Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
25- Dibalik senyum Haruka



...❣️🦋 Jangan Lupa Like dan Vote❣️🦋...


.......


.......


.......


...💃Enjoy akak-akak Author semua💃...


"Seharusnya kau rela melakukan apa saja demi musik dan cinta revolusi dong, bocah! Kalau kau tidak punya semangat seperti itu... Oh!" Tiba-tiba senpai berjongkok di depan pagar atap.


"... Ada apa senpai?" Tanya Haruka dan Satoshi sahut menyahut.


"Kanzaki Shiori datang!" Serunya.


Aku melirik kebawah melalui celah-celah pagar dan menemukan sosok punggung nya, dengan rambut ungu muda panjangnya yang seketika lenyap ke dalam gedung tua.


"Memang benar kata senpai, itu Kanzaki-san! Tapi, bagaimana dia tahu bahwa yang datang itu Kanzaki? Apa sebegitu hebatnya instingnya?"—aku berpikir keras.


Perlahan aku, Satoshi, Haruka dan Keiko-senpai, merebahkan diri ke lantai sambil menatap langit biru terang. Saat itu, kami tengah menunggu sebuah tanda dengan sabar. Beberapa detik kemudian, terdengar melodi dari sebuah gitar. Namun komposisi yang dimainkannya berbeda dari yang biasa aku dengar. Komposisi apa ini? Tapi rasanya seperti familiar..


"Ini pasti gubahan Mozart!" Tebak ku.


Tiba-tiba saja senpai menarik tubuhku mendekati dirinya dan membisik kan sesuatu pada telinga kananku. "—ini Paganini, bocah"


Aku terkejut dan teringat sesaat. Paganini, atau nama panjang nya ialah Niccolo Paganini, seorang violinis ternama yang mempunyai julukan iblis karena teknik permainan nya yang begitu mumpuni. Selain itu, dia adalah salah satu komposer berbakat dan jenius di zamannya.


Namun, julukan itu tidak lagi dipakai dikarenakan dirinya mudah tidak percaya diri dalam meriliskan komposisi buatannya tersebut. Akhirnya, komposisi buatan nya hilang entah kemana..


Diantara banyaknya karya, yang paling dikenal ialah Konserto dan capriccio ditambah dengan Etude—permainan piano yang digubah Franz Liszt. Mungkin itu lah satu-satunya karya yang beliau tinggalkan pada era musik modern.


Sama seperti sekarang, permainan yang Kanzaki mainkan adalah capriccio dan Etude yang digubah oleh Liszt.


Alunan musik yang terdengar sekarang, membuat sekujur tulang didalam tubuhku akan retak oleh getaran gelombang senar yang ia petik. Haruka dan Satoshi pun dibuat tak bisa berkata-kata sambil merinding ngeri. Begitupun dengan Keiko-senpai yang menggigit kukunya.


Permainan yang begitu dalam dan dipenuhi emosi amarah dan kekesalan Kanzaki-san, tersampaikan pada jiwaku yang mendengarnya.


"... Paganini, ya"


Keiko-senpai bergumam dengan senyum puas terukir di wajahnya. Aku terduduk dan melihat ke arah senpai yang tengah mengorek-ngorek isi tas ku.


"Ini dia!!" Seru nya sambil mengangkat sebuah CD dan partitur permainan Kanzaki yang ia cari.


"Untuk apa dua benda itu?" Tanya Satoshi penasaran.


"Bocah, aku boleh pinjam kan?" Tanya senpai yang menghiraukan pertanyaan Satoshi.


"Ya, boleh saja sih. Tapi..." Ucapan ku terputus karena Keiko-senpai yang terburu-buru turun dari atap.


"Aku pulang dulu ya kalian semua, ada satu lagu yang ingin aku gubah!" Senpai menggendong tas nya dengan menjinjing tas gitarnya.


Sebelum ia menutup pintu atap, aku menghentikan gerakannya sembari berkata.


"Maksud senpai, lagu yang Kanzaki-san mainkan tadi?"


"Betul sekali bocah, kita harus bisa menjadi seperti Paganini lakukan di masa lalu demi kesempurnaan permainannya. Aku yakin dengan ini kita bisa menang telak" jawabnya.


