
"Kanzaki... Shiori-san?"
Kaki yang sudah melangkah 5 langkah ke seberang terhenti tiba-tiba. Ia terkejut, begitu ia menolehkan kepalanya. Wajah pucat nya kian memerah dan kedua bola mata berwarna hijau toska itu tampak seperti langit kelam berawan hitam, seolah akan menumpahkan hujan lebat disertai badai.
"Jadi benar ya, pantas saja terasa tak asing lagi" gumamku pelan.
Sebenarnya alasan kenapa aku bisa mengenal nya, karena sewaktu kecil aku pernah melihatnya di cover sebuah CD dan di televisi maupun papan iklan. Ia merupakan pemain biola berbakat yang menjadi pemenang di kejuaraan musik internasional di Eropa saat usianya baru menginjak 7 tahun. Penampilan nya yang membuat semua mata hanya tertuju padanya itu, mendapatkan tepuk tangan meriah satu studio. Dia lah Kanzaki Shiori, si jenius reinkarnasi Paganini versi wanita.
Gadis kurang ajar tapi jenius ini telah banyak memenangkan berbagai kontes musik dan juga sudah merilis berbagai macam lagu yang ia arasemen ulang dari musisi legenda, hingga karya originalnya sendiri. Kepopuleran nya itu dimulai satu setengah tahun yang lalu. Namun, secara tiba-tiba ia menghilang tanpa jejak di umurnya yang ke 14 tahun.
Dan sekarang, si gadis kurang ajar tapi jenius ini berada tepat di depanku, menggenggam erat baju terusan putihnya dengan ekspresi hampir menangis.
"... Jadi, kamu... Mengenali.... Ku, ya?"
Suaranya yang terisak-isak itu hampir tak terdengar oleh suara rem kereta di jalur sebelah. Meski begitu, kuanggukan kepalaku pelan.
"Ya, bukan sekedar kenal saja. Tapi aku ingat semua karya dan kesuksesan mu. Bahkan aku juga masih menyimpan CD karya ori..."
"Lupakan semuanya!" Ia memotong dengan nada membentak.
"Heh?"
"Pokoknya, lupakan saja. Hal yang fana itu.."
Ingin kubuka bibir ini dan mengatakan sesuatu padanya, namun aku hanya bisa menatap punggung kecil nan ramping itu berlari menuju pintu kereta di seberang. Rambut ungu muda nya berkibar, dan tepat disaat yang sama suara pemberitahuan akan kereta lain akan tiba pun terdengar menggema di telingaku. Sejenak aku hanya bisa diam membisu dalam keadaan bingung.
"–Hei, kamu!"
Sebuah suara terdengar dari arah pintu di seberang yang secara kebetulan sejajar dengan ku. Aku mengedipkan mata dan ketika membukanya, aku melihat sebuah siluet putih dari arah dalam kereta. Sejenak kami saling bertatapan, lalu gadis itu berteriak padaku.
"C-O-L-A-I-T-U-U-N-T-U-K-M-U-!!" Ia berteriak sambil menunjuk ke arah tempat duduk yang ada di sampingku.
Kemudian sebuah kereta dari arah lain datang dan membuat pandangan ku teralihkan. Dan disaat yang bersamaan, kereta yang ia naiki mulai bergerak melaju, meninggalkan diriku sendiri di peron ini.
Karena getaran yang dihasilkan kereta yang melintas tadi, cola yang ada di kursi menggelinding di lantai dan hampir saja jatuh ke rel. Segera saja kuambil sebelum terlambat.
"Dingin dan masih banyak airnya. Apa jangan-jangan ia tadi sengaja membelinya? Tapi kapan dia ke mesin penjual minuman disana? Dia membeli ini untuk tanda terima kasih padaku ya??" Banyak sekali pertanyaan di dalam otakku, hingga rasanya akan meledak keluar.
"Kanzaki Shiori ya..." Aku tersenyum menatap sekaleng cola rasa melon ditangan ku itu.
