
Matahari pagi yang cerah menyambut lembut ruangan kelasku. Sinarnya yang menembus kaca, kini bergabung dengan debu yang tersisa. Sesaat tampak seperti taburan Glitter yang tengah menari-nari di udara. Tapi pemandangan ini tak bertahan lama setelah Aya-sensei memasuki ruangan kelas. Nama aslinya adalah Kentaro Miyano, beliau adalah wali kelas baruku sekaligus guru matematika yang terkenal super sadis dalam memberi tugas. Meski begitu, Aya-sensei adalah guru yang perhatian dan rendah hati pada siapapun.
Suasana hangat pembangunan semangat kian pudar bersamaan langkah sepatu hak hitam miliknya. Semua murid terdiam dalam keadaan 'siap'. Beliau pun mulai melangkah menuju mejanya dengan membawa seorang gadis dan seorang laki-laki yang berjalan di belakang nya.
Aku yang acuh tak sadar akan atmosfer kelas yang terasa seperti lemari es ini. Jelas tak terasa karena aku sedang asik mengotak-atik mesin kecil secara diam-diam.
Selang beberapa waktu, Haruka yang duduk di depanku mencubit pipiku dan memukul kepala, dengan cepat kusembunyikan mesin itu di bawah laci meja.
"Dasar Ta-chan bodoh..." Haruka berbisik padaku.
"Ma~~af.." aku membalasnya dengan berbisik juga.
Kelas yang ditempati ku ini di setiap paginya selalu dipenuhi dengan percakapan ringan dan sapaan. Meski hanya tiap pagi saja, tapi percakapan itu biasanya masih berlangsung hingga bel berbunyi. Namun kini, percakapan ini berhenti bersamaan atmosfer dingin yang menusuk.
Samar-samar telingaku mulai mendengar percakapan berbisik beberapa temanku;
"Hei, mataku gak salah lihat kan, gadis itu.."
"Ya, mungkin gadis "itu"..!"
"Mustahil kan, si gadis "itu" ?"
"Apa dia pindah kesini karena rumor itu ya?"
"Jadi benar?"
"Wah.. wah...haha"
"Ssstt... Jangan keras-keras nanti terdengar!"
Aku yang kebingungan mulai mengalihkan pandangan pada podium guru, dan disaat itu lah mataku terbelalak terkejut melihat gadis itu.
"Heh?! Ini... Ilusi kan?"
🎶
Pandanganku tak bisa dialihkan dari podium guru tersebut. Hampir saja aku menjatuhkan mesin yang tadi kukerjakan diam-diam ke lantai saking terkejutnya. Gadis yang ada di depan bersama seorang laki-laki lain itu, kini merapikan poni rambutnya yang berwarna ungu muda itu ke samping. Gaya rambut itu sama persis dengan papan iklan yang berada di atas stasiun maupun gedung-gedung teater.
"Jadi karena ini semua jadi heboh.. memang pantas sih," aku bergumam.
Dari postur hingga hal-hal kecil yang tak begitu mencolok pun, semuanya pasti tahu bahwa hanya satu gadis saja di Jepang yang memiliki nya. Yap, dia lah sang nona muda Paganini... Kanzaki Shiori, violinis yang kutemui saat akhir liburan musim semi kala itu.
Violinis yang biasanya memakai gaun anggun dan mahal untuk tampil di panggung, kini hanya berbalutkan seragam sekolah SMA biasa seperti yang lain. Begitupula dengan laki-laki yang disebelahnya. Kalau aku tak salah lihat, dari wajahnya sudah pasti ia adalah sang pianis pendamping, Kanzaki Shiratori, Saudara tirinya yang asli orang Jepang.
"Perhatian semua, untuk sementara waktu kalian akan belajar dan berteman dengan dua orang murid baru kita" Aya-sensei mulai membuka mulutnya.
"Baiklah, silahkan kalian berdua memperkenal kan diri." Ucap Aya-sensei sambil memberikan dua spidol pada mereka berdua.
"Seperti yang kalian sudah tahu, namaku adalah Kanzaki Shiori. Semoga kita bisa jadi teman baik, Mohon bantuannya untuk sementara waktu." Ucapnya yang membungkuk sedikit.
Kesunyian yang semakin lenyap mengikuti setelah bibirnya menutup. Sang violinis itu hanya terdiam sambil menatap lantai kelas. Aya-sensei hanya bisa manggut-manggut pelan, sedangkan kami para murid saling menatap satu sama lain kebingungan.
"Hmm... Oke, oke" Aya-sensei bergumam.
