
"Menurut mu, apa alasanku melakukan ini semua?"
Aku bingung dan terus menunduk. Kedua belahan bibirku tertutup rapat, kehabisan kata-kata.
"Kenapa kau begitu menolak sebelum mencoba? Lagipula hal seperti "dulu" belum tentu terjadi lagi kan?"
Tangan kanannya kini terulur tepat ke kerah kemejaku, jari-jarinya mulai mencengkram erat. Tapi badanku bergerak lebih cepat untuk menghindar, dan tanpa sengaja membentur tembok.
"...Aduh!" Seketika tampak bintang-bintang muncul disekitar mataku dan membuat dada terasa sesak.
Aku mencoba menahan tangan Haruka yang berada tepat di kerah seragamku.
"Jangan gunakan jurus lemparan karate itu seenaknya!" Kata ku.
"Itu bukan lemparan loh, tadi hanya sekedar dorongan" bantahnya.
"Peduli amat, kau mau membunuhku ya?!"
"Hah?! Da-dasar... Ta-chan bodoh!!"
Kedua tangan Haruka langsung membanting badanku ke lantai, hingga terdengar suara gedebuk keras setelahnya. Lalu dengan wajah tanpa bersalah, ia berbalik dan pergi begitu saja.
"Arata!! Arata!! Sadarlah!!"
"Kyaaa!! Darah! Dia mati?!"
"Oii panggil guru kesehatan! Cepat!!"
"Kita bawa saja ke ruang kesehatan!"
"Bertahanlah Arata! Temanmu Satoshi akan menolong mu, jadi jangan mati dulu... Huee"
Setelah bantingan keras itu, aku tak ingat apa-apa lagi.
🎶
Alasan aku menolak mentah-mentah bergabung ke klub Orkestra itu adalah, aku masih takut kejadian "dulu" terjadi lagi. Dan itu sangat merepotkan entah bagi diriku maupun orang lain. Meski begitu, ada juga sisi kesenangan yang kudapat. Aku bisa menikmati musik dan terlihat berguna.
Kejadian yang dilakukan Haruka beberapa menit yang lalu, membuat dirinya dipanggil oleh wali kelas. Dan karena itu, aku disuruh pulang cepat padahal baru hari pertama.
Keesokan harinya, aku dan Haruka tampak menghindar satu sama lain. Karena merasa tak nyaman, aku pun menghabiskan waktu dengan menelusuri sekolah ini. Aku berjalan jauh hingga baru sadar berada di tempat pembuangan sampah. Di sebelah nya tampak sebuah ruangan usang dan berkarat. Di sisinya terdapat beberapa pintu yang kumuh penuh debu, entah ada alasan apa lah itu sekolah yang terkenal di wilayahnya ini mengalami penurunan jumlah siswa yang mendaftar. Mungkin karena itu lah, fasilitas yang tak terpakai, jadi terbengkalai begitu saja.
Lusa berikutnya, aku masih menelusuri sekolah dan ternyata ada salah satu ruangan lagi yang kosong, tapi anehnya bisa ku masuki. Berbeda dengan ruangan hari itu. Dengan penasaran dan ragu-ragu, aku memberanikan diri membuka gagang pintu itu.
"Klek....!"
Pintu itu terbuka dan mengeluarkan suara mengerikan. Aku memeriksa sekitar ruangan terlebih dahulu dengan waspada.
Di dalam ruangan, terdapat lemari kayu tinggi yang sudah agak lapuk, sebuah loker dan satu set meja disebelahnya. Temboknya dilapisi sebuah cat kedap suara dan karpet di seluruh ruangan.
Dilihat dari kondisinya, ruangan ini dulu nya digunakan untuk alat-alat orkestra seperti piano. Aku bisa tahu letak pastinya dimana piano berada dengan melihat bekas yang di tinggalkan. Rak yang ada disana pun pasti digunakan untuk menyimpan biola maupun alat lainnya seperti almamater dan tape recorder.
Di depan meja tepatnya disamping jendela, terlihat sebuah papan yang dipakai untuk meletakkan bingkai foto dan beberapa penghargaan lainnya. Foto yang terpampang sudah sangat tua namun masih terjaga warnanya.
Mataku terkejut ketika melihat sosok wajah yang mirip sekali dengan ayahku pada salah satu murid kelas 2 di foto ke 5.
"Ini.... Benar ayah?" Aku bergumam.
Tiba-tiba saja lampu di kepalaku menyala terang dan mengingat ku akan apa yang dulu pernah beliau katakan.
