
Kedua kaki ku mulai berjalan lagi menuju salah satu stasiun kecil yang tak jauh dari pantai. Aku pun membeli tiket dan menunggu kereta datang.
Selang beberapa menit kemudian, kereta ber-gerbong 3 datang dari arah barat dan berhenti tepat di stasiun ini dengan suara decitan khas nya. Pintu perlahan terbuka dan aku pun melangkah masuk. Gerbong yang ku naiki adalah gerbong ke-2 yang dekat dengan sang masinis.
Perlahan kereta mulai bergerak dengan diiringi suara sirine yang membuat kepulan asap tercipta. Pemandangan pun seolah bergerak seperti buku gambar yang terus dibuka setiap lembarannya.
Aroma laut yang khas dikala senja akan tiba terasa begitu menenangkan. Ditambah lagi dengan hanya suara mesin kereta saja yang terdengar sepanjang perjalanan. Terasa begitu bebas dan menyenangkan untukku.
Pemandangan pantai yang disuguhkan kini berganti dengan cepat ketika sudah memasuki tikungan. Semua cahaya terhalang oleh terowongan gelap yang cukup panjang. Meskipun terhalang untuk melihat, aroma laut dan tetumbuhan hijaunya tidak hilang. Malahan, semakin tercium kuat sekali oleh hidungku.
"... Rasa-rasanya aku tidak ingin pulang lagi" gumamku dengan suara yang hampir tenggelam dalam sirine kereta yang menandakan akan segera berhenti di stasiun.
"Omong-omong Tori-kun bagaimana ya?"
🌼🌼
"Hem... Kenapa aku merasa sedikit aneh dengan Shiori? Dan lagi dimana Tori-kun? Aku harus mencarinya!" pikir Kanzaki Emilia yang tiba-tiba saja meninggalkan area pesta.
"Nyonya besar mau kemana ya? Sebaiknya aku buntuti dia" batin Anna yang juga ikut pergi dari area pesta dengan diam-diam.
Sepatu hak yang tingginya 4 cm itu memukul lantai dengan cepat. Gaun ungu berhiaskan butiran berlian kecil seharga berpuluh-puluh juta itu, menjuntai menyapu lantai rumah. Ekspresi orang yang terbalut gaun ini, tampak tergesa-gesa menuju lantai atas rumahnya, dengan berjalan sangat cepat.
"Gawat!! Nyonya besar mau ke kamar Kanzaki-san! Aku harus cepat menghentikan nya!" Gumam Anna yang berlari secepat kilat dan naik ke tangga yang berlainan arah.
Satu demi satu anak tangga yang sudah terbalut karpet merah, diinjak oleh hak tinggi milik Kanzaki Emilia dengan sangat cepat. 30 anak tangga pun, ia selesaikan dengan hanya 45 detik dan kini ia sudah ada didepan sebuah pintu berwarna putih gading bertuliskan "Shiori-chan".
Sebelah tangannya yang memakai sarung tangan ungu muda itu perlahan meraih gagang pintu. Dan dengan hati-hati ia memutarnya... Namun sebelum ia membuka pintunya,
"Nyonya besar!!" Seru sebuah teriakan dari arah berlawanan. Kanzaki Emilia menoleh cepat sambil melepaskan pegangannya dan berpose elegan pada orang yang berlari mendekati nya.
"Ada masalah apa sampai membawa mu kemari?" Tanya nya dengan penuh wibawa.
"... Anu... Acara.. tukar cincin... Akan segera dilakukan.. tuan ingin nyonya hadir segera.." ucap orang itu yang tak lain adalah Anna. Ia tampak kelelahan dan masih berusaha untuk mengatur napasnya.
"Oh begitu, bilang pada tuan, aku akan segera kesana setelah menemukan barang yang aku cari" ucap Kanzaki Emilia yang memutar kembali pintu.
"Ahh tu-tunggu Nyonya! Tuan bilang harus detik ini juga, nyonya sudah ada disana. Karena hari ini adalah hari bersejarah yang patut untuk dikenang keluarga musisi!" Anna kembali bicara demi bisa menghentikan Kanzaki Emilia.
"Hem... Apa tuan memang bicara seperti itu?" Tanyanya dengan raut curiga.