"Tapi senpai, semua CD dan partitur yang kau bawa semuanya bukan punya Paganini. Disini ada Mozart, Beethoven juga... Kenapa begitu?" Tanya Satoshi yang diikuti anggukan kepala Haruka.


"Itu sudah pasti. Orang yang bisa mengajari Mozart adalah Mozart sendiri, ini lah dasar teori untuk belajar seperti Paganini lakukan dulu" ucap Senpai sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum benar-benar turun ke bawah.


"Seperti Paganini lakukan dulu... Apa maksudnya?" Batinku.


Sekeras apapun aku berpikir, aku terus saja mendapatkan jalan buntu yang artinya tidak mengerti. Karena putus asa, aku merebahkan diri sambil memeluk bas ku.


"Keiko-senpai terlihat sangat menikmatinya ya—"


Haruka bergumam sambil tersenyum menatap pintu yang menganga karena dibuka oleh senpai barusan.


"Aku tidak menyangka kalau Keiko-senpai sangat menyukaimu, Ta-chan!"


"Heh? Apa maksudmu??"


🎶


Haruka tersenyum sambil berjalan ke arahku yang terduduk seketika dengan posisi membelakangi dirinya. Ia pun duduk sambil bersandar di punggung ku dan menatap langit.


"Ta-chan tidak sadar ya? Kau begitu bodoh ya.." ucapnya.


"Yang senpai sukai itu berbeda arti tahu. Dia hanya menyukai Kanzaki-san, bukannya aku. Aku ini ibarat jembatan penghubung antara kedua orang itu saja..." Kata ku sembari menunduk.


"Entahlah, mungkin sering sekali"


Haruka menyipitkan matanya lalu menatapku seperti tidak puas akan sesuatu.


"... Apa?" Ujarku bingung.


"Tidak apa-apa kok, hanya saja sudah lama aku tidak melihat wajah Ta-chan sedekat ini" Haruka tertawa kecil.


Sontak saja aku memalingkan wajah karena malu dan mungkin saja sekarang wajahku sudah berubah merah karena panas.


"Kau tahu, senpai pernah bilang padaku dan Satoshi. Kalau band ini layaknya pejuang seperti tentara" Haruka menyandarkan punggungnya lagi ke punggung ku.


"Pejuang?"


" Iya. Band ini atau klub musik sekolah hanyalah sebuah garda depan untuk menipu dunia saja. Karena sebenarnya kami ini adalah cahaya harapan masa depan sekaligus pasukan revolusi!!"


"Garda depan untuk menipu dunia? Cahaya harapan? Pasukan revolusi? Pemikiran yang terlalu rumit dan ngaco untuk anak kelas 1 SMA..." Batinku.


"Aku tidak peduli mana satu diantara itu semua yang benar dan mana yang ngaco, tapi sungguh... Kata-kata itu terlalu dramatis, hahaha" Haruka tertawa


"Bisa jadi kan semua perkataan itu benar dan bukan candaan? Hahaha, memang benar terlalu dramatis. Tapi kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan candaan dari ucapan senpai itu kan.." aku pun ikut tertawa.


"Oh!—bisa juga berpikir seperti itu!" Haruka melihat ke arahku.


"Ta-chan ingat tidak, ketika turnamen karate musim panas tahun lalu sewaktu kakiku cedera karena kecerobohan ku sendiri? Saat itu dokter kepercayaan sekolah kita bilang, bahwa aku selamanya tidak akan bisa berlatih karate lagi" ia bertanya.


"Eh? Bukannya kau bilang cedera itu bisa sembuh dalam waktu 3 bulan saja? Itu perkataan dokter sekolah kan?" Aku balik bertanya.


"Aku bohong padamu. Waktu Ta-chan tahu kalau aku cedera, kau begitu panik dan khawatir padaku, karena aku tidak ingin menambah beban pikiranmu, aku terpaksa berbohong" jawabnya lirih.


"Jadi semua perkataan nya dan cerita dokter itu bohong?! Memang benar aku merasa lega karena melihat dirinya yang tersenyum seakan sudah baikan, tapi itu hanyalah sandiwara? Aku benar-benar bodoh!" Batinku yang mengepalkan tangan kesal.


