Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
09- Jebakan malaikat tak berdaya



"Ka... Kamu!"


"Gawat...! Apa yang harus aku katakan sekarang? Jika salah langkah, aku akan langsung terperosok ke jurang...."


"Pikirkan... Berpikirlah!! Ayo otak jangan kecewakan diriku!!"


Langkah kaki sang violinis itu terdengar mendekati diriku. Ia pun membungkuk sambil mengulurkan tangannya padaku.


"Kamu tidak apa-apa?" Itu lah sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Aku yang dengar itu langsung syok karena berpikir terlalu jauh.


"I-iya" aku meraih uluran tangannya sambil mengangguk.


"Kalau tidak salah, namamu itu Saki Arata, bukan begitu?" Ucap Tori-kun.


"Ah, iya benar. Ada apa?" Tanyaku


"Tidak mengapa, aku hanya penasaran dengan kau yang berhasil menemukan onee-sama saat kabur dari rumah lagi" jawabnya sambil tersenyum.


"Haha~apa itu pujian?"—batinku.


Kanzaki yang tadinya melihat ke arahku langsung menatap tajam Tori-kun dengan isyarat diam. Lalu ia berjalan menuju pintu, tapi dipertengahan langkah yang menuju tangga ke bawah ia menatapku sambil bertanya;


"Kenapa kau masih ada di area gedung?"


"Ah, i-itu aku disuruh mengambil botol air minum temanku yang tertinggal"


"Kenapa tidak langsung masuk kelas?"


"Ya, itu kan sudah jelas, saat aku hampir membuka pintu aku tak sengaja mendengar percakapan kalian. Jadi ku putuskan untuk menunggu sampai pembicaraan kalian selesai"


"Begitu... Mungkin dia dengar.."


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak, aku duluan ya"


Sesaat setelah ujung rambut ungu mudanya yang di kepang menghilang di balik tembok, aku pun merasakan sebuah firasat buruk yang akan menimpaku setelah ini.


Dari kejadian setelahnya, pelajaran olahraga pun dimulai seperti biasa. Waktu pulang sekolah, aku mendengar cerita dari Haruka tentang dirinya. Sepanjang waktu olahraga berlangsung, Kanzaki hanya duduk di pinggir stadium sembari mengamati pelajarannya. Ia tak pernah sekalipun beranjak dari tempat nya sampai akhir jam selesai.


🎶


Esok harinya di jam istirahat, sepertinya Kanzaki masih sibuk mengurusi para netizen yang menanyakan pertanyaan yang terus mengalir deras bak air terjun. Di sela-sela kerumunan itu, kadang mata kami saling bertemu tepat di celah-celah kecil tersebut. Dari tatapannya sudah jelas bahwa ia meminta pertolongan dariku, namun itu jelas mustahil bagiku.


"Apa dia tidak lelah terus meladeni para gadis yang kepo itu? Kalau aku sih pasti sudah pakai jurus karate ku" ucap Haruka yang terus saja mengunyah.


"Itu lah perbedaan wanita yang memiliki otak dan wanita yang memiliki otak tinju seperti dirimu.." ujar Satoshi.


*Bletak*


Beberapa bintang terlihat mengelilingi kepala Satoshi yang mulai terlihat sebuah jendolan merah di kepala.


"Aww... Arata, sakit..." Rintihnya seperti gadis.


"Dasar bodoh! Kau kan sudah tahu sifat Haruka seperti itu, masih saja meledek dia" ucapku tak habis pikir.


"Sebentar, biar ku ambilkan salep di UKS.."


Saat


aku akan memundurkan kursi dan berjalan ke pintu kelas, tiba-tiba


kudengar


suara *bam*, yang menandakan ada seseorang yang


telah menggebrak meja. Aku menoleh, dan melihat Kanzaki berdiri di atas meja tepat di kerumunan para gadis sambil menunjuk ku lirih. Dia


berkata sambil berlinang air mata.


"Tanya anak itu. Penguntit itu punya semua albumku, dan aku yakin dia pasti tahu banyak tentang ku."


"Hah? Apa?!" Aku sontak berteriak.


