Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
14- Sepotong ingatan lagu Ravel



"APA KATAMU?! Kau bertemu dengan Keiko-senpai?!"


Di pagi hari yang baru masa SMA ku, di dalam kelas 1-1, suara teriakan Haruka terdengar menggema ke seluruh penjuru kelas.


"Kau sungguh-sungguh bukan salah lihat?!" Ucapnya dengan mata berbinar penuh sinar menyilaukan.


"... Y-ya, begitu lah" seru ku sambil menjauhkan pandangan dari Haruka. "Lebih tepatnya, aku sudah ditunggu oleh nya daripada berpapasan."


"Diluar dugaan ya, Keiko-senpai datang langsung untuk merekrut anggota nya.." ujar Satoshi, Haruka pun mengangguk setuju, sedangkan aku terdiam kebingungan.


"Terus kau mau bergabung ke klub musik bareng kami?" Tanya Haruka.


"Hah? Kau pikir aku berniat untuk bergabung setelah direkrut seperti itu?" Aku balik bertanya dengan sebal.


"Karena... Keiko-senpai itu terkenal gigih dan dia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia mau" jawabnya


"Wah-wah diluar dugaan sifatnya itu menyeramkan" batinku.


Setelah Haruka mengatakan itu, dari pengeras suara di lorong, terdengar sebuah lagu berkabung yang tak asing lagi di telingaku. Pikiranku sesaat jadi kacau dan kenangan hari itu terlihat kembali.


Rangkaian bunga bela sungkawa, para tamu berpakaian serba hitam yang berbondong masuk ke dalam rumah, suara Isak tangis dan bingkai foto seorang anak kecil.


"Hentikan! Siapapun tolong hentikan lagu itu!!" Ucapku yang mulai tak bisa mengendalikan diriku.


"Ta-chan! Satoshi cepat kau hentikan siapapun yang ada di ruang informasi!" Titah Haruka.


Satoshi mengangguk dan mulai berlari bersama Sasuke (seksi keamanan). Haruka, wakil ketua kelas dan ketua kelas berusaha menenangkan diriku yang terus saja berontak sambil menutup kedua telinga.


Suasana kelas jadi semakin mencekam, bisik-bisik para murid terdengar sahut menyahut di telingaku yang hampir meledak. Pandanganku mulai kabur dan aku tak bisa mengingat apapun lagi setelahnya...


๐ŸŒผ๐ŸŒผ


"Ta-chan... Ta-chan... Ayo main!"


[Hentikan!]


"Mau main kemana? Kita mau main apa nee-chan?"


[Jangan! Berhenti!! Hentikan onee-chan!]


"Ayo ke kincir ria!"


[Kumohon jangan pergi kesana! Kalau kesana, onee-chan nanti....]


๐ŸŒผ๐ŸŒผ


"Ta... Rata... Arata..." Samar-samar kudengar suara yang memangil namaku. Ku paksa membuka mataku dan betapa terkejutnya aku melihat dimana aku berada.


"Hah!... Loh, Haruka? Satoshi? Ketua kelas juga? Kenapa ada disini?" Tanyaku bingung.


"Emm, huaaa syukurlah kamu sadar!! Aku takut tahu!!" Rengek Haruka yang memelukku.


"Dasar bodoh, kau membuatku khawatir" ucap Satoshi yang menyeka air matanya.


"Hem? Apa yang kalian katakan? Kenapa aku bisa ada di UKS?" Tanyaku


"Kau tadi pingsan setelah mendengar musik Ravel. Musik itu tadi dimainkan oleh Yamauchi-senpai karena dia sedang kesal" jawab ketua kelas.


"Senpai itu ya..." Ucapku pelan


"Tapi tenang saja kok, dia sudah minta maaf dan tidak akan mengulangi nya lagi. Dia titip permohonan maafnya padaku" seru Satoshi.


Aku mengangguk lesu. Beberapa menit kemudian aku dan yang lain mulai mengobrol untuk membuat suasana jadi lebih hangat. Dan karena kejadian itu, aku disuruh pulang cepat dari biasanya.


Dikala semua sudah pergi ke kelas, aku termenung sendirian di UKS sambil memandang pohon sakura dari jendela. Angin sepoi-sepoi membuat poniku menari-nari, aku pun menunduk dan mengepalkan kedua tangan."Ternyata aku belum berubah ya..."


"Sial!"


๐ŸŽถ


Bel istirahat pun berbunyi, aku yang sudah mendingan memutuskan untuk kembali ke kelas. Tapi dalam perjalanan ke luar, tubuhku langsung di tabrak oleh tubuh lain.


"Aduh!!!" Rintih suara seorang gadis yang menimpa tubuhku.


"Maaf... Bisa kah kau turun?" Pintaku


"Ahh, maaf Ta-chan aku tak bermaksud" seru suara gadis itu yang tak lain adalah Haruka.


