Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
08- Tingkah laku sang nona Paganini



"Aku akan segera menghilang, jadi


lupakan saja aku! Entah itu karier ku maupun bakat ku, kumohon... Lupakan itu di ingatan kalian..."


Kesunyian yang terasa begitu lama ini, bak permukaan laut yang beku di musim dingin. Helaan napas pendek, suara yang tegang dan cucuran keringat yang tak henti menetes. Saat itu lah, kebenaran sifat sang nona muda terbongkar..


"Shiori-neesama?" Laki-laki disamping nya mulai menenangkan dirinya tak lama setelah percakapan usai.


"Wah, ja-jadi seperti itu? Kalau begitu... Kanzaki-san silahkan duduk di kursi sebelah sana. Dan Tori-kun, kau duduk di samping ketua kelas ya"


Aya-sensei menunjuk ke arah barisan pinggir dekat jendela yang mengarah ke lapangan. Ketika aku mengalihkan pandangan, baru kusadari sesuatu. Ya benar! Ada sebuah kursi kosong di sebelah kananku!!


"... Gawat!!"—aku pun mulai beradu argumen di dalam kepala.


"Terima kasih, Sensei" kata laki-laki yang dipanggil Tori-kun itu.


"Oh iya, jika kalian berdua ada kesulitan atau pertanyaan, silahkan tanya pada Touyama-san. Dia adalah ketua kelas"


Kanzaki-san meneguk air liurnya dan melirik pada saudaranya sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja. Sesekali ia meninjau ruang kelas


dengan pandangan menusuk dan tidak ramah,


sebelum melangkah turun dari podium tanpa


bersuara.


Ruang kelas pun sunyi senyap. Semuanya


menatap pada setiap langkahnya saat berjalan di


antara deretan meja dan kursi. Ditengah kesibukan aneh para murid, aku masih saja beradu argumen tentang keanehan omongan nya yang tak masuk akal.


"Apa benar dia akan menghilang? Mana mungkin kan manusia hilang??"—aku menggaruk kepala pusing.


Dan tanpa sadar suara langkah sepatu itu berhenti tepat disamping ku. Kepala Kanzaki-san yang awalnya menunduk tiba-tiba terangkat dan menunjukkan ekspresi aneh padaku.


"—heh?"


"... Dia sadar ya, kalau ada aku disini?"–batinku.


Jari telunjuknya kini mengarah tepat padaku meski gemetaran dan ia pun berteriak;


"Ke... Ke... Ke... Kenapa kau ada disini?!"


Aku refleks membenamkan kepala ke meja. Kusadari bahwa keributan baru saja dimulai kembali, dan aku jadi semakin ketakutan mengangkat wajah yang pas-pasan ini.


"Hah?! Jadi... Ta-chan dan si nona violin ini saling kenal?"


Haruka seketika bangkit dari kursinya dan menatap Kanzaki bingung. Lalu mengangkat paksa kepalaku, sambil menatap tajam. Aku menggeleng kan kepala cepat (ini dilakukan agar terhindar dari masalah dengannya).


"Apa kau tidak bohong?!" Tuntut Satoshi dan Haruka.


"Be-benar! Aku tidak kenal sama dia!! Sama sekali tak tahu. Mungkin dia salah lihat, bisa jadi kan orang yang ia temui itu memiliki wajah yang sama dengan ku?" Akhirnya aku berbohong.


Kupikir dengan begitu masalah akan selesai, tapi si Kanzaki itu malah membuatnya semakin diluar rencana.


"Kenapa kau berbohong? Bukannya kau yang bilang, kalau berbohong itu dosa?"


"Biar ku perjelas lagi nona, bukankah kau juga yang menyuruhku melupakan semuanya?"


"Nah itu! Kamu ingat kan? Hanya orang yang kutemui yang bisa tahu percakapan itu!"


*Skak mat*


"Ta-tapi kan, kah menyuruhku untuk melupakan semua. Jadi sekarang aku tidak ingat apapun lagi, dan lagi kau itu siapa?" Aku mencoba mengelak lagi.


"Dasar pembohong!!" Jeritnya marah.


"Ka-kalian berdua.... Hentikan itu dan kembali duduk!! Pelajaran akan dimulai!!" Seru Aya-sensei yang marah menggebu-gebu.


"Ma-maaf, Sensei.." ucapku dan Kanzaki-san kompak.


Setelahnya aku dan Kanzaki-san diceramahi oleh Aya-sensei selama 1 jam lebih. Karena itu kami jadi telat masuk ke pelajaran sastra yang paling aku benci, dan kena marah Sensei tua yang terkenal killer disekolah.


