
Semua orang pasti punya yang namanya teman masa kecil. Orang yang selalu bermain denganmu, selalu ada di kala sedih dan senang. Sampai-sampai rela terluka hanya demi dirimu seorang. Seakan-akan kau itu adalah segalanya untuknya. Hubungan itu lah yang terikat kuat dalam darahku sampai detik ini, hubungan yang menjijikan dengan orang yang payah!
Orang yang beruntung itu ialah tetanggaku, Ohsawa Haruka.
Ikatan masa lalu, adalah sebutan hubungan yang kami miliki. Karena rumah kami terletak bersebelahan, tidak heran jika kami selalu masuk sekolah yang sama dari SD hingga SMP. Dan lagi, kami juga berada di kelas yang sama selama 9 tahun berturut-turut, sampai masuk SMA saja bersamaan lagi!!
Teman-teman ku bilang bahwa ini disebabkan oleh tingkat kepandaian yang kami miliki itu tak jauh berbeda, alhasil kami jadi ditempatkan terus di kelas yang sama.
"Nasib sial selalu saja datang pada ku..." –batinku kesal.
Kesampingkan dulu soal ikatan menjijikkan itu, Hari ini adalah hari upacara penyambutan siswa baru kelas 1, Penyambutan berlangsung sangat lama oleh Kepala sekolah di stadium olahraga, saking lamanya kakiku jadi mati rasa, belum lagi gadis Ohsawa itu selalu menjahili ku selama upacara berlangsung.
//Selang beberapa waktu kemudian..//
"Fuahh!! Akhirnya selesai juga! Dasar kepala sekolah botak itu tak tahu waktu ya. Dia itu lagi berpidato untuk mencalonkan diri sebagai wakil daerah atau menyambut siswa baru sih.." gerutu Haruka.
"Benar... Benar... Aku setuju! Menyebalkan ya, bukan begitu Arata?" ucap Satoshi menimpali.
"Hah? Iya iya..." Aku asal jawab.
"Kau sakit ya Ta-chan? Kok gak semangat gitu sih?" Tanya Haruka sambil meletakkan tangannya di keningku.
"Enggak kok, cuma kesal satu sekolah lagi denganmu!" Jawabku yang menepis tangannya.
"Jahatnya, bukannya ini bagus? Waktu ujian aku mendapat nilai jelek di pelajaran matematika dan bahasa, tapi berkat Ta-chan aku jadi bisa masuk kesini dengan nilai pas-pasan" seru nya.
"Dapat nilai pas-pasan itu kan gara-gara nyontek aku..." –batinku kesal
"Oh iya, sebagai balas budi nanti aku bantu kamu di pelajaran olahraga supaya dapat nilai bagus. Jadi serahkan padaku ya, hahahaha"
itu lah yang dikatakan Haruka setelah selang beberapa waktu upacara penyambutan. Ia mengatakan nya sambil tertawa ria dan menepuk punggung ku berkali-kali. Dia tak henti melakukan itu sampai tiba di kelas.
Aku akui sih dia memang jago olahraga dan aku memang paling lemah di olahraga. Tapi masalahnya, bagaimana caranya dia bisa mengajariku belajar sedangkan dirinya tidak bisa belajar??
Memang ya ikatan menjijikkan ini misterius...!
🎶
// Di kelas 1-1//
Seluruh siswa tengah asik berkumpul dengan teman satu SMP nya maupun yang baru dikenal. Berbincang ria, adu panco, menari-nari dan banyak lagi. Semua melakukan hal yang tak aku sukai, termasuk Haruka juga melakukan hal yang sama.
Suasana yang asing, dengan lingkungan yang baru. Sinar matahari yang mulai terik, sudah masuk ke ruangan kelas. Ini lah kelas baruku. Kelas yang akan menghabiskan waktu selama satu tahun penuh.
Banyak perbedaan terasa disini. Entah itu tingkat kualitas kepandaian, wajah yang mempesona, pribadi yang terbuka dan tertutup hingga status keluarga. Lingkungan sosialku pun mulai berubah menjadi lebih luas disini.
