
Pukul 15.30 akhirnya bel sekolah berbunyi, menandakan sekolah telah usai untuk hari ini. Dengan gerakan kilat aku buru-buru pergi dari kelas demi menghindari Haruka dan Satoshi yang masih saja ingin mengajakku bergabung ke klub musik gak jelas itu. Biasanya mereka akan mencari di sekitar gedung utama dan beberapa ruang klub lainnya, dan disana lah letak kelemahan mereka aku pakai untuk bersembunyi. Kalian bisa tebak dimana aku bersembunyi?
Benar sekali! Di ruangan terbengkalai dekat pembuangan sampah berada. Ruangan yang secara tak sengaja kutemukan dan tempat persembunyian rahasiaku, (Ada pada eps. 06- Padang bunga yang sekarat).
Namun anehnya dari dalam kelas yang kedap suara itu, terdengar suara biola yang teredam terdengar di telingaku. Tiba-tiba saja pikiranku kacau balau dengan beberapa pertanyaan yang muncul bersamaan menghantam otakku.
"Jangan-jangan CD yang ku pasang, lupa dimatikan dan aku lupa membawanya pulang?"
"Sialan!"
Dengan terburu-buru kudekati pintu dan mendengarkan lebih dekat agar suara jadi jelas. Tapi musibah datang padaku detik ini juga melalui perantara pintu yang berdecit membuka, dalam sekejap tubuhku tersungkur ke lantai.
Kusadari bahwa lagu yang terputar dari CD itu hanyalah pikiran belaka. Karena sekarang tepat di depanku, seorang maestro biola yaitu Kanzaki tengah dalam posisi berdiri dan menatap ku kaget. Bow coklat mengkilap miliknya hampir saja tergelincir dari pegangan namun berhasil ditahan olehnya. Mungkin ekspresi ku sekarang hampir sama dengan ekspresi yang kulihat saat ini.
"... Kenapa dia bisa ada di ruangan pribadi ku (Yang digunakan tanpa izin dan pemberitahuan para guru)? Terlebih lagi dengan sebuah biola mahalnya? Apa maksud semua ini?"—batinku.
"—Kenapa?"
Kanzaki mulai membuka mulutnya dan tersadar lebih awal daripada aku. Aku pun perlahan-lahan mundur kebelakang karena saking pusingnya mau melakukan apa lagi. Tangannya mulai mengangkat tinggi-tinggi biolanya dan mengarahkan padaku.
"Heh? Ah, tu-tunggu dulu! Aku bisa jelaskan. Biar kuberitahu, dihantam biola itu bisa membuat ku mati dalam sekejap!"
"Kabur!!" Teriakku yang kini berlari mengelilingi ruangan itu sambil menghindari nya.
Wajahnya kian memerah sambil terus mengejar ku, hingga salah satu tangannya melemparkan DVD yang sengaja aku simpan disana. Dengan sekejap aku berlindung di balik pintu yang kututup dengan cepat.
"Kau sudah gila ya?? Itu DVD hasil jerih payahku sendiri!! Teriakku dari luar ruangan.
"Bodo amat! Kamu ngapain disini? Kenapa setiap kali aku berada, selalu saja ketemu kamu!! Dasar mesum... Penguntit... Maniak...!!!" Jeritnya tak kalah keras.
"Seharusnya aku yang bilang begitu!" Ucapku.
Aku perlahan membuka pintu dan menatap wajahnya. "Aku yang pertama kali menemukan ruangan ini secara tak sengaja. Karena sayang, jadinya aku pakai untuk ruang pribadi ku.. yah meski belum minta izin sih" jelasku.
"Aku... Sudah dapat izin dari Ken-chan untuk menggunakan ruangan ini!" Ucapnya.
"Oh begitu... Heh? EHHHH?!!"
"Kenji Kenoshita-sensei? Yang benar?" Aku bertanya tak percaya. Tapi karena melihat anggukan yakin darinya, aku pun akhirnya terduduk lemas.
"Begitu ya.." ucapku lirih.
"Kalau kau sudah tahu. Cepat entah dari sini!" Ucapnya.
Aku yang hanya menatap kosong ruangan itu pun, memilih untuk mengambil semua barang-barang ku dan berjalan meninggalkannya.
Dalam kehangatan sinar matahari terakhir di senja hari ini, samar-samar terasa angin yang menembus masuk ke dalam tubuhku. Terasa ada yang kosong dan hampa, namun aku tak tahu perasaan apa itu...