Haruka berjalan ke arahku yang masih memaki diri sendiri. Ia duduk tepat didepan ku sambil menggenggam tangan yang dikepal, "Tak usah menyalahkan diri sendiri. Karena itu bukan salah Ta-chan"


"Ta-tapi kan..."


"Sssttt... Awalnya aku memang mengalami depresi atas ekspresi yang kau perlihatkan padaku. Meski kau berkata lain saat aku bertanya, raut air wajahmu itu mudah sekali terbaca— Ta-chan pasti berpikir kalau cedera ku sangat parah dan serius. Aku tidak mau membebanimu lebih dari itu, jadi aku tidak sanggup mengatakan nya..."


"Aku... Tidak tahu kalau cedera kaki mu itu begitu parah"


"Ya, memang parah... Malah lebih serius masalahnya!"


Haruka membenturkan kepalanya pada dahiku. "Andai saja aku tidak bertemu Keiko-senpai, mungkin selamanya aku tidak akan memberitahukan ini padamu.."


Aku mengalihkan pandangan lagi. Haruka yang kukenal sebagai gadis kasar dan ceria ini, ternyata menyimpan begitu banyak beban sendirian. Ditambah lagi masalah ia tiba-tiba bilang ingin serius main gitar dan berhenti berlatih karate. Kupikir dia cuma sudah bosan dengan karate, tapi ternyata karena cederanya ini memaksa diri nya angkat kaki.


"Maafkan aku ya... Sebagai seorang teman aku tidak bisa berbuat apapun" ucapku lesu.


"Tak apa kok. Dari situlah aku belajar banyak hal kok. Dimana masa-masa itu aku sering kabur diam-diam dari rumah dan berkeliaran tanpa tujuan, berkelahi dengan berandalan yang mengira aku laki-laki dan terpaksa deh aku berkelahi juga. Meski hasilnya sudah jelas, berandalan itu yang menang. Yah mau bagaimana lagi... Toh aku juga cedera" jelasnya.


"Seharusnya tidak usah kau ladeni!" Bentakku.


"Hahaha, jika tidak diladeni aku tidak akan bertemu Keiko-senpai didepan toko kue langganan kita. Waktu itu sudah larut sekali, aku yang dipenuhi luka-luka malah ditolong oleh orang yang tidak kenal. Dan malah diberi nasihat untuk terjun ke dunia musik, hingga sekarang aku pun masih bertahan"


"Ohh begitu ya, bisa kau jelaskan maksud dari kata pejuang itu?", Tanyaku.


"Artinya itu, senpai ingin band ini melakukan sebuah revolusi dalam dunia musik. Untuk menjalankan semua ini, senpai memerlukan 4 orang lagi agar sukses dan diakui oleh sekolah. Karena Ta-chan sudah bergabung, tinggal mengajak Kanzaki-san saja" jelasnya.


"Tunggu, aku kan belum bilang setuju mau gabung kan?"


Tiba-tiba saja pukulan tangan karate Haruka mengenai tepat di kepalaku. Aku pun jatuh membentur lantai dengan suara keras tercipta, hingga rasa sakitnya merambat ke seluruh tulang ku.


"Uhkk.." rintihku yang membuka mata. Sedetik kemudian aku melihat wajah Haruka dalam pandangan terbalik menatapku dekat sekali. Aku menelan ludah karena terkejut dan kurasakan wajahku mulai memerah lagi.


"Tidak ada alasan lagi untukmu menolak tahu! Lagipula bas itu adalah perjanjian sah masuk ke band ini.."


"Tapi kan, hah? Apaan it—"


Kedua tangan Haruka memegang kepalaku di kedua sisi, sehingga aku tak dapat menggerakkan nya lagi.


"... Kenapa kau masih bersikeras tak mau gabung?" Tanya nya dingin.


"Apa karena————? Benar begitu?" Ia melanjutkan sambil tertunduk.


"Heh? Kenapa pikiran nya jauh dengan yang kupikirkan?" Pikirku yang terdiam sejenak.


🌼つづく🌼