
“AYAH,” suara Alyx menggema di dalam salah satu ruangan di bangunan utama. Tidak hanya William yang berbalik ke sumber suara, juga beberapa orang yang berada di dalam ruangan itu.
Mereka baru saja melewati pintu ruangan tengah saat beberapa Petinggi keluar, yang juga mendengar panggilan Alyx pada ayahnya.
“Tunggu.”
Alyx berhenti saat seseorang di depan pintu memanggilnya. Dia membungkuk meminta maaf—merasa dia telah berbuat salah dengan berteriak di dalam bangunan utama. Dia melirik William yang berdiri tidak jauh, memintanya untuk segera menolongnya.
“Tidak. Tidak.” Wanita yang hanya setinggi bahu Alyx itu menggeleng dan tersenyum. “Kau Alexandra?” katanya
dengan nada heboh.
Alyx menyengir di hadapan Amaris yang hari itu mengenakan gaun panjang favoritnya—dengan motif bunga besar. Alyx memandangnya dan memikirkan bagaimana dia tidak mungkin bisa memeluk seluruh tubuh wanita itu meski dengan ke dua tangannya yang panjang. “Iya?”
Amaris tertawa kecil. “Kau… kau…”
“Iya?” Alyx menjadi sedikit takut pada Amaris yang cengengesan.
“Jika kau mengalami kesulitan datanglah padaku saat Rembulan bersinar tepat di atas langit,” katanya dan
meninggalkan Alyx yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jane yang baru saja masuk mendekati Alyx yang masih kebingungan. “Ada apa?”
Alyx menceritakan pembicaraannya dengan Amaris baru saja—sambil berjalan ke tempat ayahnya yang sedang
berbincang dengan Carney. “Kau mengenal wanita itu?”
“Dia petinggi Amaris—sang Rembulan, kata orang. Beberapa orang yang mengalami kesulitan sering mendatanginya, meminta petunjuk.”
“Petunjuk apa?”
“Entahlah. Datang saja padanya kalau kau memerlukan sesuatu, kalau kau membutuhkan gula mungkin.”
“Ah?”
Jane tertawa. “Kau tidak peka sekali.”
“Alyx,” William memintanya untuk berdiri di sampingnya. “Ini Alexandra Holder.”
Alyx tersenyum—merasa sedikit aneh saat diperkenalkan seperti itu.
Carney membalas senyumannya. “Anda lihat tanda seperti itu yang hanya sedikit sekali ditemukan,” katanya pada
William.
Alyx berbalik melihat Jane—meminta penjelasan.
Jane mengangkat bahu—juga tak mengerti.
“Tapi, Anda harus memperingatkannya, William. Baiklah, aku pergi sekarang. Senang bertemu denganmu—mungkin kita akan sering bertemu Miss,” kata Carney dan pergi.
“Apa maksudnya, Yah?”
“Kau harus selalu berhati-hati,” kata William dan mengerutkan keningnya sambil angkat bahu.
Alyx melongo. Dia terlalu lama tinggal di Negara lain dan tidak tahu bagaimana orang-orang SOS berkomunikasi.
Tapi, beberapa jenak kemudian wajahnya menjadi serius saat melihat seorang wanita berjalan ke arah mereka.
Dia mundur ke belakang William dan menyentuh lengan ayahnya—seperti anak kecil yang bersembunyi dari orang yang ingin menggangggunya.
Jane dan John menunduk hampir bersamaan menghormati pemimpin yang telah memimpin SOS selama dua puluh tahun lebih.
“Senang melihat Anda, Adalbrechta.”
“Senang melihatmu di sini, Asahy,” kata Abel dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Jane tersenyum dan tak kedipkan mata melihat wajah menyejukkan hati Abel.
Sedang William tersenyum memandangi tangan kanan Alyx yang memegang erat lengannya. Tangan kirinya
kemudian menyentuh punggung tangan Alyx, meminta putrinya itu keluar dari tempat persembunyiannya.
“Tidak, Mr. Walcott,” kata Abel kemudian.
Jane tahu kalau, Abel baru saja menjawab pertanyaan yang ada di pikiran ayahnya.
“Aku harusnya meminta maaf, karena tidak mengijinkan William untuk bercerita mengenai ini. Padahal kaulah orang pertama yang harus kami ceritakan tentang hubungan kami yang ternyata masih berlanjut.”
Jane melihat wajah John yang nampak malu-malu dengan pikirannya yang mengatakan kalau dia telah mengira Abel dan William telah lama berpisah.
“Paman William hebat, kau bisa mempelajari menggunakan pikiran untuk bisa berkomunikasi dengan Aldabrec,” Jane menurunkan suaranya, “ta.”
Abel tersenyum. “Lalu… bisakah aku membawa William dan Alexandra bersamaku sebentar?”
