Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
26.5- Nih, ambil..



...๐Ÿ’•๐Ÿ’•Episode Selingan๐Ÿ’•๐Ÿ’•...


Tes...


"Ha... Haruka! Kau kenapa? Sakit kah?"


"Heh? Aku baik-baik saja kok. Kau kenapa panik gitu?"


Kejadian yang baru saja kualami beberapa menit yang lalu, sungguh diluar dugaan. Haruka yang tiba-tiba saja mengungkapkan seluruh rahasia dan perasaannya padaku, pergi begitu saja tanpa melirik ke belakang.


Kini tinggal aku sendiri di atap gedung sekolah yang luas ini dengan ditemani melodi tak karuan dari petikan bas ku dan permainan Kanzaki-san dibawah.


"Hah.. kenapa setiap perempuan yang ku kenal selalu saja punya pribadi rumit gini sih? Perempuan itu memang merepotkan..." Aku menghela napas panjang sembari meletakkan bas disamping dan merebahkan diri di lantai, menatapi langit.


Entah kenapa melodi yang dihasilkan oleh Kanzaki-san terdengar kesepian dan begitu pilu. Rasa-rasanya pikiranku kembali lagi pada kejadian dimana aku dan Kanzaki-san duduk disini berdua.


"Apa... Kau senang saat bermain gitar?"


(Pertanyaan yang ada pada eps.23)


Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang dalam pikiranku. Meski hari itu aku sudah menjawab nya, entah kenapa perasaan ku masih ada yang mengganjal seolah mengatakan bahwa itu adalah kebohongan.


"Tau ahh, pusing!!"


Aku bangkit dan mulai berlatih lagi seusai menyetel bas ku.


๐ŸŽถ


Keesokan harinya, selagi aku bercakap-cakap dengan temanku, Kanzaki-san menyerahkan sesuatu yang dibungkus kertas polkadot padaku yang dikeluarkan dari tasnya.


"Nih, ambil.." ucapnya dengan suara bergetar.


"Eh? Apa ini?" Tanyaku bingung sekaligus tak percaya akan mendapatkan sesuatu darinya.


Kanzaki-san tidak menjawab dan langsung menyerahkan nya padaku dengan wajah memerah.


"I-itu... Untuk menebusโ€”kesalahanku." Jawab nya.


Sekarang aku tambah bingung dengan sikap nya saat ini. Seorang Kanzaki-san yang dingin itu, rela membeli sesuatu untukku sebagai penebus kesalahan? Sungguh diluar dugaan..


"Sstt.. Arata, apa ini candaan?" Bisik Satoshi.


Kepalaku menggeleng cepat, "Bukan, ini sungguhan." Meski aku tak yakin itu benar, namun dilihat dari sesuatu yang berbentuk kotak ini dibungkus rapi, mana mungkin hanya untuk candaan belaka.. apalagi dari seorang Kanzaki-san.


"Ahh.. begitu, terima kasih ya."


"A-awas saja kalau kau buka disini. Akan kubunuh langsung!!"


Aku mengangguk cepat. Teman-teman yang awalnya menjauh dariku sesaat, berkerumun lagi dan tambah heboh karena satu hal ini saja. Dari sekian banyaknya laki-laki di mejaku, salah seorang diantara nya merebut barang itu dariku.


"Apa ini? Apa onee-sama yang berikan padamu?" Tanya Shiratori.


"Enaknya jadi Arata... Aku juga ingin dapat hadiah dari Sora-chan" ucap Momo.


"Kalau kotak gini, CD ya?"


"Bisa jadi tuh, atau gak coklat?"


"Mana mungkin coklat tipis seperti ini, pikiranmu itu makanan terus ya Momo.."


"Bisa jadi yang dikatakan Kento benar.."


"Ya kan? Tori-kun memang sepemikiran! Aku buka ya Arata!!"


"Ahh.. tu-tunggu!!!" Teriakku dan Kanzaki-san bersamaan.


Bungkusan polkadot itu pun dirobek dengan mudahnya oleh Kento tepat sebelum aku dan Kanzaki-san menghentikannya. Benar apa kata Kento, isinya adalah sebuah CD dengan sampul persis dengan yang waktu itu. Disana juga tertulis sebuah tulisan 'Kumpulan lagu klasik dan metal'. Disaat yang bersamaan sebuah kertas putih jatuh tepat dikaki ku, langsung saja aku buka dan baca.


Aku yang terlanjur membacanya, melanjutkan saja. Isinya seperti ini;


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih hari itu kau sudah menyingkirkan serangga meski harus kena semprot. Terimakasih juga sudah mau mendengar apa yang mau kuungkapkan dan merahasiakannya dari orang lain.


Semoga kau suka dengan permainanku ini dan dapat bermain gitar lebih bagus lagi..


Sora,


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Wajahku memerah dengan cepat. Semua mata melirik ke arahku dan mulai tertawa melihatnya. Hal yang sama terjadi pada Kanzaki-san yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sudah terlanjur terjadi...


๐ŸŽถ


//Jam istirahat//


"Kanzaki-san tunggu!" Aku berlari mengejar nya yang sudah melesat pergi dari kelas begitu bel berbunyi.


"Kenapa malah dibuka barusan?! Kan sudah kubilang nanti saja, belum lagi kau sudah baca suratnya. Pergi sana!" Ia berbalik dan terdengar sangat kecewa.


"Maaf ya karena aku telat menghentikan Kento. Apa... Kau sengaja rekam CD berisi musik, supaya bisa memberikan sampulnya ya?"


Sampul yang sedang kubicarakan adalah, poster gitaris metal yang tidak sengaja terkena semprotan pembasmi serangga sewaktu aku membantunya di ruang pribadi itu.


Kanzaki-san mengangguk, "kalau sudah tahu, kenapa nanya lagi? Sana pergi!" Ia menggerutu.


"Jadi benar? Padahal itu hanya sebuah poster biasa. Kenapa dia sampai segitunya?" Pikirku heran.


Langkah Kanzaki-san terhenti, ia berbalik dan memandang ku. "Katakan!" Seru nya.


"Hah? Apa?" Aku memiringkan kepala bingung.


"Kau mengikuti ku karena ada hal yang mau dibicarakan kan, cepat katakan. Kau mau ikuti aku terus sampai masuk ke dalam toilet perempuan?!"


Aku tersentak kaget saat menyadari sudah ada didepan pintu masuk toilet. Mau tak mau aku harus bilang padanya.


"Rasanya berat sekali aku bilang ini pada musuhku, tapi.. terimakasih ya. Meski yang kau beli adalah sampul album ketiga nya, sedangkan poster yang waktu itu adalah untuk album kelima..."


Setelah mendengarnya, wajah Kanzaki-san tampak suram dan memerah malu. Ah, kacau, seharusnya aku tak usah bilang..


*Tak* Kanzaki-san mendorong tubuhku menjauh darinya.


"Bi-biar ku belikan sekarang! Album itu dibuang saja!"


"Ahh! Tidak usah!! Pelajaran sebentar lagi mulai.."


"Tapi kan untuk apa punya sampul yang sama?"


"Biarkan saja! Lagipun, sampul punyaku sudah usang..!"


Teng... Tong... Teng..


Sewaktu aku mencoba mencegah Kanzaki-san pergi,


bel pelajaran berikutnya berbunyi.


Karena guru sudah mulai datang ke kelas lebih awal dari biasanya, Kanzaki-san pun


tidak jadi membelinya dan pergi ke kelas.


"Aku benar-benar tidak paham soal jalan pikir perempuan...!" Batinku.


๐ŸŒผใคใฅใ๐ŸŒผ