Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
03- Nona Muda Paganini?! (Bag.1)



"Rasa-rasanya, aku mempunyai firasat yang buruk!"


Dengan kesal aku berjalan di timbunan rongsokan itu sambil sesekali menghindar. Akhirnya aku dan gadis itu berjalan bersama kembali ke hutan dekat toko temanku itu. Tapi berjalan bersama seorang perempuan itu perkara yang tak mudah. Gadis itu contohnya, meski ia selalu mengeluh dan hampir saja celaka, ia tetap saja mengikuti ku. Memang ya, yang namanya perempuan itu misterius.


"Sebentar..."


Aku menolehkan pandanganku ke arah nya. Ia pun menabrak punggungku dan mulai mengeluh.


"A-apa sih?"


"Jangan-jangan kau memanfaatkan-ku sebagai kompas jalan pulang ya?" Tanyaku


Meski ia tak menjawab langsung, aku tahu bahwa ia tersesat. Karena kulitnya yang lebih putih dari kebanyakan orang Jepang, saat ia malu otomatis kulitnya jadi memerah, Jadi sudah pasti mudah ditebak.


Aku menghela napas. "Yah mau bagaimana lagi jika tersesat. Aku juga pernah tersesat saat pertama kali kesini".


"Ini bukanlah yang pertama kalinya. Mungkin ini sudah lebih dari 3 kali"


"Hah? Jadi meski kau sering kesini masih tidak ingat jalan pulang?"


"Bukan... Bukan begitu!"


"Kalau bukan, terus apa? Jika tahu ya pulang sendiri lah.."


"Huh.."


Ia mencibir sambil menggertak kan giginya dan menatap tajam ke arahku. Aku tak punya banyak pilihan selain mengakhiri debat ini. Tak lama setelahnya, aku melihat sebuah truk pengangkut barang ke arah kami berada. Mungkin itu adalah truk yang hendak membuang rongsokan lagi. Hutan yang tadi nya bising, kembali hening. Samar-samar terdengar suara dahan bergesekan seiring truk itu melaju, bunyi itu mengingatkanku akan konser kantata⁹ yang aku lihat saat onee-chan masih tersenyum padaku.


Benar-benar sebuah pengalaman mengejutkan sampai aku sesak napas. Keajaiban seperti ini tidak akan mungkin kudapat, andai jika gadis ini tidak memainkan biola ditempat semacam itu. Sesekali aku meliriknya dan melihat lagi ke depan.


"Rasa yang mengatakan bahwa pernah melihat nya itu tidak hilang. Kapan ya aku melihatnya? Mungkinkah teman sewaktu SD atau SMP yang sudah kulupakan?? Aneh juga sih dia bersikap malu-malu dan seenaknya di depan orang asing..?"


"Apa benar dia temanku? Itu pasti tak mungkin.... Kan?"


Siapapun orang yang mengenalinya, mana mungkin dilupakan begitu saja. Apalagi gadis ini sudah meninggalkan kesan mendalam seperti itu padaku. Meski hanya lewat biola.


🎶


Usai berjalan menuju kota kecil diantara gunung dan laut (begitu juga gundukan sampah) yang memiliki jalur melandai, tampak sebuah pemandangan perumahan yang atapnya sama rata dan berjejer bersamaan dengan stasiun kereta. Di setiap jalan dihiasi lampu penghias yang sudah berkarat dan tak dapat menyala lagi. Bangunan kesenian yang bertingkat empat peninggalan zaman dulu, kini sudah terpampang papan iklan kue. Suasana disini begitu berasa kesan nostalgia. Mulai dari konsep lingkungan perumahan yang sederhana namun menonjol kan kesan mendalam.


Tidak ada lagi makhluk hidup yang bergerak selain kami, tentu saja ada beberapa kucing yang tengah mengais-ngais sisa makanan di depan toko takoyaki ini.


"Baiklah, kita sudah sampai" seruku.


