
Dibawah serpihan kelopak bunga sakura yang berguguran, diriku yang masih berumur 5 tahun itu tertegun, sambil menghayati sebuah suara yang tengah membaca puisi. Sambil bersandar dibawah pohon tua sakura, semilir angin membuat rambutku menari-nari ria. Begitu juga dengan lembaran buku ku, yang kini tengah dibaca anak laki-laki itu.
Entah kenapa rasanya tenang dan aku tak khawatir lagi karena terpisah dengan orangtuaku. Karena aku tahu, dia akan selalu ada disisi ku sampai orangtuaku datang.
..."Serpihan kayu kini berubah menjadi abu.....
...Detik demi detik semua hangus menjadi debu.....
...Didalam wajahnya yang penuh dengan jenaka, di situlah ketenangan kulihat.....
...Bertubuh baja, namun berhati lembut.....
...Rintangan yang kau lewati, menjadikan petunjuk untuk ku...
...Bagaikan cerita pendek, yang habis terbaca dengan sekilas...
...Bagaikan argumen yang menjadikan tanda tanya...
...Kisah yang terlihat di dalam fiksi, menjadikan semua terlihat nyata.....
...Dari ku untuk mu, tetaplah seperti tinta dan kertas, yang selalu bersatu, meski terluka satu sama lain."...
"Wow, apakah kau yang membuat puisi ini?" Seru anak laki-laki yang kini tengah membuka halaman demi halaman buku diary ku.
"Iya... Apa ini jelek?" Tanyaku dengan kepala yang sedikit dimiringkan.
"Tidak kok, Ini bagus sekali!! Kau hebat. Lain kali ajarkan aku buat puisi sebagus ini ya, pasti nanti nilai bahasa ku akan besar" Ucapnya sambil tersenyum manis dengan deretan gigi putihnya.
"Padahal kau itu seorang violinis, tapi bisa membuat puisi sebagus ini! Amazing...!"
"Hehe, terimakasih. Dengan senang hati akan ku ajarkan kok"
Anak laki-laki disebelah ku yang tadi sedang membaca, menutup bukunya dan menatapku. Dia tersenyum dengan jari kelingking mungilnya yang disodorkan ke arah ku. Ia pun berkata,
"Apa kau mau berjanji denganku? Berjanjilah, dilain waktu kita akan bertemu lagi. Dan disaat itu, ajarkan aku buat puisi ya?"
Sekian detik aku berpikir sambil menatap kelingking itu dan bergantian menatapnya. Perlahan kelingkingku mulai dikaitkan, aku pun mengangguk.
"Mau! Aku pasti akan menemui mu lagi, dimana pun kau berada aku pasti akan menemukan mu! Jika sudah ketemu, aku akan mengajari mu buat puisi. Jadi, kau juga harus janji. Jangan lupakan aku ya?"
"Iya! Aku janji!!"
Janji yang dibuat sepasang anak kecil berumur 5 tahun itu, hanyalah sebuah ucapan kosong tak bermakna. Bak kelopak bunga sakura yang tertiup angin dan menghilang entah kemana di luasnya langit..
Janji itu, selalu kuingat dan selalu ada usaha yang kulakukan. Aku rela dihukum karena berani kabur beberapa kali, hanya untuk menemukanmu. Aku rela terluka karena menolak orang suruhan ayah untuk membawa ku pulang, hanya untuk mencari sosok mu.
Tapi, apa yang kau lakukan untukku? Apa selama ini kau sudah melupakan janji itu? Dimana usaha mu untuk menemukan ku?
Aku tak tahu... Aku tak tahu... Aku bingung!
πΆ
Kembali ke adegan sebelumnya, aku yang tak tahu lagi harus bagaimana, masih saja terpaku dengan tatapan kosong selama berjam-jam.
"Apa kau mau menolak?"
Ia melontarkan kalimat yang sulit kubantah. Dan dengan cepat, ia membungkam mulutku dan mengumumkan tanggal pertunangan nya.
"Pertunangan mu akan dilangsungkan besok. Berlatihlah lagu Sonata yang benar, jangan latihan terus lagu paganini. Ingatlah satu hal, jangan pernah mencoba untuk mencari alasan supaya acara ini dibatalkan lagi!"
"Aku mengerti, okaa-sama"
Sepatu hak tinggi berwarna merah itu bersuara bersamaan dengan pintu yang tertutup sedikit dibanting.
Aku yang tak bergeming seperti burung dalam sangkar, hanya bisa menatap kosong ubin ruang musik. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir dari pipiku...
Disaat yang bersamaan pula, sosok Shiratori muncul dan mendekap ku dengan erat. Ia membelai kepalaku tanpa berkata sepatah kata pun, mungkin ia mengerti bahwa sekarang aku lebih butuh menenangkan diri daripada mencurahkan semuanya..
"Sudah lebih tenang, onee-sama?" Tanyanya
"Iya... Terimakasih Shiratori" jawabku sembari menyeka air mata.
"Panggil aku Tori saja. Apa onee-sama masih belum bisa mengatakan itu?" Ucapnya.
"...Maaf ya, tapi perasaanku padamu itu masih terlalu sulit dipahami"
Shiratori tersenyum sayu dan pamit keluar ruangan. Aku akhirnya sendirian lagi, bersama biola kesayangan ku. Atau bisa disebut, satu-satunya benda yang ibu kandungku tinggalkan.