Kanzaki melompat dari meja dan berlari melewati ku, lalu keluar dari kelas. Saat sebelum keluar, ia sempat membisikkan sebuah kata di telingaku "Rasakan itu, *ストーカーくん*..."


🌼Dibaca: *Sutōkā-kun, artinya Penguntit🌼


"Heh? Apa maksudnya ini?!" Aku bergumam kesal sambil bergidik ngeri dengan apa yang kulihat sekarang. Tatapan yang tak terhitung jumlahnya, kini terarah padaku. Dan salah seorang dari mereka pun mendekati diriku. Ya, dia adalah sang wakil ketua kelas.


"Jadi, apa saja yang kau ketahui tentang Kanzaki-san? Apa hubungan diantara kalian?"


"Hu-hubungan? Tidak ada." Jawabku spontan.


"Pasti itu bohong. Di hari pertama saja percakapan kalian terdengar akrab, kalian pasti saling kenal kan?" Tukas murid lain dibelakang.


"Ya ya itu benar!!"


"Tu-tunggu dulu, aku sungguh tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Dan lagi kenapa aku dipanggil penguntit?!" Aku balik bertanya.


"Dasar gadis sialan... Dia memanfaatkan kesukaan ku akan musik klasik untuk melarikan diri dari mereka...!"–batinku kesal.


Tiba-tiba saja aku merasakan rangkulan tangan dari samping. Saat aku menoleh, aku lihat seorang laki-laki dengan banyak gaya berkata;


"Ladies semua, laki-laki dekil ini sudah pasti tahu album itu, karena sejak dini dia sudah dikenalkan dengan musik klasik oleh ibunya karena beliau adalah seorang kritikus musik terkenal"


"Idih jijik, kenapa wajahnya harus sok peduli gitu??" Aku berbisik pada telinga kanannya.


"Berisik!! Seharusnya kau berterimakasih padaku, karena sudah mau menyelamatkan mu dari para predator ini" balas nya.


"Jadi begitu.."


"Musik klasik? Apa itu tidak terlalu jadul?"


"Kalau ibumu seorang kritikus, berarti kau tahu semua dong tentang Kanzaki-san?"


"Tenang dulu para ladies, jika kalian ingin mengetahui itu alangkah baiknya tanyakan saja pada orangnya langsung" ucap laki-laki itu yang adalah Satoshi.


"Itu repot. Dengar ya Arata, kau harus tanyakan beberapa pertanyaan di kertas ini pada Kanzaki-san. Kau bisa tanyakan itu saat pulang nanti dan besoknya beritahu kami semua jawaban yang ia jawab" ucap murid dibelakang wakil ketua kelas sembari menyodorkan paksa selembar kertas padaku.


Aku mengangguk pasrah sambil menerima selembar kertas itu. Pada akhirnya kerumunan itu perlahan memudar dan aku pun terbebas dari maut untuk waktu singkat. Di kepalaku kini mulai bertanya-tanya, kenapa wakil ketua kelas dan murid lainnya bersikeras bertanya pada Kanzaki, sedangkan mereka sudah ditolak beberapa kali?


"Apa jangan-jangan wakil ketua ingin Kanzaki-san dapat bergaul dan nyaman dengan semua orang disini?" Aku bergumam.


"Mungkin tingkat kesabaran nya sudah habis, jadi dia gunakan cara ini" jawab Satoshi yang membuat ku terkejut.


"Bisa jadi sih.."


🎶


Setibanya dirumah, aku langsung masuk kekamar dan bersiap untuk membantu membuat makan malam bersama ibu. Sebelum itu, aku sempat terdiam di kamar mandi sambil berendam. Banyak hal yang aku bayangkan jika aku terus berhubungan dengan Kanzaki. Entah apa lah itu, yang jelas aku merasa tidak nyaman. Seolah didepan sana akan ada kejadian-kejadian besar menanti diriku..


"Ta-chan, jangan berendam lama-lama ya... Nanti makan malamnya tidak jadi" ucap okaa-san dari luar pintu.


"Baik, ini aku sudah selesai kok" balasku.


