
“ORANG-orang mendatangi kakek moyang Russel mencoba meyakinkannya bahwa sang Pencuri Jiwa telah muncul di tengah-tengah mereka. Dan satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka adalah keluarga Russel—pemilik kekuatan hati. Kekuatan yang bisa membersihkan langit gelap, menjernihkan air yang keruh, dan hati yang hancur.
“Sebelum pendahulu kita akhirnya memutuskan untuk membuat SOS, ada banyak kejadian yang meluluhlantahkan
jiwa-jiwa mereka—termasuk si Pencuri Jiwa yang bersifat seterang cahaya. Tidak ada yang tahu bagaimana dia mencuri jiwa-jiwa itu. Menciutkannya. Ini adalah alasan yang jarang diketahui oleh orang lain selain keluarga Russel, menjauhkan orang-orang mereka dari si Pencuri Jiwa.
“Moyang Russel bertemu dengannya, menghilangkan kekuatan si pencuri Jiwa, dan membawanya keluar—menjauh dari SOS.”
Alyx menghela nafas, mendengar Abel bercerita. “Untuk apa kau menceritakan itu?”
Abel meletakkan telunjuk di dada Alyx. “Moyang Russel mampu menghilangkan kekuatannya, lalu apa yang tak bisa kau lakukan dengan yang kau miliki sekarang?” Abel tersenyum. “Percaya pada dirimu. Kau bisa melakukan yang ingin kau lakukan dan semua yang ingin kau lihat.”
“Benarkah?”
“Tentu.”
Alyx diam sejenak dan mendongak melihat wajah Abel yang melihatnya dengan tatapan kosong. “Ada apa, bu?”
“Menurutmu kenapa aku menceritakan mengenai sang Pencuri Jiwa?”
“Ada alasan lain selain yang baru saja kau katakan?”
“Kita harus selalu mempersiapkan diri.”
Alyx tertawa kecil. “Jangan katakan kalau kau pikir dia akan kembali di tengah-tengah warga SOS.”
Tak ada jawaban dari Abel.
“Jadi itu benar?”
“Aku tidak bisa tahu dengan jelas. Akhir-akhir ini banyak kejadian yang membuatku merasa dia kembali.”
“Bagaimana dengan para petinggi? Apa mereka merasakan sepertimu?”
“Aku tidak berani mengatakan pada yang lainnya selain dirimu—keluarga Russel,” Abel tersenyum.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Tidak ada.”
Alyx mengerutkan keningngya. Bukan jawaban itu yang diinginkannya. Dan Abel segera tahu itu. Dia berbalik. Menaikkan tangannya dan sebuah pulpen dan selembar kertas segera berpindah dari meja ke atas telapak tangannya.
“Dulu aku ingin sekali bisa melakukan yang kau lakukan,” kata Alyx datar.
Tak ada tanggapan dari Abel, perhatiannya hanya tertuju pada selembar kertas, dan tangannya menggenggam
pulpen—seperti tak tahu harus menuliskan apa. Beberapa saat kemudian dia menggambar bintang dan menulis sebuah kata dalam tulisna Yunani. “Kalau kau menjumpai tulisan seperti ini—kuharap tidak—kau akan tahu apa yang kumaksud.”
Alyx mengambil kertas dari Abel dan sekali lagi mengerutkan keningnya. “Ibu…” Dia kemudian memandang wajah ibunya dengan raut wajah yang sedikit berbeda dari biasanya. Tagannya terulur ke depan dan diletakkannya di atas tangan ibunya yang terkepal.
Abel mengangkat wajahnya. “Kau akan menjadi pemimpin yang lebih baik dariku, kan?”
“Kau yang terbaik, bu.”
*
Alyx telah berjalan di lorong sempit dari kediaman Walcott menuju kampus. Dia berhenti dan memandangi dinding
beton. Dia ingin sekali melakukan sesuatu seperti yang dilakukan ibunya. “Percaya pada dirimu,” katanya pada dirinya sendiri. Matanya memandangi papan yang menutupi lubang pintu, “aku bisa melakukan apa yang kuiinginkan.”