Ku tatap awan yang bergerak lambat menuju kegelapan, lalu menunduk melihat lantai usang yang ku injak saat ini.
"Pokoknya, aku harus protes pada Ken-chan!" Ucapku.
🎶
Pukul 16.00 aku kembali ke gedung sekolah utama, dengan penuh amarah aku berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan dengan ruangan pribadi miliknya.
"Meski aku belum minta izin, seharusnya dia tanyakan dulu pada muridnya! Jangan asal kasih izin gitu!!" Aku menggerutu merasa tak terima dengan kebijakan yang diberikan Ken-chan.
Tapi entah kenapa kemarahan ku mereda saat kudekati pintu ruang musik. Mataku tertuju pada sebuah poster yang terjatuh tepat diwajah ku, ketika kuambil tampak seorang musisi yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Dia adalah King Metal's yang nama aslinya adalah Itou Maki, sang gitaris beraliran musik rock.
"Dia lagi tertarik dengan musik rock ternyata... Tapi apa ini tidak terlalu terang-terangan?"—aku pun mengetuk pintu itu sambil meminta izin untuk masuk. " Ken-chan, apa aku boleh masuk?" Ucapku.
Karena aku sudah tahu sifatnya yang belum tentu menjawab, aku pun menggeser pintu itu dan masuk. "Permisi" kututup pintu dan berjalan menuju dirinya yang tengah sibuk mendengarkan lomba pacuan kuda.
"Menang!! Akhirnya!!" Serunya sembari menari-nari riang.
"Anu, Ken-chan?" Panggil ku.
Ia pun terhenti sambil melirik ku dengan tatapan tak suka. Lalu ia pun merebahkan dirinya di sofa. "Ya? Ada apa kau mencari ku?"
"Eh, anu...—kalau aku protes tentang ruangan yang dipakai Kanzaki-san, mana mungkin dia percaya kan— Ah bu-bukan apa-apa" jawabku setelah sekian lama berpikir.
"Hmm, kemari dan duduklah bocah temani aku minum teh sambil menunggu matahari tenggelam" ucapnya.
Meskipun aku sudah menggeleng, ia tetap menarik tanganku dan menyuruhku duduk di kursi.
"Sebelum kau menemaniku meminum teh, aku akan beritahu sesuatu yang penting" ujarnya
"Apa itu?" Tanyaku
"Kau lihat kompor yang menyala itu?" Ia balik bertanya sambil menunjuk pada sebuah kompor disamping rak.
"Iya, lalu?" Ucapku bingung
"Aku sebenarnya sedang memanaskan air tolong dimatikan ya. Terus kantung teh merah nya ada di laci dan gula nya ada di rak atas. Oh iya jangan lupa keluarkan kue kering dari oven sekalian ya.." jawabnya.
Jadi dia menyeretku untuk melakukan semua ini?😒
"Ah iya, gulanya cukup 2 sendok teh saja dan teh nya satu cangkir saja oke" ia menambah kan dengan logat menyebalkan.
"Heh, Ken-chan tidak mau minum juga?" Tanyaku.
Dasar iblis... Tapi ya, mau gimana lagi. Pasrah saja lah..🙂
Aku langsung melakukan apa yang Ken-chan katakan padaku tadi. Tapi tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang membuat ku semakin ingin membakar ruangan ini. Kenapa tidak, habis ia bilang begini:
"Hei Ta-chan, kalau kau saking inginnya minum teh merah yang langka itu, hisap saja ampas kantung teh nya. Tentu saja aku tidak akan melarang mu kok.."
"Tidak terima kasih kalau begitu aku pulang ya.." aku pamit dan berjalan menuju pintu. Ken-chan menepuk punggung ku sambil bicara. "Bercanda kok.."
"Dasar iblis.." ucapku sambil tersenyum penuh amarah.
"Hahaha" ia hanya meladeni dengan tawa girang.
🎶
Setelah menyiapkan dua cangkir teh merah dan satu piring kue kering coklat, aku akhirnya bisa duduk lega di kursi dengan tenang.
"Kamu kemari pasti mau protes tentang ruangan yang dipakai Shiori-chan kan?" Katanya.
Aku hampir saja menyemburkan teh yang baru saja ku seruput.
"Uhuk... Uhuk.... Uhuk.. ba-bagaimana Ken-chan tahu?!" Tanyaku kaget.
