
Kemarin adalah hari yang melelahkan sekaligus menjengkelkan. Atas bujukan Keiko-senpai, aku jadi membeli gitar bas dan sepulang dari tokonya, aku malah kencan dadakan dengan orang menjijikkan (Haruka). Hari ini adalah hari baru lagi, aku memberanikan diri membawa gitar itu ke sekolah. Respon yang kuduga ternyata lebih merepotkan. Baru saja selangkah masuk kelas, aku sudah dikerubungi teman-teman layaknya semut mengerubungi semut.
"Arata! Kau beli dimana gitar ini?"
"Wah-wah keren banget, tumben bawa. Selama ini kenapa tidak dibawa?"
"Ayo mainkan satu lagu!!"
"Iya iya... Ayo mainkan..."
"Mainkan lagu the Beatles saja"
Suara mereka semakin lama semakin mengeras dan setengah dari mereka memintaku untuk memainkan sebuah lagu. Aku mencoba menenangkan semuanya dan berkata.
"Ini adalah gitar bas, jadi suaranya rendah dan kalian nanti tidak bisa mendengar nya.."
Setelah semuanya terdiam, dengan cepat aku kabur ke tempat dudukku dan menyembunyikan gitar itu.
"Jadinya kau beli juga ya gitar.." ucap Satoshi sambil mrnyikut ku.
"Ya begitulah" balasku.
"Tapi kenapa beli bas? Bukannya dulu kau hanya main gitar biasa?" Tanya Satoshi.
"Benar juga katamu Satoshi, apa alasanmu beli bas? Lagipula fungsi beli pas itu apa?"
Seorang teman lainnya yang duduk disebelah Satoshi menanyakan hal yang sama.
"Hei kritikus! Jelaskan pada kami apa alasanmu dengan jelas tanpa berbelit-belit!" Tuntut Kento sambil memukul mejaku.
"Jangan pernah panggil aku dengan kritikus!" Bentakku yang kemudian mendorong Kento sedikit menjauh.
Aku pun menghela napas sesaat dan berpikir bagaimana caranya supaya mereka mengerti situasi yang rumit ini. Sulit sekali menjelaskan hanya dengan kata-kata, karena tak mau menodai harga diri, aku pun harus menjelaskan lewat gambaran.
"Ikut aku ke lorong" seru ku.
"Baik pak!" Jawab mereka semua dengan kompak, lalu mengekor dibelakang. Satoshi pun ikut dalam penjelasan ini.
"Oh iya, jangan menjelaskan pakai istilah musik ya" pesan Satoshi.
"Cih, mereka sangat mengintimidasi ku rupanya.." batinku malas.
"Iya iya, tapi dengar ya. Aku tak akan mengulangi nya dua kali. Jadi pasang telinga kalian dengan baik!" Ucapku.
Mereka semua langsung duduk mengelilingiku dengan memasang wajah serius. Entah berapa lama aku tidak melihat wajah serius mereka sejelas ini.
"Ehem.. ehem.." aku berdehem karena gugup.
"Baiklah... Coba bayangkan wajah Kanzaki-san" ucapku setelah beberapa saat terdiam.
"Hah? Apa maksudnya?" Tanya Satoshi dan sebagian anak lainnya.
"Jangan banyak tanya sebelum dilakukan!" Bentakku.
Sebagianmulai memejamkan mata mereka, sementara sebagian lagi menatap ubin dan langit-langit. Aku menggunakan objek Kanzaki karena dia populer dan banyak yang naksir dia.
"Kalau sudah, coba buat senyuman manis pada wajahnya. Sudah?" [Arata]
"Baik, sudah!"
"Kok dia mirip dengan Aya-sensei ya?"
"Jadi tidak ada pesonanya.."
"Kok mengecewakan.."
"Sudah diam. Sekarang bayangkan dia tanpa rambut" [Arata]
"Arata, ini maksudnya apa? Kau mau memberikan tes psikologi pada kami?" Tanya Toono.
"Nanti juga tahu sendiri, dengan cara begini kalian pasti akan mudah mengerti" jawabku.
"Oke langkah terakhir, coba hilanglah semua garis wajahnya dan beritahu aku seperti apa dia sekarang" [Arata]
"Anu, garis wajah itu maksudnya apa?" Tanya Momo.
"Garis wajah itu seperti buang bentuk wajahnya. Bayangkan mata, hidung, telinga dan mulutnya muncul dari permukaan datar" jelasku.
Satu per satu dari mereka mulai berjuang dengan keras (Padahal tidak perlu) selama lebih dari 5 menit dan akhirnya menyerah juga.
"Kalian menyerah?" Tanyaku yang dibalas anggukan dari mereka.
"Aku menyuruh kalian menggambarkan wajah Kanzaki-san itu untuk memperjelas bagian-bagian sebuah band. Terutama musik yang dimainkan" ucapku.
"Bagian dari band?" Ulang Satoshi.
