SOS

SOS
Chapter 23



“AKU tidak melihat Tom beberapa hari ini,” kata Alyx saat Abel baru saja menceritakan mengenai kehidupan Tom.


“Seharusnya aku memberitahu ini pada ayahmu, tapi aku terlalu takut bahwa diriku telah membiarkan Tom


berkembang di dalam sebuah tabung rahim. Seandainya saja—mungkin Tom bisa tinggal bersama ayahmu, tapi kulihat Mr. dan Mrs. Wilder sangat senang mendapatkan seorang bayi.”


“Kupikir Tom akan mengerti.”


“Iya… iya tentu saja, tapi,” Abel terdengar sedikit ragu, “aku melihat sesuatu yang aneh.”


“Apa?”


“Tidak. Aku telah memintanya untuk datang, segera, dan kurasa dia sudah datang.”


Dan saat itu pintu terbuka. Tom masuk dan berhenti saat pintu tertutup kembali. Memandangi satu persatu orang yang berada di ruangan itu. William—ayahnya. Abel—ibunya. Dan Alyx—saudaranya.


“Sepertinya, aku mengganggu.”


“Apa yang kau katakan Tom,” William memeluk Tom. Dan Tom hanya diam—tak membalas pelukannya.


Tom berdehem. Sesekali memandang ke Alyx yang berdiri di samping Abel.


“William…” suara Abel mengingatkan William untuk kembali ke ruang kerjanya.


“Baiklah. Aku pergi dulu. Kita akan berbicara lebih banyak lagi nanti, Tom.”


Tom hanya menyengir melihat William menghilang di balik pintu.


Alyx menjadi sedikit diam—tiba-tiba dia merasa suasana di ruangan itu sedikit berbeda. Dia memilih untuk duduk di sofa.


Tom melakukan hal yang sama, dia duduk di sofa di hadapan Alyx. Matanya menatap tajam pada saudarinya. “Apa yang kau miliki sekarang?”


“Apa?” tanya Alyx tidak mengerti maksud pembicaraan Tom.


Sementara itu Abel menjadi serba salah. Dia berjalan menuju sofa. Dan duduk diatara mereka berdua. Menghadap


peta elektronik.


“Dia tidak tahu,” kata Abel pada Tom.


“Kenapa dia?”


“Dia anak pertama.”


“Dan aku anak yang tidak di…”


“Aku tahu apa yang ingin kau katakan, Tom,” sela Abel. “Sebaiknya kau tidak mengatakannya. Karena kau tahu yang terjadi akan lebih buruk dari yang pernah kau bayangkan.”


Tom menghela nafas. Melirik tajam pada pot bunga di atas meja. “Benarkah seperti itu?”


“Kau tahu jawabannya, aku tidak mungkin melakukan ini tanpa alasan. Kalian berdua sama, di hatiku.”


“Tidak,” gumam Tom.


“Alden,” seru Abel. Dia berdiri, menatap pemuda yang seperti tidak mempunyai kesopanan di depan orangtua.


Tom menolak menatap wajah Abel yang seketika memerah. “Hentikan, memanggilku dengan nama Alden. Jangan


mengatur takdirku. Aku tidak ingin menjadi pelindung siapa pun. Tidak denganmu, atau pun dia,” kata Tom setengah berteriak dan berjalan menuju pintu. Tapi belum pintu terbuka, dia berdiri—mematung, tangannya berhenti—melayang.


“Jangan pergi sebelum aku selesai,” wajah Abel benar-benar menahan amarah.


Alyx berdiri. Dia tidak mengerti yang terjadi di ruangan itu, tapi setidaknya dia mengerti kalau ini adalah sesuatu yang buruk.


Beberapa jenak kemudian, wajah Abel menjadi pucat. Seperti seorang yang sedang menahan rasa sakit. “Kalau kau meninggalkan ruangan ini sekarang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi, Anakku.”