John dan Jane tersenyum.
William melangkah dan menarik Alyx bersamanya. Alyx berbalik meminta petunjuk dari Jane yang menggeleng dan
menunjuk Alyx dan memindahkan telunjuk ke depan dadanya.
William dan Abel telah berjalan berdampingan. Alyx berjalan mengikuti di belakang ke dua orang tuanya. Tak ada
suara dari mereka, tapi Alyx tahu kalau orang tuanya itu sedang berbincang melalui pikiran.
Semua langkahan jelas—menggema di koridor menuju ruangan Abel. Sesekali terdengar bunyi gesekan lantai kayu
dengan sepatu kets Alyx—yang kemudian membuatnya berhati-hati melangkah. Tidak ingin membuat perhatian orang tuanya itu bertuju padanya.
Tiba di depan pintu ruangan Abel yang segera terbuka seperti menyadari pemiliknya baru saja datang.
Abel membuka high heelsnya, William langsung saja masuk. Dan Alyx membungkuk untuk membuka sepatunya
setelah melihat Abel. Tapi, tangannya disentuh. Alyx segera menarik tangannya dari sentuhan Abel.
Abel tersenyum. “Kau tidak perlu membuka sepatumu.”
“Ah?” Alyx melihat William yang masih mengenakan sepatu dan duduk di hadapan peta elektronik.
“Aku lebih suka menginjak langsung karpet yang seperti merasakan rumput asli.”
Alyx tidak merespon dan duduk di kursi di sebelah William.
“Lihat itu sensormu,” William menunjuk dua buah titik merah yang berdekatan.
“Apa?”
“Ibumu membuatnya bisa mencari tahu dimana kau berada, meskipun kau pergi ke belahan dunia yang lain.”
“Oh,” Alyx mengangguk dan sesekali melirik pada ibunya—memikirkan ibunya yang sebenarnya tahu dimana dia selalu berada. “Warna ruangan ini keren,” katanya tak tahu harus membahas apa.
“Jadi…” kening William terangkat.
“Jadi apa?”
“Kau tidak ingin bertanya sesuatu pada ibu yang telah melahirkanmu?”
Mata Alyx melebar. Dia terkejut, tidak menyangka William akan bertanya seperti itu. Alyx melirik ibunya lagi. Dan lirikannya tertangkap oleh Abel yang bersandar di meja kerjanya.
“Jane sedikit salah mengartikan, kurasa,” kata Abel kemudian.
“Salah mengartikan?”
“Tidak masalah kalau kita bersentuhan,”Abel tertawa kecil. “Ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam pemberian kekuasaan. Kau mengerti maksudku?”
Alyx mengangguk kecil.
Sekali lagi anggukan kecil dengan spontan terlihat. Entah mengapa Alyx seperti terhipnotis dengan setiap kata-kata yang keluar dari Abel.
“Kemarilah,” Abel melebarkan tangannya. Meminta Alyx mendekat. Dan memeluknya.
Pelukan Abel terasa sangat hangat bagi Alyx. Dia menutup matanya. Merasakan kasih sayang seorang ibu, yang
sepertinya bukan untuk pertama kalinya dia merasakan ini. Tapi kemudian sebuah aliran seperti sengatan listrik menjalar di setiap pembuluh darah Alyx menuju jantungnya. Dia ingin segera melepas pelukan Abel, hanya saja dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Hampir lima menit, mereka berdua tidak bergerak di tempat.
Beberapa saat kemudian, tangan Abel melepas pelukannya. Dia hampir saja terjatuh kalau Alyx tidak menahannya.
Wajah Alyx seketika khawatir melihat wajah ibunya yang menjadi pucat pasi.
“Ayah,” panggil Alyx. Dia sangat mengkawatirkan Abel—yang kemudian tersenyum melihat Alyx.
“Aku baik-baik saja.”
William mendekat dan membimbingnya ke sofa.
“Ada apa, Yah? Apa yang terjadi?” Alyx tidak berhenti bertanya dan berlutut di samping sofa. Tangannya menggenggam tangan Abel.
“Kubilang aku baik-baik saja. Jangan khawatir seperti itu,” kata Abel yang wajahnya berangsur-angsur berwarna. “Aku akan tidur sebentar, memulihkan tubuhku, kau jangan kemana-mana.”
“Tentu. Aku akan di sini.”
Sudah hampir sejam tangan Alyx menggenggam tangan Abel saat William menyuruhnya berpindah untuk duduk di sofa. Alyx menurut.
“Kau mau lihat sesuatu?”
“Apa?”
“Apa kau pernah menghubungi Alexander?”
“Sebulan yang lalu aku bertemu dengan Papa,” kata Alyx yang baru menyadari kalau sekarang dia punya dua ayah.