Anna mengangguk cepat. Mata Kanzaki Emilia mulai menyelidik dengan diam-diam seluruh ekspresi Anna. Ia pun menyunggingkan senyum misterius dan tetap membuka pintu.
"Jangan!!" Teriak Anna refleks.
"Hahaha, aku sudah tahu pasti kau menyembunyikan sesuatu dariku" Kanzaki Emilia tertawa dan berjalan mendekati Anna yang takut setengah mati.
"Jadi Anna-san, apa yang terjadi dengan Shiori-chan yang asli? Dimana dia? Kenapa anak laki-laki ku didandani seperti perempuan?" Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan oleh mulut iblis Kanzaki Emilia kepada Anna yang tak berdaya lagi.
Dengan pose berlutut, Anna tidak punya pilihan lain selain menceritakan semua yang terjadi pada Kanzaki Emilia. Ia menjelaskan bahwa Kanzaki-san lari ke sebuah kota kecil yang dulunya tempat dimana ia bersekolah dahulu. Kanzaki-san melakukan nya karena tidak ingin bertunangan dengan orang yang tidak ia cintai dan meminta bantuan pada Shiratori untuk mengganti kan dirinya.
"PENJAGA!! CEPAT SUSUL KANZAKI SHIORI!" Teriaknya dan segera saja para penjaga yang tengah berjaga dibawah naik ke atas dan pergi sesuai perintah Kanzaki Emilia untuk menangkap Kanzaki-san.
Kanzaki Emilia yang mendengar itu, langsung mengepalkan tangannya dan menggertak. Dengan segera ia menuruni tangga dengan hentakan kaki yang keras. Ia benar-benar marah. Anna yang sudah tak berdaya, hanya bisa berharap Kanzaki-san tidak ketemu oleh orang suruhan Kanzaki Emilia.
"Maafkan aku..." Ucap Anna lirih.
🎶
Kereta yang ku naiki kini sudah berhenti sempurna di stasiun kecil yang sudah usang ini. Aku pun bangkit dari kursi dan berjalan keluar. Rambutku yang tidak diikat mulai menari-nari di terpa angin sore yang tak terlalu besar.
"Baiklah mari kita kesana!" Seruku yang tanpa berpikir panjang mulai berjalan ke arah bukit yang berwarna kelabu.
Untuk mencapai kesana, aku harus melewati hutan yang sudah tidak asri lagi. Dimana-mana sudah ada sampah elektronik yang rusak, sekaligus merusak pemandangan. Sebagian hewan kecil disini, tampak kesusahan untuk hidup. Makanya terdapat begitu banyak bangkai hewan yang terjebak oleh barang elektronik ini.
"Banyak sekali sampah disini.... Semoga saja tempat rahasia ku dulu, masih aman!" Batinku dengan perasaan gelisah.
Aku menambah kecepatan langkah kakiku dan dengan hati-hati melewati tikungan arah yang masih kuingat dengan jelas dalam kepalaku. Aku dibuat tercengang oleh pemandangan yang kulihat didepan saat ini.
Entah kenapa aku langsung terduduk ditanah dan air mata ku pun mengalir membasahi. Tak ada habisnya aku memukul tanah sambil memaki-maki tak jelas.
"Kenapa?! Kenapa jadi begini!!!" Teriakku yang membuat para burung yang bertengger di dahan pohon terbang.
Perasaan ku hancur dan rasa sakit ini tak tertahankan. Kenapa tidak? Hancur sudah tempat rahasia ku, yang dulu dibangun bersama almarhum nenek dan kakek, kini sudah menjadi puing-puing yang tertimpa gundukan rongsokan. Semua barang-barang yang sengaja kusimpan ditempat rahasia itu, sudah hancur berkeping-keping tanpa ada yang utuh lagi. Tapi, diantara semuanya hanya ada sebuah biola yang setengah remuk ditengah-tengah rongsokan.
"Apa itu biola ku?" Aku refleks mendaki gundukan rongsokan itu dan melihat dari atas. Ketika aku ingin turun perlahan, pijakan yang ku injak goyah dan aku pun terjatuh menggelinding bersamaan beberapa barang rongsokan.
"Adu...duh...sakit" rintihku sambil berusaha mengeluarkan kaki yang tertimpa televisi.
"Biola itu kan..."