🎶


Perempuan berdarah campuran ini, memang memiliki paras cantik dan menawan yang menggoda siapa saja. Layaknya reinkarnasi Dewi Aphrodite (Venus). Meski diluar nya tampak seperti tipe gadis yang sempurna dan jadi sasaran untuk didekati, aku memilih untuk menghindari nya.


Sejak hari kepindahannya dan saudara tiri nya di sekolah ini, Kanzaki-san terus saja dikerubungi banyak murid. Melihatnya saja sudah seperti semut yang mengejar gula. Semua orang yang mendekati nya pasti ada pertanyaan berbagai hal terlontar, begitupun dengan saudara tirinya yang laki-laki itu.


"Kenapa dia harus pindah disaat yang kurang tepat begini sih??" Aku mengerutkan kening sambil menggerutu kesal.


Di saat jam istirahat, aku, Satoshi dan Haruka kesulitan untuk masuk ke kantin karena kelompok netizen yang berkumpul bersama Kanzaki-san menutupi jalannya. Karena hanya ada satu jalan menuju kantin, kami terpaksa menerobos meski didesak dan akhirnya tiba juga.


"Hadeh, padahal sekolah kita hanya sekolah SMA biasa dan bukan sekolah elit, tapi lagak murid disini sudah seperti para fans-nya" ucap Haruka.


"Benar... Benar, yang membuatku terkejut adalah dia yang beraliran musik mengambil jurusan Seni lukis untuk mata pelajaran utama nya. Sungguh misteri ya si nona muda Paganini ini.." kata Satoshi dengan bertingkah sok detektif.


"Eh? Yang benar?" Tanyaku yang dibalas anggukan mereka berdua.


Di sekolah ini, kami sebagai murid harus memilih salah satu diantara keempat pilihan mata pelajaran seni rupa sebagai pelajaran utama. Mata pelajaran nya ialah, Musik, Seni lukis, Film/video art dan kaligrafi.


Bagi seorang musisi, pasti sudah memilih musik sebagai pelajaran utamanya karena masa depan mereka sudah terjamin. Tapi berbeda dari banyaknya musisi, Kanzaki-san yang merupakan seorang violinis memilih untuk masuk seni lukis yang membuat masa depannya di ambang jurang.


"Pilihan dia ini pasti hanya kabar burung saja kan?" Ucapku


"Kalau kamu gak percaya, tanya aja langsung ke orangnya. Kan kamu kenal" jawab Satoshi dingin.


"Kalian tunggu di tempat biasa saja, biar aku yang menerobos mereka semua" ucap Haruka.


Aku dan Satoshi mengangguk, lalu pergi meninggalkan kantin dan berjalan ke arah kursi dekat Green house yang letaknya tak jauh dari bangunan kelas kami.


Ia lalu duduk dengan tarikan napas yang tak teratur karena berlari. Tanpa aba-aba lagi, tangannya menyambar beberapa potong tamagoyaki milik bento-ku dan memakannya dalam sekali lahap.


"Aduh, kenapa kau selalu menghabiskan tamagoyaki ku?" Aku menggerutu.


"Habisnya, komposisi manisnya pas sama selera ku sih.." jawabnya polos.


"Cie-cie, kenapa kalian tidak pacaran aja sih?" Goda Satoshi. Dalam sekejap Haruka melayangkan tinjunya tepat di wajahnya.


"Dasar bebek! Jaga omongan mu atau tutup mulutmu yang cerewet itu!!" Ucap Haruka.


"Ba-baik.."


Haruka pun melirik ke arahku kembali,


"Hei Ta-chan, kapan dan dimana kau bertemu si nona violin itu?" Tanyanya.


"... Hmm, didalam mimpi ya?" Aku asal jawab.


"Kau mau kumasukkan ke alam baka atau ke rumah sakit?!"


"Hahaha, cuma bercanda kok. Aku bingung mau menjelaskan nya darimana.."


"Oi, masih ada banyak waktu di jam istirahat selesai. Kalau niat menjelaskan sih, harusnya cukup" ucap Satoshi dengan tampang seolah tak ingin ada bantahan lagi.


"Ah-hah, merepotkan!"—batinku.


🎶


Jam istirahat pun berlalu begitu cepat. Semilir angin pun ikut menemani pelajaran membosankan lainnya di tengah hari yang terik. Bola mataku tak bisa luput dari gerak-gerik sang nona muda yang terus saja memperlihatkan tingkah antisosial nya itu tanpa merasa bersalah. Ia tampak begitu bebas bak ratu di kelas ini, kenapa tidak, toh yang lain sibuk mencatat materi dia malah enak-enakan lirik sana-sini tanpa memegang pensil dan membuka bukunya sama sekali.


