
"Terus, kenapa kamu tidak mati saja sana?" Tanyanya.
"Heh?"
"Kau bilang hidup itu memang sekadar menghabiskan waktu sampai mati kan, kenapa kau masih hidup? Memangnya kau tidak mau mati saja?" Ia bertanya lagi.
Angin semilir yang berhembus dari belakang tubuhku, kini mengalir deras menembus sesuatu yang kosong dalam diri ini. Dalam sekejap pandangan ku buyar dan entah kenapa aku tak bisa berkata-kata lagi..
"Kau tak bisa jawab?" Ia menegaskan dengan lagak yang seperti nona besar.
Aku meneguk ludah dan membuka mulut. "Aku belum boleh mati! Pokoknya tidak boleh! Kalau aku mati sekarang, okaa-san dan onee-chan akan sedih.." jawabku bohong.
"Hem, di kala begini pun kau masih bisa berbohong ya" sindir nya sambil berjalan ke arahku.
"Aku tahu semuanya loh, yang kau maksud keluarga itu hanya lah seorang kritikus tak berguna yang kariernya di ambang jurang kan" ia menatapku dengan mata pisaunya dan berjalan membelakangi ku.
"Apa-apaan perkataannya itu?! Jadi dia sudah tahu berita okaa-san??" Batinku panik.
Aku berdehem. "Ku akui memang kariernya di ambang jurang, tapi kumohon jangan seret dia dalam masalah ini. Terserah kau mau menyebutku maniak lah, penguntit itu lah, si bodoh atau apapun itu. Yang jelas jangan ejek ibuku!"
"Heh gitu ya, kau tahu tidak keberadaan kritikus tak berguna macam dia itu, seperti parasit yang hanya berkata omong kosong pada media"
Ia mengepalkan kedua tangannya. Ekspresi Kanzaki mendadak berubah jadi tegang, dan terlihat seolah hampir menangis. Disaat seperti ini, aku malah mengajaknya bertengkar dan bukan menenangkan dirinya. Bodohnya aku!
"Omong kosong yang mereka ciptakan sangat merugikan musisi seperti aku. Padahal mereka itu tidak memainkan dan menciptakan lagu-lagunya. Yang mereka lakukan cuma mendengar asal-asalan saja!"
"Tapi kau berani menentang ucapanku?! Seorang bocah otak gurita seperti dirimu?!"
"Eng...itu, yah.."
"Memang benar aku berkata omong kosong seperti itu, tapi aku sadar bahwa yang tadi hanyalah kemarahan ku saja"
Dalam beberapa menit itu, aku hanya bisa diam tak bergeming. Udara kecanggungan semakin terasa diantara terik matahari yang terus meninggi. Ku alihkan sejenak pandangan ku ke pojok ruangan. Di sana aku menangkap alat musik gitar tua yang bekas debunya telah di lap sedikit.
"... Kalau cuma gitar atau biola, aku juga bisa memainkannya"
Kata-kata itu pun melesat keluar tanpa aku sadari. Meski aku tahu ini bukanlah sebuah kebohongan lagi.
Ada hal yang belum kuberi tahu siapapun, termasuk Haruka. Bahwa sewaktu masuk SD aku sudah belajar bermain gitar dan sempat tergabung dalam band di SMP. Aku belajar gitar karena ingin menjadi seperti ayah, disaat yang tepat pula aku menemukan gitar klasik di gudang dan mulai mempelajari nya.
Meski demikian, aku sudah lama tidak memainkannya dan aku juga tidak tahu aku bisa lagi memainkannya atau tidak.
Kanzaki menyipitkan matanya. Ekspresi nya itu seolah mengatakan bahwa aku hanya berkata omong kosong saja. Dan mulai berbalik membawa sesuatu.
"A-anu..."
Tepat sebelum aku melanjutkan kalimatku, Kanzaki sudah meletakkan gitar di tanganku yang sudah di colokkan pada amplifier hasil perbaikan ku. Ia juga memakai kan ku headset
"A-apaan sihh?" Tanya ku
"Diam dan jangan bergerak!" Titahnya
Dengan lembut jari-jari nya mulai memetik senar gitar. Getaran yang sangat luar biasa pun tercipta setelah nya, sesaat aku mulai merasa terhanyut ke dalam melodinya. Suara yang halus tanpa ada satupun kesalahan tercipta dan not-not yang mengalir naik turun bagai air itu terdengar begitu indah.