// Di waktu yang sama, rumah Keluarga Kanzaki//
Semua tamu mulai tak sabaran dan sebagian dari mereka mulai melontarkan kalimat yang sedap menjadi bahan gosip. Ditengah-tengah itu, Shiratori yang masih menyamar menjadi kakaknya tak habis-habisnya mencari sosok Anna yang tak kunjung datang.
"Kemana Anna-san pergi? Rasa-rasanya aku punya firasat buruk.." batinnya.
"Ada apa Shiori-san? Apa kau sudah lelah menunggu ibu mu?" Tanya Hiyori.
"Ah, sepertinya begitu... Ba-bagaimana kalau kita langsung saja pertunangan nya?" Usul Shiratori.
"Ide bagus! Mari kita lakukan saja tukar cincinnya supaya tidak banyak membuang waktu" ucap Ayah Hiyori yang dibalas anggukan dari semuanya.
"Kalau begitu, pelayan, tolong bawakan cincin nya kemari" seru ibu Hiyori.
Tak lama seorang pelayan perempuan berjalan sembari membawa sebuah nampan beralaskan taplak berwarna emas. Di atas taplak itu lah, sepasang cincin dengan berlian putih mengkilap siap untuk dipakaikan pada jari mereka.
"Tes... Tes... Baiklah para tamu sekalian, saya mohon kepada anda semua, untuk berdiri dan menyaksikan momen tukar cincin yang tadi sempat tertunda karena sesuatu hal. Mari kita beri tepuk tangan" seru sang pembawa acara dengan penuh semangat.
Setelah mendengar kata sambutan tersebut, Hiyori mulai mengambil cincin dan memasangkannya di jari manis Shiratori dengan senyum bahagia. Tepuk tangan pun terdengar setelah Shiratori memperlihatkan cincin seharga jutaan itu melekat di jarinya.
Shiratori yang pasrah menjalankan ini semua atas usul sang kakak, mengambil cincin dari nampan yang dibawa pelayan. Sesaat sebelum ia memakaikan cincinnya...
"HENTIKAN SAMPAI DISITU!" Teriak sebuah suara yang familiar.
Sontak saja semua tamu melihat ke arah belakang dan tampaklah sosok wanita penuh amarah yang tengah berjalan ke arah Shiratori dan Hiyori. Ya, dia adalah Kanzaki Emilia.
Ia berjalan dengan penuh amarah dan seketika itu juga, menampar pipi Shiratori. Suara tamparan yang ia layangkan pun terdengar menggema dalam kesunyian ini.
"Apa yang kau lakukan?!" Bentak ayah Kanzaki yang menarik tangan Kanzaki Emilia untuk menjauh.
"Lepaskan aku! Kau harus tahu siapa dia sebenarnya!! Cepat hapus make-up mu itu!!" Kata Kanzaki Emilia yang berusaha memberontak.
"Hentikan! Kau menghancurkan kebahagiaan putriku, tenanglah dan jelaskan maksudmu!" Kanzaki Emilia yang mendengar kata-kata dari suaminya, perlahan menahan emosinya.
Ia kemudian berjalan mendekati Shiratori dan Hiyori dengan perasaan campur aduk. Saat ia mendekat ke arah Shiratori, ia pun berkata.
"Pelayan, bawakan aku teko berisi air"
Dengan segera salah satu pelayan yang membawa nampan berlari ke salah satu meja, dan membawa teko itu pada Kanzaki Emilia.
Kanzaki Emilia pun menyiramkan air dalam teko ke atas kepala Kanzaki Shiori yang ternyata adalah Shiratori. Semua tamu dibuat tercengang, terutama Hiyori dan keluarga, termasuk ayah Kanzaki.
"Shiratori..." Ucap Hiyori yang terjatuh seketika.
"Apa-apaan ini?! Kenapa Tori-kun yang ada disini dan bukannya Shiori?!" Tanya Ayah Kanzaki yang naik darah.
"Itulah yang sedang aku selidiki. Tori-kun, dimana kakakmu dan kenapa ini semua terjadi?" Kanzaki Emilia mencengkram gaun yang dipakai Shiratori, lalu menghempaskan nya ke rerumputan.
"Ikut aku ke dalam sekarang juga!"
