Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
27- Masalah datang lagi



Malam harinya setelah sepulang sekolah, aku yang sudah makan malam berlatih lagi di kamar. Mood ku sekarang sedang naik dan suasana hatiku bagus jadi ku putuskan untuk berlatih lebih lama dari biasa.


Di tengah latihan, terdengar suara berisik dari benda terjatuh yang tidak ada habisnya dari dekat pintu depan kamar Teresa —ibu Arata— berada.


"Mati sekarang pun tak apa!! Wahai tuhanku, aku merasa sangat.. sangattttt bahagia bisa dikelilingi mahakarya musik berbagai zaman ini!!"


Tepat di depan pintu tersebut, Teresa yang berbalutkan piyama coklatnya sedang berguling-guling tak jelas di hamparan CD musik yang berjatuhan. Beliau terus bergumam dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Apanya yang mati sekarang tak apa? Setidaknya sebelum mati, tinggalkan dulu uang yang banyak supaya aku bisa hidup tenang, berkecukupan." Ucapku datar.


Aku yang menghela napas panjang itu memutuskan untuk berlatih kembali. Namun, ingatanku baru saja mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu, tumpukan CD yang berjatuhan itu sudah dibereskan sesuai tanggal terbitnya.


Meski aku berniat untuk menegurnya supaya membereskan kembali, dia pasti tidak mau. Jadi ku putuskan untuk membereskan nya lagi, sedikit demi sedikit.


"Hei, Arata~ kalau aku mati, tolong taruh CD original Kanzaki-san di petiku ya. Jangan sekali-kali kau memainkan musik grup band favoritku loh ya. Kalau mau, mainkan saja gubahan lagu Kanzaki-san, aku sangat merekomendasikan nya. Jangan lupa, dalam pengiringan kepergian ku, tolong setel lagu klasik milik Paganini.. setelah dengar itu, aku pasti akan bangkit kembali dalam 120 jam kemudian.." Seru nya panjang lebar.


"Hal seperti itu tak diperlukan. Pergi saja ke neraka dan jangan kembali lagi! Bukankah sudah ku bilang, kalau minum-minum jangan berlebihan? Cepat naik ke tempat tidurmu sana!" Titahku sembari menarik tubuhnya dari lantai ke kasur.


"Habisnya... Sudah lama aku tidak minum dengan mantan pacarku semasa SMA dulu, hmp!... Hoekkk..."


Mahakarya berbentuk CD itu bersamaan dengan tas selempang mahal milik Teresa satu-satunya menjadi kotor karena cairan asam nan memuakkan itu. Kondisinya kini seperti orang sekarat karena mabuk.


"Ahhh... Bisakah berhenti membuat masalah untukku?! Duh, ini semua harus dicuci." Aku menepuk jidat pasrah.


✨✨


Setelah muntah di toilet, ibuku yang tak bisa diandalkan itu kembali dengan langkah goyah dan wajah pucat. Ia merasa bersalah terhadap apa yang terjadi padanya dan atas kerepotan yang harus ku tanggung.


Alasan mengapa ia mabuk hari ini adalah, pembatalan projek dari pekerjaannya yang lain yaitu wartawan. Terlepas pekerjaan kritikus musiknya sedang pasang surut, ia pun memutuskan untuk menjadi wartawan dan cukup baik dalam bekerja.


Tapi, mendadak saja pembatalan yang di putuskan secara sepihak itu membuatnya marah besar dan akhirnya ia dan beberapa tim wartawan nya melepas stres dengan minum-minum bersama.


"Duh lepas, kau bau alkohol! Lagian aku melakukannya demi mencegah hal lain terjadi lebih parah. Tolong habiskan air lemonnya dan tidurlah." Ucapku yang melepaskan pelukannya.


"Kenapa tidak berhenti saja dan fokus pada kritikus?" Tanyaku.


"Tidak bisa. Aku harus bertahan dengan semua hal yang terjadi dalam bidang ini, kalau tidak uang cicilan apartemen dan yang lainnya tidak akan bisa terbayar." Jawabnya dengan bangga.


"Anggap saja usaha ku ini sama seperti usaha mu yang sedang memikat hatinya Shiori-chan! Omong-omong, kau masih main gitar kan?"


"Kenapa bawa-bawa Kanzaki-san? Aku masih memainkannya kok. Lihatlah yang disana itu!" Aku menunjuk basku yang tergeletak di lantai kamar.


"Tapi permainan mu masih payah kan?"


"Entah kenapa kata-kata itu terlalu kejam. Aku minta maaf soal itu, kedepannya aku tidak akan lagi memakai amplifier saat main dirumah.."


"Hei, jangan marah gitu dong. Suaranya memang terdengar sumbang, tapi sudah lebih baik dari pertama kali. Apa pengaruh gadis itu besar sekali ya pada hidupmu?"


Aku terdiam sejenak. Perkataan polos yang ia lontarkan itu entah kenapa membuat ku pusing. "Maksudnya?" Aku bertanya alih-alih menghindar menjawab.


"Habisnya, Arata yang ku kenal itu anti berhadapan dengan hal merepotkan. Terutama berlatih gitar, tapi semenjak kau bertemu Shiori-chan, kau jadi tampak asing di mataku." Ia menjawab sambil meneguk kembali air lemonnya.


"Apa benar begitu??" Batinku.


🌺つづく🌺


Mohon maaf atas keterlambatan up nya dan eps yang terlalu pendek..


Untuk eps selanjutnya akan up tak menentu sesuai jadwal senggang Megane-chan, terimakasih. Sehat selalu semua🙏🏻🙇🏻‍♀️


Eps kali ini pun, mohon dukungannya^^