
".... Sudah berapa lama kau ada diatas sana?"
Ia akhirnya bicara. Suaranya halus dan jernih seperti air dalam gelas yang jatuh ke lantai. Ia terlihat marah. Sangat marah. Karena reaksinya itu, aku kehilangan pijakan, lalu terpeleset dari layar tv tempatku tadi berpijak.
"Aku bertanya padamu tahu! Sudah berapa lama kau ada diatas sana?" Ucapnya lagi.
"Eng, yah, itu..." Aku kini bisa bernapas lega setelah mengatakan beberapa potong kata.
".... Mungkin sewaktu sonata⁵?" Aku asal jawab.
"Sonata bagian mana?" Tanyanya memastikan.
"Em.... Di awal?" Lagi-lagi aku asal jawab.
Dengan cepat ia berdiri . Rambut ungu muda nya menjuntai dari bahu sampai setengah dari punggungnya. Saat itu juga aku tersadar bahwa ia tengah memakai gaun terusan warna putih. Jika aku tak salah menggambarkan, gaun dan sosok rambut ungu mudanya terlihat bak Dewi Athena⁶ di anime-anime.
"Apa benar kau mendengar permainan ku dari awal?" Bentaknya.
Aku memalingkan wajah. –Jika iya, memang kenapa? Terus dia mau aku melakukan sesuatu untuk membuat diriku jadi bahan lelucon sebagai permintaan maaf??– Aku menarik napas dan menenangkan diri sembari melihat lagi wajah gadis itu, yang kini memerah malu.
"Aku, tidak berbuat salah kan? Jika.... Menatap kagum dia yang secantik Dewi...?" Batinku yang tertegun akan keanggunan gadis berbalut gaun terusan putih.
"Da-dasar mesum!! Penguntit!" Teriaknya.
"A-apa kau bilang?! Tunggu dulu, bukan itu maksudnya. Kenapa kau asal menuduh?!" Tanyaku panik.
"Kalau bukan itu apa lagi coba? Kau berani sekali ya menguntit ku hingga kesini! Apa jangan-jangan kau salah satu dari mereka?" Gadis ini terus saja nyerocos tak karuan padaku yang tampak jadi bahan pelampiasan.
"Menguntit....? Oi jangan bercanda! Aku kesini hanya mengumpulkan beberapa barang dari toko itu tahu. Lagian aku juga tidak kenal dengan yang kau maksud mereka" kataku.
Segera setelah percakapan menggantung barusan, ia menaruh biola di tempat nya. Ada sedikit resonansi yang tercipta ketika tutup tempat biola itu ditutup. Rak besi disampingnya sedikit miring, kemudian jatuh kebawah membawa diriku.
"Woahh!" Aku berguling terjatuh dan cepat-cepat menghindari barang yang jatuh bersamaan ke dasar tempat gadis itu berada. Pelipis-ku tergores pinggiran tempat biola. Karena itu cairan merah tercipta dan mengalir dari pelipis ke bawah wajahku.
".... Aduh!" Rintihku.
Saat aku ingin berdiri, dahiku terantuk sesuatu. Yaitu dahi gadis yang wajahnya tepat di depanku, dengan bola mata hijau toska yang menatapku tajam. Aku terkejut dan tak bisa bergerak kemanapun. Aku tak sanggup menatap matanya dan hanya bisa menatap bibirnya yang bergetar lembut bak kelopak bunga sakura.
"Kalau kau bukan salah satu dari mereka dan bukan untuk menguntit ku, lalu kenapa bisa ada disini?" Ucapnya.
"Heh? Ah, begini, itu..."
Gadis itu memiringkan kepala kebingungan. Tali pengikat ketegangan ditubuhku kini mulai melemah. Aku akhirnya bisa mengendalikan diriku dan mulai mundur kebelakang menjauh darinya, sambil tetap duduk ditanah.
"Ehem, aku tadi sudah bilang kan. Aku kesini hanya mengumpulkan beberapa barang dari toko untuk keperluan hobi ku. Setiap dua atau tiga bulan aku selalu datang kesini, jadi bukan mau menguntit mu atau apalah" aku menjelaskan.
"Sungguh?" Tanya gadis itu.
Aku mengangguk. "Iya. Lagian buat apa aku menguntit mu? Tidak ada untungnya juga buatku" jawabku.
"Meski kau bilang begitu, cepatlah pergi dari sini dan jangan beritahu siapapun kalau aku ada disini! Kalau perlu pun, kau hapus saja ingatan pernah melihatku dan mendengar permainan ku!" Ujarnya.
"Hah? Bagaimana caranya..." Aku menggaruk kepala.
"Apa jangan-jangan dia sedang diikuti oleh seseorang?" Aku berpikir.