Aku yang pada dasarnya seorang pemalu, memutuskan untuk duduk di baris dekat jendela yang mengarah ke lapang. Seperti biasa, aku mengeluarkan buku tentang mesin dan membacanya. Sesekali aku juga melirik ke arah Haruka yang tengah asik berbincang.
Tapi, entah kenapa segerombol perempuan yang bersamanya mulai mendekat ke arahku.
"Firasat buruk nih," –pikirku.
"Anak ini lah yang kubilang tadi. Dia hebat loh, di rumahnya ada banyak sekali kumpulan CD musisi ternama yang tertata rapi di lemari be~sar! Bukan hanya CD saja. Dia juga banyak mengumpulkan benda aneh yang sudah menumpuk segunung. Jika kau membuka pintunya, maka itu akan langsung berserakan" ucap Haruka.
"Hahaha"
"Aneh sekali ya, apakah rumahnya itu dulunya toko alat musik? Lucu sekali"
"Kenapa kamu bisa tahu semua itu, Ohsawa-san?"
Dengan memanfaatkan ku untuk menjadi populer, Haruka begitu cepat membaur dengan para gadis di kelas ini yang baru saja ditemuinya belum lama ini. Aku, Haruka dan Satoshi adalah tiga orang murid yang lulus SMP dan masuk ke sekolah ini. Itu sebabnya semua orang jadi terasa asing karena tidak ada seorang anak pun yang kenal kami. Tapi aku salut dengannya, karena kemampuan adaptasi nya memang mengerikan.
"Hei, hei kamu. Apa hubunganmu antara gadis itu?"
Seorang anak lelaki yang agak tertarik mencondongkan tubuhnya padaku dan bertanya sambil berbisik.
"Hah? Ah, bukan apa-apa, kami hanya teman masa kecil dan kebetulan teman satu SD sampai SMP."
"Tapi, bukankah saat upacara penyambutan tadi kamu membantu mengikatkan dasinya?"
anak lelaki lainnya tiba-tiba bertanya dari belakang ku, sampai membuat
wajahku memucat karena kaget.
"Jangan lupa, kau juga memberikan sapu tangan untuk menyeka keringatnya!.."
"Jadi mereka sempat melihatnya, ya?" Batinku sambil menepuk jidat.
"Eng ..., yah, itu karena ...."
"Benarkah?! Sialan! Jadi kalian berdua itu pacaran?!"
"Apa jangan-jangan kalian sepasang suami-istri?!"
"Dasar bodoh, itu sih jelas tak mungkin!!" Ucap Satoshi yang pandai membaca situasi.
"Tapi aneh ya, seharusnya yang selalu membantu itu perempuan bukannya laki-laki. Kok jadi terbalik ya, hahaha !"
Mereka pun menggunakan situasi
yang sulit dijelaskan itu sebagai topik pembicaraan. Dan itu membuat ku tambah malu, apalagi di hari pertama sekolah.
"Sial, gara-gara Haruka aku jadi semakin kesal dan jijik padanya!– Susah payah aku bantu dia belajar (walau pada akhirnya nyontek pula) tapi seharusnya dia bisa ikat dasi sendiri dan sudah ingat barang yang wajib dibawa!!" Aku menggerutu kesal.
"Hei Saki-san, apa kau dan Ohsawa-san pernah berpacaran?" Tanya seorang lelaki lain yang tadi ikut membicarakan topik jijik itu.
Aku menggeleng cepat, untuk menyangkalnya. Semua teman baruku itu mulai menghela napas lega dengan wajah berseri-seri. Mereka kemudian menyeretku menjauh dari tempat duduk dan obrolan kami pun pindah di pojok kelas. Tentu saja Satoshi juga gabung. Kami pun mulai berbisik satu sama lain.
"Ohsawa Haruka. Dia adalah urutan pertama gadis imut dan cantik dikelas kita, dia juga barang yang bagus dikelas loh.. luar biasa kan" ucap Kento.
"Penilaian ku kini berubah, awalnya kukira gadis imut itu hanya berambut panjang, tapi siapa sangka yang rambut pendek itu lebih imut.." timpal Toono sambil memperbaiki posisi kacamata nya.