🌼 Flashback 🌼
Ketika di hari Minggu cerah di kamar onee-chan dirawat, ayah tengah terduduk sambil membelai rambut ku. Samar-samar aku merasakan kehangatan elusan tangan kasar yang besar itu membelai lembut sambil sesekali bernyanyi.
Aku yang sudah terhanyut dalam suasana tenang itu, tiba-tiba dikejutkan oleh suara panggilan beliau.
"Arata, kau tahu tidak ayah mu ini pernah bergabung dalam sebuah band" ucap nya.
"Heh? Band?" Aku menatapnya bingung.
"Wahh!! Hebat! Ayah main alat musik apa?" Tanya onee-chan.
"Gitar" jawab Ayah.
"Hebat! Nanti waktu Arata SMA, Arata mau masuk band ayah!" Ucapku berbinar.
"Hahaha, semoga saja band itu masih ada ya"
"Apa itu tidak bertahan lama?"
"Bisa dibilang begitu, karena band itu tidak berkembang, jadinya waktu ayah kelas 3 band itu dibubarkan oleh guru"
"Yah, batal dong.."
Ayah tersenyum hangat sambil menurunkan ku dari pangkuannya. Ia berjongkok dan mengelus kepala ku.
"Kalau band itu tidak ada, Arata buat saja band sendiri!"
"Ayah yakin, Arata pasti menemukan keseruan seperti ayah nantinya.."
🌼 Flashback off🌼
🎶
"Star★ Align ya..." Aku tersenyum sambil membersihkan debu di foto itu, lalu melihat lagi area ruangan kedap suara ini.
"Ruangan ini boleh juga dipakai jadi tempat pribadi ku....! Nanti aku bisa melakukan apapun disini dengan bebas, seperti menyetel CD di rumah ataupun eksperimen...! Pasti seru!!" Ucap ku.
Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan, karena tidak akan datang dua kali kan? Ruangan ini cocok sekali untuk menghabiskan waktu seusai sekolah– itu yang kupikirkan, karena aku ini tipe orang yang tidak mau repot dan direpotkan.
"Jika ini ayah, pasti... Dia sudah membawa rekaman musik rock-nya dan mendengarkan keras-keras di ruangan ini.." batinku yang melirik kembali fotonya.
Kondisi ruangan ini sudah tidak layak pakai, alias sudah banyak kerusakan. Ditambah alat pengedap suara seperti karpetnya mulai mengelupas. Namun anehnya, ada salah satu radio di rak yang masih terjaga kualitasnya, sehingga aku bisa memutar sebuah lagu disana.
Lagu yang pertama kali kudengar saat itu ialah, lagu "Liebesleid" atau Love Sorrow karya Kreisler–Rachmaninov. Ada dua versi lagu ini yaitu versi biola dan versi solo piano. Karena ada dua pemutar kasetnya, jadi aku putar dua-duanya.
Aku sudah benar-benar terhanyut dalam lantunan musik klasik dan beberapa lagu yang dimainkan secara orkestra. Waktu sudah berjalan 15 menit, namun aku masih saja terdiam sambil membayangkan para musisi itu memainkan alat musik nya.
Entah kenapa dalam sedetik kemudian, aku sudah terpengaruh pada kata-kata Haruka lusa itu.
"Berarti hidupmu membosankan, dong?"
"Mungkin dia ada benarnya juga..." Ucapku lirih sambil mendongakkan kepala melihat langit-langit ruangan yang berhiaskan lampu setengah padam.
Ingin kulupakan ingatan tentang masalah ini, namun aku tak bisa membuangnya begitu saja. Yang ada malah, ingatan itu semakin melekat di pikiranku hingga membuat ku pusing. Hanya karena aku tidak bergabung ke klub Orkestra, hidupku sudah dinilai Membosankan oleh Haruka.
"Ta-chan, ayo gabung!! Kau kan jenius dalam musik kan?? Apa salahnya kalau gabung?!"
"Tunggu
dulu! Apa salahnya bergabung dengan klub ini? Lagi pula,
kamu juga tidak punya kerjaan lain, kan?"
"Ahh!! Sial!! Kenapa aku tidak bisa melupakan nya?!" Aku mengacak-acak rambutku kesal dan terdiam sesaat kemudian.
Suara musik pop karya original murid dari band sekolah ini, mulai mengalun dan memenuhi telingaku. Ku tutup mataku sesaat sambil membayangkan makna gambaran yang ditinggalkan oleh potongan-potongan nada tersebut.
"Aku, hanya ingin bebas.... Dari musik!"
🎶
つづく