“Kenapa?”
“Dia sering terkejut saat mendapati ibumu berada di kamarmu.”
Kening Alyx berkerut.
“Kau sebenarnya harus mengetahui kalau sebenarnya namamu adalah Sidney. Tapi, dia benar-benar senang dengan nama Alexandra, seperti namanya dan Alex.”
Alyx tertawa kecil mengingat keganjilan lain mengenai Alexander.
William mendekat ke samping jendela. “Kupikir setelah jabatan ibumu benar-benar berakhir, jendela ini harus
diganti. Kau tahu jendela ini dibuat oleh ibumu—transportasi menuju kamarmu di Indonesia.”
*
Dua puluh dua tahun yang lalu.
William membawa putrinya ke Indonesia, ke salah satu rumah keluarga dari neneknya yang bukan warga SOS.
Meskipun begitu orang itu tahu banyak mengenai SOS—Alexander.
“William, William, saudaraku,” Alexander menyapa Wiliam dengan penuh semangat dan memintanya segera duduk. Dia memandang William, tapi perhatiannya teralih pada seorang bayi yang digendong sahabatnya.
“Ini keponakanmu, Sidney.”
“Sidney. Sidney.”
“Ada banyak hal yang kuceritakan. Tapi aku tidak bisa lebih lama. Jadi…”
“Tentu, tentu saudaraku. Tidak ada tempat lain yang harus kau kunjungi sebelum tempat ini untuk bantuan seperti
itu. Alex akan senang kalau mengetahui dia punya seorang adik yang cantik,” Alexander menerima dengan cepat.
“Terima kasih, Alexander. Tapi kumohon kau jangan…”
“Aku tahu apa yang harus kulakukan.”
“Dan jangan terkejut saat kau melihat sesuatu yang…”
“Tidak perlu kau jelaskan, aku tahu megenai kalian.”
William mencium kening putrinya dan segera memberinya pada Alexander yang telah memintanya tak sabaran.
“Tapi, William, aku punya satu permintaan.”
“Apa itu?”
Meski sedikit ragu, Alexander mengeluarkan kalimatnya, “Bisakah aku memanggilnya Alexandra?”
William hanya tersenyum.
Alexander dan istrinya merawat Alexandra dengan sangat baik. Dia membuatnya bagaikan seorang putri dengan seorang kakak yang menjadi pangeran dan selalu melindungi Alyx dimana pun dia berada—tidak membiarkan seseorang mengganggunya.
Beberapa hari kemudian, Alexander dikejutkan oleh satu peristiwa. Padahal William telah memperingatkannya untuk tidak mudah terkejut.
Alexander yang baru saja akan masuk ke kamar Alyx—sesuai permintaan William, Alyx dibuatkan kamar
sendiri—mendapati seorang wanita cantik di dalam kamar.
Dia hampir saja berteriak, kalau tidak melihat William di dalam sana juga.
“Kemarilah,” kata William.
Alexander menutup pintu. “Kukira harus membiasakan diri dengan hal seperti ini. Kau pasti Abel, kan? Maaf, tidak
mengenalimu. Tapi, ngomong-ngomong, bagaimana kalian… jangan katakan kalian datang dari jendela kamar Alyx?”
“Memang seperti itu.”
“Baikah, sekali lagi aku tidak boleh terkejut dengan hal seperti ini…”
Hari berikutnya, Alexander selalu saja terkejut saat mendapati Abel berada di kamar itu. Tapi, dia berusaha untuk
tidak menceritakannya pada orang lain—mengenai ibu Alexandra yang setiap kali datang untuk menyusui anaknya.
*
“Jadi ini pintu transport menuju kamarku di Indonesia. Apa ini masih bisa digunakan?”
“Kurasa iya. Tapi, beberapa tahun belakang ini tidak perah digunakan lagi, saat kau mulai berpindah-pindah. Kau
mau mencobanya?”
Alyx bepikir sebentar. “Kurasa Papa… Alexander,” Alyx menyebut namanya, “akan terkejut kalau aku tiba-tiba
muncul di kamarku. Pantas saja, kamar itu tidak ada yang menggunakannya,” gumam Alyx dan berbalik melihat ibunya yang masih berbaring di sofa. Dia berpikir bagaimana ibunya sangat mencintainya.
Beberapa menit kemudian, Abel terbangun. Alyx mendekat, memberinya segelas air di dalam gelas berwarna merah.
“Sepertinya kau menyukai warna merah?” kata Alyx.
“Bukankah kau juga?”
Alyx mengangguk.
“Bukankah kita berempat adalah keluarga yang sudah ditakdirkan,” Abel tertawa kecil. “Kau dan aku menyukai warna merah, seperti sebuah aliran darah, dan putih disukai oleh mereka—Ayahmu dan Tom.”
*