"Pokoknya, aku harus menolak pertunangan ini!" Batinku.
πΆ
Malam hari di hari sebelum pertunangan, langit terasa gelap dan hampa tanpa adanya sosok bintang juga bulan. Semua tampak seperti lautan kelabu, yang sudah tercemar. Ditinggal, dilupakan dan di acuhkan. Kata-kata itu lah yang pantas untuk menggambarkan suasana malam hari ini.
Kurasakan angin malam yang kencang membuat rambut dan piyama ku berkibar. Sekian detik setelahnya, aku berniat untuk terjun dari balkon namun, tiba-tiba saja tubuhku ditarik dari belakang. Dan aku pun terjatuh ke dalam kamar.
"Apa yang kau pikirkan onee-sama?! Kenapa kau berada di atas sana!? Apa kau mau mati?!!" Teriak Shiratori yang masih memelukku.
"Kenapa kau cegah? Seharusnya dorong saja aku! Biarkan aku menemui okaa-san disana!!" Ucapku.
"Tidak! Tidak bisa!! Kematian tak akan bisa menyelesaikan apapun onee-sama. Onee-sama sudah berjanji kan, untuk tetap hidup dijalan violinis demi okaa-san?"
"Untuk apa tetap hidup dijalan sesat itu?! Aku lebih memilih untuk mati daripada tetap berada di jalan ini!"
Aku mendorong tubuh Shiratori dan bangkit menuju meja riasku. Aku melihat diriku yang diatur layaknya boneka dan kemudian melemparkan semua benda yang ada di atas meja.
"Kau tahu, karena aku seorang violinis, okaa-sama menjodohkan ku dengan pria yang tidak kucintai! Karena aku seorang violinis, aku kehilangan okaa-san. Dan karena aku seorang violinis.... Aku... Kesulitan untuk menemui anak laki-laki yang berarti dalam hidupku!!" Teriakku yang tak henti-hentinya mengacak-acak isi kamar.
Sontak saja Shiratori menghentikan ku dengan memelukku lagi. Kali ini dengan penuh kehangatan dan kegelisahan dalam dirinya. Entah kenapa, amarahku jadi hilang dan kami pun terduduk lemas.
"Onee-sama... Kau itu orang yang kuat. Aku tahu, onee-sama tidak mau melakukan apa yang disuruh okaa-sama dan Otou-san. Tapi, kau tetap melakukannya meski kau benci. Onee-sama orang yang baik dan ramah. Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri.."
"... Jika bukan aku sendiri, siapa yang harus kusalahkan? Siapa yang bisa berbagi keluh kesah semua masalahku?"
"Kau bisa menyalahkanku"
"Heh?"
Aku berbalik memandang mata Shiratori yang kini tengah menatapku bulat-bulat. Ia tersenyum dan berkata.
"Onee-sama boleh memukul ku dan marah padaku. Lakukan apapun itu supaya semua rasa marah, sedih dan kesal mu hilang."
"... Apa boleh? Kalau aku seperti itu, nantinya aku tak pantas jadi kakakmu" ucapku lirih.
"Mau bagaimana pun sikap dan sifat onee-sama padaku, kau tetaplah kakakku. Aku tak masalah jika begitu, toh onee-sama yang kukenal memang begitu adanya" jawab nya.
Bulan yang tadinya tidak tampak di langit malam itu, kini menunjukkan dirinya dari balik awan. Sinarnya mulai memancar dan membuat suasana malam menjadi indah seperti biasa.
Senyum malu terukir di wajahku. Sesaat aku merasa tenang dan bisa menjalankan semua masalah yang terjadi di keluarga ini, meski itu harus ada yang ku korbankan.
"Terimakasih, Tori-kun!" Seruku yang dibalas senyum olehnya.
"Apa aku bisa meminta satu hal darimu?" Tanyaku sebelum menutup gorden.
"Apa itu?" Tanyanya.
"Aku ingin di hari pertunangan ku besok, kau..."
"Hah?!"
πΆ
πΌγ€γ₯γπΌ
Hai Readers semua, ini Megane-chan.. aku ingin mempromosikan sebuah karya temanku yang the bestπ pada kalian.
Yuk disimak!!
Apa kalian sudah baca puisi yang dibaca anak laki-laki teman Kanzaki-san?
Puisi itu adalah salah satu bab dari karya temanku lho.. judulnya adalah πΌIMPLIEDπΌ Keren kan??ππ yang kupakai tadi, judulnya adalah Tinta.
Kalau kalian penasaran dengan torehan kata-kata yang lebih penuh makna kayak itu, mampir yuk ke karyanya di *******.
Cek disana yaπ
@Fawniaars
@Implied
On *******
Oke segitu aja, makasih perhatiannya. Megane-chan undur diri dulu..
Tunggu eps spesial Kanzaki-san selanjutnya ya. Jangan lupa like, vote dan komen yaππ»π
Semangat bagi kalian yang sedang PAS. semoga selalu diberi kelancaran dan nilainya memuaskan.πͺπ»π€©π€
Tetap diam di rumah dan jaga kesehatan yaππ»πππ§‘
Note: Sebelum ku post dicerita, aku sudah izin pada temanku untuk dijadikan bahan cerita. Jadi aku tidak melakukan hal curang yaππ»π