Dengan ekspresi tercengang, kudengarkan penilaian dari para anak lelaki itu. Dan kupaling kan lagi ke arah Haruka yang masih duduk di kursiku sambil berbincang di sisi lain ruang kelas. Gaya rambutnya dulu sangat pendek seperti anak laki-laki hingga membuatnya tampak begitu garang. Tetapi sejak ia meninggalkan klubnya saat musim gugur di tahun ketiga kami SMP, ia mulai memanjangkan rambutnya. Kini, rambut pendek nya terlihat lebih indah dan semakin feminin.
Tapi tunggu, disini lah masalahnya ..
"Tapi sayang ya, dia cuma menang tampang doang" ucap Momo yang diikuti anggukan semuanya.
"Gadis itu entah kenapa, aku tiba-tiba merasakan aura tak enak darinya. Rasanya seperti master dalam Karate. Apa sebaiknya kita menjaga jarak darinya? " seru Kento.
"Sepertinya begitu. Belum lagi aku dengar dia mau gabung ke klub karate" ucap Toono.
"Yang benar? Tak bisa dipercaya. Apa aku ikut gabung juga ya??" Momo mulai tertarik.
"Silahkan saja jika berani menerima tendangan dahsyat nya"
"Haha"
"Aku sanggup kok menerima tendangan dari nya berapa kali pun, karena dia cantik sih"
"Dasar Momo.."
(Tertawa ria)
Tapi, karena tahun lalu punggungnya terus menerus dilanda cedera, maka ia tidak pernah lagi berlatih karate. Di saat yang hampir bersamaan ketika kami diterima masuk SMA, tanpa alasan yang jelas, ia mulai berlatih bermain piano. Padahal, dulu ia tidak pernah punya minat pada musik. Aku sangkal bahwa ini adalah keinginan nya sendiri. Karena, perkataannya waktu itu terasa aneh;
🌼Flashback🌼
"Di awal tahun kemarin, saat dokter bilang kalau aku tidak boleh lagi berlatih karate, aku minum beberapa gelas saké karena putus asa!"
"Bodoh!! Kau itu belum cukup umur!!"
Note: Jangan ditiru!! anak di bawah umur
belum boleh meminum saké (alkohol)!😠 Taati peraturan yang berlaku, demi masa depan kalian oke🤗
"Saat aku tertidur dalam keadaan mabuk, Chopin¹² muncul dalam mimpiku." Dengan sekejap Haruka pun mulai bersikap aneh dan berjalan sempoyongan. Aku pun mulai berpikir bahwa bagaimana bisa dirinya yang diambang kehidupan ini melihat arwah seorang Chopin si musisi?
"Oi, bertahanlah aku akan bawa ke rumah sakit!"
"Chopin itu bilang padaku, kalau Karate itu bukan segalanya bagiku. Yang ada sekarang adalah piano, hanya piano untukmu. Maka dari itu aku harus menekuninya"
"Kenapa?"
"Karena Chopin yang bilang, kan?"
Seketika aku berpikir sejenak. Mana mungkin Chopin bisa mengatakan bahasa Jepang sedangkan ia tak tahu bahasa apa itu?
"Hei, Haruka. Apa benar yang kau lihat itu Chopin?"
"Benar kok,Aku melihatnya melambaikan tangan terus menerus padaku sambil berdiri di padang bunga dekat danau. Itu memang Chopin. Bahasa Jepangnya sungguh mengesankan, aku jadi terharu!!"
"... Yang kau lihat itu mungkin, arwah ayahmu yang meninggal 6 bulan lalu, kan.."
🌼Flashback off 🌼
🎶
Setelah memasuki SMA, akhirnya aku tahu
alasan sebenarnya Haruka mulai serius berlatih piano. Setiap hari sepulang sekolah, ia terus-menerus merayuku agar bergabung dengan Klub Orkestra nya.
"Ta-chan, ayo gabung!! Kau kan jenius dalam musik kan?? Apa salahnya kalau gabung?!"
"Dasar pemaksa!! Klub itu sebenarnya apa sih? Tidak ada klub semacam itu, 'kan?" Aku coba mengingat lembaran brosur pengenalan klub-klub di sekolah yang kudapat saat upacara penyambutan, juga orang-orang yang lalu-lalang di lingkungan sekolah agar mendapat murid baru sebagai anggota klub mereka.