Tubuh Tom belum bergerak, dia tahu kalau Abel sedang mengendalikan pikirannya. Kemudian, dia menutup matanya. Memprogram sistem kerja otaknya. Memutuskan pengendalian pikiran Abel. “Kau tidak tahu apa yang akan terjadi, Adalbrechta,” gumam Tom dan pintu terbuka dengan sendiri.


Sementara Abel telah jatuh terduduk di samping meja.


“Ibu…”


Tubuh Abel benar-benar lelah, tapi dia tersenyum mendengar panggilan Alyx padanya.


Langit SOS sudah gelap. Alyx masih di ruangan Abel. Dia bersandar di bahu ibunya.


 “Berhati-hatilah di kemudian hari. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi, kau akan segera mengerti semuanya.” Abel diam beberapa saat. “Kau tahu kalau Sidney adalah julukan dari ayahmu. Keluarga


Holder sangat menyukai nama itu.”


Alyx menegakkan kepalanya dan mengangguk. Pikirannya kemudian mengingat saat Ace—Hiro mencari nama Sidney atau Mary saat di London, mungkin saja Hiro memang mencarinya. Tapi, beberapa jenak kemudian, Alyx merasakan hal yang aneh pada dirinya.


“Responnya terlalu lama,” Abel tertawa kecil meski pikirannya sedikit teralih pada anaknya yang lain.


“Ibu…”


“Cobalah menegakkan punggungmu dan mengatur nafas. Lihat aku.”


Alyx memandang ibunya yang terlalu santai dibandingkan dirinya yang seperti seorang yang sesak nafas. Matanya


melotot. Dadanya sesak. Seperti nafas tertahan di tenggorokannya. Dia hampir saja menangis.


Abel melihat dirinya di mata Alyx yang berbinar-binar karena air mata. Kemudian dia menarik nafas. Memejamkan


matanya. Dan meletakkan dua jarinya di dada Alyx.


Alyx menggeleng. Tapi tidak bisa mengeluarkan sepata kata pun. Dia tahu apa yang akan dilakukan ibunya.


Tangannya mencoba menarik jari tengah dan manis Abel. Namun, itu seperti ditempelkan dengan lem yang sangat kuat.


Beberapa jenak kemudian, Alyx melihat pemandangan aneh. Sebuah cahaya seperti mengalir dari dada Abel melalui jari manisnya menuju Alyx. Matanya segera tertutup, tidak mampu menangkap cahaya yang terlalu terang.


Ini belum berhenti. Abel lalu membuka matanya. Dan mendapati Alyx dengan mata yang tertutup dan kening


berkerut. “Sejak seratus tahun yang lalu. Kakek moyang Russell. Sejak kekuasan pemimpin pertama. Pemimpin kedua—Savannah. Dan sampai pada diriku, ada sebuah kekuatan yang membuat kami berbeda dengan orang lain. Kau tahu apa itu, itu adalah sebuah hati. Kami tahu harus memilih hati siapa yang akan menerima kekuasaan ini. Seseorang dengan hati yang selalu berusaha menerima kemuliaaan, kesulitan, dan perbedaan.”


Telinga Alyx dengan samar bisa menangkap apa yang dikatakan Abel.


Cahaya dari jari Abel mulai melemah, menandakan proses transportasi akan segera berakhir. “Kau harus tahu


bagaimana pemimpin bekerja. Maafkan aku harus memberikan ini untukmu. Tapi, kelak kau akan menyadari bahwa kau memang pantas mendapatkan ini dan akan berusaha menyelesaikan masalah yang terjadi. Dan yang harus kau ingat, kekuatan ini begitu besar, seiring berjalannya waktu, karena itu aku harus memberi yang sebanyak yang tubuhmu mampu menampungnya.”


Cahaya memang melemah, tapi belum berhenti.