"Iya. Sebuah band terbentuk dari beberapa anggota yang memainkan alat musik yang berbeda. Diantara musik yang mereka mainkan, tidak semua lagu harus menggunakan gitar listrik atau biasa. Tapi membayangkan mereka tak memainkan lagu menggunakan bas, rasanya semua not lagu itu akan terlihat kacau balau" jelasku.
"Artinya... Kau membuat kami membayangkan wajah Kanzaki-san yang sempurna untuk dirubah jadi amburadul, untuk menjelaskan betapa pentingnya bas untukmu?" Toono mulai mengerti jalan ucapan ku.
"Benar sekali" seruku.
"Kalau cuma itu tujuannya, kenapa harus pake imaji yang berbelit-belit segala sih?! Terus menggunakan wajah sempurna milik Kanzaki-san untuk penjelasan diluar nalar?! Sungguh tak bisa dimaafkan!!" Teriak Kento sambil mengguncang tubuhku.
"A-aku melakukan itu karena kalian yang menyuruh! Jika saja aku jelaskan seperti itu di awal, kalian mana mungkin mengerti!!" Aku berusaha mengelak.
"Hah?! Kau pikir kami ini bodoh?!"
"Cih, mereka yang meminta kok malah aku yang disalah kan" gerutuku.
*Ting.... Tong... Teng... Tong...*
Bel pelajaran pun berbunyi tepat sebelum tinju Kento melayang ke wajahku. Disaat yang bersamaan pintu kelas yang dibelakang terbuka dan menampakkan sosok gadis yang ku benci. Yap, dia adalah Kanzaki.
Kanzaki berdiri di pintu dengan tatapan yang menatap ke arah semua laki-laki disini. Beberapa diantaranya memilih menjauh dan masuk lewat pintu depan kelas.
"... Minggir"
Sebuah kata dingin dan tajam seperti belati itu cukup membuat para sebagian temanku bergidik ngeri, lalu meninggalkan ku di lorong sendiri.
"Kau tidak mau masuk ke kelas? Pelajaran akan dimulai. Aku tidak mau sampai kelas ini di cap jelek oleh guru" ucap nya.
Pelajaran pertama pun dibuka dengan kedamaian yang ku rindukan setiap paginya. Meski hal ini bisa dibilang damai, bukan berarti tatapan Kento dan kerumunannya akan membiarkanku merasakan bebasnya masa-masa SMA.
"Aduh... Sampai kapan aku akan menderita?"
🎶
//Selang pergantian pelajaran kemudian...//
"Arata..." Salah satu anak laki-laki berjalan ke sampingku sembari berbisik. "Alasan kau membeli bas, itu karena Kanzaki-san kan?"
Aku bergidik. "Eh?! A-apa Maksud mu?!" Aku bertanya dengan panik.
"Aku tahu sebab setiap harinya kamu selalu berdiri dekat ruang pribadi miliknya kan? Tapi setiap hari Rabu, kau selalu ada di dekat ruang musik" jawabnya.
"Heh, jadi itu alasannya. Kau licik sekali Arata, mau mengambil kesempatan agar lebih dekat dengan si putri es sendirian.." cibir Satoshi.
"Oi kalian, jangan bergosip jika masih ada orangnya!!" Aku berbisik.
Karena sifatnya yang sinis dan dingin, belum lama semenjak kepindahan nya kemari. Seluruh murid perempuan sudah memusuhi dirinya, sikapnya itu berbanding terbalik dengan sang adik, Shiratori. Biarpun semua murid perempuan memusuhinya, para anak laki-laki malah mengkhawatirkan kan nya. Termasuk sang ketua kelas dan wakil.
Para anak laki-laki disini, selalu membantu Kanzaki secara diam-diam dan melakukan hal kecil untuknya. Seperti, meminjamkan penghapus, menunjukkan jalan ke kelas jika pindah pelajaran tertentu dan mengajaknya bergabung ke kerumunan perempuan saat jam istirahat. (Walau dia tampak tak peduli).
Jika aku jadi mereka, aku pasti sudah membiarkan nya begitu saja tanpa ada rasa belas kasih.
"Kanzaki-san.." panggil Momo.
Kanzaki mengalihkan pandangannya dari buku legenda Yunani ke wajah anak yang polos dan ceria itu.
"Tolong jangan panggil dengan marga itu. Aku benci" ucapnya.
"Kalau begitu, Shiori-chan!"
"Jangan panggil aku dengan nama depan itu juga. Menjijikkan!"
"Hueee.... Kanzaki-san mengatakan kalau aku itu menjijikkan. Apa dia membenciku?.."
"Cup... Cup... Sudah jangan menangis Momo. Dibenci oleh Kanzaki-san itu, bukanlah hal yang menyedihkan" hibur Kento yang tiba-tiba saja datang.
"Iya benar itu. Seharusnya itu menjadi sebuah kebanggaan" tambah Toono.
"Entah kenapa... Aku merasa jijik dengan mereka.." batinku.
Kualihkan sepintas pandanganku pada Kanzaki yang gerak-gerik nya sangat mencurigakan. Entah kenapa aku merasa dia tengah berusaha menyembunyikan sesuatu dan menghindari percakapan para temanku ini.
