminggu yang akan datang. Dan saat itu Amaris sang Rembulan meramal kehadiran pria kecil di tengah-tengah kehidupan Abel.


Abel kemudian menyadari bahwa dirinya telah mengandung anak ke dua mereka di saat tubuh Abel yang sangat


lemah. Tapi, Amaris memintanya untuk melakukan sesuatu dan dengan keras Abel menolak untuk menggugurkan kandungannya. Dia mencari cara untuk membiarkan anak itu tumbuh.


Mr. dan Mrs. Wilder yang mengetahui itu berusaha untuk membantu Abel. Dengan membuat sebuah tabung yang


berfungsi sebagai pengganti rahim. Calon buah hati Abel dipindahkan ke dalam tabung rahim—hampir setiap hari dia memantau perkembangan janinnya.


Selanjutnya setelah menjadi seorang bayi, keluarga Wilder yang merawatnya dan menganggapnya sebagai anak


kandung mereka sendiri. Tanpa sepengetahuan William yang membenamkan diri di laboratorium.


*