"Pokoknya.... Jangan..... Kamu...... Tidak boleh... mengatakannya!!" Dia menjerit, lalu setelah sadar apa yang dilakukan, ia menunduk pasrah.
Sekilas aku melihat matanya berkaca-kaca, seolah semua bintang yang ada di galaksi ini akan berjatuhan. Aku yang melihatnya hanya bisa menghela napas pasrah karena tak bisa berbuat apa-apa.
"Aku mengerti, aku tidak akan mengatakan pada siapapun kau disini. Dan akan pergi dari sini, apa kau sudah puas?"
Tak ada sepatah katapun jawaban darinya. Kuangkat ranselku yang tadi jatuh ke bahu, lalu mencari jalan menuju keluar. Kemudian aku mendengar suara aneh, sebuah suara mesin meletup terdengar dari arah belakang. Dan yang mengikutinya adalah suara teriakan. "Ahh!! Kenapa?!"
🎶
Aku menoleh kebelakang, kulihat sebuah tape recorder⁷ yang ada digenggaman tangan seorang gadis, mengeluarkan bunyi letupan itu. "Apa selama ini dia merekam permainan tadi?"– Aku yang tak tahan melihat wajah cemas dirinya memutuskan untuk turun dan menekan salah satu tombol tape recorder tersebut.
"Pitanya terlilit ya..." Aku bergumam.
".... Apa..... Ini rusak?"
Ia bertanya dengan suara lirih seperti hendak menangis sambil membuka tape recorder itu dengan hati-hati. Saat kulihat ia melakukannya, tanganku refleks menghentikan gerakannya. " Jangan! Kau tidak boleh langsung membuka nya" seruku panik.
Ia segera menghentikan tangan nya. Aku meletakkan tape recorder itu disalah satu kursi miring, dan mulai mencari perlengkapan untuk memperbaiki nya.
"Kamu mau memperbaikinya?" Tanyanya dengan mata terbelalak.
"Kalau bisa sih" jawabku.
Gadis itu terlihat cemas dengan jawabanku yang asal.
"Jangan khawatir, aku akan memperbaiki dengan hati-hati sebisa ku. Kalau masih tidak bisa, terpaksa minta tolong temanku di toko" ucapku menenangkan.
"Kalau.... Bisa... Jangan sampai..... Temanmu datang... Ya" pintanya yang entah kenapa membuat ku jadi merasa bisa mengerjakan nya.
Saat aku ingin membongkar nya, gerakanku terhenti karena tersadar bahwa tape recorder ini bukanlah buatan Jepang. Tape recorder ini juga merupakan tape recorder dua sisi yang bisa merekam dan memutar secara bersamaan.
"Bahasa apa yang tertulis di tape recorder ini?" Tanyaku.
"Bahasa Yunani" jawabnya.
"Jadi buatan Eropa ya... Apa aku bisa memperbaiki nya?" Aku bergumam gelisah.
Setelah kulepas sekrup dan membuka tutup luarnya, yang tampak didepanku adalah bagian komponen-komponen dasar yang sangat kukenali. Standar internasional memang bermanfaat..
"Apa... Kau bisa perbaiki itu? Apa tape ini bisa diperbaiki?" Tanyanya
"Mungkin, tapi aku tetap butuh bantuan temanku di toko untuk meminjamkan beberapa alat" jawabku.
Gadis itu diam membisu seketika saat aku mengatakan hal itu.
Aku menghela napas sambil mengambil papan piano yang rusak ke bawah, lalu menggunakannya sebagai meja kerja. Perlahan aku mulai membongkar tape recorder itu dengan peralatan seadanya.
"Anu... Apa tape recorder ini sejak awal memang sudah rusak?" Aku bertanya setelah melihat kondisi pita magnetik yang keluar dan membentuk sebuah gulungan kusut.
"Eng... Mungkin saja begitu. Karena sudah beberapa lama kasetnya tidak mau berhenti berputar meski sudah ditekan tombolnya. Pernah sekali sih ketika selesai merekam dia berhenti" ucapnya.
"Jadi penghenti tombol otomatis nya sudah tidak berfungsi" aku bergumam.
"I-itu kan, ka-karena kamu yang muncul tiba-tiba seperti penguntit. Makanya aku lupa menekan tombol stop nya" ia mencibir kesal.
"Jadi lagi-lagi ini adalah salahku??" Batinku.
"Kenapa wajahmu aneh begitu?" Ia membentak, seketika aku menggeleng cepat lalu kembali ke pekerjaanku.
"Oh iya, apa tape recorder ini sangat penting bagimu?" Aku mengatakannya karena meski sudah rusak, ia masih saja memakainya.
"Heh? Itu.... Eng" gadis itu tampak terkejut, lalu ia menundukkan kepala sambil mengangguk pelan.