"Tanpa diberitahu pun, aku sudah tahu"


Hanya itu yang dikatakan gadis kurang ajar ini sebelum akhirnya menerobos masuk ke dalam stasiun.


"Dasar tak tahu berterima kasih, setidaknya ucapkan makasih gitu padaku..." Aku menggerutu kesal.


Aku tetap berdiam di tempat, memikirkan apa yang harus kulakukan setelah ini. Tadinya aku ingin menyuruh gadis itu berterima kasih padaku tapi, aku tak tahu namanya.


"Hah-ahh... Apa boleh buat deh, lebih baik aku meminta Satoshi untuk mencarikan barang itu saja" aku pun membuat keputusan itu.


Aku pun berpaling darinya, dan baru saja ingin melangkahkan kaki ke tanah, seseorang berseru ke arahku;


"Maaf, anak muda disana"


Dan suara itu berasal dari dua orang polisi paruh baya yang tengah berlari keluar dari pos penjagaan kecil di seberang bundaran bus sekolah. Aku pun mulai berasumsi bahwa yang dimaksud mereka tentunya bukanlah diriku (mulanya aku sedikit kegeer-an.. hehe). Melainkan gadis itu yang kini membatu dan terkena serangan panik. Polisi paruh baya itu kini berjalan kearahnya dan bertanya,


"Maaf,... Apa Anda Kanzaki Paganini-sama?"


"... Heh? Eng, yah, itu.."


Wajahnya kian memucat karena terkejut.


"Wah jadi benar toh" seru salah satu polisi.


"Ah, kau benar. Pakaian nona ini cocok seperti yang telah dideskripsikan. Keluarga Anda sekarang tengah kebingungan dan sedang mencari Anda. Tampaknya laporan kabur waktu itu cukup berguna ya, karena terakhir kali Anda juga kabur ke suatu tempat di daerah sini. Pokoknya sekarang, ayo ikut kami ke pos. Saya akan segera menghubungi keluarga Anda untuk datang menjemput".


"Heh, tu-tunggu..."


"Jadi gadis ini kabur dari rumah toh, dan aku jadi tahu sekarang, ternyata yang dia bilang bukan pertama kalinya karena alasan ini ya.. lebih baik aku tak usah ikut campur urusan orang lain deh" batinku.


Saat aku melangkahkan kaki melewati pos polisi itu, tiba-tiba saja sensor bahaya ku mulai mendeteksi ada ancaman. Yap, benar saja itu sang gadis tadi. Ia menatap seperti singa namun terlihat seperti memohon pertolongan. Tapi entah kenapa aku hiraukan begitu saja dan terus berjalan seolah tak terjadi apapun.


Aku menoleh untuk terakhir kalinya, betapa terkejutnya diriku melihat pemandangan tak tega seperti ini. Tatapan berkaca-kaca dan penuh permohonan itu seolah berkata, Aku akan membunuhmu jika kau tak menolongku..!


"Hiihh... Wahai tubuh bekerjasama lah, jangan berhenti dan abaikan saja dia!!!" Batinku.


Namun, usaha itu sudah terlambat. Jika aku lebih memilih diam dan pura-pura tak tahu, itu artinya aku bukanlah seorang manusia. Manusia mana yang akan se-tega ini pada orang yang kesusahan??


"Eng, maaf..."


"Ada perlu apa, nak?" Tanya polisi itu.


"Be-begini, se-sepertinya bapak salah orang" ucapku terbata-bata.


"Maksudmu?" Polisi itu semakin bingung


"Gadis ini sebenarnya bukan yang kalian cari, dia ini adalah.... Pacarku! Ya pacarku!! Kami sekarang sedang dalam perjalanan merayakan hari jadian yang ke 3 jam" jelasku spontan.


"Maafkan aku ibu, anakmu itu terpaksa berbohong.."–batinku penuh penyesalan.


"Hah?"


Lagi-lagi ekspresi mereka menjadi aneh dan tampak bingung.