Ternyata gosip itu benar. Bahwa lagu original nya itu ia aransemen ulang dengan gitar. Ini adalah lagu Kehidupan sang bunga, versi lain dari melodi menyayat hati menjadi melodi penuh kesepian.
Badai yang sedang berkecamuk ini, akan segera datang...
πΆ
Kanzaki Shiori. Itulah namanya, sang musisi jenius yang sukses di usia yang masih belia. Keahliannya adalah bermain biola yang dapat menyihir siapapun pendengar nya. Mask dari itu ia dijuluki nona muda paganini. Namun, kini sang violinis itu berbuah menjadi gitaris yang tak kalah jeniusnya..
Aku tercengang ketika musik yang dimainkannya kini telah usai. Kanzaki pun melepas headset di kepalaku, lalu suara kehidupan pun terdengar masuk. Suara helaan napas, detak jantung yang teratur, suara sorakan para murid yang ikut ekskul bola dimana saat itu pemainnya berhasil mencetak gol.
Suara yang kudengar tadi, terasa sangat jauh berbeda. Seperti berasal dari alam lain yang letaknya jauh sekali...
"Sudah dengar kan? Kalau begitu pergi cepat, ini adalah ruang latihan ku" ucapnya.
"Hei, kenapa kau bermain gitar?" Aku menghentikan langkahnya dengan menggenggam tangan kanannya. Ia pun berbalik dan menatap ke bawah.
"Apa alasanmu berhenti dari biola dan malah main gitar?" Aku bertanya lagi.
"Aku tak tahu" jawab nya lirih.
Aku menggenggam erat tangannya. Sesaat aku merasakan adanya gemetaran terasa dari tangan mungilnya itu. Lalu aku pun melepaskan tangannya.
"Jika aku membawa gitarku sendiri, apa aku boleh menggunakan ruangan ini?"
"Hah? Jangan sok keren di depanku kalau kau tak punya bakat bermain. Sudahlah sana pergi.." Kanzaki mendorongku ke luar ruangan, mengunci pintu dari dalam, lalu mulai memainkan lagu lain.
"Hei kau curang!!" Teriakku sambil memukul pintu.
"Sial, dia mau memanas-manasi aku ya??" Kubiarkan dia memainkan melodi dari gitar itu selama beberapa menit. Anehnya tubuhku ini tidak mau beranjak dan terus saja diam disana mendengarkan.
Lalu aku pun sempat berpikir, kenapa harus gitar? Kenapa tidak piano atau harpa? Atau tidak bermain lagi saja biola seperti saat pertemuan pertama kami. Dengan begitu aku ada bahan ledekan untuknya. Belum lagi lagu yang ia mainkan itu semuanya hanyalah lagu dari piano dan biola saja! Lelucon macam apa ini? Ini kan bukan April mop!!!
Jangan sok keren di depanku kalau kau tak punya bakat bermain.
Mau bagaimana lagi. Itu adalah ruang kelas yang
kupakai tanpa izin, soalnya tempat itu begitu
menggoda untuk dijadikan tempat buat mendengarkan
keras-keras CD favoritku tanpa perlu mengenakan headphone. Yah, sebenarnya cuma itu saja, sih.
Aku tidak akan merasa benar-benar kesusahan meski
tanpa ruang tersebut.
"Baiklah aku ke kelas saja" ujarku yang beranjak pergi.
Tepat saat aku ingin kembali ke gedung utama,
"Apa kau sudah menyerah begitu saja, bocah?" Ujar sebuah suara yang berasal dari belakang.
Aku bergidik kaget dan sesegera mungkin menoleh ke arah belakang. Mataku menangkap sesosok gadis diikat dua yang tengah duduk di salah satu tembok pembatas wilayah sekolah. Ia memperlihatkan seringai panjang sambil menjentikkan jari.