"Omong-omong Kanzaki-san, apa rumor tentang kau masuk band Yamauchi-senpai itu benar? Kalau guru biola mu tahu, apa dia akan marah tidak ya?"
Seorang anak perempuan mengatakan nya dengan sangat puas. Wajahnya itu tampak polos tapi menyimpan segudang kelicikan, di waktu yang bersamaan muka Kanzaki jadi membeku pucat.
"Benar juga apa katamu Hana-san. Kanzaki-san hebat sekali ya dalam membagi waktu berlatih dua alat musik sekaligus" tambah anak perempuan lainnya.
"Hei apa-apaan kalian?! Kok aku gak pernah dengar rumor itu?" Bentak Kento.
"Hem, anak laki-laki harap diam saja dan jangan ikut campur!" Ucap perempuan lainnya.
Diantara perdebatan Kento dengan Hana and geng nya, Kanzaki berusaha tetap tenang dengan mengalihkan pandangan ke bukunya. Meski aku tahu sekarang, tatapannya itu penuh kekosongan.
"... Bagaimana kalian.... Bisa tahu?" Perkataan Kanzaki itu membuat pertengkaran mereka menjadi sunyi. Dengan seketika Hana memukul mejanya.
"Kau itu bodoh ya.. kau itu kan selalu bermain di ruang musik atau gak di kelas butut itu kan, tentu saja suaranya terdengar sangat jelas. Apalagi kau menghubungkan kabel dari gitar ke speaker" ucap Hana.
"Ah! Jadi musik yang selalu kudengar saat latihan sepak bola itu, permainan nya Kanzaki-san!" Seru Momo yang baru saja tersadar.
Kanzaki tiba-tiba saja berdiri dari kursinya. Bibirnya gemetar dan wajahnya gelisah. Warna kulit yang putih pucat itu, kini lebih pucat daripada biasanya.
"Memangnya masalah ini serius sekali ya?" Aku berpikir.
"... Ja-jadi, selama ini.... Bisa terdengar?" Tanyanya gagap.
Aku menepuk jidat tak habis pikir. "Masa dia baru sadar sekarang?" Batinku.
"Sebenarnya aku ingin memberitahukan padamu, kalau fungsi kedap suara di ruangan itu tidak begitu berfungsi. Tapi aku malah terus mengusirku. Jadi suara yang kau mainkan itu bisa terdengar lewat celah-celah kecil" ucapku.
Bak dunia ini akan kiamat, Kanzaki terus saja memucat. Kini wajahnya perlahan memerah dengan bibir yang tak ada habisnya gemetaran. Aku yang tak sanggup melihat hukuman apa yang akan diterima, memilih untuk melindungi kepala dengan tangan.
Anehnya bukan suara pukulan yang terdengar, melainkan hanya suara langkah kaki berlari yang disusul dengan suara pintu tertutup. Kesunyian di ruang kelas 1-1, pun menyelimuti.
Kuangkat kepalaku dan melihat sekitar. Semua yang ada dikelas menatap ke arahku seolah ini disebabkan karena aku seorang.
"Arata apa yang kau lakukan? Cepat kejar dia!" Suruh Satoshi.
"Hah! Kenapa aku?" Tanyaku tak habis pikir.
"Karena kau sekarang sudah diangkat sebagai seksi penangkapan dan pengurus Kanzaki-san. Gelar ini sudah di setujui secara resmi oleh ketua kelas dan Aya-sensei" jelas Toono.
"Hah?! Apa-apaan ini!!? Kalian sedang menjebak ku kan?" Teriakku.
Dengan tatapan sinis aku mencoba menuntut kejujuran dari mereka. Tapi yang kudapat hanyalah sebuah anggukan mantap. Artinya ini semua betul adanya.
"Ayo cepat kejar! Kalau tidak nanti Aya-sensei akan marah" seru Momo.
Aku tidak mengerti apa yang mereka rencanakan,
tapi yang jelas ada sesuatu yang mendorong ku dari dalam sehingga aku berani beranjak dari kursi dan berlalu mencarinya. Saat hendak membuka pintu, aku hampir saja menabrak Haruka yang tengah mengomel kesal.
"Ta-chan kamu sedang apa? Di kelas sebenarnya sedang terjadi apa sih, aku jadi tabrakan dengan Kanzaki-san deh" ucap Haruka setengah merajuk.
"Sekarang dia pergi kemana?" Tanyaku.
"Eh? Eng, dia baru saja turun tangga tadi— Ta-chan, tu-tunggu! Kau mau kemana?"
Bel pun berbunyi nyaring disaat aku melewati Haruka begitu saja dan pergi berlari menuruni tangga dengan cekatan.
Suasana pagi hari yang menjelang siang itu, kini selimuti goresan tipis yang menyayat hati dan kebingungan tak ada arti.
"Ta-chan...." Haruka pun masuk ke kelas dengan wajah masam.
🎶
🌼つづく🌼