“Dan sepertinya tubuhmu terlalu kuat untuk menerima semuanya…”


Alyx segera tersadar dan sekali lagi melepas jari Abel. Dia membungkuk. Mengalihkan pandangan dari ibunya. Nafasnya saling memburu-buru. Sesekali dia terbatuk.


“Apa yang sebernarnya ibu lakukan?” suara nafasnya terdengar. Sesaat kemudian, Alyx sesenggukan. Air mata mulai mengalir. Semua pandangan saat SOS terbentuk muncul begitu saja di pikirannya, bagaikan sedang menonton film.


Abel meraih tangan Alyx. Mencoba menenangkannya. “Kau akan mengikuti kelas pengendalian pikiran, mulai besok. Ada banyak hal yang terjadi. Tapi, kau harus belajar untuk memilah mana yang baik untukmu di masa depan. Atau saat dimana kau akan memimpin negeri ini.”


Alyx mulai bisa mengatur nafasnya. “Tapi… aku tidak ingin menjadi seorang pemimpin,” gumam Alyx. Dia menyentuh lagi pelipisnya. Bayangan mengenai pemimpin-pemimpin kembali muncul.


“Kau akan membiarkan kekuatan itu begitu saja? Aku tahu kau gadis yang pintar, jadi kau akan tahu bagaimana


menggunakan itu.”


“Bagaimana denganmu?”


“Aku bahkan masih bisa membuatmu bergerak, kalau aku mau—ini keahlianku sebelum menjadi seorang pemimpin. Kurasa aku juga masih bisa membaca masa depan,” Abel mengernyitkan dahinya.


“Tidak. Aku hanya berpikir mungkin saat kau berada di posisiku, kau akan bisa memperoleh semua kekuatan dari


Ayah—kakekmu. Kau tahu kekuatan utamamu, lihat ini,” Abel menunjuk bagian leher Alyx, “ini tanda penghisap kekuatan. Jadi kuharap kau selalu berhati-hati.”


“Apa? Aku tidak mengerti, ibu.”


“Bersiaplah untuk kelas, besok.”


“Apa? Aku sudah dua puluh tahun lebih.”


“Kau terlalu banyak protes,” Abel memicingkan mata.


*


Pagi yang mendung di akhir November di SOS. Hari itu, William sendiri yang akan mengantar putrinya ke universitas SOS. Jane yang baru saja keluar dari rumahnya, segera menyeruap di antara William dan Alyx yang baru saja keluar dari mobilnya.


“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?”


“Tenanglah, Asahy!”


“Oh, pagi paman. Tapi, Alyx, ayo cerita, aku tahu sesuatu pasti terjadi. Kau mendapatkannya? Kau mendapatnya


iya, kan.”


“Aku akan mendaftarkan Alyx di kelas pemimpin.”


“Apa? Berarti itu benar,” Jane meraih tangan Alyx dan menjabatnya. “Ayo. Ayo. Aku akan menemanimu. Senang


sekali kalau harus ke kantor pimpinan jurusan kepemimpinan.”


“Memang kenapa?” tanya Alyx saat sudah mereka menyusuri lorong kecil.


“Tidak. Aku akan menceritakannya nanti,” bisik Jane. “Tapi, paman,” Jane berbalik, “apa paman akan lewat disini


juga?”


“Memang kenapa?”


“Sebenarnya tidak ada…”


“Aku tahu.”


Jane mencibir. “Terserah,” katanya dan mendorong papan pelindung. “Ah sepertinya paman tidak akan muat lewat


sini.” Beberapa saat kemudian, Jane tercengang.


William mengeluarkan sebuah kayu—lebih mirip sebuah tangkai. Menariknya sehingga berbentuk sebuah persegi.


Menempelkannya di beton. Dan muncul sebuah lubang seukuran badannya. Setelah melewati, William menariknya, dan lubang itu pun menghilang.


“Sebenarnya cara kerja dari alat yang kau gunakan itu, seperti ini. Tapi, kau bahkan tidak tahu melipatnya


kembali.”