"Sini raih tanganku" ucap Satoshi. Tanpa pikir panjang aku langsung meraih tangannya dan berdiri.


"Trims" ucapku.


"Omong-omong kalian kenapa kesini lagi? Padahal aku sudah boleh ke kelas saat jam istirahat" tanyaku


"Kami kesini untuk mengajakmu makan siang bersama" jawab Haruka.


"Yuk cabut! Keburu bel nih.."


Satoshi merangkul pundak ku dan menyeretnya ke luar UKS. Kami pun berjalan ke tempat biasa di bangku dekat Greenhouse sekolah.


"Khusus hari ini, Ta-chan boleh mengambil bagian makanan ku" seru Haruka sambil memberikan wortel padaku dengan porsi banyak.


"Ini... Terlalu banyak Haruka, kau juga harus makan ini. Jangan bilang kalau kau cuma modus" ucapku.


"Haha ketahuan deh.." aku nya sembari nyengir.


"Dasar Haruka" cibir Satoshi.


Untuk waktu yang lama kami menghabiskan waktu makan siang dengan sabda gurau dan melupakan semua yang baru saja terjadi. Seusai makan, kami memutuskan untuk pergi ke kelas lagi karena tinggal beberapa menit saja bel jam berikutnya akan berbunyi.


"Hei Ta-chan kau sudah memaafkan Keiko-senpai kan?"


"Kenapa kau berpikiran begitu?"


"Habisnya itu hanya kebiasaan Keiko-senpai saja memainkan Ravel saat marah..."


Saat Haruka selesai bicara, pintu belakang kelas pun terbuka, dan sosok Kanzaki pun masuk ke dalam kelas. Bel pelajaran berikutnya berbunyi tak lama kemudian, seolah sosok nya yang datang itu mengingat kan bahwa pelajaran akan segera di mulai. Gadis itu melirik ke arahku, lalu duduk di kursinya tanpa bersuara. Karena kesal, aku bangkit dari kursi dan berjalan ke luar kelas.


"Aku mau ke toilet, jangan ikuti aku"


"Baiklah, omong-omong Ta-chan. Apa kau benar-benar sudah di usir oleh Kanzaki dari ruangan itu?"


Sekejap aku menghentikan langkahku. Langkah sepatu guru sudah terdengar memasuki ruangan dan suara memberi salam para murid pun terdengar sahut menyahut.


"Apa itu benar? Seharusnya kau tidak mengalah begitu" ucap Haruka.


Aku pun terdiam tak bergeming. "Jadi itu benar ya. Apa dia juga bilang kalau yang tidak bisa memainkan alat musik, tidak boleh masuk? Apa karena itu kau jadi tertekan seperti sekarang?"


"Jika kau ingin mengungkit masalah tak penting, masuklah ke kelas! Jangan pernah kau meremehkan kepercayaan diriku ini lagi!" Ucapku dengan nada membentak.


"Tapi kan, Ta-chan bisa memainkan biola dan gitar kan?'


"Itu dulu. Sekarang masalah bisa atau tidaknya bukanlah hal penting lagi. Yang jadi masalah nya adalah aku, sudah membuang jauh keinginan untuk bermain musik lagi"


"Tidak apa. Jika kau membujuk Kanzaki masuk ke klub milik senpai, kau pasti diajari bermain lagi olehnya. Jadi sebaiknya kau..."


"Siapa yang bilang kalau aku ingin bergabung?!"


Haruka tiba-tiba saja jadi membisu. Kelihatannya aku sudah berlebihan membentaknya dan dia juga seperti akan menangis. Tapi kenapa dia selalu ngotot aku bergabung?


"...Apa kau tahu alasan senpai mengajakmu bergabung? Apa selama ini kau menganggap bahwa bergabung nya dirimu dan Kanzaki ke klub hanya sebagai pelengkap suatu klub agar bisa berdiri?!"


Kata-kata Haruka begitu tajam dan menusuk di tempat yang benar. Aku gemetar dan mundur beberapa langkah hingga kurasakan ada di pojok tembok.


"Aku... Tidak tahu"


"Ta-chan kau sangat bodoh!! Jika kau seperti ini lebih baik aku suruh saja orang memainkan lagu Ravel lagi di pemakaman orang yang berharga buatmu"


"Hentikan!! Kumohon jangan sebut Ravel lagi!!"


Dengan berat hati, aku melengos pergi ke toilet dan meninggalkan Haruka sendirian di lorong kelas. Ketika sampai, aku mengunci pintu dan duduk di atas penutup toilet sambil merangkul kedua lututku.


"Apa-apaan Haruka itu? Aku tidak tahu caranya bermain alat musik lagi, tapi dia memaksa ku untuk gabung?!"