🎶
Sewaktu masih berumur 5 tahun, setiap pulang dari taman kanak-kanak, aku selalu mendengar CD rekaman permainan Kanzaki Shiori. Tentunya bukan aku yang memutar rekaman itu, semua yang melakukan nya adalah ibuku. Ibu selalu bilang kalau CD itu pemberian atas kerja kerasnya sebagai kritikus musik dan sebagian hasil belinya sendiri. Setiap bulannya, koleksi musiknya selalu bertambah yang awalnya hanya lemari kecil, sekarang sudah menjadi 3 buah lemari besar.
Tapi dari sekian banyak musisi, hanya rak ke 3 saja yang setiap kali diputar tidak membuat ku bosan saat mendengar nya. Yap, itu adalah karya milik Kanzaki Shiori. Meski diputar berapa ratus kali pun, aku tak pernah merasa muak mendengarnya. Bahkan urutan melodi nya pun membuat kesan mendalam bagiku.
Kuingat kembali lagu yang mengalun lembut di gendang telingaku sewaktu masih ada di rongsokan tadi. Lagu itu terasa asing dan tak pernah kudengar sebelumnya, jika pernah dengar aku pasti akan ingat kan?
Aku tertunduk lesu. "Sebenarnya, apa saja yang sudah terjadi padanya selama ini?" Aku bergumam kecil.
Lagu violin Sonata no.9 yang di arasemen oleh kreutzer itu, tampak galau dan menyayat hati. Begitu juga dengan kata-kata nya tadi, yang masih terngiang-ngiang di telingaku. "Pokoknya, lupakan saja. Hal yang fana itu.."
Ku genggam erat kaleng cola itu, lalu duduk di bangku yang tak jauh dari tempatku berada. Melodi permainan violin Sonata dan juga suara Kanzaki-san itu terus saja berputar di kepalaku, hingga kereta tujuanku tiba. Selama naik kereta, aku hanya menghabiskan waktu dengan melamun dan memikirkan hal yang tak masuk akal..
🎶
Itulah pemandangan yang kurasakan di libur musim semi terakhir sebelum masuk sekolah. Sungguh mengejutkan dan banyak perasaan yang awalnya hilang, kembali lagi dengan sendirinya.
Sesampainya di rumah, aku terus kepikiran untuk menceritakan semua yang terjadi pada ibu atau memendamnya sendiri. Saat aku hampir mau membuka mulut, aku jadi teringat kembali kejadian itu. Dan mengurungkan niat seolah ini hanyalah mimpi belaka. Aku masih belum percaya rongsokan-rongsokan itu bisa beresonansi layaknya orkestra.
"Yang hanya bisa membuktikan bahwa ini kejadian nyata, hanyalah cola ini.." batinku.
Aku sedikit mengguncang cola itu dan kubuka untuk diminum, namun tiba-tiba saja cola itu menyembur mengenai mukaku.
"Ya ampun, Ta-chan! Kau ini ceroboh sekali" ucap ibu yang segera membawakan handuk untukku.
"Terima kasih Bu.." aku membalas sambil menyeringai.
"Aduh, kau tahu kan minuman berkarbonasi itu tidak boleh dikocok kan, apalagi kalau di lempar" ucap ibu.
"Hehe, maafkan aku"
"Cepat lap cola di wajahmu itu dan bersihkan lantainya"
"Baik"
Aku segera mengambil lap pel dan membersihkan nya sampai bersih. Entah kenapa saat noda cola itu sudah tidak ada, rasanya kepekaan ku dan kepedulian ku ini seakan lenyap dari dunia. Lalu, aku jadi mengingat kembali tentang nya.
"Dasar gadis bodoh!" Aku bergumam.
"Meski kau menyuruhku untuk melupakan semuanya, tanpa harus disuruh pun akan kulakukan dengan mudah. Andai kau tahu saja ya, aku ini orang sibuk. Orang sepertiku ini mana mungkin bisa ingat kejadian itu? Toh aku juga selalu lupa mimpiku sendiri" batinku.
Gerakan ku terhenti dan senyum sayu bak bunga layu terlukis di wajahku. Pada saat itu, aku tak menyangka bahwa akan bertemu Kanzaki Shiori di situasi semacam tadi.
Dan, menolak untuk melupakan semuanya...
🌼つづく🌼