Alyx memejamkan matanya. Menarik nafas dalam. Dan fokus memikirkan apa yang ingin dia lakukan. “Buka.” Kemudian, dia membuka matanya pelan, dan mencibir. Dia melangkah ke depan dan mendorong papan.
Setelah menginjakkan kaki di rumput hijau universitas, dia mempercepat langkahnya, dan menuju ruang belajar
pemimpin.
Tubuh kecil Prof. Pritpal Singh menyambutnya.
“Kita mulai sekarang,” kata Alyx tidak sabaran.
“Duduklah!” Singh menutup pintu dan duduk di hadapan Alyx. “Ceritakanlah!”
Alyx mencibir. “Kau selalu menyuruhku bercerita. Cerita apa?”
“Apa yang membuatmu bersemangat belajar hari ini?”
“Tidak ada banyak waktu.”
“Selain itu?”
“Apa?” Alyx geram.
“Azazil,” kata Singh dengan sangat pelan.
Alyx diam sejenak. “Apa itu?”
“Ka… u belum mendengarnya?” tanya Singh ragu.
Alyx menggeleng.
“Tidak mungkin. Semua orang mempersiapkan diri untuk keadaan ini. Pemimpin Aldachberta pasti sudah
menceritakannya padamu. Meski dia mungkin tidak tahu bahwa kami telah mengetahui saat-saat seperti itu akan tiba—saat kedatangannya untuk menghancurkan.”
“Apa yang akan terjadi?”
“Dia menyukai jiwa yang kuat. Dia ingin merebut kekuatan jiwa yang kuat.”
“Pemimpin?”
Singh mengangguk. “Kurasa kalau itu benar, tidak ada yang lain yang bisa didatangi oleh Azazil,” dia mengataknnya lagi dengan sangat pelan, “kecuali pemimpin.”
“Dia akan mendatangiku?”
“Kalau memang dia telah datang, kurasa tidak akan ada orang tua yang menjadikan anaknya sebagai pengganti
dirinya di kursi eksekusi.”
Mata Alyx melebar.
“Kurasa kursi pemimpin masih ingin ditempati oleh pemimpin Aldachberta.”
“Prof…”
“Ehm,” Singh berbalik dan melihat Alyx dengan wajah seperti orang yang menahan amarah.
“Ayo kita mulai latihan.”
“Baiklah.” Singh tertawa kecil berusaha mencairkan suasana. “Lagi pula, tidak ada yang pernah melihat tanda-tanda kedatangannya.”
“Kurasa pemimpin sudah melihatnya,” kata Alyx lemah. Namun, beberapa saat kemudian, “Tapi, bagiku, tidak masalah kalau dia sudah di sini sekarang atau tidak, asalkan aku bisa berusaha menjadi kuat, aku akan bisa melindungi orang-orang di SOS. Bukankah begitu?” Alyx tersenyum.
“Tentu. Tentu.” Singh menjadi bersemangat. “Aku akan membantumu.”
*
Setelah selesai berlatih, Alyx mendatangi rumah Jane. Dia berlari masuk menuju kamar Jane. Dia setengah berteriak, memanggil nama Jane saat menyadari baru saja pemilik kamar itu mengkunci kamarnya.
“Jane…” teriak Alyx sambil menggedor-gedor pintu Jane. Dia tak berpikir lagi mengenai Jane yang mungkin tidak menginginkannya di tempat ini sekarang. “Jane,” sekali lagi teriakannya terdengar.
Dia berbalik saat melihat John baru saja datang. “Hi, paman, kuharap kau tidak terganggu dengan suaraku.”
John hanya tersenyum dan Alyx pun melanjutkan.
“Jane, kalau kau tidak membukanya—aku akan…”
Jane yang berada di dalam kamar, duduk di kursi, dan memandangi pintu. Menunggu apa yang akan dikatakan Alyx.
“Aku akan…” Alyx berpikir sebentar dan menggeram. “Kau tahu kan, kalau aku baru saja kembali dari berlatih. Kau
tidak berpikir, kalau aku bahkan bisa menghancur leburkan pintumu. Jadi sekarang bukalah, sebelum aku bertindak kasar.”