"Wah wah... Benar toh, aku sebetulnya sudah tahu kok kalau kau menggunakan ruangan itu sudah seminggu lebih. Aku terkadang masuk ke ruangan yang sudah kau perbaiki dan aku sempat kaget, kau juga memperbaiki alat-alat musik disana.."
"Ahhkk!!"
Aku mulai panik dan berencana untuk kabur atau bersembunyi. Tapi bukan laki-laki namanya jika menghadapi masalah kecil ini saja sudah lemah, kalau begitu aku tak pantas disebut seorang pria sejati!
"Tapi kau tenang saja Ta-chan. Karena kau sangat sungguh-sungguh dalam memperbaiki dan membersihkan ruangan itu, aku akan memaafkan kesalahan mu. Lagipula baru aku saja yang tahu tentang ini"
"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi"
"Jika bukan di hari pertemuan OSIS Shiori-chan meminta izinku menggunakan ruangan itu, aku pasti akan terus pura-pura diam tak tahu menahu. Bukankah ini sebuah kebetulan yang manis?"
Kuangkat kepala yang menunduk menatap lantai dan menatap Ken-chan. Ia tertawa sambil membelai kepalaku lembut. "Kalau kau mau menggunakan ruangan itu, bujuk lah Shiori-chan, oke"
"Heh? Itu suatu hal yang mustahil"
"Haha, bukankah ini ide bagus untuk saling akrab satu sama lain?"
"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi!"
"Jangan-jangan, Ken-chsn dan Kanzaki-san sudah saling kenal, ya?" Aku asal tebak. Ia pun mengangguk dalam sekejap.
"Ya, aku dulu adalah murid andalan kakeknya. Karena itu aku sering main dengan Shiori-chan di halaman rumah yang sangat luas itu.."
Seketika itu raut wajah nya tampak sedikit kesepian. Seolah air mata akan turun membasahi kedua pipinya.
"Sebenarnya, ada sesuatu yang
telah terjadi, hingga akhirnya ia pindah ke sekolah ini. Ia bilang padaku kalau menginginkan sebuah ruangan yang bisa ia gunakan sendiri. Itu memang permintaan
egois dari seorang nona muda paganini, tapi karena ia tidak mau merepotkan siapa pun, jadinya ...."
"Kau menyetujuinya memakai ruangan pribadi ku"
Ia mengangguk lemah dengan tatapan kesepian yang berusaha ia tutupi dariku.
"Tapi kenapa dia bermain biola lagi? Bukankah dia sudah berhenti dari dunia musik?, Lalu kenapa dia tiba-tiba memainkan nya lagi?"
"Aku tidak bisa mengatakannya ...," ekspresi nya berubah jadi serius. "... lagi pula, ia sendiri tidak ingin ada orang lain yang tahu. Sejujurnya ...,menurutku akan lebih baik kalau ia tidak melakukan itu, namun pada akhirnya, keputusan tetap ada ditangan Shiori-chan sendiri."
Aku tidak mengerti sedikit pun tentang yang
sedang Ken-chan katakan, dan Kanzaki juga tidak menjelaskan apa pun padaku.
Aku pun bangkit dan memberi salam untuk meninggalkan ruangan ini. Dan ketika hendak membuka pintu, ia berkata lagi padaku:
"Kenapa kamu tidak mencoba bicara padanya?
Siapa tahu kalian bisa saling berbagi ruangan itu bersama. Iya, 'kan?"
"Aku sudah coba bicara, tapi ia malah berusaha membunuh dengan memukul menggunakan biolanya."
"Kamu itu terlalu cepat menyerah Ta-chan! Berusaha lah untuk mengerti, ya?"
"Sebenarnya dalam pembicaraan ini, bagian mana yang harus aku mengerti?!" Aku bertanya dengan sedikit nada penekanan.
Ken-chan hanya diam tak menjawab. Perlahan aku melihat senyuman samar darinya.. "Cepat atau lambat pasti kau tahu semuanya, Ta-chan"
Matahari sudah terbenam. Ruangan musik yang kutempati kini mulai dilahap kegelapan. Dengan tatapan kosong, aku tetap diam seribu bahasa hingga akhirnya menutup pintu itu tepat saat Ken-chan menunduk lesu.
"Apa yang sebenarnya nona muda itu sembunyikan?"
🎶
🌼つづく🌼