"Kalau begitu, sudah tiba giliran ku bukan begitu, Sensei?" Laki-laki disebelah Kanzaki itu mulai mengambil spidol dari tangan Sensei dan mulai menuliskan namanya.
"Perkenalkan, aku Kanzaki Shiratori. Kalian boleh memanggilku Tori, bisa juga memanggil ku dengan nama yang membuat kalian nyaman. Aku adalah seorang pianis pendamping saudara ku, hobi ku adalah bermain game dan tentu saja bermain piano. Semoga kita bisa jadi teman baik, mohon bantuannya" ucapnya panjang lebar sembari mengembangkan senyum nya.
"Bagus sekali Tori-kun. Sekarang tinggal kau Kanzaki-san yang belum menuliskan namamu. Ayo ambil spidol ini dan tulis nama..."
Setelah mengatakannya dengan lantang, atmosfer di dalam kelas semakin dingin dan terasa seperti ada aliran listrik yang mengalir masuk.
"Apa-apaan dia ini??" Gumam ku.
"Jangan bicara begitu Kanzaki-san, ini hanya sebuah nama kan. Nah, ayo tulis" Aya-sensei berusaha membujuknya dengan nada rendah.
Aku melihat sekujur tubuh Kanzaki-san menegang dan kedua tangannya gemetar hebat. Seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu karena menolak menuliskan namanya.
".... Nama tidaklah perlu, toh yang ada dikelas sudah tahu siapa aku kan"
"Memang benar, tapi kenapa kau begitu menolak menuliskannya?"
"Karena,... Aku benci nama itu!"
Perkataannya itu membuat efek canggung tercipta diantara kabut dalam sebuah pulau terpencil. Ekspresi wajahnya itu semakin menegang dengan ia lagi-lagi menggigit bibirnya seperti waktu itu– ketika kami pertama kali bertemu saat aku menyadari dirinya yang asli.
Tidak ada yang mengomentari perkataannya itu, sampai ketua kelas membuka mulutnya dengan sapaan ramah pada Kanzaki-san.
"Menuliskan nama itu tidak diperlukan lagi, Sensei. Seperti apa yang dikatakan Kanzaki-san, kami semua sudah mengenalinya." ucap ketua kelas, namanya adalah Touyama Nanoka.
"Benar begitu kan, Kanzaki Shiori-san?"
"Hm-mm" ia mengangguk.
Suasana kelas kini menjadi aneh. Banyak murid saling bisik-bisik tentang Kanzaki-san yang tiba-tiba saja bersekolah disini. Kusadari sesuatu yang aneh saat melihat kaki ramping nan putihnya bergetar ketakutan. Aura yang memancar padanya pun membuatku yakin bahwa dia belum siap menerima hujatan murid-murid dikelas.
"Baiklah supaya suasananya tidak canggung, Kanzaki-san apa ada sesuatu yang ingin kau katakan kepada semua teman sekelas mu?" Aya-sensei melirik ke arahnya sambil tersenyum.
Entah kenapa sebelum ia membuka mulutnya, seorang murid yang merupakan wakil ketua kelas mengangkat tangannya. "Sensei, ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada Kanzaki-san. Apa boleh?"
"Tentu saja" ucap Aya-sensei.
"Aku pernah dengar di berita saat wawancara, bukankah kau pernah bilang ingin melanjutkan sekolah musik di Perancis?"
"Omong-omong soal itu, kenapa sekarang media tidak lagi menyiarkan berita terkini tentang dirimu?" Tanya murid disebelahnya.
Beberapa murid masih bingung dengan jalan pembicaraan sebagian murid. Namun perlahan mereka jadi mulai menanyakan secara deras padanya. Suasana kelas pun mulai ramai dengan para omongan netizen.
Kanzaki-san menggenggam erat ujung rok nya sambil melirik ke arah saudaranya. Ia memberanikan diri menatap mata mereka semua dengan gemetar. Lalu sebuah teriakan yang melengking pun terdengar.
"Kumohon lupakan semuanya!!"Tegas Kanzaki-san.
"Aku akan segera menghilang, jadi
lupakan saja aku! Entah itu karier ku maupun bakat ku, kumohon... Lupakan itu di ingatan kalian..." Suara nya perlahan melemah bersamaan helaan napasnya.
Tidak seorang pun berbicara setelah mendengar ia berkata seperti itu, dan tidak seorang pun tahu harus seperti apa mengomentari nya. Hal yang menyelamatkan kami dari ketidaktahuan ini adalah bunyi bel yang menandakan akhir dari pelajaran pertama.
"... Hilang? Apa maksudnya??"
🎶
🌼つづく🌼