Beberapa menit kemudian aku sudah berada di dapur dan membantu membawakan makanan ke meja makan.


"Okaa-san, apa masih ingat dengan violinis jenius bernama Kanzaki Shiori?" Tanyaku.


"Jangan panggil aku dengan sebutan okaa-san, apa kau sudah lupa dengan *hari itu*" ucapnya sambil mencubit gemas pipiku.


"Ah maaf, maksudku Teresa" Ia mengangguk senang sambil duduk di kursi tepat di depanku.


Aku hampir saja lupa kapan okaa-san memintaku untuk menyebutkan namanya saja bukan dengan sebutan okaa-san seperti yang lainnya. Seingatku beliau jadi begini semenjak kepergian ayahku dan onee-chan tentunya.


Karena terlalu lama memanggil nya dengan hanya nama, perlahan aku tidak bisa lagi menganggap nya sebagai seorang ibu lagi. Kesannya jadi seperti onee-chan lain yang sudah sekian lama berpisah.


Suara senandungan kecil terdengar dari mulut nya. Gaya berpakaian dan juga rambutnya berubah drastis dari yang kukenal semenjak kecil. Beliau bukanlah sosok yang kukenal sebagai okaa-san lagi. Entah sampai kapan perubahan nya ini akan terlihat lagi, yang jelas aku merasa telah kehilangan sosok berharga yang kujadikan alasan nyawaku masih berada di dunia ini...


"Anu... Apa kau sudah tahu jawaban dari pertanyaan ku barusan?" Aku bertanya lagi dengan wajah takut-takut.


"Hmm?? Owh Kanzwaki Shiwori? Ya ya akuw ingat.. si Paganiniw itu.." jawabnya tak jelas


"Makan dulu makanannya dengan benar, baru bicara" ucapku.


"Hehe maaf Ta-chan, aku ingat kok dengan nona Yunani itu. Musiknya itu mengalir deras dan cepat seperti arus laut. Permainan biolanya itu tergantung pada suasana hatinya, jika aku ibarat dia itu seperti laut. Terkadang tenang dan jernih namun bisa juga berkecamuk dan tak terkendali. Namun karena hal itu lah pesona yang ia miliki"


"Laut ya.."


"Iya benar. Oh iya karena dia seolah seperti jelmaan laut, Kanzaki Shiori adalah orang yang misterius sama seperti dasar lautan yang luas dan dalam. Meski diluar terlihat elok dan tenang, didalam dirinya terdapat begitu banyak misteri hingga lubuk tersadar dirinya"


"Begitu ya... Terima kasih"


"Sama-sama"


Aku jadi mulai sedikit tahu mengapa ia kabur dari rumah dan secara tiba-tiba masuk ke sekolahku. Mencari gara-gara dengan ku dan menciptakan keributan di awal kedatangan nya. Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan dari orang lain, dia pasti hanya ingin diperhatikan dan diperlakukan sebagai gadis SMA biasa..


Hal itu bisa saja terjadi kan?


Malam itu, langit hitam terlihat elegan dengan dihiasi gemerlapnya Bintang-bintang. Dalam keheningan malam, kututup mataku dan terbayang lah sosok dirinya. Anehnya sekujur tubuhnya perlahan mulai pudar dan dari sisa tubuhnya keluar lah air mata yang tampak seperti berlian...


Aku menengadah ke langit, menatap ribuan bintang dari balkon sambil terus berpikir.


"Apa arti kata hilang yang kau keluarkan dari mulutmu?"


🌼🌼


Disisi lain, Shiori tengah termenung melihat dengan kedua matanya yang hampa penuh kekosongan. Tubuhnya menggigil dan kemudian ia terduduk seketika dilantai.


Air mata keluar perlahan dari pelupuk matanya, suara angin yang menderu masuk dari jendela kamarnya membuat untaian rambutnya berkibar.


Kanzaki bangkit dan memeluk biola itu erat sambil melihat ke langit yang penuh bintang.


"Hanya kau lah, alasanku hidup dan terus bertahan...Saki Arata-kun"


🌼つづく🌼