"Bapak-bapak sudah dengar sendiri kan pacarku bilang apa? Sekarang lepaskan aku, kalau tidak nanti kami melewatkan kereta yang sebentar lagi datang!" Seru gadis itu.


"Ah, oh, ya..."


Gadis itu segera pergi menjauh dari polisi dan bersembunyi di belakang punggungku. Lalu, kami berjalan cepat masuk ke stasiun. Aku tak tahu apa mereka akan percaya begitu saja pada cerita belaka, yah ini lebih baik dilakukan daripada diam disana terus.


🎶


Setelah membeli tiket dan menunggu di jalur yang telah ditentukan, kami melirik ke arah bundaran bus itu berada.


"Apa mereka tidak curiga dengan aktingku? Omong-omong, andai kata kita tertangkap, kau akan ikut tanggungjawab juga kan?" Ucapku.


"Heh, itu.. a-aku.." Gadis itu menggenggam baju terusan nya itu kuat-kuat dan memalingkan wajahnya dariku. "Untuk apa aku lakukan itu? Aku kan tidak minta pertolongan mu!!"


Aku menyeringai karena terpikir ide untuk menjahilinya.


"Baiklah, kalau begitu, sekarang aku akan pergi ke pos polisi itu dan menjelaskan yang sebenarnya. Kau tahu kan, berbohong itu tidak baik" ucapku.


Wajah gadis itu kini berubah merah dan semakin pucat. Ia terdiam seribu bahasa, namun tangannya terus saja memukul-mukul punggung ku kesal.


"Hahaha, geli tahu"


"Uhhmm!!"


"Iya iya aku ngerti. Lain kali kalau mau kabur, pergi ke tempat yang sepi dan tidak bisa di temukan orang tua mu dong"


...


"Aku gak kabur tahu! Bukan begitu kok... Pokoknya, ini bukan seperti yang kau pikirkan!"


"Rasa-rasanya sesudah bilang itu padanya, aku merasa jadi orang yang terlalu banyak ikut campur. Ditambah orang yang kabur malah di nasihati supaya bisa lebih baik dalam usaha kabur nya.. dasar bodoh!!"–aku pun baru tersadar.


Ia menahan amarahnya sambil menatap tajam ke arahku. Lalu ia berbalik dan berjalan menuju peron yang menghubungkan ke jalur seberang. Arah yang kita ambil ternyata berbeda. Entah kenapa aku merasa sedikit lega dan juga merasakan kesedihan.


Disaat yang bersamaan, stasiun memainkan musik khas-nya yang menandakan kereta akan segera datang. Musik yang dimainkan adalah Sonata in E minor op 3 no.6¹⁰, karya Niccolo Paganini¹¹.


"Ah! Itu dia!"


Seketika Sambaran petir menyambar otakku. Aku sekarang ingat! Aku tahu siapa gadis kurang ajar namun cantik ini!! Kata-kata polisi itu kalau tak salah mengatakan nama keluarganya itu, Kanzaki kan? Hanya satu keluarga terkenal yang memiliki nama itu... Tak salah lagi kalau dia itu..


"Anu, kau itu..."


Gadis itu berhenti sejenak.


Aku menengadah. "Kanzaki.... Shiori-san?"


"Heh?!"


Suara kereta melintas membuat pemandangan sekarang begitu dramatis. Di bawah terangnya lampu pijar di malam hari, kutemukan sosok asli nona muda Paganini ini...


🌼つづく🌼




Part ini up karena sebagai hadiah dari author di hari ulangtahunnya untuk para readers semua🥳🧡💛


Jangan lupa rekomendasikan cerita ini pada teman-teman kalian yaa🙏🏻😊 dan sebelum lanjut baca, like, vote dulu oke. Author akan sangat berterima kasih pada kalian yang sudah melakukannya.


Kalian lakukan itu semua sama dengan memberi dukungan di hari ulangtahun Author😍🥰


Terima kasih sudah luangkan waktu baca karya yang kentan'k lagi banyak kekurangan ini🙏🏻🥰


Salam hangat,


ナジラ