🎶
"Biola itu kan..." Tanganku langsung meraih biola yang tergelatak disamping dan memeluknya.
Biola yang setengah remuk itu, adalah biola pemberian almarhum ibuku di ulangtahun yang ke 9. Ibu sengaja memberi biola yang tak ada duanya di belahan dunia manapun khusus untukku. Biola yang bersuara indah di setiap gesekan nya, dan bentuk hiasan yang penuh dengan kehangatan. Ya, itu adalah biola buatan tangan ibuku sendiri.
Sudah lama sekali aku memainkannya setiap ada pertunjukan maupun lomba. Aku sangat sayang pada biola ini, namun biola itu tidak utuh lagi. Sekarang, ia hanyalah rongsokan sama seperti yang lain. Namun, bedanya kenangan yang didalamnya berbeda dengan yang lain.
"Maafkan aku... Okaa-san" ucapku.
"Sebagai permintaan maaf, aku akan memainkan lagu Sonata dengan biola ini ya..."
Dengan posisi siap, aku memberi hormat seperti biasa aku tampil dipanggung. Tak lupa aku menyiapkan tape recorder dan menyetel alunan piano penggiring lagu Sonata. Aku pun mulai menggesek senar itu sesuai nada nya dan, siapa sangka bahwa ketika itu aku dipertemukan kembali Dengan anak laki-laki yang selama ini aku cari.
Teman pertamaku, sekaligus cinta pada pandangan pertama. Dalam suasana dan tempat yang tak indah, aku akhirnya menemukan sosok dirinya yang sudah besar.
Wajahnya tak banyak berubah, namun suaranya mulai terasa berat. Badannya yang mungil itu, kini sudah kekar dan mempesona. Meski banyak yang berubah darinya, sifat menolongnya itu tak berubah.
Seharusnya kala itu, aku merasa senang bertemu dengannya. Tapi kenapa hatiku terasa sesak dan sakit? Apa karena dia memang benar-benar tak ingat lagi denganku? Apa menurutnya, aku hanyalah gadis biasa yang menumpang lewat dalam masa kecilnya?
Aku kecewa... Sedih... Dan marah...
Tapi kenapa, sosokmu yang kubenci sesaat itu malah mau menolongku lagi dari sergapan polisi kala itu? Dan kenapa kau mau membantuku membetulkan tape recorder yang sudah usang? Kenapa... Kau mau berjalan bersamaku hingga stasiun?
"Kau terlalu baik... Dirimu yang terlalu baik itu, membuat ku mudah tersakiti loh.." ucapku dengan suara yang tenggelam karena suara kereta lain yang datang.
Pertemuan singkat yang membuat kenangan terungkit kembali, membuatku merasa lebih tersakiti. Rasa sakitnya tak mau mereda hingga sesampainya di rumah.
Aku sengaja menaiki kereta yang berlawanan arah dengan mu, hanya untuk menenangkan air mataku yang sudah ingin keluar. Dirimu yang menyebut namaku tanpa ada perasaan bahwa pernah bertemu, begitu menyakitkan. Hingga aku hanya bisa memberi mu satu buah cola dingin.
"Serpihan kayu kini berubah menjadi abu..
Detik demi detik semua hangus menjadi debu.." aku membaca dua bait pertama puisi lamaku sambil terus menitikkan air mata.
"Aku benci padamu... Saki Arata-kun!"
Selama perjalan didalam kereta, aku hanya bisa menangis dan merelakan diriku dimarahi habis-habisan oleh ibu tiri dan ayahku. Karena itu, aku berhenti memainkan biola dan memilih terkurung dikamar yang gelap selama 2 tahun.
...Ini adalah sebuah rasa yang tersirat.....
...Bukan sebuah rasa yang tersurat...
...Ini adalah sebuah rasa yang benar adanya,...
...Dan bukan rasa yang hanya sekedar kata kata....
~Rasa~ by. Fawniaars (on wa**pad)
🌼Shiori POV selesai🌼
🎶
Wah gak kerasa ya ceritanya Shiori udah habis aja nih.. gimana sejauh ini cerita Sonata no kioku? Setelah ini kita balik lagi ke permasalahan awal ya😊
Berikan aku kritik dan saran di eps kali ini ya, aku mohon🙏🏻🙏🏻
.
.
.
.
Megane-chan🍁👓