"... Si-siapa kau?" Tanyaku gugup.
Gadis itu pun turun dari tembok dan melihat ku. Ia memiliki paras cantik dengan mata tajam bak elang kelaparan aku segera tahu dari rompi yang ia pakai. Hanya rompi dengan bordir emas lah yang dimiliki anak kelas dua.
"Apa kau sudah menyerah pada gadis itu, meski kau sudah bekerja keras memperbaiki semua? Kamu bisa dijadikan sasaran empuk loh.."
"Eng, anu... Apa yang senpai bicarakan?" Tubuhku yang tadinya kaku mulai bisa digerakkan, dan aku memilih untuk mundur menjauh.
Ia tampak menghiraukan ku sesaat sambil bergumam tentang lagu yang Kanzaki mainkan.
"Kau tahu kan, pepatah kerenku?" Ujarnya
"Tidak" jawabku polos
"Mengalah itu merugikan, kurasa pepatah itu cocok untukmu"
"Hah? Bukankah kita semua sudah terikat oleh kekalahan sejak lahir? Selalu merasa tidak puas pada apa pun yang didapat dan masih saja berkeinginan mendapat yang lebih tinggi.. itulah kita kan"
"Tunggu.. seharus nya aku kabur dan bukan menjawab pertanyaan aneh senpai ini. Dasar Arata bodoh!!" Batinku.
"Hahahaha" ia tertawa lepas.
"Kau cukup menarik bocah. Seharusnya musik yang dimainkan Kanzaki itu lagu punya Paganini dong, jangan karya original nya.. pasti kesan revolusionis nya berasa!!"
Ia mengatakan nya seolah ikut mendengarkan musik yang aku dengar dari headset tadi. Dalam waktu yang bersamaan berbagai pertanyaan bermunculan dalam benakku.
"Kok senpai itu bisa tahu lagu yang baru saja aku dengarkan? Dia itu sebenarnya makhluk apa sih?"
Senpai itu berjalan mendekati ku dan meletakkan kedua tangannya di pundak ku lalu berkata;
"Sebenarnya aku ingin menjadikan Kanzaki sebagai anggota klub ku. Karena itu, aku butuh bantuan mu bocah. Kumohon bantu aku, ya" ia mulai memohon seperti anak kucing.
"Aku ini ya salah satu orang di dunia ini yang bisa mendengar suara musik dari sang revolusionis selanjutnya! Makanya aku bisa tahu musim yang kau dengar tadi"
"Emm gimana ya.. hentikan semua ini. Aku sungguh bingung sekarang kita sedang bicara ap-"
"Namaku Yamauchi Keiko, kelas 2-3" potongnya dengan tangan yang tersodor tepat di depan wajahku.
"Saki Arata, kelas 1-1. Salam kenal" jawabku.
"Yamauchi ya.. perasaan nama itu tidak asing. Ah iya, Haruka pernah menyebut namanya waktu itu. Tapi jika Haru ka yang bilang berarti, senpai ini..."
Senpai bernama Yamauchi Keiko ini mengulurkan kembali tangannya yang tadi tidak kuladeni sambil tersenyum.
"Ketua klub musik ini mengajakmu bergabung menjadi anggota pertama nya!"
"Loh?... Terus, aku harus bagaimana ini?"
πΆ
πΌγ€γ₯γπΌ
Hai readers, Megane-chan mau umumkan sesuatu nih. Bentar lagi pengumuman Hiatus sementara akan diumumkan. maaf ya aku izin Hiatus dulu karena ujian akhir semester akan dilaksanakan Minggu depanππ»π
Makasih buat kakak-kakak sekalian yang selalu baca dan mampir beri dukungan untuk Sonata no kioku ππ»π€π€©π
Sementara aku Hiatus nanti, ceritanya bakal up sesuai jadwal kok. tapi nanti aku bakal telat mampir ke cerita kalian.π Akan aku usahakan cerita. di Minggu ini up tiap hari yaπππ»π
mohon dukungannya dari readers semuanya, mari kita saling mendukungππ»ββοΈπ
sampai ketemu lagiππ»ββοΈπ€
penuh hormat,
Megane-chanππ