Jane menaikkan ke dua alisnya. Menunggu kebenaran yang akan terjadi. Tapi, bebereapa jenak kemudian, tidak ada suara. Dia berdiri. Ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. Dan sebelum dia mencapai pintu, terdengar bunyi klik, pintu terbuka. Sepertinya Alyx baru saja meminta kunci cadangan.
Wajah Alyx muncul dari balik pintu. “Maaf, aku terlalu lemah saat ini, jadi aku tidak bisa membuka pintumu
tanpa kunci, apalagi menghancurkannya.”
“Apa yang terjadi padamu?” Jane mendekat dan mendapati wajah Alyx yang benar-benar pucat. “Kau sakit? Aku akan mengambil minuman untukmu.” Jane mengatakannya tanpa melihat mata Alyx dan berusaha menghindar untuk tidak bersentuhan dengan Alyx saat akan keluar dari kamarnya.
“Jane,” Alyx menangkap tangannya. “Tetaplah di sini sebentar.”
“Ah…” Jane meringis dan berusaha melepas genggaman tangan Alyx. Sebutir air mata menetes. Alyx tersenyum. “Ada apa denganmu?”
Teriakan Jane membuat John berlari kecil ke tempat mereka sedang berdiri. Tapi, John tidak melakukan apa pun, dia hanya memandangi Alyx yang seperti sedang menenangkan seorang anak kecil yang menangis karena ketakutan pada orang di hadapannya.
Beberapa saat kemudian, Alyx jatuh terduduk, kakinya tidak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya, matanya tertutup.
*
Jane berdiri di samping ranjang dengan bed cover putih miliknya. Memandangi seorang gadis yang tertidur pulas. Dia meletakkan gelas berisi air dan keluar dari kamar, kemudian bergabung dengan yang lainnya di ruang tamu.
“Dia berlatih keras hari ini,” kata prof. Singh yang datang bersama William, “ditambah lagi dengan pembersihan
pikiran, kurasa dia menjadi sangat lelah sekarang.”
“Pantas saja, sudah sejam lebih dia tertidur.”
“Tapi, tidak ada masalah kan dengannya?” tanya Jane khawatir.
Singh berpikir sebentar. “Kurasa tidak. Dia anak yang kuat. Lalu bagaimana denganmu? Ceritakan!”
“Cerita apa?”
Singh mencibir. “Ah, kau tidak mengingat apa yang terjadi denganmu. Atau orang yang melakukan itu padamu?”
“Apa maksudmu.”
“Tidak mungkin, kau harus tahu.”
“Bagaimana denganmu? Kau juga tidak tahu apa yang terjadi denganku. Kau berbicara seperti tahu semuanya
saja,” gumam Jane.
“Aku memang tahu.”
“Lalu kenapa tidak kau katakan padaku?”
“Sebuah larangan. Rahasia itu rahasia. Kalau kau mengatakannya, itu bukan rahasia, jadi aku bisa menceritakan
apa yang kutahu.”
Jane melongo.
“Ah, sudahlah, aku ini Professor, kau tidak akan mengerti. Aku akan pulang sekarang. Kau berhati-hatilah, minta
petunjuk dari Alyx, atau yang lainnya. Kau itu gampang sekali dipengaruhi,”
kata Singh dengan nada merendahkan.
“Apa maksudnya, Yah?” tanya Jane sesaat setelah Singh pergi.
“Menurutmu apa yang terjadi malam itu, Jane?” John balik bertanya.
“Entahlah, ayah, aku tidak ingat sama sekali,” Jane memeluk lututnya dan melihat William.
William mengangkat bahu dan kemudian pandangannya tertuju pada seorang gadis yang baru saja masuk ke ruang
tamu.
“Alyx, kau baik-baik saja?”
“Tentu,” jawabnya tersenyum saat mendengar suara Jane yang sudah seperti biasa. “Selamat datang kembali, Jane.”
“Apa yang kau katakan?” kata Jane sinis. “Aku selalu di sini.”
“Kau tak di sini, semenjak malam itu.”
“Malam itu? Kau mengingatnya?”
“Apa? Kau tidak?”
Jane menggeleng.
“Saat terbangun, aku mengingat semua kejadiannya. Malam itu, orang-orang itu…” Alyx terdiam.