"Begitu ya.... Jangan-jangan gadis ini adalah seorang half⁸. Dari wajahnya saja beda dengan gadis asal Jepang. Yunani ya, jauh nya.." Di kepalaku kini terpikir beberapa hal tak penting menyangkut kemungkinan ada hubungannya dengan gadis itu. Tapi meski sibuk berpikir yang tak perlu, aku tetap fokus pada pekerjaanku sekarang.
Sembari terus bekerja dan berpikir, aku tak lupa mencari-cari barang yang diperlukan dalam tumpukan rongsokan itu dan menyatukannya dengan tape recorder. Cara ini adalah cara yang terpaksa dilakukan. Karena gadis itu tak mau temanku yang di toko sampai datang kemari, hanya gara-gara aku meminta beberapa barang tambahan.
🎶
//Beberapa saat kemudian//
"Yosh, sudah selesai!" Seruku sambil menyodorkan tape recorder itu pada gadis yang setengah tidur.
"Heh?... Be-benarkah?" Gadis itu tampak tak percaya.
"Kalau tak percaya, aku coba putar ya" Jariku hampir saja menyentuh tombol putar untuk memastikan bahwa itu benar-benar sudah berfungsi, namun tiba-tiba tangannya menepis jariku dengan cepat lalu mundur menjauh.
"Te-terimakasih..."
Ucapnya sambil memeluk tape recorder itu erat-erat. Ia terus menunduk dengan wajah memerah. Entah kenapa aku juga jadi ikut merasa malu, karena itu aku langsung saja membereskan peralatan yang tadi ku gunakan.
Saat semuanya sudah dimasukkan kedalam ransel, tiba-tiba ia bertanya.
"Kenapa ada banyak sekali perkakas dan suku cadang disana?"
"Sudah kubilang kan barusan, aku ini sedari kecil selalu berkutat dengan mesin. Makanya bisa dibilang ini semacam hobi? Jadi karena itu lah aku datang kemari, untuk mencari komponen tambahan disini" jawabku mempertegas bahwa aku bukanlah seorang penguntit.
"Apa itu menyenangkan?" Ia bertanya lagi.
Pertanyaan yang membuatku terdiam seketika dan bingung untuk menjawabnya.
"Mungkin..., Aku tidak begitu yakin bahwa memperbaiki mesin yang rusak adalah sesuatu yang menyenangkan. Tetapi, aku merasa ada perasaan senang dan puas ketika melihat orang itu tersenyum di saat mereka mendapatkan kembali sesuatu yang mereka anggap sudah hilang"
Kami saling menatap, wajah gadis itu terlihat sepertu kesepian namun perlahan memerah lagi, karena itu ia segera berpaling. Saat aku menatapnya dari samping, muncul sebuah desakan untuk menghujaninya berbagai macam pertanyaan. Tapi aku menahan diri untuk enggan mengatakannya, karena bisa jadi dia akan marah lagi.
Ia meletakkan tape recorder itu di meja usang tepat disebelah biola itu berada. Lalu menggunakan kasur usang itu sebagai kursi. Hening terasa begitu menusuk saat ini, aku sebenarnya ingin berbincang banyak namun waktu dan suasana itu kurang sesuai.
"Lupakan saja deh, toh daripada bengong mending pulang deh.." batinku.
Selangkah kakiku rasanya terasa berat sekali. Mataku tak bisa berpaling dari gadis yang kini tengah melihat ke arah kakinya berada.
"Jika aku kembali kesini lagi suatu hari nanti, aku tidak bisa bertemu lagi dengannya... Kan?"
"Apa dia hanya akan berada disini, saat ini saja karena ingin bermain biola?"
Aku lagi-lagi memikirkan hal yang tak penting. Segera aku menampar kedua pipiku lalu berjalan meninggalkan gadis itu.
Tapi tiba-tiba,
"Eng, anu.."
Aku menoleh cepat.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Apa.. rumahmu ada didekat daerah sini?" Ia tampak malu-malu menanyakan nya.
Aku memiringkan kepala. "Tidak... Rumahku bisa ditempuh selama kurang lebih 6 jam lamanya jika naik kereta" jawabku.
"Jadi sekarang kau akan ke stasiun?"
Ia terlihat begitu lega dan senang saat aku menganggukkan kepala. Dimasukkannya tape recorder itu ke dalam tas selempang berwarna hitamnya itu dan mulai berlari menghampiri ku.
"Jadi kamu mau pulang juga? Kalau begitu pulanglah duluan, aku akan mampir dulu ke toko teman" ucapku.
"Tidak boleh! Jangan! Teruslah berjalan!" Bentaknya.
"Hah? Apa-apaan dia itu..." Aku mengomel.
"Rasa-rasanya, aku mempunyai firasat yang buruk!"
🎶
🌼つづく🌼