Aku tidak melihat ada klub dengan nama aneh itu. Dan bicara soal musik, aku cuma orang yang punya wawasan dalam hal menikmati musik saja.
"Yang dimaksud orkestra disini sebenarnya
mengacu pada musik klasik yang di aransemen ulang! Kalau kami menyebut "band" para guru tidak akan menerimanya. lagi pula, hanya senpai¹³ dan aku saja, tidak mungkin kami akan di izinkan untuk mempertahankan klub ini. Jadi kumohon, bergabunglah dengan klub kami!"
"Jadi itu alasan yang membuatnya mati-matian memaksaku untuk bergabung ...." –aku menghela napas pasrah.
"Berhenti memaksaku masuk ke klub yang bahkan belum terbentuk! Terus siapa lagi senpai yang kau sebut tadi??"
"Seorang jenius yang luar biasa dan keren dari kelas 2 -3."
Seusai sesi tanya jawab tadi, semua teka-teki
akhirnya terpecahkan. Tampaknya Haruka bertemu dengan Si senpai itu saat libur musim panas tahun lalu.
"Jadi ini alasan dia memohon padaku seperti kucing untuk membantu nya belajar?"–aku mulai kesal.
"Jangan-jangan dia mati-matian belajar main piano juga karena si senpai ini? Dasar senpai tak tahu malu!!"
Dengan marah aku berjalan keluar kelas. Semua teman sekelas kami memusatkan perhatian mereka selama kami berbicara tadi, dan itu rasanya sungguh memalukan.
Haruka mengejarku sembari berseru;
"Tunggu dulu! Apa salahnya bergabung dengan klub ini? Lagi pula, kamu juga tidak punya kerjaan lain, kan?"
"Aku tidak akan bergabung ke klub, meski aku
memang sedang tidak punya kerjaan."
"Kenapa?"
"Karena ... aku sudah muak... Dengan yang namanya musik!"
Sebenarnya aku ingin bilang, Kamu pernah
memaksaku untuk ikut kamp pelatihan Karate meski aku bukan bagian dari anggota, dan akhir nya aku pasrah dan ikut dalam neraka itu sekitar dua pekan—harusnya kamu juga tahu itu. Tapi, pada akhirnya aku tidak pernah mengatakannya Ditambah lagi, aku sudah membuat janji itu. Yang sebenarnya kau pun tahu kenapa aku menolaknya. Tapi kenapa jadi begini?
"Begitu? Terus apa yang mau kau lakukan dimasa SMA-mu?"
"Belajar" Aku mengatakan secara spontan dengan bubuk penegasan didalamnya.
"Berarti hidupmu membosankan, dong?"
"Untuk apa kau harus peduli dengan bosan tidak nya hidupku?!" aku mengatakannya dengan spontan lagi penuh amarah yang selama ini kupendam, dan Haruka tiba-tiba berhenti bicara. Saat aku mengangkat kepala ku ke arahnya, Haruka hanya tersenyum tipis dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Menurut mu, apa alasanku melakukan ini semua?"
"Heh?..."
Di lorong yang sepi kini, terik matahari yang hampir tenggelam menyinari wajahnya yang lelah. Senyum tipisnya yang terlihat lebih tipis dari goresan tinta di kertas itu, perlahan pudar ditelan bayangan hitam yang kian meninggi.
Kedua mata yang berkaca-kaca bak bintang jatuh itu, mulai menetes kan butiran berlian ke lantai.
Disaat yang bersamaan aku,
Ditinggal pergi oleh kata-kata yang pudar bersama helaan napasku sendiri.
🌼つづく🌼
Senpai~> Kakak Kelas / kakak tingkat.
See you next part 🤩😍
Ilmu baru, ilmu baru, ilmu baru...🥳🧡💛
Yokk, siapkan alat tulisnya📝
jangan lupa like, vote, share ke teman-teman kalian ya🤗😘
mohon bantuannya lagi hari Senin🙇🏻♀️ readers sekalian.
salam hangat dan peluk online dariku,
🌼ナジラ🌼