“Alyx, kita harus pergi,” ajak William kemudian.
“Ada apa, Paman? Kurasa Alyx harus menceritakan sesuatu.”
“Tidak sekarang, Asahy. Kami harus pergi sekarang.”
Alyx hanya menurut, setelah John menyuruhnya untuk segera pergi bersama ayahnya.
“Kau akan tinggal bersama Prof. Sing sampai hari penentuan,” kata William saat mereka telah berada di dalam mobil.
Alyx tidak bertanya kenapa, karena sepertinya dia tahu apa yang terjadi. Pandangannya melihat ke luar jendela.
Tinggal bersama prof. Singh untuk sementara waktu, bukanlah ide yang buruk, dia bisa belajar banyak dari orang tua itu. Tapi, kemudian dia merasa ini tidak adil saat mendengar William berbicara pada prof. Singh.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi jangan biarkan dia keluar sampai seminggu yang akan datang saat
semuanya terasa normal kembali.”
“Kau pasti menelusuri pikirannya, dia belum tahu cara menutup jalan masuk orang lain, aku harus mengajarinya”
gumam Singh. “Ah, baiklah, aku mengerti, dia tidak akan keluar dari kediamanku sampai minggu depan.”
Beberapa menit kemudian, William pergi.
“Menurutmu, sesuatu akan terjadi?”
“Ah, kau membuatku terkejut,” kata Singh saat mendapat Alyx muncul di belakangnya. “Kupikir, mereka—orangtuamu mencoba melindungimu. Kau suka buku? Ayo, ke perpustakaan milikku.”
“Keren,” katanya saat melihat sebuah perpustakaan yang berada di tingkat atas rumah Singh.
“Dunia ada di sini,” katanya bangga. “Lihatlah.”
“Ini seharusnya menjadi perpustakaan umum. Kau membaca semuanya?”
“Tentu—aku membaca semua judulnya,” kata Singh tertawa kecil. “Oh, iya, Alyx, kau…” Singh berhati-hati
dengan pertanyaan yang disampaikannya, “ingat wajah orang-orang yang kau maksud?”
“Ah?” Alyx menoleh dan berpikir sebentar.
“Apa kau mengenalnya?”
Alyx masih berpikir.
“Kalau tidak, aku akan menunjukkan beberapa foto di sini, dan kau bisa melihatnya.”
Alyx mengalihkan perhatiannya ke buku.
Singh hanya bisa mencibir saat tidak diperhatikan. “Baiklah, mungkin lain kali, seharusnya aku bertanya dulu,
sebelum memperlihatkan kalian,” gumamnya pada buku-buku di rak.
*
Alyx memanfaatkan waktunya di kediaman Singh. Professor Singh senang sekali mengajarnya. Alyx gadis yang cepat menguasai apa yang diajarkan. Meski ruangan yang dijadikan tempat latihan menjadi berantakan—Singh
hanya tersenyum. Beberapa benda malah hancur. Dipindahkan tanpa kendali saat latihan. Hanya saja, bagi Alyx hal yang paling sulit adalah menelusuri pikiran. Dia bahkan belum bisa menguasai itu dan juga penyetaraan elemen tubuh.
Selain itu, banyak sekali buku yang sudah dibacanya. Dari pengendalian tubuh, emosi, jiwa, serta buku mengenai
chip-chip yang terdapat di SOS. Tapi, yang menarik perhatiannya adalah mengenai buku Separuh Chip Jiwa.
“Ah itu,” kata Singh saat Alyx bertanya. Dia memperlihatkan susunan tubuhnya melalui sinar X. “Lihat ini,” dia
menunjuk sebuah benda di layar, benda yang lebih kecil dari atom dan telah diperbesar.
“Ditanamkan saat masih kita berada di dalam rahim. Separuh untukmu dan separuh untuk jiwamu yang lain.”
Alyx mengangguk. Mengerti. “Tapi kau memiliki chip jiwa yang utuh?”
Singh berdehem. “Istriku menyerahkannya sebelum dia pergi. Melengkapi jiwaku. Kau akan menemukannya
nanti,” kata Singh mengakhiri pembicaraan dan meninggalkan Alyx yang masih ingin berada di sana.
*