Untuk pertama kalinya, aku membolos pelajaran, dan itu pula baru kurang dari sebulan masa SMA ku.


"Semua ini terjadi.... Karena nona paganini sialan itu!!"


๐ŸŽถ


Ravel adalah lagu yang membuatku ketakutan. Lagu yang paling kubenci di seluruh dunia musik, karena ketika musik itu mengalun indah, semua kebahagiaan ku sirna... Terutama di hari itu.


Setelah membolos di jam pelajaran pertama, aku pun masuk kembali ke kelas di jam kedua. Aku dimarahi habis-habisan oleh guru olahraga karena ketahuan nyaris membolos lagi dan pada akhirnya aku disuruh tanding bermain basket.


Di jam istirahat, aku memilih untuk ke ruang musik dan menghindari kontak sementara dari Haruka. Tepat saat aku sedang menyusuri lapangan, lagi-lagi terdengar alunan musik dari gitar dan membuat pikiranku berputar-putar tak tenang.


"Jadi gadis sialan itu masih main gitar ya... Cih kalau gitu nanti saja deh kesana nya" ucapku.


Tepat saat akan kembali ke kelas,


pandanganku tertarik oleh sesuatu yang diletakkan disamping pintu ruangan. Itu ... kantung sampah yang berisi sampah yang tidak bisa dibakar. Aku mendekati nya karena penasaran, dan amarah pun mencuat keluar tak terkendali setelah aku mengintip isi di dalamnya.


Di dalamnya terdapat CD musik yang sengaja aku simpan di ruangan pribadi ku seperti lagu-lagu the Beatles, chopin, paganini dll.. yang semuanya adalah benda berharga ku.


"Dasar gadis satu ini... Berani-beraninya dia membuang harta Karun milikku tanpa izin!!"


Dengan segera aku melesat ke ruangan yang awalnya ruang pribadiku dan mendobrak pintunya. Suara gitar yang tadinya mengalun perlahan terhentikan karena kemunculan diriku.


"Sudah kubilang kau jangan pernah masuk!! Dasar mesum!"


Aku pun mengangkat kantung sampah yang berisikan CD ku kehadapan nya. "Apa maksudnya ini?" Tuntutku.


"Rak disini terlalu kecil dan tidak muat untuk laguku, jadi aku buang saja karena itu terlihat seperti sampah" Jawabnya datar.


"Kau pikir CD ini murah hah?! Kau tahu kan ini tuh punyaku, jadi minta izin dulu dong!!"


"Aku kan tidak tahu itu punyamu, kalau tahu pasti tidak akan kubuang!"


Aku berusaha untuk mengontrol emosi ku agar tidak meledak dan membuat keributan baru. "Seharusnya kau manfaat musik rock disini untuk belajar gitar", ucapku.


"Maaf saja ya, aku tidak Sudi mendengar nyanyian bising tak bermakna itu. Yang pasti, barang yang mengganggu pemandangan dan menghabiskan ruang akan kubuang tanpa belas kasihan. Jadi cepat lah bawa sampah itu bersama dirimu ke tempat sampah didepan" ujarnya.


Tanpa basa-basi dia langsung mendorong tubuhku agar keluar dan menutup pintu. Tak lama kemudian suara lagu Ravel terdengar lagi dan aku pun refleks menutup telinga.


"Dia sengaja memainkan ini pada pemutar musiknya ya? Dasar gadis tak punya hati! Sudah mah membuang CD bagus gini, lalu merekahkan diriku... Berani sekali nyalinya" batinku.


Awalnya aku ingin memukul pintu ruangan itu dengan palu karena frustasi, tapi akhirnya


aku pun mengubah pikiranku. Ada hal yang lebih baik yang bisa kulakukan dengan kedua tanganku. Kupeluk kantung sampah itu sambil berjalan kembali ke ruang kelasku.


Sambil memasukkanCD itu di tas satu demi satu, aku mulai memikirkan bagaimana cara untuk mengalahkan Kanzaki.... Meski tentu saja, aku tidak benar-benar berpikir untuk mengajaknya adu kekuatan.


Para anak lelaki dari kelasku pun berdatangan. "CD sebanyak ini mau kamu jual ya?"


"Wah, semuanya musik rock dan klasik"


"Maniak musik emang beda"


"Hahaha, kau benar!"


Aku tidak memedulikan mereka meski mereka mengatakan berbagai macam hal.


Apa yang harus kulakukan, Bagaimana cara


memberinya pelajaran? Kemudian aku pun mendapat ide bagus untuk nya. "Boleh juga ide itu.." pikirku.


Sambil menunggu jam siang yang kosong itu berakhir, aku menghabiskan waktu mendengar musik rock dan klasik menggunakan earphone..


"Tunggu saja pembalasan ku, Kanzaki-san!"


๐ŸŒผใคใฅใ๐ŸŒผ