“Yah. Yah, kuakui paman benar. Hanya saja, dengan begini, aku tidak perlu susah-susah untuk membukanya.”


William hanya tersenyum. “Baiklah, Jane kau bisa megajak Alyx bermain dulu, sebelum aku memanggilmu.”


“Beres. Ayo,” tangan Jane sudah menarik Alyx. Dia membawanya ke depan sebuah ruangan. Setelah melihat William mendahului mereka, Jane menarik lagi Alyx dan mengendap-endap mengikuti William ke bangunan utama.


“Ada apa?”


“Kau ingin melihat orang terkeren di Universitas ini?”


Alyx berhenti. “Kau mau melakukan hal konyol apa lagi.”


“Tidak. Aku yakin kau akan menyukai kepala sekolah.”


“Kepala sekolah apa? Maksudmu pemimpin Universitas? Jadi kau menyukai pemimpin yang sudah tua—mungkin sudah seumuran rektor di kampusku dulu,” gumam Alyx.


“Enak saja. Kubilang dia yang terkeren. Dia masih muda. Dan aduh, suaranya menggetarkan hati.”


Alyx mengguncang bahu Jane. “Sadarlah. Banyak orang disini dan kurasa mereka memperhatikanmu.”


Jane melirik ke kanan dan ke kiri. “Bukan aku, tapi kau. Eh, ayahmu sudah masuk.”


William telah masuk ke salah satu ruangan terbesar di universitas itu.


Jane melangkah pelan, sementara Alyx was-was dengan lirikan orang-orang yang sepertinya memang memperhatikan dirinya.


“Jane…”


“Apa?” kata Jane yang tidak ingin diganggu. Matanya sudah tertancap pada seorang yang dilihatnya dari jendela.


“Dia Aland… terang seperti matahari.”


“Jane…” Alyx menyadarkannya.


“Ada apa?” Jane berhenti mengintip dari jendela. Dan mencoba fokus dengan pikirannya. Dia berbalik dan melihat seorang gadis. “Memang kenapa kalau itu benar?” tanya Jane ketus pada gadis berambut kuning, “urus saja rambutmu itu.”


Alyx menyenggol lengan Jane. “Ayah…”


Jane berbalik dan mendapati William dan Aland yang baru saja keluar dari ruangan.


“Ada apa, Jane?”


“Tidak, paman. Hanya beberapa gadis yang penasaran. Hi, Sir Aland.”


Aland tersenyum dan beralih pada Alyx. “Jadi dia Alexandra?”


William yang menjawab, sementara Alyx mengernyitkan dahi—merasakan aura berbeda dengan pria bernama Aland.


Aland mengulurkan tangannya. Tapi, Alyx hanya diam—Jane yang kemudian menarik tangan Alyx, membuatnya menjabat tangan Aland.


Alyx mendesis, hampir saja mengumpat. Dia segera menarik tangannya.


Jane terkejut melihat tangan Alyx yang kemudian memerah.


“Apa yang terjadi?” William meraih tangan putrinya dan menyentuhnya.


Perlahan-lahan tangan Alyx mendingin.


“Masuklah!” kata Aland, membuka pintu ruangannya.


Di ruangan Aland, ada tiga orang lain yang masih terkejut dengan kejadian tadi. Sesekali Aland berdehem, sambil mencari tahu di buku yang baru saja diambilnya dari lemari.


“Kejadian seperti ini kurasa jarang terjadi,” gumamnya sambil menggeleng.


“Ada apa, Aland?”


“Begini, Sir,” Aland berdiri dari kursinya, “Alyx belum siap menerima rangsangan yang berbeda dari tubuhnya.


Tubuhnya saat ini lebih menyukai Air, sedang unsur kelahiranku adalah api. Jadi, sampai saat dia belum bisa mengatur atau mengendalikan cara kerja kekuatannya, kuharap dia bisa lebih berhati-hati saat bertemu dengan


seseorang.”


*