Aku tahu dia itu seorang musisi dan orang yang paling dihormati di dunia musik. Tapi statusnya sekarang adalah sebagai murid, dan kewajiban nomor satu ialah belajar. Ada sebagian guru yang membiarkannya melakukan apa saja semau nya. Tapi tidak semua guru melakukan nya.


"Kanzaki-san" panggil Taro-sensei sambil melepas kacamatanya. Kanzaki yang sibuk memainkan rambutnya kini melihat ke arah Taro-sensei yang tampak marah.


"Dari tadi bapak lihat kau tidak memperhatikan pelajaran bapak, sebagai hukuman tolong kau kerjakan soal ini" ucap Taro-sensei yang menghentakkan spidol di podium.


Beberapa menit berlalu tanpa membuahkan hasil. Pada kenyataannya Kanzaki masih saja duduk dikursi nya dengan tangan yang dilipat di dadanya, kesannya itu seolah sedang menantang sang guru.


"Saya tidak mau" jawabnya.


Kata-kata itu terucap begitu jujur dan begitu lepas keluar dari bibir mungilnya itu. Semua murid yang ada dikelas menjadi kaget dan sebagiannya termasuk aku, menganggap dia keren. Karena belum tentu aku bisa bilang itu pada seorang guru, meski aku ingin mengatakan nya sekalipun.


"Dasar. Untuk hari ini bapak maafkan, tapi kau harus mendapat nilai bagus di ujian nanti" tukas Taro-sensei.


"Apa-apaan itu, kalau aku yang gitu pasti dihukum berdiri di lorong sampai bel olahraga kan, keren sekali si violin ini.." kata Satoshi yang berbisik padaku.


Aku hanya mengangguk setuju karena tak bisa mengatakan apapun lagi. Bel tanda berakhirnya pelajaran Taro-sensei pun berbunyi, ketua kelas langsung berdiri dan memberi aba-aba untuk memberi hormat dan kemudian kami langsung keluar kelas untuk mengganti pakaian.


"Langsung berkumpul di stadium ya" ucap ketua kelas.


"Baik" jawab kami semua saling bersahutan.


Aku pun mengganti pakaian ku di ruang ganti dan menyimpan seragam di sebuah loker, lalu berjalan keluar.


"Oi Arata, bisa kau tolong ambilkan botol minum ku di kelas?" Ucap Satoshi


"Oke" jawabku singkat.


"Thanks my Hero!!"


"Apaan sih berlebihan.."—batinku.


Selama perjalan ke kelas, aku mendengar sebuah suara yang tampak seperti percakapan. Dan suara itu berasal dari dalam kelasku. Aku pun berjalan pelan, berusaha tidak menimbulkan suara apapun dan bersembunyi di balik pintu yang tertutup. Lalu, samar-samar kudengar percakapan mereka—aku seperti penguntit saja ya..


"Shiori-neesama, ada apa dengan sikapmu seperti itu? Jika Okaa-sama tahu hal ini dari kepala sekolah, kau bisa masuk ke 'ruangan itu' lagi"


"Kenapa kau jadi perhatian begini? Apa hubungannya denganmu? Ini adalah hidupku!"


"... Lho, suaranya seperti si nona violin itu"–batinku. Aku mulai mendekati telingaku lagi untuk memastikan percakapan itu selesai atau belum.


"Aku seperti ini supaya kau sadar dan kembali di jalan musik yang sudah terjamin untuk masa..."


"Diam! Kau hanya peduli dengan masa depanmu kan?! Kau jadi perhatian begini karena reputasi pianis mu terancam kan?! Aku pernah bilang bukan, kalau... Aku akan hilang"


"Onee-sama..."


"Sudahlah, jangan bahasa ini lagi. Aku sudah muak! Jangan bersikap seperti ini lagi padaku, karena... Kau tidak tahu apa-apa"


"Apakah.... Hilang itu memang benar?"


Tubuhku yang bersandar di pintu tiba-tiba tergeser kebelakang dan jatuh membentur sesuatu.


"Bruk!"


"Aduh... Sa...kit..." Rintihku.


"Ka... Kamu!"


Suara keras terdengar menggema di ruang kelas yang kosong. Kedua mataku menangkap sosok sang nona muda itu yang berada tepat di belakang ku. Matanya membulat dengan mulut yang terbuka.


Situasi macam apa ini? Apakah ini yang dinamakan dengan tertangkap basah karena mendengarkan percakapan orang?


"Gawat...!"


🌼つづく🌼